Imperfection

Imperfection
Bab 40


__ADS_3

"Bagaimana kalau pernikahannya dipercepat saja dan aku akan ke kantor rektor untuk meminta surat tugasku tidak jadi dipindahkan ke Nevada. Itu akan jauh dari Victoria," gumam Albert sendiri tanpa ada seorang pun yang mendengarnya.


Ia lantas bergegas untuk membaringkan tubuhnya yang sudah lelah dan langsung memejamkan matanya untuk tidur.


Selamat malam, Gadis...,


...****************...


Sementara di rumah Herman.


"Kita akan melakukan penangkapan besok pagi, Dan kurasa Oscar yang merencanakan hal ini pun harus ditangkap," ujar salah satu petugas.


"Tapi bukti yang kita miliki belum kuat," sahut salah satunya.


Herman langsung menyanggah pembicaraan mereka, "Kurasa tidak perlu. Sementara kita akan mengumpulkan bukti-bukti bahwa yang ia lakukan itu tak berizin, aku akan mengorbankan anakku untuk mempercepat pernikahannya dengan Albert Amborrse."

__ADS_1


"Apa itu tidak terlalu menyakiti hatinya? Sebenarnya kami tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tanggamu, kalau itu memang baik untuk keluargamu, ya lakukan saja. Tapi kalau sekiranya kau membutuhkan bantuan kami, kami siap untuk membantu," ujar salah satunya lagi.


"Baiklah. Kurasa aku butuh sesuatu untuk memperbaiki pintu depanku. Terima kasih atas bantuan kalian malam ini," ujar Herman,


Mereka pun memutuskan untuk pergi beristirahat setelah berlari-larian di kegelapan malam untuk mengejar target.


Keesokan harinya, Roberto yang sudah terlihat di meja makan melakukan serangkaian rutinitasnya. Maria yang sudah bangun dari tidurnya karena ia menemani anak gadisnya, keluar dari kamar. Ia melihat Roberto yang tengah membaca koran dan secangkir kopi panas yang masih mengepulkan asapnya ke atas. Aroma kopi itu tercium sampai di mana dirinya sedang berdiri. Tak lama, Max pun keluar dari kamarnya. Ia melihat ibunya yang bengong entah karena hal apa.


"Ibu? Apa yang kaulakukan berdiri di sini?"


Seketika suara itu membuyarkan lamunan Maria. Ia teringat akan Herman yang masih berada di rumah mereka menghadapi bahaya seorang diri. Ia lantas mengarahkan matanya tepat di depan Max.


Terdengar langkah kaki yang terhentak di ubin rumah itu, membuat Roberto menurunkan sedikit koran yang menutupi seluruh kepalanya dan melihat ke arah Maria dan Max berjalan ke arahnya.


"Selamat pagi, Tuan Roberto," sapa Maria sedangkan Max hanya menundukkan kepalanya tanda hormat.

__ADS_1


"Silakan. Aku sudah menyiapkan sarapan buat kalian. By the way di mana Gadis? Apakah dia belum bangun untuk sarapan?" tanya Roberto.


"Sebentar lagi ia akan keluar kamarnya," sahut Maria yang menarik kursi yang berada di depan Roberto sebelah kanan.


Tak lama Tuan Roberto bertanya, keluarlah Gadis dari kamarnya. Ia pun melangkahkan kakinya ke meja makan di mana di sana sudah ada Ibunya, Max, dan Tuan Roberto. Ia tak melihat Albert berada di sana membuat dirinya bertanya di mana Albert berada.


"Selamat pagi, Tuan," ia melewati Roberto sembari menyapanya.


"Selamat pagi. Oh ya, tolong jangan panggil aku, Tuan. Panggil saja aku ayah. Aku akan menjadi ayah mertuamu, kan? Dan Maria, kau juga bisa memanggilku nama saja," ujar Roberto.


Gadis menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan begitu juga dengan ibunya bahkan Max sendiri.


"Baiklah. Lebih baik aku segera berangkat ke toko. Aku ada jadwal pengiriman pagi hari ini," ujar Roberto melipat korannya lalu mengampitnya di antara lengan dan tubuhnya.


"Ayah, tunggu..," teriak Albert baru saja keluar dari kamarnya.

__ADS_1


...****************...


Tbc


__ADS_2