
Husain mengerucutkan bibirnya kala tidak mendapati Azalea berada di kamar mereka. Padahal ia hanya meninggalkan istrinya itu untuk ke kamar mandi dalam waktu sepuluh menit. Tapi setelah ia keluar dari kamar mandi istrinya malah tidak ada.
Dengan langkah tergesa-gesa, Husain menyusuri setiap sudut rumah mereka untuk menemukan keberadaan Azalea. Hingga di tempat terakhir yang Husain datangi di dalam area rumah mereka, Husain baru menemukan keberadaan Azalea di taman belakang rumah sedang berfoto-foto menggunakan tripod.
"Kok kamu gak minta temenin Abang ke taman sih? sama kamu juga udah gak minta Abang buat fotoin kamu lagi, kenapa? Padahalkan hasil foto Abang bagus-bagus loh. Kamu udah gak butuh Abang lagi ya? Abang jadi sedih deh," ujar Husain menatap Azalea dengan wajah sedihnya.
"Eh bukan gitu, tadi Abang kan lagi di kamar mandi makanya Aza pergi ke taman sendiri." Jawab Azalea sambil berjalan mendekati Husain.
"Tapikan kamu bisa bilang sama Abang. Pasti Abang gak bakal lama-lama di kamar mandinya," ujar Husain.
"Aduhh kasian banget bayi besarnya Azaa. Maaf ya tadi Aza gak bilang sama Abang kalau Aza mau ke taman. Sini-sini Aza peluk biar sedihnya hilang," Azalea merentangkan kedua tangannya di hadapan Husain. Dan tanpa berlama-lama lagi, Husain langsung masuk ke dalam pelukan Azalea. Ia juga menyingkap kerudung bagian samping Azalea agar wajahnya bisa mengendus leher Azalea.
"Kamu beneran masih butuh Abang kan, sayang?" Tanya Husain dengan suara lirih.
"Masih, sayang. Gak mungkin dong Aza gak butuh Abang. Aza masih butuh Abang untuk jangka waktu yang lama dan tak di tentukan,"
"Bener?"
"Bener, sayang,"
"Oke deh." Wajah Husain yang semula sedih kini berubah bahagia. Ia tersenyum dengan manisnya di hadapan Azalea.
"Kamu beli baju baru ya, sayang?" Tanya Husain yang baru menyadari Azalea memakai gamis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Iya, Aza beli gamis baru. Tapi gamis ini ada cadarnya,"
__ADS_1
Mendengar Azalea membeli gamis yang ada cadarnya, Husain mendadak ingin melihat Azalea memakai cadar. Pasti istrinya itu terlihat jauh lebih cantik dan juga anggun ketika memakai cadar.
"Abang boleh gak lihat kamu pakai cadar?" Pinta Husain dengan nada lembut. Matanya menatap penuh harap pada Azalea.
"Boleh. Sebentar Aza ambilin cadarnya."
Azalea bergegas menuju kamarnya untuk mengambil cadar yang ia beli satu set dengan gamis yang saat ini sedang ia pakai. Dan setelah mendapatkannya Azalea langsung membawanya kehadapan Husain.
"Nih cadarnya. Aza yang pakai sendiri atau Abang mau pakai-in Aza?" Tanya Azalea sambil menyodorkan cadar berwarna senada dengan gamisnya kehadapan Husain.
"Abang aja yang pakai-in."
Husain mengambil cadarnya dari tangan Azalea lalu memakaikannya di wajah Azalea. Saat cadarnya sudah terpasang dengan sempurna di wajah Azalea, Husain mendadak terpaku sejenak. Ia terus menatap ke arah wajah Azalea yang kini hanya memperlihatkan mata indah Azalea saja. Namun aura kecantikan Azalea sama sekali tidak tertutup sedikitpun oleh cadar yang di pakainya malah membuat Azalea terlihat semakin cantik dan anggun seperti yang Husain katakan sebelumnya.
Dan pujian dari Husain ternyata berhasil membuat pipi Azalea yang ada di sebalik cadar mendadak memerah. Azalea bahkan tak mampu menahan senyumannya saat mendengar pujian yang Husain lontarkan untuknya.
"Serius nih Aza masih cantik? Kan dari wajah Aza yang kelihatan cuma mata doang," tanya Azalea mengkonfirmasi pujian Husain barusan.
"Sayang, kamu tahukan kalau bibir bisa berbohong tapi mata tidak akan pernah bisa berbohong. Kamu lihat mata Abang. Hanya sama kamu mata Abang selalu berbinar cerah dan bahagia,"
Dengan wajah serius Azalea menelisik ke arah kedua bola mata Husain yang juga menatapnya. Dan di bola mata indah itu Azalea bisa menemukan pantulan dirinya sendiri.
"Abang, I didn't find the lie in your eyes at all. But I found heaven in your eyes," Ujar Azalea menatap dalam mata Husain.
"Kalau begitu sama. Abang juga menemukan surga di mata kamu," balas Husain.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, Husain tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan melakukan sesuatu dengan ponselnya. Setelah selesai, Husain meletakkan ponselnya di atas meja yang berada tak jauh dari mereka. Lalu Husain juga menghampiri ponsel Azalea yang masih terpasang di tripod dan membawa jarinya untuk menekan tombol play pada ponsel Azalea agar bisa merekam kegiatan mereka berdua saat ini.
Setelah semuanya beres, Husain kembali menghampiri Azalea.
"You wanna dance with me, love?" Ujar Husain sembari sedikit membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya ke arah Azalea persis seperti pangeran kerajaan yang sedang mengajak tuan putri kerajaan berdansa.
Azalea terdiam sejenak. Ia tak tahu apa alasan Husain mengajaknya berdansa tiba-tiba. Namun walaupun begitu Azalea sama sekali tidak menolaknya. Ia menyambut uluran tangan Husain dengan senang hati. Dan bertepatan dengan tangan mereka yang saling bertautan, lagu dari Ed Sheeran berjudul perfect mengalun merdu menjadi backsound dansa mereka.
Selama berdansa, mata Husain terus saja menatap ke arah Azalea. Ia sama sekali tidak berniat menolehkan pandangannya ke arah lain sekalipun di sekeliling ada pemandangan yang lebih menari dari Azalea.
Di pertengahan lagu, Husain tiba-tiba saja menyatukan kening mereka hingga hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain walaupun terhalang oleh cadar Azalea.
"Sayang, if a million loved you, i am one of them, and if one loved you, it was me, if no one loved you then know that i am dead." Ujar Husain.
Mendengar kalimat romantis yang Husain ucapkan, Azalea malah tertawa pelan. Namun setelahnya ia mengalungkan ke dua tangannya di leher jenjang Husain. Mengecup sekilah bibir tebal Husain yang baru saja mengeluarkan kalimat manis dan memabukkan walaupun terhalang oleh cadar yang ia kenakan.
"Abang pasti punya setidaknya satu sarang madu di hati Abang. Kalau gak mana mungkin Abang bisa bersikap begitu manis sama Aza." Balas Azalea sambil menggesekan kedua hidung mereka.
"Aduhh, jantung Abang tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat karena ucapan romantis kamu." Ujar Husain sambil memegang dadanya menggunakan tangan kanan nya. Sementara tangan kiri nya masih bertengger di pinggang ramping Azalea.
Melihat reaksi Husain setelah ia goda balik, Azalea kembali mengeluarkan suara tawa merdunya yang disusul oleh suara tawa Husain.
Di bawah awan biru yang terlihat cerah, mereka berdua terus saja saling membalas ucapan-ucapan romantis satu sama lain. Dan itu di rekam oleh ponsel Azalea yang terpasang apik di tripod yang mengarah tepat ke arah mereka berdua.
-to be continued-
__ADS_1