Imperfection

Imperfection
Saling menjaga


__ADS_3

“Temanku sudah hampir menemukan petunjuk, atas siapa yang melakukan teror kepada Silvi,” gumam Galang yang membuatku terkejut. Aku menatapnya dengan kedua mata yang melebar.


“Siapa?” Aku berbisik.


Galang menggelengkan kepalanya. Meminum sedikit air putih dihadapannya, setelah memakan makanan yang sudah ku masakkan tadi. “Aku tidak bisa mengatakannya... ini... terlalu rumit.” Dia menghela napas dengan keras.


“Maksudmu cukup berbahaya, begitu?” Magdum bersuara, menjawab Galang dengan sinis. Dan aku tahu, apa yang menimpa Silvi, juga cukup membuatnya terkejut.


Galang menatap tajam ke arah Magdum. “Kau tidak akan mengerti itu.”


BRAKK


“APA YANG MEMBUATMU MERASA BAHWA AKU TIDAK BISA MENGERTI, HAH?!” Magdum berteriak dengan keras, menggebrak meja. Aku terdiam, terkejut atas apa yang dia lakukan.

__ADS_1


Galang berdiri, dan mengeraskan wajahnya, menahan emosi. Kak Refi hanya diam, memperhatikan – menganalisa. “Sebaiknya tahan emosimu itu, anak muda... bagaimanapun juga aku jauh lebih tua darimu, jadi jaga sikapmu.”


“Jika sudah ada petunjuk tentang peneror Silvi, kenapa tidak langsung saja kita tangkap atau apapun itu. Dan bukannya malah menyembunyikannya!” Magdum maju beberapa langkah ke depan, mendekati Galang.


“Aku tahu atas apa yang sedang ku lakukan.” Galang menunjukkan wajah pias, namun tegang dalam satu waktu. Pandanganku teralih ke arah Kak Refi yang mulai bangkit, sambil menyedekapkan kedua lengannya. “Aku bisa mengatasi ini. Bukan untuk diriku sendiri... tapi untuk melindungi Lily juga...”


Aku menatapnya dengan terkejut. Melindungiku? Tapi, bukankah yang sedang dibahas sekarang adalah Silvi? “Apa maksudmu dengan melindungi Lily?” Kak Refi menatap penasaran ke arah Galang. “Apa maksudmu, jika Lily juga di incar oleh peneror gila itu?”


Galang mengalihkan pandangannya dari Magdum, dan menatap ke arahku. Dan seketika aku bisa melihat ketakutan di dalam kedua matanya. Tatapan yang begitu terlihat sangat ketakutan, yang untuk pertama kalinya ku lihat dari Galang. “Ya... dia juga mengincar Lily...” Galang menatap ke arah Kak Refi. “Dia mengincar Lily kita...”


Tubuh Galang terdorong ke arah dinding. Aku berlari mendekatinya, memeluk lengannya dan menatap tidak percaya ke arah Magdum, yang baru saja memukul rahang Galang dengan cepat. Tubuh Galang terasa limbung saat aku mencoba untuk membantunya. Telapak tangan kirinya menyentuh bagian wajahnya yang terkena pukulan Magdum.


“KAU YANG MEMBUAT LILY DI INCAR! SEMUA GARA – GARA KAMU!” Magdum berteriak keras sambil menunjuk – nunjuk wajah Galang. Kak Refi memeluk Magdum dari belakang, agar Magdum tidak lagi berdekatan dengan Galang yang saat ini hanya diam bersandar di dinding.

__ADS_1


“Magdum tenanglah... kita bisa mengatasi ini... tenangkan dirimu.” Kak Refi terus mengulang kalimat itu. Namun, aku melihat Magdum terus berusaha untuk melepas kekangan Kak Refi.


“Tenang??” Magdum berhasil melepaskan kekangan Kak Refi, dan memandang tajam ke arah Kak Refi dan juga Galang bergantian. “JIKA SAJA DIA TIDAK HADIR DI HIDUP LILY! LILY TIDAK AKAN TERANCAM BAHAYA SEPERTI SAAT INI!”


“AKU AKAN BERUSAHA UNTUK MELINDUNGI LILY SEMAMPUKU, MAGDUM!” Galang menjawab dengan suara yang keras. Melepaskan pelukanku dan beralih menggenggam telapak tanganku yang rasanya semakin dingin. Melangkah maju perlahan – lahan, dengan langkah yang tertatih.


“Meski takdirku tidak mengijinkan aku untuk bertemu dengan Lily... aku akan terus berusaha untuk menemukannya, dimanapun dia berada. Tapi takdir membawa kami saling bertemu, Magdum... dan aku sudah menjelaskannya kepadamu. Apapun yang membuat Lily terancam, maka akan berbalik padaku sendiri.” Galang melepas genggamannya dan memeluk pinggangku.


“Aku akan melindungi apa yang menjadi milikku, Magdum. Dan Lily adalah milikku, kekasihku, masa depanku, penerang dari segala kegelapan hidupku, dan juga penyembuh atas segala kesakitan yang membutaku menderita dalam hidupku di masa lalu hingga sekarang. Dan tentunya, aku akan melindungi Lily, dengan atau tanpa bantuan sedikitpun...”


“Sudahlah...” Aku menyela, mencoba untuk mengalihkan pandangan mereka yang masih berseteru dalam diam dan juga ketegangan. “Hentikan semua ini. Kita akan pikirkan lagi bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini. Oke?”


Aku bisa melihat bagaimana Magdum mencoba untuk menghilangkan amarahnya, begitu pula Kak Refi yang masih saja terlihat tegang. Telapak tangan Galang masih melingkupiku dengan erat, dia ketakutan, dan aku tahu itu. Kami berjalan mendekati sofa ruang tamu, dan duduk bersama disana. Aku, Galang dan juga Kak Refi duduk di satu sofa besar dan juga panjang. Aku meletakkan kepalaku di atas pundak Kak Refi, dia tegang, sama halnya dengan Galang. Dan Magdum duduk di sofa yang ada di hadapan kami.

__ADS_1


“Semua akan baik – baik saja... kita akan saling menjaga, oke?!” Aku berbisik, menatap mereka


Kak Refi ikut meletakkan kepalanya ke atas kepalaku, dan menggenggam tanganku yang satu lagi, menciumnya singkat. Magdum tersenyum kecil disana, menatapku dengan hangat. Dan Galang semakin mengeratkan pegangannya padaku. Setidaknya, kami harus berusaha untuk saling menjaga, untuk mencegah peneror itu. Tapi, aku masih saja penasaran, apa yang sebenarnya di inginkan oleh peneror itu?


__ADS_2