
"Ahh, ini, apa, aku kepikiran ucapannya pak Riki tadi, soal bulan madu itu loh mas," jawab Sukma berbohong.
***
"Haha, jadi kamu mau bulan madu kemana? Hmmmm? Coba katakan sama aku," ucap sang calon suami.
"Hmmmm kalo aku sih kemana aja asal sama kamu," jawab Sukma yang sebenarnya tidak tertarik dengan pembicaraan itu.
Keesokan paginya, Sukma pun masih berangkat kerja seperti biasanya. Ia sangat-sangat sekali. Di kantor, Sukma yang tengah sibuk bekerja tiba-tiba saja di panggil ke ruangan Riky. Awalnya Sukma merasa berat, karena ia tau tujuan dan maksud Riky memanggilnya ke ruangannya itu.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," jawab Riky yang sudah tau siapa yang tengah mengetuk pintu ruangannya.
Dengan perlahan Sukma pun membuka pintu dan masuk ke ruangan atasannya itu. Setibanya didalam, Sukma dan Riky terlibat saling diam untuk beberapa saat hingg Sukma mulai membuka suaranya.
"Maaf pak, jika tidak ada yang ingin di bicarakan, saya permisi untuk kembali ke tempat saya pak," ucap Sukma membuat Riky menghentikan aktifitasnya.
"Duduklah di situ dan jangan kemana-mana Sukma. Tunggu lah sebentar lagi saja," jawab Riky lalu melanjutkan pekerjaannya.
'Ada apa ini sebenarnya? Kenapa pak Riky bersikap se aneh ini?' batin Sukma mengikuti kemauan sang atasan.
"Sukma," panggil Riky tiba-tiba.
"Ya, adayang bisa saya bantu pak?" jawab Sukma balik bertanya.
"Begini, jujur saya kait hati sekali saat melihat kemesraan kamu dengan calon suami mu. Saya tau ini kedengarannya tidak masuk di akal. Tapi... Itulah kenyataannya," ucap Riky membuat Sukma sedikit tercengang.
"Sukma," panggil Riky lagi di saat Sukma akan angkat bicara.
"Ya pak, ada apa?" jawab Sukma lagi.
"Kamu yakin mau menikah dengan laki-laki itu?" tanya Riky kali ini berhasil membuat Sukma mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Memang kenapa pak?" tanya Sukma mulai angkat bicara.
"Maafkan saya Sukma, tapi menurut penilaian saya sebagai sesama laki-laki, calon suami mu itu bukan lah orang baik. Saya melihat ada sesuatu yang tengah di sembunyikan oleh calon suami mu itu. Sebelum semuanya terlambat, tolong pikirkan lagi untuk menikah dengannya," ucap Riky memancing emosi Sukma. Wanita cantik itu tak terima jika ada seseorang yang menjelek-jelekkan calon suaminya.
"Stop pak. Maaf pak, bapak itu hanyalah atasan saya di kantor ini. Jadi, saya minta sama bapak, jangan terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadi saya. Saya dann calon suami saya sudah berpacaran sejak lama sekali. Jadi saya tau seperti apa calon suami saya itu. Jika tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, saya permisi," jawab Sukma lalu pergi meninggalkan ruangan atasannya itu.
"Sukma," panggil Riky namun Sukma sama sekali tidak mengacuhkannya.
"Hhhhhhh, aku hanya takut kamu akan terluka dan menyesal Sukma," gumam Riky menghela nafasnya kasar.
Diluar ruangan, Sukma terlihat benar-benar kesal sekali dengan sikap Riky yang terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan pribadinya.
Di saat yang bersamaan, ponsel milik Sukma pun berdering.
"Mas HAkim," gumam Sukma lalu mengangkat panggilan dari calon suaminya itu.
"Halo mas," jawab Sukma dengan sumringah seperti biasanya.
"Halo sayang. Aku cuma mau bilang sama kamu jika kedua orang tua ku akan datang sesudah magrib nanti. Kamu sudah bilang kan sama ayah dan juga ibu?" ucap Hakim membuat Sukma kembali ceria
"Sudah, kamu tenang saja. Nanti akan aku sampaikan sama ke dua orang tua ku. Ya sudah, aku tutup dulu ya panggilannya. Aku akan ada rapat beberapa menit lagi," jawab Hakim lalu mematikan panggilannya.
.
.
"Semoga saja Sukma dan keluarganya tidak curiga jika aku menggunakan orang tua bohongan," gumam Hakim yang saat ini tengah berada di ruangan kerjanya.
Hari ini, Sukma meminta izin pulang cepat. Setelah mendapatkan izin, Sukma bergegas meninggalkan kantor tersebut..
Sebelum pulang, Sukma diminta singgah ke kios bakso oleh Murni, ibunya. Ia di minta untuk membantu menutup kios bakso miliknya.
"Bu," panggil Sukma menyalami tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Sukma, kamu sudah pulang nak," ucap Murni mengusap kepala putrinya itu.
"Sudah bu. Ibu mau tutup sekarang?" tanya Sukma sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar kios sang ibu yang masih ada pengunjungnya.
__ADS_1
"Rencananya begitu, tapi masih ada beberapa pelanggan yang makan. Kamu bereskan saja dulu sebisa nya. Nanti kita tinggal tutup saja. Ibu mau ke toilet sebentar," jawab wanita paruh baya itu.
"Ok, tapi, aku mau makan bakso ibu dulu deh kayaknya. Lapar banget bu aku nya," jawab Sukma nyengir.
"Hehe, ya sudah. Ambil sendiri tapi ya. Ibu sudah tidak tahan lagi mau ke kamar kecil," jawab Murni lalu bergegas pergi.
Di saat Sukma sedang menyantap bakso ke mulutnya, tiba-tiba saja Hakim datang dan duduk di hadapannya. Sontak, Sukma di buat kaget oleh kehadiran calon suaminya itu.
"Mas Hakim. Kamu ikin aku kaget saja," uap Sukma lalu minum segelas air putih.
"Maafkan aku sayang. Kamu tumben, kok ke sini?" tanya Hakim sembari memakan satu bakso kecil yang ada di mangkuk Sukma.
"Iya, tadi ibu nelpon minta di bantuin tutup kios. Ibu bilang karyawannya sedang sakit dan tidak masuk hari ini," jawab Sukma sembari mengunyah baksonya.
"Kamu sendiri ngapain mas disini?" tanya Sukma balik.
"Aku? Disini? Ya buat nemuin kamu lah, wanita istimewa ku," gombal Hakim membuat pipi Sukma merah merona karena malu.
"Apaan sih mas. Jangan gombal. Memang kamu tau dari mana jika aku disini? Ibu yang ngasih tau ya?" tanya Sukma penasaran.
"Haha, ya nggak lah. Aku ini tau sendiri.
Batin ku mengatakan jika kamu tengah berada di sini, maka dari itu, aku curi-curi waktu buat ke sini, dan ternyata benar saja, bidadari ku sedang duduk manis dengan semangkuk bakso super pedasnya," ucap Hakim gombal.
"Apaan sih mas. Jangan ngegombal terus. Ayo jujur sama aku, kamu tau dari mana jika aku di sini?" tanya Sukma penasaran.
"Aku berani sumpah sayang. Aku tau sendiri. Feeling aja gitu.
Kao kamu nggak percaya, ya sudah," jawab Hakim manyun.
"Apaan sih mas Kamu kok ngambekkan ih," balas Sukma tertawa.
Sukma tidak tau saja jika Hakim memang ke kios sang ibu setiap hari nya. Murni yang sudah hafal jam kunjungan Hakim bergegas ke kamar mandi agar tidak terjadi masalah nantinya.
Setelah kios di tutup, Hakim pun kembali ke kantornya dan Sukma beserta sang ibu juga pulang ke rumah. Hari ini adalah hari yang spesial untuk Sukma. Masalahnya, hari ini ia akan di lamar secara resmi oleh Hakim.
Sukma tidak tau saja, jika yang datang melamarnya adalah orang tua yang di bayar oleh sang calon suami.
__ADS_1