Imamku, Surgaku

Imamku, Surgaku
(49). Usaha Husain membujuk Azalea.


__ADS_3

Azalea menatap tak percaya pada sebuah pick up yang membawa banyak bunga di bagian belakang mobilnya. Katanya, bunga itu semua di pesan oleh suaminya untuknya



"Bunganya mau di letak di mana, Mbak?" Tanya si pegawai toko bunga yang ikut mengantarkan pesanan bunga yang Husain pesan.


"Setengahnya di letak di sana aja, Mas. Setengahnya lagi nanti saya tanya sama suami saya dulu. Soalnya bakal gak muat kalau di letak semuanya disana," Jawab Azalea sambil menunjuk ke arah sudut taman depan rumah.


Pegawai toko bunga di hadapannya itu langsung bergegas menghampiri supir pick upnya untuk meminta bantuan menurunkan bunga-bunga yang berada di belakang pick up dan di letakkan di tempat yang Azalea tunjuk tadi.


Sementara Azalea langsung mengubungi nomor suaminya untuk meminta kejelasan tentang kiriman bunga yang banyaknya sudah seperti ingin membuka toko bunga.


Tanpa menunggu lama, sambungan telepon Azalea langsung di jawab oleh Husain.


"Halo, assalamu'alaikum, bidadari Abang." Husain langsung menyapa Azalea dengan suara yang lembut dan bahagia saat sambungan telepon mereka sudah terhubung.


"Wa'alaikumussalam,"


"Kenapa nih telepon, Abang? Kamu kangen ya sama Abang?" Ujar Husain dengan pedenya.


"Gak. Aza cuma mau nanya,"


"Mau nanya apa sayangnya Abang hmm?"


"Ini Abang beneran pesan bunga sebanyak ini untuk Aza?" Tanya Azalea to the point.


"Iya, sayang. Sebagai permintaan maaf dari Abang. Di terima ya, sayang,"


"Aza terima. Tapi masalahnya Abang ngirim bunganya kebanyakan. Gak muat kalau di letak di rumah semuanya,"


"Terus gimana dong?" Tanya Husain di sebrang sana. Mendengar suaminya yang sepertinya tidak ada solusi, Azalea langsung memutar otaknya dan berpikir bagaimana caranya agar setengah bunga yang belum diturunkan itu tidak mubazir.


"Oh Aza tahu. Setengah bunganya Aza kirimin ke kantor Abang. Dan Abang harus ngasih bunganya ke makam-makam yang ada di pemakaman umum. Jangan lupa ngasih ke makam papa Abang dan juga ibu Aza. Aza juga mau request bunga yang di kasih di makam ibu di banyakin. Terus di kasih bunga mawar merah di dekat nisannya biar makam ibu tambah cantik,"


"Ya udah nanti pulang dari kantor Abang mampir ke TPU untuk ngasih bunga-bunganya ke setiap makam sama makam papa dan juga ibu,"


"Oke. Kalau gitu Aza mau nyuruh mas mas pengantar bunganya buat antarin setengah bunganya ke kantor Abang,"


"Iya, sayang,"


"Yang semangat kerjanya. Bentar lagi kita harus beli perlengkapan buat dedek,"

__ADS_1


"Siap laksanakan, permaisuri ku,"


"Ya udah Aza tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Setelah sambungan telepon merek terputus, Azalea langsung menghampiri mas mas pengantar bunganya.


"Mas, setengah lagi di antar ke kantor suami saya ya,"


"Oh oke, Mbak. Kalau gitu kami langsung pamit. Bunganya juga udah kami tata dengan rapi,"


Azalea menoleh sebentar ke arah dimana mas mas pengantar bunga tadi meletakkan bunganya. Dan benar saja, setengah dari bunga-bunga yang ada di mobil pick up sudah tersusun rapi di samping taman bunga mertuanya.


"Silahkan, Mas. Tapi sebelum itu saya mau ngucapin terimakasih banyak karena bunganya sudah di susun rapi,"


"Sama-sama, Mbak. Lagian juga itu sudah tugas kami. Kalau gitu kami pamit dulu ya, Mbak,"


"Iya Mas, silahkan,"


Setelah mas mas pengantar bunganya pergi, Azalea langsung menutup kembali pagar rumahnya. Baru setelahnya ia membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, bel di depan pintu pagarnya tiba-tiba berbunyi. Membuat Azalea menarik nafasnya dalam-dalam demi mengatur emosinya.


"Maaf cari siapa, ya?" Azalea bertanya dengan sopan pada kurir wanita yang saat ini berada di depannya sambil menenteng sesuatu ditangannya.


"Iya benar,"


"Alhamdulillah. Kalau begitu saya mau mengantarkan paket makanan atas nama pak Azzam Gibran Al-Husain." Ujar kurir wanita di hadapannya itu sambil menyodorkan paperbag ke arahnya.


"Oh iya, terimakasih ya,"


"Sama-sama, Mbak. Kalau gitu saya pamit dulu, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Setelah kurirnya pergi, Azalea kembali masuk ke dalam dan tak lupa mengunci pintu pagar. Baru setelahnya ia berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung duduk selonjoran di ruang tengah.


Tak lama setelah Azalea duduk selonjoran di atas karpet bulu sambil bersandar pada sofa, ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan ada pesan masuk yang ternyata dari suaminya.


-----


From: Habibi❤️

__ADS_1


Sayang, Abang ada ngirim makanan sama kamu. Tadi kata kurir yang nganter kuenya, kueya udah kamu terima. Jangan lupa di makan ya, sayang😉. Sama Abang juga ada nyuruh toko kuenya untuk bikin notes. Jadi jangan lupa kamu baca ya. I love you lima ribu, sayang😘.


-----


Azalea mendengus geli membaca pesan dari suaminya itu. Sepertinya suaminya benar-benar melakukan banyak effort agar ia mau memaafkan suaminya itu. Padahal ia sama sekali tidak marah sama suaminya.


Setelah membalas pesan suaminya, Azalea langsung membuka paper bag yang katanya berisi kue itu.


"Aaaa lucu banget kuenya." Azalea menatap penuh binar ke arah box berisi cookies karakter yang lucu-lucu.



Tak lupa, Azalea juga membaca surat yang di selipkan di dalam box cookies nya seperti yang suaminya itu minta.



Sudut bibir Azalea melengkung. Ia merasa salah tingkah sekaligus senang mendapatkan surat berisi bujukan yang Husain tuliskan untuknya.


"Manis banget, suami Aza. Jadi kangen deh," ujar Azalea dengan senyum sumringah.


...-Husain dan Azalea-...


Di sore hari yang cerah, Husain sedang berdiri di depan pemakaman umum sambil memandang puas pada setiap pemakaman yang sudah terlihat cantik dengan bunga-bunga yang ia letakkan di sana atas komando istrinya.


"MasyaAllah, kuburannya jadi cantik-cantik karena bunga yang Mas Husain bawa," ujar bapak penjaga kuburan.


Husain yang mendengar ucapan dari bapak penjaga kuburannya lantas langsung menoleh. Ia mengulum senyum ketika dilihatnya bapak penjaga kuburan itu tersenyum ke arahnya.


"Terimakasih ya, Mas, karena bunga yang Mas Husain bawa kuburan orang-orang yang sudah meninggal dan sangat jarang di kunjungi kerabatnya jadi kelihatan cantik. Terimakasih juga atas sedekah yang Mas Husain kasih untuk kebersihan TPU disini," ujar bapak penjaga kuburannya pada Husain.


"Sama-sama, Pak. Oh ya, saya boleh minta tolong sama Bapak?"


"Minta tolong apa, Mas?"


"Kebetulan alm. ayah saya dan juga almh. ibu mertua saya dimakan kan disini. Jadi saya mau minta tolong sama Bapak buat seminggu sekali di bersihkan makam alm. ayah dan ibu mertua saya. Soalnya sebentar lagi istri saya akan melahirkan. Oleh karena itu mungkin saya atau istri saya akan jarang berkunjung ke makan alm. ayah dan almh. ibu kami. Bisa, Pak? Bapak tenang saja, nanti saya akan berikan imbalan atas keikhlasan Bapak untuk merawat dan membersihkan makam alm. ayah dan almh. ibu mertua saya," pinta Husain sedikit berharap.


"Boleh, Mas Husain. Nanti sekali seminggu akan saya bersihkan dan rawat makam alm. ayah dan almh. ibu mertuanya, Mas Husain,"


Mendengar itu, Husain lantas tersenyum bahagia. Ia mengambil tangan kanan bapak penjaga kuburan dan menyalinnya sebagai ungkapan terimakasihnya.


"Terimakasih banyak, Pak,"

__ADS_1


"Sama-sama, Mas Husain."


-to be continued-


__ADS_2