
"Abang, Abang hari ini gak ke kantor kan?" Tanya Azalea. Ia berjalan menghampiri Husain yang sedang asik bermain game Pou di ponselnya.
"Gak, sayang," jawab Husain tanpa menoleh ke arah Azalea.
Melihat Husain mengabaikannya, Azalea berdecak kesal. Ia mendelik sinis ke arah game Pou yang sedang Husain mainkan.
"Pou mulu yang di ajakin main," sindir Azalea terang-terangan.
Husain yang mendengar sindiran dari Azalea lantas tertawa kecil. "Ya daripada Abang mainnya sama kamu. Ntar kamu capek lagi. Kamu kan tahu Abang kalau main sama kamu tuh gak cukup satu atau dua jam," balas Husain dengan senyum smirknya.
Mata Azalea melotot lucu. Dengan refleks ia menimpuk boneka yang sedang ia pegang ke lengan kekar Husain. "Ya bukan main yang itu juga. Main yang lain kan bisa," ujarnya sewot.
"Ya udah, kamu nya mau main apa hm?" Tanya Husain setelah ia mematikan ponselnya dan memfokuskan dirinya sepenuhnya ke arah Azalea.
"Aza mau berenang Abang." Pinta Azalea dengan wajah memelas dan menggoyang-goyangkan lengan kiri Husain.
"Oke, kita berenang,"
Mumpung masih jam 4 sore dan cuaca di luar juga tidak terlalu terik, Husain memilih mengabulkan permintaan bumilnya yang ingin berenang. Ia menggandeng tangan mungil Azalea menuju halaman belakang rumah mereka yang memang memiliki kolam renang pribadi. Jadi mereka bisa bebas berenang kapan saja.
"Mau kemana nih sayang-satang Ibu?" Tanya ibu yang sedang duduk santai di halaman belakang sambil menikmati pemandangan bunga-bunga cantik miliknya.
"Mau berenang Ibu. Aza tiba-tiba pengen berenang," jawab Azalea dengan cengiran polosnya.
"Oh gitu. Hati-hati loh ya, Nak. Jangan sampai kepeleset. Husain juga jagain Aza nya," ucap ibu pada Husain dan Azalea.
"Siap Ndoro Ratu," jawab Husain yang mendapat delikan sinis dari ibu.
Sesampainya di kolam renang, Husain membantu Azalea untuk turun ke dalam kolam renang. Keduanya kini sudah berada di dalam kolam renang yang memiliki suhu air yang lumayan dingin. Namun karena suhu dingin itulah yang membuat tubuh mereka seketika merasa rileks.
"Woaah enak banget. Airnya dingin." Ujar Azalea dengan senyum sumringahnya.
Husain yang melihat senyum sumringah istrinya spontan juga turut menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Seneng?" Tanya Husain yang diangguki oleh Azalea.
"Seneng. Dedek bayi juga seneng, Ayah," jawab Azalea antusias sambil membawa telapak tangan Husain untuk menyentuh perut nya yang mulai sedikit terlihat baby bump.
"Alhamdulillah kalau kamu sama anak kita seneng. Tapi ingat loh, berenangnya gak boleh lama-lama. Cuma sampai jam 5. Habis itu mandi. Oke?"
__ADS_1
"Oke, Abang."
Selama mereka berenang, Azalea terlihat sangat bahagia. Bahkan sangking bahagianya, Azalea sampai berenang mengelilingi kolam renang yang luasnya cukup besar. Sementara Husain hanya berenang di tepian kolam sambil memperhatikan Azalea yang antusias berenang ke sana kemari.
Namun entah kenapa tiba-tiba saja Azalea terdiam di tengah kolam dengan membelakanginya. Membuat kening Husain seketika berkerut bingung. Karena merasa khawatir pada istrinya, Husain langsung berenang menghampiri Azalea.
"Kenapa? Kakinya keram? Atau perut kamu keram?" Tanya Husain panik.
Azalea yang melihat suaminya panik lantas menggelengkan kepalanya. "Bukan." Jawabnya.
"Terus kenapa hmm?" Tanya Husain sambil memperbaiki tatanan rambut Azalea yang sedikit berantakan akibat berenang.
"Aza gak sengaja nelan air kolam renangnya Abang," cicit Azalea dengan mata berkaca-kaca.
Husain yang tadinya panik kini mampu bernafas dengan lega setelah mendengar jawaban dari istrinya. Tapi setelah itu, ia tanpa sengaja melepaskan tawanya melihat wajah cemas dan tatapan mata istrinya yang berkaca-kaca. Terlihat amat sangat lucu di mata Husain.
"Abang kok ketawa? Abang gak sayang Aza sama dedek bayi lagi ya? Aza gak sengaja nelen air kolam renangnya loh. Nanti kalau Aza sama dedek bayinya kenapa-napa gimana?" Seru Azalea dengan suara bergetar siap menumpahkan tangisnya.
"Sayang dong Abang sama kamu dan dedek bayinya. Gak mungkin Abang gak sayang," jawab Husain mencoba menahan tawanya dan rasa gemasnya pada Azalea.
"Terus Abang kenapa ketawa?" Tanya Azalea dengan wajah cemberut.
"Abang Aza serius," rengek Azalea dengan nada manja.
"Gapapa, sayang. Airnya gak pakai kaporit. Jadi aman kalau gak sengaja airnya tertelan," ucap Husain menenangkan Azalea yang masih terlihat cemas.
"Bener? Abang gak bohong kan?" Tanya Azalea memastikan.
"Bener, sayang. Kalau kamu gak percaya coba nanti tanya sama ibu,"
"Iya Aza percaya,"
"Ya udah, sekarang kita mandi. Udah jam lima lewat lima belas menit." Ajak Husain.
Azalea mengangguk. Ia merentangkan kedua tangannya meminta agar Husain menggendongnya ke kamar mereka.
"Ululu, manja banget sayangku." Ujar Husain yang setelahnya langsung menggendong Azalea ala koala.
__ADS_1
Setelah memastikan istrinya nyaman dalam pelukannya, Husain langsung berjalan menuju kamar mereka setelah menutup pintu belakang.
"Aza duluan yang mandi ya, Abang," ucap Azalea pada Husain.
"Kenapa gak bareng aja?" Tanya Husain.
"Gak mau ah. Yang ada nanti bukannya mandi biasa malah mandi junub," sindir Azalea.
Mendengar sindiran istrinya, Husain malah terkekeh. Ia menepuk pelan bokong istrinya yang mana ia langsung mendapatkan pelototan dari Azalea.
"Tuh kan, Abang mah mesum mulu kalau deket-deket Aza,"
"Ya gimana Abang gak mesum sama kamu. Baru ngelihat kamu aja bawaannya Abang pengen mesumin kamu terus." Ujar Husain sambil membuka pintu kamar mereka dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih menahan tubuh Azalea yang berada di gendongannya.
"Udah, turunin Aza," pinta Azalea yang dianggap angin lalu oleh Husain. Lelaki itu tetap berjalan menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Baru setelahnya ia mendudukkan Azalea di atas wastafel.
"Ayo Abang bantu buka bajunya." Ujar Husain yang di iyakan oleh Azalea tanpa bantahan. Karena Azalea tahu bahwa Husain tak akan mau mendengarkan ucapan penolakannya.
Dibantu dengan Husain, satu persatu baju Azalea sudah terlepas dari tubuhnya. Dan setelahnya, Husain bergantian melepaskan satu persatu baju yang menempel di tubuhnya sendiri.
"Ayo mandi." Ajak Husain pada Azalea.
Di bawah pancuran air shower, Husain menatap lekat tubuh Azalea dari atas hingga bawah. Membuat sekujur tubuh Azalea seketika merinding. Karena tak tahan terus di tatap seperti itu, Azalea lantas meletakkan telapak tangannya di depan mata Husain.
"Abang ih, ngapain lihatin aja sampai segitunya. Aza malu tahu." Rengeknya.
Tangan Azalea yang berada di depan matanya Husain turunkan sehingga ia bisa kembali melihat tubuh indah istrinya.
"Abang sedang mengagumi bentuk tubuh kamu yang indah, sayang. Beruntung banget Abang bisa menjadi satu-satunya orang yang ngelihat bentuk tubuh kamu sekarang. Orang tua kamu aja cuma bisa ngelihat tubuh kamu waktu kamu masih kecil," ujar Husain tiba-tiba.
Kedua pipi Azalea bersemu merah ketika mendengar ucapan Husain di tambah lagi dengan tatapan mata yang Husain berikan padanya. Sangking salting dan gugupnya diperhatikan seperti itu, ia langsung menyodorkan botol sabun ke arah Husain dan menyuruh suaminya itu untuk segera menyabuni seluruh badannya.
"Ayo buruan mandi. Nanti keburu adzan Magrib," ucap Azalea.
"Oke, sayang. Mau sekalian di pijit gak bagian-bagian tertentu nya?" Tanya Husain sambil mengerlingkan matanya ke arah bagian tubuh pribadi Azalea.
"Boleh. Tapi kalau Abang terangsang Aza gak tanggung jawab ya," jawabnya yang langsung terkekeh ketika mendapatkan tatapan datar dari Husain.
__ADS_1
-to be continued-