Imperfection

Imperfection
Terror again?!


__ADS_3

Aku sampai di kampus, dan mendapati Pak Galang masih berdiri di dekat mobilnya. Dan menatapku dengan raut wajah cemas. Mungkinkah? Mungkinkah dia mengetahui tentang teror itu? Aku masih berdiri di dekat sepeda motorku, setelah meletakkan helm – ku. Dan Pak Galang dengan langkahnya yang panjang, berjalan mendekatiku. Dan ku rasakan pelukannya yang erat dan juga hangat. Aku membalas pelukannya. Menutup kedua mataku dan menghirup aroma maskulin yang menyeruak dari tubuhnya.


“Kenapa kamu tidak cerita Lily? Kenapa kamu tidak bilang padaku jika kamu diteror?” tanya Pak Galang sambil melepaskan pelukannya dan menggenggam erat kedua pundakku. Masih dengan tatapan cemasnya. Aku bisa melihat kekhawatiran di kedua matanya. Aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya, dan tersenyum lembut.


“Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir, itu saja. Lagipula, teror itu hanya terjadi semalam. Jangan khawatir, aku tidak apa – apa,” jawabku yang membuatnya tersenyum lembut. Dia melepaskan genggamannya dari pundakku. Pak Galang menggenggam erat tanganku. Kami berjalan bersama memasuki kampus, tanpa peduli dengan tatapan orang – orang di sekitar.


Meski, aku masih saja merasa khawatir jika aku bertemu dengan Magdum. Tapi, sebisa mungkin aku harus mencoba membuat hubungan persahabatan kami kembali. Genggaman di tanganku semakin erat, membuatku tersadar dari lamunanku. Menolehkan kepala ke arah Pak Galang, yang menatap cemas sesuatu di hadapannya. Dan aku ikut melihat sesuatu itu. Aku tergugu seketika saat melihat Silvi yang di kelilingi oleh beberapa orang disana, dan aku melepaskan genggaman tangan Pak Galang untuk berlari mendekati Silvi.

__ADS_1


“Silvi!” Aku memanggilnya dengan keras, dan membuatnya memelukku dengan erat. Dia menangis. Aku membalas pelukannya dengan tak kalah erat. Beberapa orang yang tadi mengelilingi Silvi, juga ikut menatap kami dengan tatapan sendu. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku mengusap perlahan punggung Silvi.


“Silvi, ada apa? Apa yang terjadi padamu? Katakan padaku...” Aku berusaha untuk berbicara padanya, tapi Silvi terus menangis, terisak di dalam pelukanku, dan semakin mengeratkannya.


“Aku... aku... hiks...” Silvi mencoba mengatakan sesuatu tapi dia kembali menangis. Dan ku rasakan remasan di bahuku, membuatku menoleh. Pak Galang berdiri di dekatku, dan mengangguk samar.


“Ayo kita bicara di ruanganku...” ucap Pak Galang dengan lirih. Silvi melepas pelukannya dan aku bisa melihat betapa sembab wajahnya dan juga sangatlah pucat. Aku menggenggam tangannya dan kami berjalan bersama mengikuti Pak Galang.

__ADS_1


“Semalam, ada seorang pria yang mendorongku dari eskalator di mall. Untungnya ada banyak orang yang menolongku. Dan petugas disana bilang, bahwa sejak masuk dari mall, aku sudah diikuti oleh seorang pria,” jawabnya sambil mengernyitkan dahinya dan mulai menangis kembali.


“Seperti apa pria itu?” tanyaku kembali dan menggenggam erat tangannya, mencoba untuk menenangkannya.


“Kata petugas itu, pria yang mendorongku dan mengikuti itu adalah orang yang sama. Gayanya sangat misterius, maksudku, pria itu memakai jaket yang sangat tertutup, dan juga memakai masker hidung. Tidak ada yang bisa melihat wajahnya. Tapi aku tidak tahu apa maksud dia melakukan semua itu padaku. Aku sangat takut Lily... aku tidak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya. Aku sangat takut...” Silvi kembali memelukku dengan erat. Dan aku menoleh ke arah Pak Galang yang dahinya mengernyit, seakan memikirkan sesuatu.


Aku mengusap perlahan punggung Silvi, dia masih saja terisak. Aku memikirkan semua yang diucapkan oleh Silvi. Aku pun bertanya – tanya. Selama aku bersahabat dengan Silvi, tidak pernah aku menemukan dia bermasalah dengan orang lain. Tapi ini, seseorang mecoba untuk melukainya dengan sangat kasar. Aku takut, jika Silvi akan mendapatkan ancaman seperti ini lagi.

__ADS_1


“Aku akan meminta tolong pada temanku untuk menyelidiki ini. Silvi, kamu tenang saja... semuanya pasti akan baik – baik saja. Pastikan, kamu tidak sendirian saat di rumah, mengerti?!” ucap Pak Galang yang diangguki oleh Silvi, setelah melepas pelukannya dariku.


Aku merogoh tasku untuk mengambil tisu dan ku berikan kepada Silvi. Dia mengambil beberapa dan langsung mengusapkannya di seluruh wajahnya. Aku tersenyum pedih melihatnya. Dia pasti sangat terguncang sekarang. Aku menepuk – nepuk pelan pahanya. Dia mencoba tersenyum, meski aku tahu dan bisa melihat di dalam matanya, yang masih terpancar akan ketakutan itu. Aku akan mencoba menanyai Pak Galang setelah ini, bagaimana caranya untuk mendapatkan wanita yang berusaha untuk meyelakai Silvi.


__ADS_2