Ibu Pelakor Terkejam

Ibu Pelakor Terkejam
Bab 12


__ADS_3

"Sukma, kamu.. Kamu dapat rekaman itu dari mana? Apa wanita itu yang mengirimkannya kepada mu?" tanya Hakim yang secara tidak langsung mengakui jika itu adalah dirinya.


***


"Kamu lupa jika malam itu kita telponan, dan kamu lupa mematikan panggilannya mas. Waktu aku akan mematikannya, tiba-tiba saja aku mendengar kamu bicara dengan seorang wanita. Aku sudah memanggil mu berkali-kali, tapi sepetinya kamu terlalu asik dan melupakan ku. Lama kelamaan aku mendengar kalian bicara semakin mesra, bahkan kalian sama-sama mendesah kenikmatan. Sekarang tolong jawab aku jujur mas. Siapa wanita itu dan apa saja yaang telah kalian lakukan berdua. Apa tujuan mu ke Bandung memang untuk menemuinya?" jelas Sukma dengan mata yang mulai basah.


Hakim sendiri bingung harus menjawab apa. Jika ada kesempatan, ingin sekali rasanya Hakim pergi dari tempat itu.


"Gimana mas? Alasan apa yang ingin kamu berikan padaku?" tanya Sukma masih menatap lekat ke arah calon suaminya itu.


"Sukma, maaf kan aku. Jujur aku akui jika itu memang aku. Aku pun tidak mempunyai niat untuk membohongimu. Sukma, aku sayang sekali sama kamu. Jadi aku mohon, maafkan aku. Aku khilaf, dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Hakim seketika membuat air mata wanita cantik itu pecah.


Tak banyak yang dapat di lakukan oleh Hakim. Ini memang kecerobohannya. Dan karena kecerobohannya inilah Sukma mengetahui semuanya.


"Maaf kamu bilang mas? Mas kamu tau? Kita ini akan segera menikah mas, dan kamu malah enak-enaknya bermain dengan wanita lain. Dimana otak mu mas?" ucap Sukma benar-benar kesal sekali.


"Iya aku tau kita akan menikah sayang. Tapi aku khilaf, aku benar-benar tidak sadar. Malam itu aku di ajak oleh teman lama ku duduk di sebuah klub malam. Tanpa aku sadari, dia memasukkan sebuah obat dewasa ke dalam minuman ku. Alhasil, aku jadi tidak terkendali, dan kamu tau, yang aku lihat adalah bayangan mu yang menari-nari di depan ku. Maafkan aku Sukma.. Aku benar-benar tidak sadar waktu itu," jawab Hakim yang tentunya bohong.


Mendengar penjelasan dari calon suaminya itu, hati Sukma sedikit tenang. Meskipun kesalahannya membuat Sukma sakit hati, tapi ia sadar jika suaminya itu tidak sengaja.


"Kamu tidak membohongi ku kan mas?" tanya Sukma lagi.


"Tidak sayang, aku berani sumpah. Kamu percaya kan sama aku. Apa pernah selama ini aku mengkhianati mu?" tanya Hakim membuat Sukma seketika menggeleng.


"Aku percaya kamu mas. Dan aku memaafkan mu. Mas kamu tau, aku sangat takut sekali saat itu. Aku marah dan aku kecewa sekali. Aku takut jika kamu akan pergi dan membatalkan pernikahan kita," ucap wanita cantik itu sembari memeluk calon suaminya itu.

__ADS_1


Sebegitu bodohnya Sukma karena percaya begitu saja dengan ucapan Hakim. Ia telah di bohongi mentah-mentah selama ini.


"Sukma hei.. Lihat aku, kita ini sudah lama pacaran. Jika aku ingin meninggalkan mu, untuk apa aku menikahi mu?


Sukma, sayang, kamu dengar ini baik-baik, tidak ada satu wanita pun yang bisa menyaingi mu di muka bumi ini. Kamu adalah wanita spesial sesudah ibuku. Sayang aku minta maaf. Tapi jujur aku tidak memiliki niat untuk meniduri wanita itu," jawab Hakim cari muka.


"Sudah mas, jangan bahas masalah itu lagi. Aku takut sakit hati lagi," sela Sukma kembali memeluk Hakim.


'Huh, untung Sukma percaya sama aku. Itu artinya aku dan Murni aman,' batin Hakim tersenyum licik.


"Ya sudah, nanti peluk-pelukannya setelah kita menikah saja. Oh ya, aku mau kasih kabar sama kamu jika keluarga ku akan ke rumah mu besok. Jadi kamu jangan lupa kasih tau sama ibu dan juga ayah ya," ucap Hakim seketika memuat Sukma bahagia.


"Kamu serius kan mas?" tanya Sukma lagi. Ia seolah tidak yakin dengan ucapan Hakim.


"Iya sayang, aku serius. Ya sudah, ayo kita cari tempat makan. Aku lapar tau," ajak Hakim mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sukma," sapa Jerry membuat Sukma dan juga Hakim melihat ke arah Riky.


"Hmmmm, pak Riki? Bapak di sini juga?" tanya Sukma.


"Ah, iya, kebetulan saya baru bertemu dengan teman saya di cafe ini," jawab Riky nampak terus memperhatikan Hakim.


"Oh, Oh iya pak, kenalkan ini mas Hakim calon suami saya," ucap Sukma memperkenalkan Hakim dengan bangganya.


"Hai, kenalkan, saya Riky, rekan kerja Sukma di kantor," ucap Riky sembari mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Saya Hakim, calon suaminya Sukma. Oh ya, silahkan duduk dan bergabung dengan kita," jawab Hakim basa-basi.


"Oh, nggak usah, nggak usah. Kebetulan saya sudah mau pulang. Jika anda dan Sukma datangnya lebih awal, maka saya tidak akan segan-segan untuk bergabung," ucap Riky masih menyempatkan untuk bercanda meskipun sebenarnya hatinya sakit karena melihat Sukma dengan calon suaminya.


"Haha, anda ini bisa saja. Kalau begitu, nanti saya akan kabari anda jika saya dan calon istri saya akaan kembali makan di luar," balas Hakim yang sama sekali tidak tau jika laki-laki yang mengaku sebagai rekan kerja Sukma itu menyimpan perasaan kepada calon istrinya.


"Haha, baiklah, kalau begitu saya tunggu waktu itu. Ya sudah, saya permisi dulu. Tidak enak mengganggu calon suami istri tengah berdua. Siapa tau mereka tengah membicarakan kemana akan berbulan madu nantinya setelah menikah," ucap Riky dengan senyuman dan candaan yang ia paksakan.


Sukma yang sedari tadi mengamati atasannya itu merasa iba,, karena ia tau jika sebenarnya, Riky hanya membawakan suasana saja.


'Maafkan saya pak. Maafkan saya jika membuat hati bapak sakit,' batin Sukma.


"Haha, anda ini tau saja. Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan," balas Hakim tampak sudah akrab dengan Riky.


.


.


"Aaargghhh, kenapa hatiku sakit sekali melihat kebahagian Sukma dengan calon suaminya itu? Sebesar itukah rasa cintaku terhadap wanita itu?" umpat Riky yang sudah berada di dalam mobilnya.


Sementara di dalam cafe, Sukma seperti kehilangan nafsu makannya. Ia terus saja terpikirkan wajah kekecewaan dan kesedihan Riky tadi. Sukma merasa sangat-sangat bersalah sekali karena pertemuan mereka itu.


"Sayang," panggil Hakim beberapa kali, namun Sukma hanya diam sembari mengaduk-aduk makanannya.


"Sukma, sayang, kamu mikirin apa? Kenapa melamun hmmm?" tanya Hakim menggenggam tangan Sukma.

__ADS_1


"Ahh, ini, apa, aku kepikiran ucapannya pak Riki tadi, soal bulan madu itu loh mas," jawab Sukma berbohong.


__ADS_2