
Bab 41
"Ada apa, Albert?" tanya Roberto yang memalingkan wajahnya menghadap Albert.
"Ayah, aku berpikiran bagaimana kalau aku dan Gadis melangsungkan pernikahan besok dan kami pergi dari kota ini?" tanya Albert.
"Kalau itu menurutmu baik, aku mendukung penuh atas keputusanmu. Bagaimana dengan pihak Gadis?" tanya Roberto kepada Maria.
"Aku harus menunggu suamiku, Roberto,"' sahut Maria.
Gadis menundukkan kepalanya dan menggenggam tangan ibunya.
Roberto melukiskan senyuman di bibirnya, lalu ia mulai mengatakan dukungannya terhadap anaknya itu.
"Apa pun pilihanmu, ayah selalu mendukungmu. Begitu juga dengan Johan. Kau pun bisa menikah sesama hari di mana adikmu menikah, Jo," Roberto memegang pundak anak sulungnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ayah," Johan lalu memeluk Ayahnya.
Roberto melepaskan pelukan anak sulungnya dan menepuk kembali pundak anak pertama dan anak terakhirnya. "Ayah pergi dulu," pamitnya.
Namun setelah ia membuka pintu untuk keluar Herman sudah berada di depan pintu itu dengan gaya ingin mengetuk pintu.
"Oh, selamat pagi, Bro. Ayo masuk dulu dan sarapanlah. Aku yakin kau belum sarapan," ajak Roberto ramah.
"Selamat pagi, Roberto. Maafkan aku pagi-pagi begini aku datang ke rumahmu. Aku ingin menjemput anak beserta istriku," ujar Herman mengutarakan niatnya. "Dan ingin berbicara dengan Albert juga tentang pernikahannya. Kurasa kau juga harus mendengarkannya, Roberto." Lanjut Herman.
"Oh, tentu saja. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa lama berada di sini, aku sudah memiliki janji dengan klienku bahkan aku memiliki jadwal pengiriman barang ke daerah terpencil ke arah Chicago," jelas Roberto.
"Maafkan aku. Kejadian malam tadi membuat kita semua waspada dan mereka bersenjata. Walaupun itu hanya sekelompok anak remaja baru tumbuh dewasa, tetapi mereka sangat lihai menggunakan senjata itu. Dan terima kasih untuk Johan yang sudah membantuku sejauh ini. Sayangnya kami telah gagal menangkap mereka berdua. Mereka sangat licin seperti belut," terang Herman untuk membuka percakapan itu.
"Dan terima kasih untuk ALbert yang sudah mencintai Gadis dengan segala masalah yang akan timbul dikemudian hari. Aku sebagai ayah dari Gadis, putriku satu-satunya, ingin mengusulkan bagaimana kalau acara pernikahan Albert dan Gadis di percepat saja?" tanya Herman lagi dengan wajah yang serius.
__ADS_1
Hening seketika. Albert pun terkejut dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh Herman dan itu sama dengan pemikirannya. Ia lantas menganggukkan kepalanya.
"Paman, aku setuju kalau rencana ini dipercepat saja, Aku harap Gadis juga menyetujuinya." usul Albert mengarahkan pandangannya ke seluruh orang yang berada di sana.
"Bagaimana, Nak? Keputusan ada ditanganmu," tanya Herman kepada putrinya.
"Iya, Ayah. Lakukanlah, Aku juga menyetujuinya," ujar Gadis singkat mengangkat kepalanya. Ibunya yang sejak tadi menggenggam telapak tangan putrinya agar putrinya itu merasa tenang di sisinya.
"Aku sudah mengatakan pada mereka, Herman, aku menyetujui semuanya. Aku mendukung penuh atas apa yang akan dilakukan oleh anakku," sahut Roberto tersenyum.
Mereka semua yang ada di sana pun menyunggingkan bibirnya ke atas, menandakan mereka semua bahagia dengan adanya percepatan pernikahan yang diadakan dalam gempuran masalah yang akan dihadapi.
"Jadi besok lusa akan dilaksanakan pernikahanmu, Albert. Bersiaplah," ujar Roberto yang menjotos lengan anaknya. "Kalau begitu, aku berangkat dulu. Sungguh maafkan aku yang tak bisa mengantarmu, sobat," ujar Roberto lagi ke arah Herman.
Herman menganggukkan kepalanya tanda tidak mempermasalahkan hal itu. Dan Roberto pun berlalu dari sana.
__ADS_1
...****************...
Tbc