Imamku, Surgaku

Imamku, Surgaku
(12). Pulangnya Laksana surga Azalea.


__ADS_3

Azalea berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit menuju ruang ICU. Di belakangnya, Husain turut berlari mengejar Azalea yang sudah berjarak jauh dengannya.


Di depan ruang ICU, Kak Ina dan kak Mayes terduduk lesu di lantai sambil menangis pilu. Sedangkan bang Rahmat duduk dengan wajah tertunduk menatap kosong lantai rumah sakit.


"Gimana keadaan ibu?" tanya Azalea melangkah menghampiri kedua kakak kandungnya.


Wajah kak Mayes mendongak menatap Azalea. Kepalanya menggeleng pertanda bahwa ia juga tidak tahu bagaimana keadaan sang ibu.


"Lalu dimana ayah?"


Suara Azalea parau, wajahnya sudah basah akibat air mata yang bercucuran tiada henti. Husain sebagai suami lantas langsung berdiri di samping Azalea. Mendekap tubuh mungil yang bergetar akibat tangis yang melanda.


"Ayah ada di ruangan dokter. Sedang membicarakan keadaan ibu," jawab Kak Mayes sekenanya.


Azalea gelisah. Belakangan ini ia selalu mendapatkan mimpi dimana ia berada di rumahnya dengan orang yang ramai berlalu lalang. Tak sampai disitu, Azalea juga melihat ada seseorang yang terbujur kaku dengan kain panjang menutupi seluruh tubuhnya berada dihadapannya.


Entah kenapa pikiran Azalea selalu tertuju bahwa orang yang yang terbujur kaku itu adalah ibu nya.


"Astagfirullahal'adzim, jangan. Jangan sampai."


Azalea menggeleng sambil terus beristighfar di dalam hatinya.


"Kenapa, sayang?"


"Gapapa, Bang,"


Walaupun sedikit susah, Azalea tetap memberikan senyumnya pada sang suami yang terlihat khawatir padanya.


"Yakin? Mau minum?"


Azalea menggeleng. Dalam keadaan seperti ini Azalea tak ingin apapun, yang Azalea inginkan hanya berjumpa dan berbicara dengan ibu.


"Ibu pasti kuat kok. Kamu harus yakin." ujar Husain menenangkan.


Azalea percaya. Ibunya memang orang yang paling kuat bagi Azalea. Ibu yang tak pernah menunjukkan raut wajah lelahnya di hadapan anak - anaknya walaupun keempat anaknya tahu bahwa ibu sedang lelah. Ibu yang tak pernah marah pada anaknya walaupun keempat anaknya selalu berbuat salah. Yang ibu lakukan hanya menasehati dengan suara yang lembut dan sentuhan yang menenangkan. Dimana hal itu mampu membuat keempat anaknya merasa bersalah dan tak ingin mengulangi kesalahannya lagi.


Kata orang, seorang ibu dikatakan berhasil menjadi seorang ibu apabila anak yang ia lahirkan ketika sudah besar, ingin menjadi seorang ibu seperti dirinya.


Dan Azalea akui ibunya berhasil menjadi seorang ibu, karena Azalea ingin suatu saat nanti jika Allah perkenankan ia menjadi seorang ibu, maka Azalea akan menjadi ibu seperti ibunya dalam mendidiknya. Lembut, penuh kasih sayang namun juga tegas. Bukan tegas mengintimidasi, tapi tegas mengayomi.


Pintu ruangan dokter terbuka, menampilkan sosok ayah yang terlihat mengusap air mata di ujung matanya.


Melihat itu, bang Rahmat berjalan tergesa-gesa menghampiri ayah. Memegang kedua bahu ayah dengan tangan yang bergetar hebat.


"Bagaimana keadaan ibu, Yah?"


Ayah terdiam. Seolah tak tahu apa yang akan dikatakan. Mata ayah menelisik satu persatu keempat anaknya. Saat tatapannya jatuh pada Azalea yang berdiri dengan di topang sang suami, Husain, ayah lantas membuka suara.


"Aza, masuklah ke dalam ICU. Ibu memanggil Aza sejak tadi,"


Tanpa menunggu lama lagi, Azalea langsung bergegas membuka pintu ruangan ICU.


Hening dan sepi. Itu yang Azalea rasakan kala kakinya melangkah memasuki ruangan ICU. Hanya ada suara yang dikeluarkan oleh alat bernama elektrokardiograf. Dengan perasaan kalut dan gamang, Azalea menghampiri brankar ibu.


Langkah Azalea terhenti. Matanya memanas menatap ibu yang terbaring lemah dengan banyak alat di tubuhnya.


"Ibu!"


Suara lembut Azalea dan sapuan lembut tangan Azalea pada pipi tirus ibu, mampu membangunkan ibu dari tidur nya.


Mata ibu menatap teduh manik mata Azalea yang bergetar dan berair.

__ADS_1


"Aza," panggil ibu lirih.


Dengan tersendat - sendat, Azalea mencoba berbicara dengan ibu.


"Ibu kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" lirih Azalea.


Semenjak menikah, Ibu melarang Azalea mengunjungi rumah mereka. Kata ibu, Azalea harus mengurus ibu mertuanya sebagai bentuk rasa sayang dan rasa hormat pada ibu mertuanya. Walaupun begitu, setiap hari Azalea akan selalu bertukar kabar dengan ibu melalui video call.


"Aza, dengar Ibu ya,"


Azalea mengangguk.


"Apapun yang terjadi nanti, ikhlasin ya nak. Setelah ini Azalea harus bisa belajar ikhlas dan sabar. Pelan - pelan ya Nak, pasti bisa," ujar Ibu sambil tersenyum.


Entah kenapa mendengar ucapan ibunya membuat hati Azalea tak tenang.


"Nanti, kalau Aza dan Ibu berada di jarak yang jauh dan sulit untuk ditempuh dalam waktu dekat, Aza harus percaya bahwa Ibu selalu ada untuk Aza,"


Ucapan ibu terhenti sejenak. Tangannya yang terpasang jarum infus bergerak menyentuh dada Azalea.


"Disini. Ibu selalu ada di dalam hati Aza,"


Tangis Azalea pecah. Kepalanya menggeleng sambil menatap sedih ke arah ibu.


"Ibu jangan buat Aza takut."


Lagi - lagi ibu tersenyum.


"Bagi Aza, Ibu itu apa?" tanya ibu.


Ada jeda sebentar sebelum Azalea kembali berucap menjawab pertanyaan ibu.


"Ibu itu laksana surga Aza. Orang yang paling Aza cintai setelah Allah dan kekasih Allah. Aza tak ingin kehilangan Ibu dalam hidup Aza baik di dunia maupun di akhirat," jawab Azalea jujur.


Tangan lemah ibu mengusap air mata Azalea dengan perlahan.


"Ibu, kalau Ibu pergi, Aza harus ikut. Aza gak bisa kalau gak ada Ibu. Aza ikut ya, Bu?" pinta Aza sendu.


Ibu menggeleng.


"Gak boleh. Kamu harus tetap disini. Kalau kamu ikut Ibu, bagaimana dengan Husain, Nak. Lihat kesana, pancaran mata Husain terlihat sangat khawatir dan cemas menatap kamu."


Azalea menoleh. Netra matanya langsung bertubrukan dengan netra mata Husain yang menatapnya dari luar pintu kaca ruang ICU.


Dapat Azalea lihat senyum menenangkan yang Husain lontarkan untuk dirinya. Namun sayangnya Azalea tak bisa membalas senyuman itu.


Azalea kembali menoleh ke arah ibu.


"Aza tahu, Allah tidak akan mengambil sesuatu yang paling Aza sayangi dan Aza senangi kecuali sudah Allah siapkan penggantinya untuk Aza. Jadi jangan bersedih, Nak,"


"Aza harus janji sama Ibu ya, Aza harus bahagia setelah ini. Jangan pernah bersedih. Kalau Aza sedih, Ibu pasti sedih." pinta ibu.


Azalea terdiam. Rasanya sulit untuk berjanji pada ibunya.


"Aza," panggil ibu.


Dengan suara bergetar, Azalea menatap ibu yang tengah menatapnya, "Aza janji Ibu. Setelah ini Aza akan berusaha bahagia terus,"


"Boleh Aza peluk Ibu?" pinta ibu.


"Boleh."

__ADS_1


Azalea memeluk tubuh ibu yang tertidur lemas di ranjang pesakitan. Mengusap lembut kepala ibu yang terbalut kerudung.


Selama lima menit, Azalea hanya memeluk ibu tanpa bersuara.


"Ibu sayang Aza, kak Ina, kak Mayes, dan juga bang Rahmat. Sampai kapanpun kalian berempat akan jadi anak kesayangan Ibu walaupun Ibu sudah tidak bersama kalian lagi di dunia," ujar ibu tiba - tiba.


Azalea menangis. Tangannya tak henti - hentinya mengelus lembut kepala ibu sambil berdoa meminta pada Allah untuk diberi waktu lebih lama lagi bersama dengan ibunya.


Setelah diam beberapa detik, ibu kembali berucap. Tapi kalimat kali ini mampu membuat hati Azalea menjerit pilu mendengarnya.


"Laa Ilaha Illallah."


Kalimat tauhid itu begitu lancar terucap di bibir ibu.


Tepat jam 06.00 WIB, hal yang paling tak Azalea inginkan terjadi. Elektrokardiograf yang tadinya berbunyi dengan teratur, kini berbunyi dengan nyaring. Dengan perasaan gamang Azalea menatap ke bawah dimana ibu bersandar di dadanya.


Air mata Azalea mengalir lebih deras dari sebelumnya. Bibirnya ia gigit dengan kuat menahan isakan yang akan lolos.


Kini dihadapan Azalea, ibu yang selama ini selalu menampilkan raut wajah senyum dan pancaran mata bahagia, tertidur dengan damai dengan senyum bahagianya. Seolah tak ada beban yang ia pikul saat akan menghadap ke Ilahi.


Dengan tangan yang bergetar, Azalea meletakkan kepala ibu dengan hati - hati dan penuh kelembutan di atas bantal. Tidak lupa untuk terakhir kalinya Azalea mencium lama kening ibu sebelum menutup wajah ibu dengan selimut rumah sakit.


Azalea berjalan meninggalkan brankar bersamaan dengan dokter dan para perawat yang masuk dengan tergesa-gesa.


Pintu yang semula tertutup rapat, Azalea dorong dengan seluruh tenaga yang tersisa.


Ayah, bang Rahmat, kak Mayes, kak Ina dan Husain sudah berdiri di depan pintu menunggu Azalea keluar.


Azalea terdiam berdiri dihadapan kelima anggota keluarganya. Namun sedetik kemudian, tubuhnya limbung jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin.


"Aza!" teriak mereka semua dengan panik.


Husain melangkahkan kakinya dengan langkah yang lebar menghampiri Azalea.


"Aza, ada apa?" tanya bang Rahmat sendu.


Azalea mendongak. Ia ingin berbicara tapi tak mampu.


Namun saat mendapati genggaman tangan dari Husain, Azalea seolah kembali diberi kekuatan untuk berbicara pada seluruh anggota keluarganya.


"Ibu, ibu sudah pulang ketempat seharusnya, Bang." jawab Azalea sedikit keras agar mereka semua mendengar ucapan Azalea.


Tubuh kak Mayes dan kak Ina langsung melemas kala mendengar ucapan yang keluar dari bibir Azalea. Untung saja, dengan sigap kedua suami mereka menopang tubuh mereka berdua.


Sedangkan ayah dan bang Rahmat hanya terdiam menatap pilu ke arah kaca yang menampilkan para perawat yang sedang melepaskan segala alat penopang hidup yang tertempel di tubuh ibu.


Pintu ruang ICU terbuka kembali. Kali ini menampilkan sosok dokter yang merawat ibu selama sakit.


"Maaf kami, pihak rumah sakit sudah berusaha sebisa mungkin. Namun segala sesuatunya terjadi atas kehendak Allah. Tepat tanggal 7 Januari pukul 06.00 WIB, Ny. Threea meninggal dunia."


Azalea meremas kuat tangan Husain yang ia genggam.


"Yang kamu harus tahu, Ibu pasti udah bahagia berada disisi Allah. Walaupun sulit, tapi kamu harus bisa ikhlas dan sabar menerima kenyataan yang sedang kita semua hadapi." ucap Husain sembari mencium pucuk kepala Azalea. Berharap ia bisa menguatkan Azalea yang terlihat rapuh dan seperti tak ada semangat untuk hidup.


"Kamu harus ingat, bahwa abang selalu ada di sisi kamu. Abang akan mencintai kamu dengan seluruh hidup Abang seperti sumpah Abang pada ibu saat setelah Abang melakukan ijab kabul."


Benar. Apa yang diucapkan suaminya seluruhnya benar. Azalea memang kehilangan ibu yang paling dicintainya. Namun ia masih memiliki suaminya yang akan memberikan ia cinta seperti ibunya memberikan ia cinta.


Setidaknya jika ibu yang menjadi laksana surga Azalea selama ini sudah kembali kepangkuan sang Ilahi, masih ada Husain yang akan menjadi laksana surga Azalea setelah ini.


Satu hal lagi, mereka bilang, ia harus ikhlas. Tapi, ikhlas itu bohong, yang benar adalah terpaksa lalu terbiasa.

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2