
Azalea tersentak kaget ketika menemukan Husain yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan kedua tangan yang terlipat di dada dan tak lupa wajah cemberutnya.
"Kenapa gak bangunin Abang?" Tanya Husain.
"Aza gak tega bangunin Abang. Kan Abang baru tidur tadi jam satu karena habis nurutin ngidam Aza. Lagian Aza cuma ke kamar mandi doang kok," jawab Azalea dengan wajah memelas.
"Walaupun kamu cuma ke kamar mandi, kamu harus bangunin Abang. Biar kalau terjadi sesuatu sama kamu Abang bisa langsung tahu dan nolongin kamu,"
"Iya maaf deh. Aza minta maaf ya Abang," pinta Azalea masih dengan wajah memelas.
"Abang maafin. Tapi cium dulu." Husain menyodorkan wajahnya mendekat ke arah Azalea. Namun di luar prediksinya, Azalea ternyata malah memundurkan wajahnya.
"Kok mundur sih? Kamu gak mau Abang maafin?" Tanya Husain dengan wajah garangnya.
Mendengar itu Azalea menjadi gelagapan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Husain. "Eh bukan, bukan. Aza mau kok dimaafin sama Abang. Cuma ciumnya nanti aja ya. Soalnya Aza udah ambil wudhu. Nanti wudhu Aza batal lagi kalau cium Abang," ujarnya menjelaskan.
"Kamu mau sholat tahajud?" Tanya Husain dengan sebelah alis terangkat.
Azalea mengangguk. "Iya. Aza mau sholat tahajud," jawabnya.
"Tuh, kenapa gak bangunin Abang? Kamu gak mau sholat tahajud bareng Abang lagi? Kamu udah gak sayang Abang lagi? Kok kamu gitu sih sama Abang?" Cecar Husain dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Eh gak gitu. Kan Aza udah bilang kalau Aza gak tega bangunin Abang yang baru tidur dua jam karena habis nurutin ngidamnya Aza. Abang jangan sedih ya." Jelas Azalea dengan gelagapan.
"Walaupun Abang baru tidur sebentar, Abang gapapa dibangunin asalkan bisa sholat tahajud bareng sama kamu," ujar Husain sedih.
Karena efek hamil, emosional Azalea jadi sedikit lebih sensitif. Karena itu saat ini matanya langsung berkaca-kaca karena melihat wajah sedih Husain. "Maafin Aza ya Abang."
"Iya Abang maafin." Ujar Husain sambil merentangkan tangannya berniat ingin memeluk Azalea.
"Ih gak boleh peluk. Kan Aza udah bilang kalau Aza udah wudhu." Ujar Azalea yang berjalan mundur menghindari Husain yang ingin memeluknya.
Melihat istrinya terus berjalan mundur sehingga mereka berdua sudah sepenuhnya masuk ke dalam kamar mandi, Husain tiba-tiba tersenyum miring. Ia terus berjalan hingga akhirnya punggung Azalea bersentuhan dengan dinding kaca shower box. Kedua tangannya dengan gesit langsung berada di kedua sisi badan Azalea sehingga istrinya itu tidak bisa kabur kemanapun.
"Kan bisa wudhu lagi sayang." Balas Husain sambil mengendus-endus pipi Azalea namun tidak sampai menyentuh pipi Azalea.
"Aza males wudhu lagi Abang," rengek Azalea.
Tak kehabisan akal, Husain kembali menjawab ucapan Azalea. "Abang bantuin kamu ambil wudhu,"
__ADS_1
Mata Azalea melotot lucu. "Ya mana bisa." Serunya kesal.
Cup.
"Gak boleh ngomong nada tinggi sama suami. Dosa." Ujar Husain setelah dengan santainya mencium bibir Azalea.
"AAAA ABANG JAHAT BANGET! WUDHU AZA JADI BATAL KAN!" Seru Azalea. Sangking kesalnya, Azalea mengigit tangan Husain yang masih bertengger di samping badannya.
"Aduh sakit, sayang." Ujar Husain yang sedang mengelus tangannya yang habis di gigit oleh Azalea.
"Ya habisnya Abang ngeselin sih," jawab Azalea dengan wajah cemberutnya.
"Kamu ya, nakal banget. Sini kamu!" Husain mencoba menggapai tubuh Azalea yang berlari menghindarinya.
"Gak mau. Abang gak boleh sentuh-sentuh Aza!"
Mau seberapa pun gesitnya Azalea menghindar, ia akan tetap tertangkap oleh tangan panjangnya Husain.
"Siapa bilang Abang gak boleh sentuh kamu. Kamu itu lahir batin udah punya Abang. Jadi Abang bebas mau sentuh kamu dimana aja dan kapan pun." Ujar Husain yang sudah berhasil memeluk tubuh Azalea.
Tak lama setelah mereka berpelukan, Husain tiba-tiba saja merasakan basah di dadanya. Dengan segera ia melonggarkan pelukan mereka dan menangkup kedua pipi Azalea. "Kok nangis? Ada yang sakit?" Tanya Husain dengan nada khawatirnya.
Azalea menggelengkan kepalanya. Ia mengelap ingusnya yang keluar di baju piyama yang sedang Husain kenakan. "Aza gak sakit. Tapi Aza kesel sama Abang." Adu nya.
"Makanya jangan nakal." Ujar Husain sambil mencolek pipi Azalea.
"Aza gak nakal," seru Azalea tak terima.
"Iya, iya. Sayang Abang gak nakal. Jadi sholat tahajud nya?" Tanya Husain yang diangguki oleh Azalea. "Jadi."
"Ya udah, ambil wudhu lagi. Kita sholat berjamaah. Lain kali kalau mau sholat tahajud bangunin Abang, biar Abang imamin. Ingat sekarang kamu udah punya suami. Dan sebentar lagi juga mau punya anak," ujar Husain.
Melihat tidak ada pergerakan dari istrinya, Husain langsung mendekatkan bibirnya ke arah telinga istrinya. "Mau ambil wudhu sendiri- sendiri atau berdua? Tapi kalau berdua Abang gak yakin bakal tahan godaan. Soalnya kamu lagi pakai lingerie tipis gini. Mana pakai warna kesukaan Abang lagi, warna maroon." Bisik Husain sambil meniup telinga Azalea.
Mata Azalea seketika melotot merasakan hangatnya deru nafas Husain di telinganya. "Sendiri aja. Aza lagi gak mood mandi junub!" Seru Azalea sambil mendorong Husain keluar dari kamar mandi.
...-Azalea dan Husain-...
Paginya, Azalea baru terbangun setelah jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Jangan salahkan ia karena bangun terlambat. Tapi salahkan suaminya yang tiba-tiba saja meminta jatah setelah mereka selesai melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
"Kamu udah bangun?" Tanya Husain yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka dengan membawa nampan berisi susu ibu hamil, air putih hangat dan sepiring sarapan.
"Udah. Abang gak berangkat ke kantor?" Tanya Azalea balik.
"Ke kantor. Habis ini Abang mau langsung ke kantor. Oh ya, Ibu katanya mau nginap di rumah nenek selama seminggu. Kamu gak papa kan sendirian di rumah pas Abang lagi di kantor?" Tanya Husain setelah meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.
"Gapapa kok." Ujar Azalea sambil menaikkan selimutnya yang sempat melorot dan hampir memperlihatkan dua sumber mata air anaknya.
"Ya udah kalau gitu Abang berangkat ke kantor dulu. Sekalian nganterin ibu ke rumah nenek. Oh ya, jangan lupa mandi junub dulu baru sarapan. Oke, sayang?"
"Oke."
Seperti biasanya, sebelum berangkat Husain akan mencium seluruh wajah Azalea sampai puas sebagai vitamin dan penyemangatnya sebelum bekerja.
"Wangi banget kamu, sayang." Ujar Husain setelah puas menciumi seluruh wajah Azalea.
Mendengar perkataan suaminya, Azalea mendelik kan wajahnya menatap ke arah suaminya. "Wangi apaan. Yang ada badan Aza jadi bau sper*a Abang." Sinis nya yang ditanggapi dengan kekehan oleh Husain.
"Justru karena kamu bau sper*a Abang makanya kamu jadi wangi." Kelakar Husain.
"Halah preeettt."
"Udah ah sana buruan berangkat ke kantor. Ini udah jam delapan lewat. Gak baik pimpinan datangnya telat," Ujar Azalea.
"Iya ini juga mau berangkat. Jangan lupa loh pesan Abang tadi,"
"Iya, Abang. Oh ya bilangin sama ibu Aza gak bisa nganter ibu ke depan. Soalnya badan Aza masih pegel gara-gara Abang!" Diakhir kalimatnya, Azalea menatap sinis ke arah Husain.
"Iya nanti Abang sampaikan sama ibu. Sekalian Abang mau bilang ke kamu kalau nanti Abang pulang cepat,"
"Tumben? Abang gak ada kerjaan di kantor?" Tanya Azalea.
"Ada, tapi sedikit. Makanya Abang nanti pulangnya cepet. Sekalian mau pijitin badan kamu yang pegal-pegal karena habis main kuda-kudaan sama Abang," di akhir kalimatnya Husain tertawa geli. Sedangkan Azalea menatap malas ke arah suaminya.
"Dasar kantong hormon berjalan. Ngelihat istrinya pakai baju tipis dan nerawang dikit aja langsung terangsang," cibir Azalea.
"Ya gimana ya, soalnya kamu sexy banget sih makanya Abang gampang terangsang." Jawab Husain sambil mencolek dada Azalea.
"Heh! Udah ah sana berangkat. Makin ngadi-ngadi Abang kalau masih disini," Ujar Azalea garang.
__ADS_1
"Iya, iya ini mau berangkat. Dah sayang." Husain melambaikan tangannya ke arah Azalea yang di balas dengan lambaian tangan juga oleh Azalea.
-to be continued-