
6 bulan kemudian...
Aku menghirup udara segar di sekelilingku, kami ada di balkon rumahku setelah hujan reda. Relaksasi yang benar-benar aku inginkan sejak enam bulan yang lalu. Tentu saja, aku sudah lulus. Mengadakan acara pertunangan dengan Galang segera. Dan kami berdua bahagia untuk itu. Tidak lupa juga bahwa Magdum akhirnya juga menemukan cintanya yang baru, namanya Rosa, salah satu temannya di fakultas. Dan jangan lupakan tentang Kak Refi, akhirnya, dia juga tidak lagi jomblo. Silvi juga semakin serius dengan Bayu yang menemui keluarga Silvi. Kami semua bahagia tentu saja.
“Jadi, apa kamu mau menggunakan kebaya warna merah atau cokelat? Ku pikir, kamu akan terlihat lebih cantik di merah...” gumam Galang yang membuyarkan lamunanku.
Aku kembali fokus ke arah lembaran-lembaran contoh kebaya pengantin. Ya, kami sedang menyiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan empat bulan lagi. “Ku pikir, merah bagus juga... jadi kebaya warna putih untuk ijab kabul dan merah untuk resepsi, bagaimana?” jawabku.
__ADS_1
Galang tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. “Tentu, itu saja... aku akan segera menghubungi mereka untuk membuatkan ini dengan ukuranmu. Aku sungguh tidak sabar untuk itu...”
“Tentu... aku juga.”
Aku tersenyum lebar juga ke arahnya, sambil menyandarkan kepalaku di pundaknya yang tegap itu. “Haruskah aku mempercepat tanggal pernikahan kita?” gumam Galang yang membuatku menganga. Dan dengan cepat mencubit lengannya. Dan Galang tertawa kecil.
“Kita bersama... dan kita bahagia, saling mencintai itu adalah hal yang paling penting untuk dilakukan bersama. Dan juga, Lily... aku tahu bahwa aku tidak lah sempurna dengan salah satu kakiku ini. Tapi aku bisa yakin kan pada kamu, bahwa aku akan selalu mencintaimu, apapun yang terjadi di masa depan. Tidak peduli bagaimana orang lainnya akan menatap kekurangan yang aku miliki saat ini. Aku tidak akan merasa Cacat lagi, selama kamu ada di sampingku. Mendampingi Dan mencintaiku.” Gumamnya dan aku menganggukkan kepalaku menyetujuinya.
__ADS_1
Aku mendongakkan kepalaku perlahan dan menatap ke arahnya. Kami saling menatap. "Aku juga berjanji Galang.... bahwa kita akan selalu bersama. Meski banyak orang yang akan memandang rendah, atas apa yang kamu Dan juga aku miliki. Selagi kita bisa selalu bersama, maka itu akan sangat berarti. Aku sangat mencintaimu, Galang... aku juga sama tidak sempurnanya denganmu. Ingat, bahwa aku punya bekas luka yang akan sangat lama hilangnya."
"Tidak apa-apa. Aku suka dengan luka-luka itu sebenarnya. Aku juga banyak Luka, yang sudah kamu sembuhkan, Lily... Terimakasih karena sudah menerima ketidaksempurnaanku ini." gumamnya lagi dan Dia mulai mencium Keningku dalam - dalam.
Aku pun kembali menyandarkan kepalaku ke pundaknya lagi. Aku sangat menyukai pundaknya sangat nyaman untuk menjadi sandaran.
Dan ku pikir, tentu saja kami akan bahagia. Mengingat kejadian yang terjadi enam bulan lalu, Galang mengatakan bahwa pihak kepolisian memutuskan untuk mengirim Mia ke rumah sakit jiwa. Karena ternyata, dia memang benar-benar gila, dan butuh perawatan. Dan ya, Galang juga mendapatkan panggilan dari keluarga Mia, tentu saja, mereka akan membawa Mia ke luar negeri setelah Mia sembuh. Itu kata mereka.
__ADS_1
Aku menggenggam telapak tangan Galang dengan erat, dan dia membalas. Kami bahagia.