Imamku, Surgaku

Imamku, Surgaku
(37). Antara 0 dan 1.


__ADS_3

"Bu Ayyara kenapa sih mau menikahkan Husain dengan dia? Kenapa gak sama anak saya aja? Padahal kalau dilihat-lihat anak saya jauh lebih sholehah dan cantik daripada dia?" Ucap ibu Balqis yang merupakan ibu dari Zara, perempuan yang mendatangi Husain setelah selesai sholat seminggu yang lalu.


"Menantu saya juga cantik kok. Selain cantik juga sholehah luar dalam. Anak saya gak mungkin sembarangan memilih pendamping hidupnya. Kalau anak saya sudah memilih Azalea sebagai pendamping hidupnya berarti Azalea lah yang paling pantas di antara perempuan lain untuk mendampingi anak saya." Balas ibu dengan sopan dan lembut. Di bawah sana tangan ibu terus menggenggam erat tangan Azalea. Berusaha menenangkan menantunya yang merasa sedih dengan perkataan jahat tetangganya.


Berbeda dengan ibu yang terus membalas setiap perkataan menyakitkan tetangga mereka, Azalea hanya mampu menundukkan pandangannya sambil menatap genggaman tangan ibu mertuanya. Hatinya merasa sakit dengan perkataan tetangganya yang seolah menganggapnya tidak pantas dengan Husain.


"Tapi menurut saya dia tidak pantas untuk Husain, Bu. Saya yang lebih pantas untuk dia. Kami sama-sama lulusan pesantren. Dan bahkan saya juga lulusan sarjana agama." Ucap Zara dengan pongahnya.


Genggaman tangan Azalea pada ibu semakin erat. Membuat ibu langsung menoleh ke arah menantunya. Ada rasa sakit di hati ibu ketika melihat air mata turun dari pipi menantu satu-satunya.


Baru saja ibu akan membuka suara untuk kembali membela menantunya, Husain tiba-tiba saja muncul menghampiri Azalea dengan wajah marahnya.


"Siapa bilang istri saya tidak pantas untuk saya? Justru sebenarnya saya lah yang tidak pantas untuk istri saya. Tapi karena saya ingin istri saya yang menjadi pendamping hidup saya, maka saya memantapkan diri dan berusaha menjadi pria idaman istri saya." Ucap Husain dengan tegas. Ia menatap nyalang ke arah ibu Balqis dan juga Zara yang kini terlihat berdiri kaku sambil menundukkan kepalanya. Entah kemana hilangnya sikap sombong dan angkuh yang mereka tunjukkan tadi.


"Sudah Nak, sekarang mending kamu tenangkan Aza dulu." Ujar ibu pada Husain.


Mendengar itu, Husain lantas langsung beristighfar. Dengan cepat ia toleh kan kepalanya ke arah samping dimana istrinya berada.


Demi Allah, hati Husain rasanya sakit sekali melihat istrinya yang menunduk sambil terisak kecil. Segera Husain bawa tubuh bergetar istrinya ke dalam pelukannya sambil ia usap-usap punggung istrinya dengan lembut.


"Sakit Abang, sakit. Hati Aza sakit," adu Azalea dengan suara terputus-putua karena isak tangisnya.


"Maafin Abang ya sayang. Seharusnya Abang ikut sama kamu dan ibu biar kamu gak dijahatin mereka." Ujar Husain sambil sesekali mengecup pucuk kepala Azalea dengan sayang.


"Aza mau pulang, Abang." Pinta Azalea dengan suara pelan.

__ADS_1


"Iya kita pulang aja. Ibu juga sudah selesai belanjanya." Ujar ibu yang turut mengelus kepala Azalea.


Azalea mengangguk. Ia jauhkan kepalanya dari dada Husain yang sudah basah karena air matanya.


"Maaf baju Abang jadi basah karena Aza," cicitnya pelan.


Husain menggeleng. Tangannya ia bawa untuk menghapus air mata yang masih mengalir di kedua pipi gembil Azalea. Bahkan tak segan-segan ia mencium kedua kelopak mata Azalea di hadapan ibu Balqis, Zara dan beberapa tetangga lainnya yang memang masih berada di sekitar mereka untuk berbelanja sayur mayur.


"Gapapa, sayang. Ayo sekarang kita pulang." Ajak Husain.


Sebelum benar-benar beranjak dari sana, Husain terlebih dahulu menoleh ke arah tetangga depan rumahnya yang tadi sudah memberitahukannya tentang Azalea yang di rendahkan oleh Zara dan juga ibu Balqis. Jika tidak diberitahu tetangganya, Husain mungkin tidak akan tahu kejadian pagi ini.


Husain juga sempat menoleh kearah Zara dan ibu Balqis. Sepertinya ia harus benar-benar memberikan peringatan tegas agar ibu dan anak itu tidak lagi menganggu keluarganya.


Sesampainya mereka di rumah, Azalea langsung berlari menuju kamar mereka dan disusul dengan Husain di belakangnya. Husain memilih mendudukkan dirinya di sofa yang berada di seberang ranjang mereka sambil menunggu Azalea menyelesaikan tangisnya. Di rasa tangis istrinya sudah mereda, baru lah Husain berjalan mendekati Azalea.


"Udah selesai belum nangisnya, sayang? Kalau udah selesai boleh Abang lihat wajah cantik istri Abang?" Ujar Husain sambil mengelus gundukan selimut yang di dalamnya terdapat Azalea.


Perlahan, Azalea mengeluarkan badannya dari dalam selimut. Memperlihatkan wajah memerahnya yang terlihat lucu di mata Husain.


"Gimana? Udah lega belum?" Tanya Husain yang di angguki oleh Azalea dengan lemah.


"Mau peluk gak?" Tawar Husain sambil merentangkan tangannya.


"Abang aja yang peluk Aza," cicit Azalea dengan wajah memelas.

__ADS_1


Husain sempat terkekeh sebentar sebelum akhirnya ia menarik Azalea ke dalam pelukannya.


"Abang cinta banget sama kamu. Cintaaaaa banget." Ujar Husain terus menerus mencium pucuk kepala Azalea.


Walaupun sedang sedih, Azalea masih sempat-sempatnya bertanya pada Husain. "Dari 0-10 rasa cinta Abang ke Aza angka berapa?"


Husain bergumam sebentar seolah ia tengah berfikir dengan keras sambil menggoyangkan tubuh mereka berdua ke kanan dan ke kiri sebelum pada akhirnya ia menjawab pertanyaan Azalea. "Rasa cinta Abang sama kamu itu antara 0 dan 1,"


Setelah mendengar jawaban dari Husain, Azalea seketika melepaskan pelukan mereka. "Kok jawabannya antara 0 dan 1 sih?" Protesnya merajuk.


"Sini deh biar Abang jelasin kenapa Abang jawabnya antara 0 dan 1 bukan 9 atau 10." Ucap Husain sambil menarik pergelangan tangan Azalea dan menuntun istrinya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Emangnya artinya apa?" Tanya Azalea setelah menyamankan dirinya di atas pangkuan Husain.


"Cinta antara 0 dan 1 itu artinya tak terhingga atau tak terhitung. Jadi cinta Abang sama kamu itu tidak terhitung dan tak terhingga besar dan banyaknya." Jelas Husain yang seketika membuat ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perut Azalea.


Azalea pernah baca, jika ada yang bilang bahwa jantung kita memompa sebanyak 2000 galon darah setiap harinya, sama dengan jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk berkelana dari bumi ke bulan dan kembali lagi ke bumi. Jadi kalau ada yang bilang 'i love you to the moon and back' berarti mereka mengatakan aku mencintaimu setiap jantung mereka berdetak. Dan itu berarti ia mencintaimu setiap saat sampai detakan jantungnya berhenti. Maka Azalea akan mengibaratkan rasa cintanya pada Husain dengan kalimat 'i love you to the moon and back'.


"I love you to the moon and back, Abang." Ucap Azalea tepat di depan bibir Husain.


Husain ingat bahwa ia pernah mendengar maksud dari kalimat cinta itu. Even if it's not scientifically proven at all, but still a beautiful thing to believe in. Dan Husain memilih mempercayainya sebab dari pancaran mata istrinya terlihat bahwa istrinya itu benar-benar amat sangat mencintainya.


"I love you to the moon and back, for infinity and beyond, forever and ever." Balas Husain. Setelahnya ia langsung melahap bibir Azalea yang berada tepat di depan bibirnya.


- to be continued -

__ADS_1


__ADS_2