
"Aduh kok baru keluar nih pengantin baru," goda Kak Zia. Kak Zia merupakan kakak sepupu Husain yang juga bekerja di perusahaan Husain.
"Ayo habis ngapain? Kenapa jalannya pelan - pelan kayak gitu. Biasanya juga kamu kalau jalan selalu bar - bar," sahut Kak Tyas yang merupakan adik kandung dari kak Zia.
"Berisik deh. Pengen tahu aja," sinis Azalea main - main.
Gadis– atau yang sekarang sudah menjadi seorang wanita seutuhnya itu berjalan menghampiri sang ibu mertua yang terlihat sedang sibuk membuat makanan ringan.
"Ibu lagi ngapain?" tanya Azalea berbasa - basi.
"Ini ibu lagi buat goreng pisang sama cemilan ringan," jawab Ibu Azalea.
"Oh ya, ibu tadi ke kamar kalian buat nanya kamu sama Husain mau ibu masakin apa, soalnya ibu masak lele goreng. Ibu tahu kalau kamu sama Husain gak suka makan lele goreng, makanya ibu tanyain. Tapi pas ibu ketuk pintu kamar kalian, malah gak ada yang nyahut. Jadinya gak ibu masakin makan siang buat kamu sama Husain," lanjut Ibu sedikit menggoda Azalea.
"Oh gapapa bu, biar Aza aja yang masak makan siang buat Aza sama bang Husain," jawab Azalea dengan gugup. Sedikit malu karena ketahuan melakukan hal yang iya-iya di siang hari.
"Ya udah. Kamu masaknya sekarang aja, lagian sudah jam setengah dua siang. Kalian juga pasti udah laper banget kan,"
"Iya ni, bu," kekeh Azalea.
Azalea membuka kulkas untuk mengambil ayam yang sudah dibersihkan dan beberapa bahan yang lainnya. Rencananya Azalea akan membuat ayam saus mentega sama perkedel jagung.
Sebenarnya Azalea tidak terlalu bisa memasak semua jenis makanan. Hanya beberapa menu saja yang bisa Azalea masak. Itupun karena Azalea suka dengan makanan itu dan sering ia masak jika sedang ingin.
Di tengah acaranya memotong ayam, Azalea tiba - tiba teringat dengan Kana, anak perempuan kak Zia yang berumur empat tahun.
"Akana mana kak Zia?" tanya Azalea.
"Akana lagi main di ruang keluarga sama Husain,"
"Oh," jawab Azalea sekenanya.
Tiga puluh menit kemudian, Azalea sudah selesai dengan masakannya. Kini giliran menata makanan buatannya di atas meja dan menyiapkan dua piring untuk dirinya dan juga Husain. Setelah itu, baru memanggil Husain untuk makan siang bersama.
Dengan senyum mengembang, Azalea menghampiri ruang keluarga dimana beberapa sepupu Husain sedang berkumpul dan bercanda ria.
"Abang, ayo makan," panggil Azalea pada Husain.
"Ayo, sayang,"
Sebelum beranjak, Husain terlebih dahulu mengelus surai panjang Kana.
"Kapan - kapan lagi ya kita mainnya," ujar Husain lembut.
"Oke om Ucan" ujar Kana semangat. Gadis kecil itu sedikit kesulitan mengucapkan nama Husain, karena itu lah ia lebih memilih memanggil Husain dengan sebutan om Ucan.
Ketika Husain dan Azalea sudah sampai di meja makan, Azalea langsung mengambil piring Husain dan menyendokkan nasi serta lauk pauknya. Setelah itu baru Azalea menyendokkan nasi miliknya. Namun belum sampai sendok nasi mendarat di piringnya, Husain tiba - tiba menghentikan gerakannya.
"Mau ngapain, cintaku?" tanya Husain.
__ADS_1
Azalea mengerutkan keningnya, "Mau makan dong, sayang," jawab Azalea.
"Kita makan bareng, sayangku," sahut Husain sambil menunjuk ke arah piringnya.
"Makan sepiring berdua gitu?" tanya Azalea memastikan.
Husain menganggukkan kepalanya, "Iya, cintaku,"
"Nanti abang gak kenyang dong makannya kalau kita makan sepiring berdua" ujar Azalea menolak halus.
"Sayangku, sini deh," Bukannya menjawab, Husain malah menyuruh Azalea untuk duduk di kursi. Setelah Azalea duduk, Husain sedikit menarik kursi yang Azalea duduki ke arah kursinya, agar mereka duduk berdekatan dan tak ada jarak di antara mereka.
"Sayangku tahu, Rasulullah menganjurkan bagi pasangan suami - istri untuk makan sepiring berdua. Tahu alasannya kenapa?" tanya Husain lembut.
Sedangkan Azalea yang tak tahu alasannya lantas menggelengkan kepalanya.
"Begini.. Keutamaan makan sepiring berdua, segelas berdua, makan berjama'ah serta beberapa hal lain yang dianjurkan oleh Rasulullah adalah agar terciptanya rasa saling memahami satu sama lain. Coba kamu lihat seorang istri yang makan alakadarnya di rumah, sedangkan suaminya jajan sepuasnya di luar, pasti ada rasa curiga yang tumbuh sedikit demi sedikit di dalam hati sang istri yang suaminya tak mau makan bersama dengan dirinya di rumah," ujar Husain menjelaskan.
"Jadi, demi memupuk rasa kasih sayang dan saling pengertian di dalam rumah tangga kita, sebaiknya kita mengikuti semua hal yang dianjurkan Rasulullah dalam berumah tangga," lanjutnya lagi.
Azalea mendengarkan dengan seksama segala perkataan yang suaminya ucapkan dan mencoba untuk memahaminya.
"Jadi sayangku ini mau kan makan sepiring berdua sama abang?" tanya Husain.
"Mau," jawab Azalea dengan senyum manisnya.
Azalea yang melihat Husain menyodorkan tangannya yang berisi beberapa butir nasi dan suwiran ayam saus mentega ke arah bibirnya mengernyit bingung.
"Kamu makannya abang suapkan aja ya, cintaku" ujar Husain memberitahu.
Azalea yang sudah tahu maksud dari suaminya itu langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan dari sang suami.
Entah karena bumbu masakannya atau karena Azalea makan dengan disuapkan oleh suaminya langsung dari tangan suaminya, rasa masakannya menjadi berkali - kali lipat lebih nikmat.
Tapi, setelah dipikir - pikir kembali setiap dirinya masak ayam saus mentega, resepnya selalu sama dan rasanya tak seenak ini ketika ia makan dengan tangannya sendiri. Jadi bisa disimpulkan, makan langsung dari tangan pasangan bisa membuat rasa masakan itu menjadi lebih nikmat.
"Kamu tahu gak, Sa'ad bin Abi Waqosh RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu". (HR. Bukhari dan Muslim)"." ujar Husain menjelaskan sambil kembali menyuapkan Azalea.
"Jadi setiap seorang suami memberikan nafkah kepada keluarganya, hal itu dinilai sebagai sedekah, termasuk saat dirinya menyuapi sang istri makan dengan mesra." ulang Azalea setelah menelan nasi yang berada di dalam mulutnya.
"Benar. Jadi begitu besarnya pahala seorang suami yang menafkahi keluarganya," balas Husain.
Azalea mengambil bagian ayam yang paling disukainya, yaitu sayap ayam. Dengan tenang Azalea memakan daging - daging yang ada di sayap ayam yang ia pegang. Ketika dirasa tak ada lagi daging yang bisa dimakan, ia meletakkan tulang sayap ayam yang tadi ia makan di tepi piring.
Sedangkan Husain yang melihat ada sedikit sisa daging di tulang yang tadi istrinya makan, lantas kembali mengambilnya dan memakan sisa dagingnya. Sontak saja hal itu membuat Azalea terkejut.
"Abang, kenapa tulang ayam bekas Aza di makan lagi? Itu kan jorok abang. Abang memangnya gak jijik?" tanya Azalea.
Husain menggeleng, "Ngapain abang jijik, lagian tulang ini itu bekas istri abang bukan bekas orang lain," pungkas Husain santai.
__ADS_1
"Makan dari bekas gigitan kamu jauh lebih nikmat, cintaku," lanjutnya lagi.
Ucapan Husain barusan membuat hati Azalea jungkir balik. Pipinya tiba - tiba bersemu merah. Bahkan ujung bibirnya terasa berkedut.
"Cie sayang abang salting." goda Husain menjawil hidung Azalea dengan tangan kirinya.
Karena merasa salting, Azalea buru - buru mengambil perkedel jagung yang tadi ia masak dan memakannya dengan terburu - buru.
"Makannya jangan buru - buru, cintaku," ujar Husain memperingati.
Azalea hanya menganggukkan kepalanya. Perkedel jagung yang ia makan tadi, ia letakkan di pinggir piring karena tenggorokannya terasa seret.
Saat Azalea minum, Husain mengambil sisa perkedel jagung milik Azalea yang baru dimakan sedikit oleh Azalea. Lelaki itu memutar sisi perkedel jagungnya hingga berada pada sisi yang digigit oleh istrinya. Dengan santainya Husain menggigit perkedel jagung di bekas gigitan Azalea.
"Heumm. Makan dari bekas gigitan kamu rasanya enak banget ya, sayang. Bahkan rasanya gak ada makanan yang seenak dari bekas gigitan kamu," ujar Husain terdengar seperti gombalan. Tapi ketahuilah, apa yang Husain ucapkan itu memang tulus dari hatinya.
"Abang jangan gombalin Aza deh. Nanti kalau Aza keselek gimana?" protes Azalea merengut.
"Abang gak gombal, cinta. Tapi itu seratus persen fakta," bantah Husain.
Selesai mereka makan sepiring berdua, Azalea berdiri dari duduknya dan membereskan semua peralatan makan mereka yang kotor. Sementara sambal yang masih tersisa akan Azalea letakkan di dalam tudung saji.
Saat Azalea membawa piring kotor dan gelas kotor ke wastafel untuk di cuci, tiba - tiba saja Husain malah mengambil piring dan gelas kotor nya dari tangan Azalea.
"Sayang kan tadi udah masak, sekarang giliran abang yang nyuci. Oke, sayang." ujar Husain. Setelahnya pria itu berlalu dari hadapan Azalea yang masih terdiam.
"Gapapa abang biar Aza aja." ucap Azalea mengikuti langkah Husain menuju wastafel.
"Abang aja, sayang. Lagian tugas rumah tangga seperti mencuci piring ini bukan hanya tugas seorang istri, tapi juga tugas suami. Jadi sebagai suami yang baik dan sayang istri, abang mau nyuci piring untuk meringankan tugas istri abang," tutur Husain lembut. Matanya melengkung ketika bibirnya tersenyum lembut. Tak lupa gigi kelincinya yang membuat senyum itu turut manis ikut terlihat.
"Jadi kamu tunggu di ruang keluarga aja ya. Nanti abang nyusul," ujar Husain mutlak.
"Oke, abang." ucap Azalea sambil melangkah lebih dekat ke arah Husain.
Cup.
"Hadiah dari Aza karena abang udah mau meringankan tugas Aza." ujar Azalea setelah mengecup bibir Husain sekilas.
"Dadah abang, semangat nyuci piringnya," lanjutnya sedikit berteriak.
Sedangkan Husain yang baru sadar dari keterkejutannya langsung memegang dadanya. Jantungnya tiba - tiba saja berdegup dengan kencang.
Tak sampai disitu, Husain juga memegang kedua pipinya yang terasa memanas. Dirinya dibuat salting mendadak oleh Azalea.
"Aaarghh Ya Allah, gemes banget istri hamba," ujar Husain yang sudah jongkok di depan wastafel sambil menenggelamkan wajahnya yang sudah memerah.
Husain mleyot melihat tingkah menggemaskan Azalea yang tiba - tiba saja mengecup bibirnya.
- To Be Continue -
__ADS_1