Imamku, Surgaku

Imamku, Surgaku
(36). Ngidam buah kurma.


__ADS_3

"Abang." Azalea bergelayut manja pada pada Husain yang sedang fokus membaca buku.


"Hmm? Kenapa, sayang?" Jawab Husain dengan nada lembut. Tangannya terjulur mengusap pipi gembil Azalea yang terasa halus di tangannya.


"Aza pengen makan kurma," pinta Azalea dengan wajah memelas.


"Mau beli sekarang?" Tanya Husain yang langsung diangguki oleh Azalea dengan semangat.


"Kalau gitu, siap-siap gih."


Dengan semangat, Azalea beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari baju untuk mengambil pakaian ganti.


"Hati-hati, sayang. Nanti kamu jatuh," peringat Husain yang di balas dengan cengiran lucu oleh Azalea.


"Siap, Abang."


Tak butuh waktu lama, Azalea sudah selesai mengganti piyama yang tadi ia kenakan dengan gamis berwarna navy dan hijab instan yang menutupi dadanya. Begitupun dengan Husain yang sudah mengganti piyama tidurnya dengan celana panjang dan sweater.


"Sini Abang pakaikan kaos kakinya."


Azalea mengangguk. Ia berjalan mendekati Husain yang berdiri di dekat ranjang sambil memegang sepasang kaos kaki.


Dan setelah Azalea sampai di hadapan Husain, Husain langsung menuntun Azalea untuk duduk di tepi ranjang. Sementara Husain sendiri berjongkok di hadapan Azalea untuk memakai kan Azalea sepasang kaos kaki yang matching dengan gamis yang Azalea pakai.


"Terimakasih, Abang." Ucap Azalea setelah Husain selesai memakaikannya kaos kaki.


"Sama-sama, sayang." Balas Husain sambil mengusap pucuk kepala Azalea.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan keluar dari kamar dan melewati ruang keluarga yang ternyata sedang ada ibu disana yang sedang menonton televisi.


"Kalian mau kemana malam-malam begini?" Tanya ibu setelah menyadari eksistensi anak dan menantunya.


"Aza lagi pengen makan kurma. Jadinya kita berdua mau ke supermarket buat beli kurma," jawab Husain.


"Kalau gitu tunggu sebentar. Ibu mau ngambil sesuatu untuk Aza." Setelah mengatakan itu, ibu langsung berjalan menuju kamarnya. Dan tak butuh waktu lama, ibu keluar lagi dari kamarnya dan berjalan menghampiri Azalea dan Husain sambil membawa sweater rajut hasil tangannya.


"Di luar pasti dingin banget. Jadi kamu pakai sweater ini ya, sayang. Ini khusus Ibu buatkan untuk anak perempuan Ibu." Ujar ibu sambil memakaikan Azalea sweater rajut hasil tangannya.


"Terimakasih, Ibu," ucap Azalea dengan tulus. Ia benar-benar merasa beruntung memiliki seorang mertua yang menganggap dan memperlakukannya layaknya seperti putri kandungnya sendiri bukan menantunya.


"Sama-sama, sayang. Ya sudah sana pergi. Pulangnya jangan malam-malam ya." Ujar ibu.


"Oke, Ibu. Kalau gitu Husain sama Aza pamit dulu. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


Setelah berpamitan dengan ibu, Husain kembali menggandeng tangan Azalea berjalan keluar dari rumah menuju mobilnya terparkir. Dan seperti biasanya, Husain akan membukakan pintu mobil penumpang untuk Azalea serta memakaikan sabuk pengaman pada Azalea agar istrinya itu tetap aman dan selamat. Baru setelahnya Husain menutup pintu mobil penumpang dan berjalan mengitari mobil menuju bagian kemudi.


Jarak antara rumah mereka dan supermarket tidak begitu jauh. Sehingga hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit untuk bisa sampai di supermaket. Sebelum turun dari mobil, Husain menyodorkan satu buah masker berwarna navy ke arah Azalea. Sedangkan satunya lagi akan ia pakai untuk dirinya sendiri.


"Sayang, boleh Abang minta kamu buat pakai masker kalau kita lagi di luar?" Pinta Husain selembut mungkin.


"Boleh." Jawab Azalea tanpa banyak bertanya lagi.


Dengan dibantu oleh Husain, Azalea memakai masker yang Husain berikan padanya. Setelah ia selesai memakai masker barulah Husain memakai masker miliknya sendiri.


"Tunggu, biar Abang yang bukain pintunya buat kamu. Kamu di larang buka pintu mobil kalau pergi sama Abang." Tegas Husain yang menutup kembali pintu mobil yang tadi sempat Azalea buka.


Azalea mengangguk, membiarkan Husain membuka pintu mobil untuknya.


"Ayo, sayang." Husain menjulurkan tangannya untuk membantu Azalea keluar dari mobil. Dan dengan senang hati, Azalea menyambut uluran tangan Husain.


Kedua berjalan bergandengan tangan memasuki supermarket yang lumayan lengkap di daerah mereka.


"Ingat ya, gak boleh lepasin genggamannya." Ujar Husain mewanti-wanti Azalea untuk tidak melepaskan genggaman tangan mereka. Bukan apa-apa, Husain hanya takut Azalea di senggol oleh orang lain dan membuat istrinya itu terjatuh.


"Iya, Abang," jawab Azalea tanpa bantahan.


"Nanti kurma nya cuma boleh dimakan 5-6 biji perhari ya. Gak boleh lebih. Kalau makannya berlebihan nanti kamu bisa kontraksi dini." Peringan Husain pada Azalea setelah mereka sampai di dalam mobil.


"Iya. Tapi Abang tahu darimana?" Tanya Azalea sambil membuka maskernya agar ia bisa memakan dan menikmati manisnya buah kurma.


"Dari buku dan internet yang Abang baca." Jawab Husain sambil mengemudikan mobil menuju jalan pulang.


"Oh gitu."


Suasana di dalam mobil terasa hening sejenak. Azalea sedang asik memakan buah kurma yang mereka beli. Sedangkan Husain tengah fokus mengemudikan mobil sambil sesekali melirik ke arah Azalea yang masih asik memakan kurma.


"Kamu tahu gak, sayang. Kalau buah kurma itu adalah buah termanis yang paling disukai oleh Rasulullah. Sementara kamu adalah perempuan termanis yang Abang cintai karena Allah." Gombal Husain tiba-tiba.


Tak mendapati jawaban dari Azalea, Husain lantas menoleh ke arah Azalea yang ternyata sedang memalingkan wajahnya. Namun walaupun begitu Husain masih bisa melihat semburat memerah di pipi Azalea.


"Cie Humairah nya Abang lagi salah tingkah". Goda Husain sambil mencolek pipi Azalea.


"Aaaa Abang jangan colek-colek Aza." Rengek Azalea yang membuat Husain makin gencar mencolek pipi tembem Azalea.


"Kenapa sih, sayang? Abang cuma colek pipi kamu loh. Atau mau Abang colek yang lain juga?" Ujar Husain sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Plak.


Tangan mungil Azalea langsung mendarat di paha Husain. Matanya menatap sinis ke arah Husain yang sedang tertawa sambil mengelus pahanya.


"Abang mesum banget sih." Ujar Azalea sambil menatap sinis ke arah Husain dengan bibir yang mencebik.


"Kamu sih cantik banget, makanya pengen Abang mesumin mulu," jawab Husain dengan nada santai.


"Tau ah. Aza ngambek sama Abang." Azalea melipat kedua tangannya di dada. Menatap lurus ke arah depan di mana ternyata mereka sudah sampai di halaman rumah.


Baru saja Azalea ingin turun dari mobil, Husain lebih dulu mengangkat badan Azalea dan mendudukkan Azalea di atas pangkuannya. Memeluk dengan erat tubuh Azalea yang berada di atas pangkuannya.


Cup.


Satu kecupan basah Husain berikan di bibir Azalea yang sedang mengerucut lucu.


"Aaaa Abang gak boleh cium-cium." Ujar Azalea ke arah Husain.


"Kalau gak boleh cium kamu, bolehnya ngapain dong?" Tanya Husain sambil meletakkan dagunya di bahu sempit Azalea.


"Gak tahu," jawab Azalea acuh.


"Kalau gitu kamu aja deh yang cium Abang." Husain menyodorkan bibirnya ke arah Azalea.


"Gak mau. Aza kan lagi ngambek sama Abang," tolak Azalea.


"Ya udah, sayangnya Abang mau apa hm biar gak ngambek lagi sama Abang?"


"Gendong Aza sampai kamar. Habis itu nanti waktu tidur Abang harus peluk Aza, pat-pat Aza sama nyanyiin sholawat sampai Aza sama Dedek bayi tidur." Ujar Azalea sambil mengelus perutnya.


"Oke, permintaan di kabulkan." Balas Husain sambil mencubit ujung hidung Azalea.


Sesuai dengan permintaan bidadarinya, Husain menggendong Azalea dari mobil sampai ke dalam kamar. Bahkan Husain juga membantu Azalea mengganti pakaian dan gosok gigi setelah meminum susu hamil yang Husain buatkan.


"Sini, sayang." Husain membuka kedua tangannya agar Azalea bisa masuk ke dalam pelukannya.


"Aza ngantuk Abang." Ucap Azalea sambil mengusak-usak wajahnya di dada Husain.


"Iya, sayang. Abang pat-pat sama nyanyiin sholawat ya biar bisa cepat bobo," ujar Husain yang diangguki oleh Azalea.


Setelah mematikan lampu tidur dan memastikan Azalea nyaman dalam pelukannya, Husain langsung mengusap-usap kepala Azalea dan menyenandungkan shalawat agar istrinya cepat tertidur. Dan tak butuh waktu lama, Azalea akhirnya bisa tertidur dengan nyenyak di dalam pelukannya.


"Selamat tidur, Humairah Abang, bidadari Abang, kesayangan Abang dan surganya Abang. Dan selamat tidur juga kesayangan dan cintanya Ayah." Ucap Husain sambil mencium kening Azalea dan mengusap perut Azalea.

__ADS_1


-to be continued-


__ADS_2