Imperfection

Imperfection
Bab 38


__ADS_3

Bab 38


Suara alas sepatu bergesekan dengan lantai kayu yang menimbulkan bunyi berisik. Bass mendekat ke arah kamar utama dan memasukinya. Namun dengan terkejut dirinya melihat sosok yang berdiri tegap dengan senjata yang sudah diacungkan ke arahnya.


"Diam di tempat!" ujar orang itu.


Sementara Bass yang mendengar hal itu tersentak kaget. Ia menghempaskan lampu senter kecil yang berada digenggamannya. Bukannya takut atau berdiam mematung seperti patung, dirinya malah berteriak.


"EDY LARI...," Ia langsung berlari keluar dari kamar itu bahkan Edy yang mendengar itu pun panik luar biasa.


Suara kaki yang menghentak di lantai itu pun bergema seperti gemuruh petir yang sedang terjadi pada malam ini. Badai akan datang sesuai dengan prediksi cuaca hari ini. Bass yang berlari dengan cepat langsung meraih kerah Edy yang masih menunggunya di depan pintu untuk sama-sama melarikan diri dari rumah itu.


Suara senapan yang dipegang oleh seorang petugas itu lantas di bunyikan agar mereka takut, namun nyatanya mereka tidak takut dengan hal itu malah kabur terbirit-birit. Sedangkan Herman dan salah duanya sudah berjaga di dekat mereka memarkirkan mobil yang agak jauh dari rumah Herman.


Seorang yang mengejar mereka dari belakang seakan berteriak untuk menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


"DIAM DI TEMPAT KALAU TIDAK KUTEMBAK KALIAN!!!" teriaknya.


Bass dan Edy tetap berlari tak tentu arah agar gerakan mereka tak dapat di bidik dari jauh. Beberapa waktu menghabiskan waktu hanya untuk berlari bahkan napas mereka saja ngos-ngosan karena berlari.


"Sedikit lagi..., hegh hegh," suara napas Bass terdengar sesak.


"Sedikit lagi sampai di mobil... Edy, cepat kau berlari lebih dulu dan ambil mobil di sana," perintah Bass.


Namun Edy yang sama kelelahan pun tak mampu mengeluarkan suara bahkan ia nyaris saja pingsan. Bass yang mengetahui itu hanya menggerutu marah. "Dasar tak berguna! Mulutmu saja yang banyak bekerja!"


Mereka berdua kembali berlari, sementara di sisi Herman yang siap membidikkan senjatanya ke arah Bass dan Edy malah ditahan oleh Herman.


Kedua orang ini saling pandang dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Salah satu dari mereka mengacungkan senapan ke atas. Namun tak di sangka, Bass melihatnya. Bass melihat siluet mereka bertiga yang dekat dengan mobilnya itu di karenakan lentera yang masih menyala di atas cap mobil itu.


"Sial! Kita harus pergi dari sini. Tempat ini sudah di kepung," gumam Bass. Ia segera menarik temannya dan langsung berlari ke arah yang paling jauh di jangkau dan tak akan mungkin dapat di kejar.

__ADS_1


Tak sempat mendapati kedua anak muda yang masih meninggalkan mobilnya, petugas yang mengejar kedua bandit itu datang menghampiri.


"Apakah mereka tidak sampai sini?" tanyanya.


"Tak ada jejak atau pun suara yang menuju ke arah sini," ujar salah satunya Herman pun menanggapi dengan anggukan membenarkan bahwa apa yang dikatakan temannya benar adanya.


"Sial! Kita kehilangan mereka!" umpat salah satunya. "Kita telusuri jejak mereka," lanjutnya.


Memang kegelapan malam itu menyelimuti kota Victoria, dikarenakan ingin datangnya badai. Namun sebelum melangkahkan kaki untuk menelusuri jejak Bass dan Edy, Herman langsung mencegah mereka semua dan mengingatkan bahwa sebaiknya kita kembali ke dalam rumah saja. Mau tidak mau, mereka pun menyetujuinya. Kemudian mereka semua meninggalkan mobil itu sendiri di sana.


Edy dan Bass yang masih berlari membungkukkan badannya. Berhenti sejenak untuk berlari. "Kurasa kita sudah jauh dan tak akan mungkin mereka kejar. Kita harus kembali ke mobil. Cuaca malam ini buruk sekali," ujarnya terengah-engah.


"Benar. Kita akan berjalan melalui semak-semak itu dan mencapai tujuan kita. Sial! Oscar tak membekali kita apa pun. Hanya senjata yang tak berguna ini yang menemani! Cuih..," ujar Edy marah.


Bass hanya berdiam diri, tak mau mendebat Edy. Ia lebih memilih menenangkan napasnya seolah-olah ingin putus dari rongga paru-parunya.

__ADS_1


...****************...


Tbc


__ADS_2