
Bagi Husain, Azalea adalah pemilik suara paling menenangkan. Pemilik tatap mata yang paling meneduhkan hati dan jiwanya. Dan pemilik genggaman yang paling menghangatkan. Rasanya Husain ingin terus mendekap Azalea dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Husain tidak ingin berbagi Azalea dengan siapapun. Dan hanya pada Azalea Husain ingin terus berjuang bersama dan saling mengasihi sampai tua.
Setiap doa yang Husain langit kan, Husain selalu meminta pada Sang Pemilik Hidup bahwa ia ingin di wafatkan bersama dengan Azalea. Husain tak mampu rasanya jika harus kehilangan Azalea dalam hidupnya. Tapi Husain juga tak mampu membiarkan Azalea hidup dan berjuang sendirian tanpa dirinya.
Katakanlah Husain lebay, namun yang saat ini ia rasakan adalah yang sebenar-benarnya cinta yang ditumbuhkan oleh Allah di hatinya setelah menikah dengan Azalea. Karena sejatinya kisah cinta hanya ada setelah pernikahan. Selain itu, hanya kisah zina.
"Lagi lihat apaan sih? Fokus banget. Sampai Abang di cuekin," ujar Husain pada Azalea yang sedang menonton sesuatu di ponselnya.
Azalea yang berada di dekapan hangat Husain lantas menoleh dan mendongakkan wajahnya ke arah Husain. Ia tersenyum mendapati Husain menatapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. "Aza lagi nonton film disney tinkerbell. Kenapa? Abang mau ikutan nonton juga?" Tanya Azalea.
Husain menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang Azalea berikan padanya. Tangan kirinya yang memeluk pinggang Azalea ia arahkan menuju perut Azalea dan mengelusnya. Sesekali Husain mencium belakang surai madu Azalea yang selalu tercium wangi di indera penciuman nya.
"Kamu gak ngantuk sayang?" Tanya Husain yang dijawab dengan gelengan oleh Azalea. "Tumben. Biasanya kesayangan Abang ini selalu bobo siang. Kok sekarang gak?" Tanya Husain lagi.
"Gak tahu," jawab Azalea sekenanya. Namun tak lama, tiba-tiba Azalea malah mematikan ponselnya dan berbalik menghadap ke arah Husain.
"Kenapa, hm? Ngantuk?" Tanya Husain yang di jawab gelengan oleh Azalea.
"Terus kalau bukan ngantuk, kenapa dong?" Tanya Husain lagi.
"Aza tiba-tiba pengen makan es krim." Cicit Azalea sambil memainkan jari jemarinya di atas dada bidang Husain.
"Ya udah. Mau beli sekarang?"
"Mau," seru Azalea bahagia. Bahkan Husain bisa melihat binar mata bahagia terpancar di kedua bola mata indah Azalea.
"Ya udah, sana ganti bajunya." Perintah Husain yang dijawab anggukan oleh Azalea.
Setelah mengganti bajunya, Azalea langsung menarik tangan Husain keluar rumah dengan tidak sabaran.
"Pelan-pelan, sayang. Supermarket nya gak bakal kabur kok," ujar Husain menarik pelan tangan Azalea agar berjalan beriringan bersamanya.
Rencananya, Husain ingin pergi memakai mobil -agar Azalea tidak kepanasan- ke supermarket yang berada di depan komplek rumah mereka yang memang letaknya tak terlalu jauh dan bisa juga di tempuh dengan berjalan kaki lebih kurang 5 menitan. Namun Azalea ternyata lebih memilih berjalan kaki menuju ke sana. Yang mau tak mau harus Husain turuti mengingat ini adalah permintaan bumil kesayangannya.
Karena cuaca terlihat terik, maka Husain berinisiatif untuk membawa payung agar Azalea tak merasa kepanasan.
"Kok yang Abang payungin cuma Aza doang sih? Abang juga dong." Ujar Azalea sedikit mendorong payung yang ada di atas kepalanya ke arah Husain agar Husain juga tidak kepanasan.
"Kamu aja, sayang." Tolak Husain yang kembali mengarahkan payung sepenuhnya ke arah Azalea.
__ADS_1
"Gak mau! Aza maunya Abang juga kebagian payungnya. Biar Abang gak kepanasan!" Protes Azalea merajuk.
Tak ingin membuat istrinya semakin merajuk, Husain lebih memilih mengalah. "Tuh lihat, Abang juga kebagian payungnya. Jangan ngambek lagi, nanti cantiknya hilang loh." Ujar Husain menjawil hidung minimalis Azalea.
"Iya, Aza gak ngambek lagi kok," jawab Azalea tersenyum lebar menunjukkan gigi rapinya.
Diperjalanan mereka yang hampir sampai menuju supermarket, tiba-tiba saja sendal yang sedang Azalea pakai putus. Membuat Azalea hampir saja terjatuh jika Husain tidak dengan sigap menangkap tubuh Azalea.
"Yah, sendal Aza putus Abang," adu Azalea dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gapapa, sayang. Pakai sendal Abang aja ya," bujuk Husain pada Azalea yang hampir menangis. Masalahnya, sendal Azalea yang putus saat ini adalah sendal kesayangannya yang selalu ia pakai kemanapun.
"Tapi ini sendal kesayangan Aza, Abang," lirihnya sedih.
"Nanti Abang cari sendal yang kayak gini lagi. Kalau gak ada Abang bakal cari sendal yang lebih lucu dari ini, gimana?" Bujuk Husain lagi.
"Bener ya? Abang harus cari sendal yang kayak gini atau kalau gak ada Abang harus cari sendal yang lebih lucu dari ini," pinta Azalea dengan wajah memelas.
"Iya, sayang. Nanti Abang cariin. Sekarang kamu pakai sendal Abang ya,"
"Tapi kalau Aza pakai sendal Abang, terus Abang pakai apa dong? Nanti kaki Abang panas lagi gak pakai sendal," cicit Azalea sedih.
"Nanti Abang beli sendal di supermarket nya. Kan di sana ada jual sendal juga." Ujar Husain sambil melepas sendal yang ia pakai.
"Abang boleh minta tolong sama Aza buat pegangin payungnya dulu?" Pinta Husain dengan nada lembut.
"Boleh." Jawab Azalea menganggukkan kepalanya.
Setelah payungnya di pegang oleh Azalea, Husain berjongkok di hadapan Azalea dan memakaikan sendalnya ke kaki Azalea. Saat sendalnya terpasang dengan sempurna di kaki Azalea, Husain terkekeh kecil karena melihat sendalnya yang ternyata sangat kebesaran di kaki Azalea.
"Sendal Abang kebesaran di kaki Aza." Ujar Azalea terkekeh setelah menyadari bahwa sendal milik Husain yang ia pakai terlalu kebesaran di kaki mungilnya.
"Gapapa, lucu," ujar Husain sambil berdiri dan mengambil alih kembali pegangan payungnya.
"Ayo jalan lagi," ajak Husain.
Selama perjalanan menuju supermarket yang tinggal beberapa langkah lagi, Azalea terus saja mengoceh mengatakan bahwa ia ingin membeli banyak jenis dan rasa es krim yang ada di supermarket.
"Boleh, tapi makannya cuma boleh sehari satu ya?" Timpal Husain.
__ADS_1
"Oke, Abang."
Sesampainya mereka di depan supermarket, Husain membukakan pintu supermarket nya dan mempersilahkan Azalea untuk masuk terlebih dahulu ke dalam supermarket nya. Baru setelahnya ia yang masuk ke dalam supermarket nya setelah menitipkan payung mereka pada tukang parkir supermarket nya.
"Ayo pilih mau ambil es krim yang mana?"
Dengan semangat, Azalea mengambil beberapa es krim yang ingin ia coba. Bahkan Azalea juga mengambil banyak varian rasa es krim selain rasa coklat yang selama ini selalu ia beli.
"Boleh ambil yang ini juga?" Tanya Azalea pada Husain sambil menunjuk ke arah es krim yang harganya lebih mahal dari es krim yang lainnya.
"Boleh, sayang. Ambil aja. Ambil apa yang Aza mau," jawab Husain dengan lembut.
Husain tidak akan melarang Azalea membeli makanan atau minuman yang istrinya itu sukai selagi baik untuk dikonsumsi istrinya saat ini. Cuma Husain akan membatasinya jika minuman atau makanan yang Azalea sukai itu bisa berdampak buruk pada Azalea saat di konsumsi dalam jumlah banyak seperti es krim.
"Udah?" Tanya Husain saat melihat Azalea menutup freezer ice cream nya.
"Udah, Abang,"
"Ya udah. Kita cari sendal untuk Abang dulu, baru habis itu kita bayar." Ujar Husain yang diangguki oleh Azalea.
Setelah mendapatkannya, Husain membawa sendalnya serta keranjang berisi es krim yang Azalea pilih tadi menuju kasir untuk membayarnya. Dan setelah selesai membayarnya, Husain mengambil belanjaan mereka dan langsung memakai sendal yang ia beli.
Sama seperti datang tadi, Husain juga kembali membukakan pintu supermarket nya untuk Azalea.
"Silahkan, cantiknya Abang." Ujar Husain mempersilahkan Azalea keluar dari supermarket.
"Terimakasih, gantengnya Aza," balas Azalea pada Husain.
Sebelum pulang, Husain mengambil terlebih dahulu payung yang tadi ia titipkan pada bapak tukang parkirnya.
"Ini, Pak untuk Bapak. Makasih udah jagain payung kita." Husain memberikan uang senilai dua puluh ribu rupiah pada bapak tukang parkir yang sudah dengan ikhlas menjaga payung mereka.
"Eh gak usah, Mas. Saya ikhlas kok jagain payungnya," tolak bapak tukang parkirnya.
"Gapapa, Pak. Anggap aja rezeki untuk anak sama istri Bapak di rumah," ujar Husain yang akhirnya di terima oleh bapak tukang parkirnya.
"Makasih banyak ya, Mas. Semoga Mas dan Mbaknya selalu dalam lindungan Allah dan di berikan kemudahan dalam segala urusannya. Juga di langgeng kan pernikahannya sampai surganya Allah,"
"Aamiin," Husain dan Azalea spontan langsung mengaminkan do'a baik bapak tukang parkirnya.
__ADS_1
Hal yang harus kita semua ketahui adalah bahwa memberi sedikit rezeki kepada orang yang membutuhkan tidak akan pernah membuat kita miskin. Bahkan kita hanya memberikan mereka sedikit namun mereka melangit kan banyak doa untuk kita dengan hati yang tulus setelah kita beri. Sungguh itu balasan yang tidak sebanding dengan pemberian kita yang sedikit itu.
-to be continued-