
Tak terasa, kandungan Azalea sudah memasuki bulan kesembilan. Dan selama menuju proses persalinan hingga berlangsungnya proses persalinan, Husain sama sekali tidak meninggalkan Azalea. Ia memilih untuk cuti bekerja dan selalu berada di samping Azalea.
Seperti saat ini, Azalea baru saja beristirahat setelah melakukan prosesi persalinan yang cukup panjang dan juga melelahkan. Dan selama Azalea beristirahat pun, Husain masih tetap berada di samping Azalea sambil menggenggam erat tangan Azalea. Sementara bayi mereka Husain serahkan pada perawat setelah ia mengadzankan nya untuk di mandikan dan juga di bedungkan.
"Aza belum bangun?" Tanya ibu yang baru masuk ke dalam ruang rawat Azalea sambil menenteng tas berisi baju Azalea serta Husain dan juga rantang yang berisi makanan untuk Husain.
"Belum," jawab Husain.
Tak lama setelah ibu masuk, tiba-tiba pintu ruang rawat Azalea kembali terbuka. Menampilkan ayah dan kakak-kakaknya Azalea yang datang untuk melihat keadaan Azalea.
"Masih tidur ya Aza nya?" Tanya Kak Ina.
"Iya kak, kayaknya kecapekan banget," jawab Husain. Ia mempersilahkan mertua dan kakak iparnya untuk melihat Azalea.
Karena merasa sedikit terganggu dengan suara di sekitarnya, Azalea terbangun dari tidurnya. Ia perlahan membuka kedua matanya dan langsung melihat ayah serta kakak-kakaknya yang berada di sekeliling ranjangnya.
"Loh udah bangun? Aza keberisikan ya?" Tanya bang Rahmat sambil mengelus kepala Azalea dengan lembut.
"Gapapa kok," jawab Azalea dengan suara yang lemah.
"Nih kakak bawain makanan kesukaan kamu. Tumis kembang kol dan tahu pakai kecap sama ikan goreng nila." Ujar kak Mayes sambil mengangkat rantang yang ia bawa.
"Gak pakai sambel?" Tanya Azalea.
"Pakai dong. Kakak bawain sambel terasi kesukaan kamu. Tapi gak pedas. Soalnya kan kamu baru melahirkan dan lagi menyusui,"
"Gapapa deh. Yang penting ada sambelnya," jawab Azalea.
"Nih langsung di makan. Untuk ngisi tenaga yang habis terkuras karena melahirkan."
Kak Mayes menyiapkan makanan yang ia bawa di atas nakas samping ranjang Azalea. Setelahnya, dengan telaten ia menyuapi Azalea makan karena di tangan kanan Azalea masih terpasang selang infus.
__ADS_1
"Ibu bawa makanan juga?" Tanya Azalea pada ibu.
"Iya, tapi ibu cuma bawain makanan untuk Husain. Maaf ya, sayang. Soalnya tadi katanya kak Mayes mau bawain kamu makanan, makanya ibu gak bawain kamu sekalian. Tapi ibu bawain kamu bolu coklat keju kesukaan kamu sama salad buah kok,"
"Oke deh gapapa. Nanti habis makan nasi Aza mau makan salad buah. Ibu bawanya banyak kan?"
"Banyak dong,"
Setelah selesai makan, Azalea kembali berbincang-bincang dengan keluarganya. Ia mendapatkan beberapa wejangan dan juga ilmu tentang bagaimana mengurus bayi dari kakak-kakaknya. Sementara Husain juga turut mendapatkan wejangan serta ilmu dari ayah dan juga Abang tentang bagaimana menjadi ayah dan membantu istri dalam mengurus anak.
Ditengah acara bincang-bincang santai mereka, tiba-tiba pintu ruang rawat Azalea kembali terbuka. Namun kini yang masuk adalah perawat sambil mendorong box bayi berisi anak Husain dan juga Azalea.
"MasyaAllah, ganteng banget. Namanya siapa nih?" Tanya kak Ina setelah box bayinya di letakkan tepat di samping ranjang Azalea.
"Namanya Muhammad Al-Zaid Ali," jawab Husain.
"MasyaAllah, cantik banget namanya,"
"MasyaAllah, gemes banget sih,"
"Gedenya pasti jadi rebutan nih. Kecil aja udah ganteng, manis terus gemes. Apalagi gedenya," ujar kak Raya, istri bang Rahmat.
"Aamiin,"
"Panggilannya siapa nih? Zaid atau Ali?" Tanya ayah.
Husain tak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Azalea yang ternyata juga melihat ke arahnya.
"Mau di panggil apa, sayang?" Tanya Husain.
"Zaid aja kali ya," jawab Azalea yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Ya udah berarti mulai sekarang dedek di panggil Zaid ya dek,"
Ayah mengangkat Zaid dengan hati-hati dan membawanya ke dalam pelukannya. Menggendongnya dengan sedikit di ayun dan sesekali mencium bibir Zaid yang wanginya akan menjadi candu siapa saja yang menciumnya.
Setelah menghabiskan waktu dua jam di ruang rawat Azalea, seluruh keluarga Azalea akhirnya pamit untuk pulang. Begitupun juga dengan ibu yang katanya akan mengunjungi nenek yang kebetulan juga sedang sakit. Alhasil saat ini hanya ada Husain dan Azalea bersama bayi mungil mereka di dalam ruang rawat Azalea.
"Nyusunya pelan-pelan ya, dek. Kalau dedek nyusunya kuat-kuat nanti ibu kesakitan." Ujar Husain sambil mengelus pipi tembem Zaid yang sedang menyusu pada Azalea.
"Sakit gak, sayang?" Tanya Husain pada Azalea.
"Gak kok." Jawab Azalea.
"Bener? Kemaren Abang baca katanya menyusui itu juga sakit loh," ujar Husain dengan wajah khawatirnya.
"Yang Abang baca tuh bener kok. Tapi ada juga beberapa yang gak ngerasain sakit saat menyusui, termasuk Aza. Jadi Abang gak perlu khawatir. Oke."
Azalea menggenggam tangan Husain dan meyakinkan suaminya itu bahwa ia baik-baik saja.
"Nanti kalau kamu sakit bilang ya sama Abang," ujar Husain yang diangguki oleh Azalea.
"Oh ya, katanya ibu menyusui juga harus makan yang banyak. Kamu mau Abang suapin salad buah yang ibu bawa?" Tawar Husain.
"Boleh,"
Setelah mendapatkan jawaban, Husain langsung bergegas mengambil salad buah yang ibu buatkan untuk Azalea. Ia dengan telaten menyuapkan salad buahnya pada Azalea yang masih menyusui Zaid.
"Makasih ya Abang udah nemenin Aza di ruang persalinan tadi. Maaf juga kalau tadi Aza sempet jambak sama cakar lengan Abang,"
"Gapapa, sayang. Abang yang seharusnya ngucapin terimakasih karena kamu sudah bersedia bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kita. Terimakasih ya. Abang sayang banget sama kamu. Bahkan rasa cinta dan sayang Abang makin bertambah setelah melihat perjuangan kamu melahirkan anak kita." Balas Husain sambil mengelus pipi kanan Azalea dengan lembut.
"Aza juga cinta banget sama Abang."
__ADS_1
-End-