
Hari mulai malam, dan aku tahu pasti bahwa Galang, Kak Refi dan juga Magdum akan segera melakukan rencana mereka itu. Dan juga rasa khawatirku semakin menjadi saja rasanya. Aku tidak tahu bagaimana untuk menahannya. Itu sangat sulit untuk bisa dilakukan saat ini. Aku masih duduk di atas sofa di ruang tengah rumah, menatap ke arah mereka yang mulai bersiap untuk pergi.
“Baiklah, sudah siap semua? Kita harus berangkat sekarang...” ucap Galang bertanya ke arah Kak Refi dan juga Magdum. Dan mereka menganggukkan kepala mereka dengan cepat. Wajah mereka semua terlihat tegang, dan juga penuh amarah di waktu yang bersamaan.
Aku menghela napas dan mulai bangkit dari dudukku secara perlahan. Dibantu dengan skruk untuk berjalan ke arah mereka. “Kalian harus berhati-hati ya... dan segera hubungi aku jika orang itu sudah tertangkap, oke? Dan ingat, jangan sampai ada yang terluka...”
Mereka semua menganggukkan kepala dan tersenyum lebar ke arahku. Setidaknya, aku bisa memegang ucapanku barusan kepada mereka. “Kami janji...” ucap mereka secara bersamaan.
Aku membalas senyuman mereka dengan senyuman tipis. Aku khawatir tentu saja. “Kami berangkat. Kami akan segera menghubungi kamu, nanti...” ucap Galang yang langsung ku balas dengan anggukan kepala.
Aku menatap mereka yang mulai berjalan keluar dari dalam rumahku. Aku mengikuti mereka secara perlahan, dan mereka berangkat menggunakan mobil Galang. Aku menghela napas. Apa yang harus ku lakukan di jam-jam ini? Sendirian, dan hanya menunggu kepastian. Itu menyebalkan jika boleh jujur. Aku kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tengah lagi. Menyalakan televisi untuk menghilangkan kebosanan. Aku melirik terus menerus ke arah ponselku. Berharap Silvi menghubungiku untuk menghilangkan kejenuhanku.
***
Tin
Tin
Aku terkejut saat mendengar suara klakson mobil tepat di depan rumah. Segera saja ku matikan televisiku, dan berjalan perlahan ke depan rumah secara perlahan. Dan saat aku membuka pintu, terlihat Silvi yang keluar dari dalam mobil dan juga ada Bayu yang menunggu di dalam mobil. Apakah ada sesuatu? Astaga. Aku tidak siap untuk mendengar apa yang akan mereka sampaikan.
__ADS_1
“Ada apa? Kamu datang kesini?” Aku bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.
“Kamu akan sangat terkejut, oke? Sekarang ayo kita pergi bersama...” Silvi dengan cepat menutup pintu rumahku, dan menggandeng tanganku bersamanya untuk masuk ke dalam mobil.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Aku menunggu mereka untuk menghubungiku, tapi tidak ada satupun yang melakukannya.” Ucapku saat mobil mulai berjalan.
“Tenang nona... sebenarnya, mereka sudah ada di kantor polisi, dan kebetulan Silvi juga sangat penasaran dengan pelaku teror itu.” Jawab Bayu sambil mempercepat laju mobilnya.
Aku menghela napas. Dan menatap ke arah Silvi yang duduk di depan, wajahnya takut dan juga penasaran. “Baiklah... tapi kenapa mereka tidak menghubungi?” tanyaku sekali lagi.
“Aku mendapatkan informasi dari salah satu temanku, kondisi mereka tadi sangat sulit. Dan ya, mereka baik-baik saja, nona. Tidak ada yang terluka dan juga tidak ada yang perlu lagi di khawatirkan.” Jawab Bayu untuk sekali lagi.
“Galang...” Aku memanggilnya dengan segera setelah aku melihatnya berdiri di depan meja kepala polisi. Dia segera membalikkan badannya dan berdiri, langsung saja berjalan serta memelukku. Aku membalasnya.
“Bagaimana? Sudah tertangkap?” tanyaku setelah kami melepaskan pelukan. Aku melirik ke arah Silvi yang berdiri tepat di samping Bayu, dia juga menatap kesana an juga kemari. Sama sepertiku yang tidak bisa menutupi rasa penasaranku tentang siapa pelakunya.
“Yah... sedang dalam pemeriksaan. Kamu, ingin menemuinya?” tanya Galang dengan ragu-ragu. Dan dengan cepat aku menganggukkan kepalaku. Galang menolehkan kepalanya ke arah Kak Refi, Magdum dan juga ke kepala polisi.
“Bolehkah?” tanyanya.
__ADS_1
“Tentu... silahkan. Dia sudah ada di dalam penjara.” Jawab kepala polisi itu.
Galang dengan segera saja menggandeng tanganku. Kami berjalan bersama secara perlahan, sebenarnya tanpa skruk pun aku masih bisa berjalan, dan dengan menggunakannya, malah menghambat pergerakkanku untuk berjalan lebih cepat. Saat kami sampai di salah satu sel jeruji itu, aku melihat bahwa di dalamnya adalah punggung dari seorang wanita. Mungkinkah?
“Mia?” gumamku tanpa sadar, dan aku tahu bahwa Galang menatap terkejut ke arahku, tapi tidak ku hiraukan.
Wanita itu berbalik dan benar saja, dia adalah Mia, mantan istri Galang. Aku menggelengkan kepalaku dengan perlahan. Merasa tidak percaya. “KAU!!!” Dia berteriak seketika saat melihatku.
Galang dengan segera merangkul punggungku. Mencoba untuk melindungiku. “INI SEMUA KARENAMU!!!” Dia berteriak lagi.
“Apa maksudmu? Kenapa kamu melakukan ini? Mencelakaiku dan juga meneror Silvi? Kenapa?” tanyaku dengan beruntut.
Mia bergerak maju dengan kedua telapak tangannya yang menggenggam erat jeruji di hadapannya. “Karena aku membencimu... sangat membencimu. Kamu mengambil Galang dariku. Aku masih mencintainya... dan ku kira dia juga mencintaiku. Tapi tidak! Dia malah jatuh cinta padamu!!” Tiba-tiba saja dia tertawa. “Jadi aku menabrakmu... jika kamu cacat, mungkin saja Galang akan meninggalkanmu dan bisa kembali denganku. Aku tidak peduli dengan kakinya lagi! Aku mencintai Galang! Dan kamu merebutnya...”
“Kamu gila...” gumamku yang seketika saja membuat tawanya terhenti. Mia menatap marah ke arahku. Dan bisa ku rasakan pelukan Galang di punggungku semakin kuat, tapi dia tetap diam. “Kamu membuangnya saat dia cacat, dan sekarang kamu bilang, kamu masih mencintainya? Itu tidak masuk akal. Dan juga, jika Galang pada akhirnya jatuh cinta padaku, itu adalah hak nya. Dan hak ku juga untuk mencintainya. Kamu akan menghabiskan waktu lebih lama di dalam sini, Mia... kamu akan membayar semua yang telah kamu lakukan.”
Aku mengalihkan pandanganku dari Mia dan menatap ke arah Galang. “Ayo kita pergi, Galang...” Dia mengangguk dan membawaku pergi. Aku sama sekali tidak menolehkan kepalaku ke arah belakang, dimana Mia berteriak kencang. Dia sudah gila. Itu terlihat sangat jelas.
Ku rasa, ini semua sudah selesai. Jadi, bisakah aku fokus kembali dengan kuliah, kelulusan, dan juga Galang.
__ADS_1