
Bab 39
Di dalam rumah Albert.
"Apakah keadaan ayah baik-baik saja? Aku sangat khawatir dengan ayah, Ibu," ujar Gadis yang berada di dalam kamar Albert.
"Ibu yakin pasti ayahmu akan baik-baik saja," sahut ibunya yang berjalan menghampiri Gadis yang masih berdiri di tepi jendela besar di kamar itu.
"Tap..., ayah tidak kemari, Ibu dan ini sudah jam sepuluh malam. Bukankah ayah berpesan ia akan datang, Ibu?" terdengar nada sedih yang penuh khawatir terhadap ayahnya.
"Tenanglah, Sayang. Dia akan baik-baik saja," ujar Ibunya memegang kedua bahu putrinya itu.
Gadis berbalik, merangkul ibunya dan menumpahkan air mata yang sudah tak dapat ditahannya lagi. Air mata itu menyakitkan saat Albert melihatnya dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Dirinya bermaksud untuk menawarkan cokelat panas untuk di minum malam hari sebelum tidur. Namun kenyataannya berbeda, yang dilihatnya ini adalah sebuah tamparan bahwa dirinya tidak bisa menjaga wanita pujaannya. Baru saja ditimpa masalah seperti hal ini, perasaannya menciut untuk meyakini bahwa pinangannya beberapa hari yang lalu akan dilaksanakan atau tidak.
__ADS_1
Albert menggelengkan kepalanya, dan segera pergi dari sana sebelum ketahuan dari dua orang wanita berbeda usia yang sedang berpelukkan membagi rasa sedihnya karena sosok lelaki yang ditunggu tak kunjung tiba. Albert berusaha membuang pikiran buruknya dan tak ingin dirinya dikucilkan karena tidak bisa melindungi calon istrinya nanti.
"Aku akan menanyakan hal ini kepada Bass! Walaupun aku tahu maksudnya, tetapi aku akan memberi dia peringatan keras untuk jangan macam-macam mendekati calon istriku," benak Albert berbicara.
Johan melihat kepalan tangan Albert mengeras. Segera saja dirinya menepuk pundak adiknya itu. "Kau tenang saja, anak buah Sherif sudah membantu paman Herman. Aku sudah mengatakannya kepadamu. Aku yakin mereka tidak akan pernah mengganggu lagi."
"Aku kesal sekali, Johan! Kau tahu bahwa aku mencintai Gadis dan mereka mau merebutnya dariku dengan alasan yang menurutku tak masuk akal!" ujar Albert. Ia sekarang berada di kamar Johan.
"Tapi...,"
Namun belum sempat melanjutkan ucapannya, Johan langsung menyanggah, "Sudahlah. Tenangkan dirimu. Biarkan kita besok melihat hasilnya, ok. Tidurlah yang nyenyak. Aku pun ingin pergi tidur."
"Kau tak ingin minum cokelat panas denganku?" tanya Albert yang sudah sedikit tenang.
__ADS_1
"Kau ini ada-ada saja. Berikan aku cokelat panas besok pagi saja. Sudah aku ingin tidur. Selamat malam, adikku."
Albert pun beralih ke ranjangnya dan duduk di sana. Ia menopangkan kedua lengannya memangku kepalanya seakan berpikir berhasilkah dirinya besok mengancam kedua orang itu untuk menjauhi calon istrinya? Namun bagaimana kalau dia dipindah tugaskan untuk mengajar di kampus yang lain dan meninggalkan Gadis? Ia terus saja berpikir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bahkan dirinya yang masih berada di dekat Gadis pun tak bisa sepenuhnya untuk menjaga dirinya. Betapa payahnya dirinya sebagai seorang lelaki yang tak sempurna. Ia bahkan tiap hari mengutuk dirinya atas kakinya yang cacat. Tak leluasa berlari, gerakan saat berjalan pun lambat seakan semuanya ia tak ingin bersyukur dengan keadaannya.
"Bagaimana kalau pernikahannya dipercepat saja dan aku akan ke kantor rektor untuk meminta surat tugasku tidak jadi dipindahkan ke Nevada. Itu akan jauh dari Victoria," gumam Albert sendiri tanpa ada seorang pun yang mendengarnya.
Ia lantas bergegas untuk membaringkan tubuhnya yang sudah lelah dan langsung memejamkan matanya untuk tidur.
Selamat malam, Gadis...,
...****************...
Tbc
__ADS_1