
"Denganmu akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara"
-HUSAIN dan AZALEA-
Azalea baru saja menyelesaikan rukun shalat yang kesebelas, yaitu salam. Setelah selesai salam, hal selanjutnya yang dilakukan Azalea adalah berdzikir kepada Allah.
Wanita yang sudah berstatus menjadi seorang istri itu menjulurkan tangannya ke arah meja nakas yang terletak tak jauh darinya untuk meraih tasbih kesayangannya.
Saat sedang asik - asiknya berdzikir, tiba - tiba saja tasbih kesayangan Azalea terputus. Hal itu tentu saja membuat Azalea spontan berhenti berdzikir. Hatinya mendadak merasa sedih.
"Astagfirullahal'adzim," gumamnya sendu. Matanya berkaca - kaca menatap ke arah manik - manik tasbih kesayangannya yang berceceran di atas sajadahnya.
Sementara dari arah belakangnya, ternyata Husain sudah pulang dari mesjid dan membuka pintu kamar mereka dengan perlahan. Matanya memandang siluet Azalea yang sedang duduk di atas sajadah dengan kepala yang menunduk.
"Assalamu'alaikum, cintaku," salam Husain.
Azalea yang baru menyadari kedatangan suaminya langsung menoleh ke arah belakang. Senyumnya mengembang mendapati suaminya berdiri di depan pintu sambil merentangkan tangannya.
Melihat pemandangan itu, Azalea buru - buru berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Husain.
"Wa'alaikumussalam, sayang," balas Azalea dengan senyum mengembang. Dirinya ia bawa ke dalam pelukan hangat sang suami.
Husain mendekap erat tubuh mungil istrinya yang terasa pas di pelukannya. Bahkan ia melayangkan kecupan - kecupan mesra di dahi sang istri.
"Sudah selesai dzikirnya, cintaku?" tanya Husain lembut.
Pertanyaan Husain barusan di jawab dengan gelengan oleh Azalea.
"Belum ya? Jadi abang ganggu dong?"
"Gak. Abang gak ganggu kok. Tapi–" Azalea menghentikan ucapannya saat kembali teringat tentang tasbih kesayangannya yang putus.
"Tapi kenapa, cintaku? Hm?" tanya Husain penasaran.
"Tasbih kesayangan Aza putus," cicit Azalea pelan. Namun beruntungnya Husain masih mendengar dengan jelas ucapan Azalea.
Merasakan istrinya sedang dilanda kesedihan, Husain membawa tangannya untuk menangkup wajah Azalea. Ia tatap teduh manik mata Azalea yang berkaca - kaca siap untuk menumpahkan air matanya.
"Jangan sedih, sayangku." ujar Husain mencium pucuk hidung Azalea dengan sayang.
"Abang punya tasbih couple untuk, Aza. Jadi jangan sedih ya," tutur Husain menghibur.
Mendengar ucapan Husain, seketika mata Azalea berbinar cerah.
"Serius? Tasbih couple?" tanya Azalea memastikan.
Husain mengangguk mantap. "Serius. Mau abang tunjukkan?" tawar Husain.
Tawaran Husain sontak langsung disetujui dengan cepat oleh Azalea, "Mau," pekiknya semangat.
"Oke. Sebentar ya, cintaku." Husain melepaskan pelukan mereka dan mencium pucuk kepala Azalea sekilas. Baru setelah itu pria itu berjalan menuju ke arah nakas yang berada di samping ranjang mereka. Tangan kekarnya terulur untuk membuka laci pertama.
__ADS_1
Setelah menemukan benda yang ia cari, Husain mengambilnya dan menunjukkannya ke arah Azalea yang masih setia menunggu dengan binar penuh harap.
"Ini. Warna biru untuk abang, dan warna emas untuk kesayangannya abang." ujar Husain sambil menunjukkan tasbih di kedua genggamannya.
"Cantik banget," puji Azalea melihat ke arah tasbih yang Husain tunjukkan.
Ketika tangan Azalea ingin mengambil tasbih berwarna emas yang katanya akan menjadi miliknya, tiba - tiba saja Husain menariknya kembali.
"Loh kok diambil lagi sih?" tanya Azalea cemberut.
"Abang akan kasih tasbih ini sama Aza, kalau nanti malam Aza bisa khatam Al-Qur'an minimal tiga Juz bareng abang. Gimana? Setuju?" ujar Husain memberikan persyaratan.
"Setuju!" sahut Azalea dengan cepat.
"Oke. Kalau gitu setelah selesai shalat Isya, kita langsung baca Al - Qur'an," putus Husain.
"Oki doki"
...-HUSAIN dan AZALEA-...
Sesuai dengan apa yang mereka berdua rencanakan, setelah shalat Isya keduanya sudah duduk saling berhadapan dengan Al - Qur'an yang ada hadapan mereka masing - masing.
Ketika Husain sedang membaca Al - Qur'an dengan tekun dan khidmat, matanya tak sengaja melirik ke arah Azalea yang berada di hadapannya. Husain hanya melihat bibir Azalea komat - kamit sebentar lalu berhenti dan diam sambil melihat ke arah Al - Qur'an. Setiap satu menit sekali, Azalea akan membalikkan lembar Al - Qur'an yang ia lihat.
Ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam, Husain sudah menyelesaikan sembilan juz dalam waktu empat jam. Itu bukan hal yang sulit bagi Husain mengingat selama ini ia sudah terbiasa dalam membaca Al - Qur'an berjam - jam. Bahkan ia hanya membutuh beberapa hari untuk khatam Al-Quran.
Karena ia sudah selesai membaca Al - Qur'an, Husain langsung saja menanyakannya hal yang sejak tadi ada di dalam pikirannya kepada Azalea.
"Sayangku, kenapa Aza gak baca Al-Qur'an nya sampai khatam tiga Juz?" tanya Husain dengan nada lembut.
Husain yang mendengar ucapan Azalea mengernyit bingung. Yang ia lihat sejak tadi adalah, Azalea yang cuma berkomat - kamit sebentar. Lalu setelahnya hanya membolak-balikkan lembar Al-Qur'an di hadapannya.
"Cepat banget. Kayaknya gak mungkin deh," ucap Husain terdengar ragu.
Azalea tersenyum manis mendengar jawaban dari sang suami.
"Bukannya Rasulullah pernah mengatakan bahwa kandungan surah Al-Ikhlas sama dengan sepertiga isi Al-Qur'an?" tanya Azalea dengan senyum yang masih mengembang.
"Benar," jawab Husain membenarkan.
"Berarti, cukup membaca surat Al-Ikhlas tiga kali, itu sama dengan mengkhatamkan Al-Qur'an," sambung Azalea bangga.
Husain mengulum senyum mendengar jawaban yang dilontarkan Azalea kepadanya.
"Sayangnya abang, sini deh." pinta Husain menepuk pahanya.
Sebelum itu, Husain sudah meletakkan Al-Qur'an miliknya dan milik Azalea di atas meja nakas.
Azalea sebenarnya sedikit ragu untuk duduk di pangkuan suaminya. Namun ia juga tak kuasa untuk menolak permintaan sang suami. Akhirnya dengan kemantapan hati, Azalea duduk di pangkuan Husain.
Setelah Azalea duduk di pangkuannya dengan nyaman, Husain berinisiatif mengelus pucuk kepala Azalea dengan sayang. Bahkan ia juga beberapa kali melayangkan kecupan - kecupan di pipi pucuk kepala dan kedua pipi Azalea dengan gemas.
__ADS_1
"Dengarkan abang ya sayangku, membaca surat Al-Ikhlas sama dengan pahala orang yang khatam Al-Qur'an, bukan dengan membaca Al-Ikhlas saja kita sudah khatam Al-Qur'an," jelas Husain dengan sabar.
Azalea yang mendengar penjelasan dari Husain sontak membulatkan matanya dengan lucu. Kepalanya langsung menoleh ke arah samping dimana hal itu membuat ujung hidungnya beradu dengan ujung hidung Husain.
"Jadi selama ini Azalea salah pengertian dong?" tanyanya yang dijawab anggukan pelan dari Husain.
Azalea terkekeh kecil kala merasakan geli akibat gesekan hidung Husain di hidungnya.
"Gapapa, sekarangkan sayangnya abang udah tahu yang benarnya," ujar Husain lembut.
Cup.
Cup.
Cup.
Dengan berani, Azalea melayangkan tiga kecupan di bibir Husain sebagai tanda terimakasih darinya.
Awalnya Husain tersentak kaget. Namun sedetik kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
"Terimakasih abang atas ilmu yang sangat bermanfaat untuk, Aza," ujar Azalea dengan senyum manisnya.
"Sama - sama, cintaku, bidadari surgaku,"
Pipi Azalea bersemu merah. Kepalanya langsung tertunduk malu, berusaha menyembunyikan rona pipinya. Manis sekali ucapan suaminya ini.
Tiba - tiba saja, Azalea teringat akan sesuatu. Kepalanya langsung mendongak menatap Husain dengan pandangan berbinar. Tak lama setelahnya, Azalea juga turut menengadahkan tangannya ke arah Husain.
"Kenapa?" tanya Husain yang menyadari tangan Azalea turut menengadah ke arahnya.
"Tasbih nya," balasnya riang dengan mata berbinar-binar.
Mendengar itu, Husain terkekeh pelan. Tangannya menjawil dan mencubit gemas hidung mancung Azalea.
"Nih tasbih untuk kesayangannya abang" ujar Husain meletakkan tasbih berwarna emas ke telapak tangan Azalea.
Mata Azalea langsung berbinar cerah. "Wah. Terimakasih abang. Aza sayang abang," serunya bahagia.
Husain membelalakkan matanya. Menatap penuh cinta ke arah Azalea.
"Abang juga cinta Aza. Tapi cinta Abang, cinta karena Allah. Bahkan jauh lebih besar dari yang Aza ketahui." bisik Husain di telinga Azalea dengan mesra.
Mata Husain memandang ke arah jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Dan ini sudah larut malam, sudah waktunya Azalea tertidur pulas menjemput sang mimpi indah.
"Sekarang buka mukenanya terus cuci kaki, tangan, muka dan gosok gigi. Habis itu tidur," perintah Husain.
"Okey abang." Azalea beranjak dari pangkuan Husain untuk melaksanakan perintah yang diberikan oleh Husain untuknya. Sesekali gadis itu bersenandung senang saat melakukan serangkaian step sebelum tidur. Sementara Husain yang melihatnya menahan gemas terhadap tingkah sang istri.
"Sabar Husain. Sebentar lagi. Setelah ini, kamu bisa memiliki Azalea seutuhnya," gumam Husain lirih.
"Semoga Allah selalu menyatukan kita baik di dunia maupun di akhirat ya, sayang," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Dari sini kita bisa melihat seberapa besarnya cinta Husain untuk Azalea. Gadis yang jauh dari kata sempurna namun Husain tidak mempermasalahkannya. Gadis yang masih butuh bimbingan yang dengan senang hati Husain membimbingnya.
- To Be Continue -