Imperfection

Imperfection
Proposed...


__ADS_3

Saat sampai di depan rumah, Magdum dengan segera menggendongku keluar setelah sebelumnya mengeluarkan kursi rodaku. Aku tak banyak bicara kepadanya, atau menatap ke arahnya. Rasanya menjadi sangat asing dan juga canggung jika seperti ini. Dan saat dia mendudukkan aku di atas kursi roda, dia dengan segera mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah.


“Magdum!!!”


Aku menolehkan kepalaku seketika saat mendengar suara panggilan itu yang terdengar cukup keras. Tepat berada di belakang kami. Magdum seketika menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhku dan juga dirinya. Dan aku bisa melihat Galang yang berjalan dengan tergesa-gesa ke arah kami berdua. Kedua matanya memancarkan tatapan penuh amarah.


BUGH


Aku menahan teriakan dengan menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Galang melayangkan genggaman tangannya dengan keras ke arah pipi Magdum dan membuatnya terjatuh dengan keras ke atas tanah. Galang tidak berhenti memukuli Magdum.


“Galang... Galang sudah hentikan!!!” Aku berteriak keras, berharap menghentikan mereka, saat Magdum mulai membalas pukulan Galang kepadanya.


“Apa yang terjadi disini, hah?!!” Kak Refi keluar dari dalam rumah, memandangku yang tengah menangis dan menatap ke arah Galang dan juga Magdum yang sama sekali belum menghentikan pukulan mereka.


“Kalian!!!” Kak Refi mendekati mereka dan berusaha melerai perkelahian mereka. Dan pada akhirnya dia berhasil, membuat Galang dan juga Magdum berdiri dengan napas mereka yang terengah-engah.


“Ada apa dengan kalian ini hah?!” Kak Refi berteriak ke arah mereka. Namun, aku masih bisa melihat tatapan penuh amarah dari Galang dan juga Magdum.


“Jangan sentuh dia, jika dia tidak mau, Magdum... kamu bahkan tidak punya hak sedikit pun untuk bisa menyentuhnya!!!” Galang menunjuk-nunjuk ke arah Magdum yang berdiri tepat di hadapannya.


“Dia selalu berpikir jika dia akan bahagia bersamamu, tapi nyatanya tidak. Dia terburu-buru dalam mengambil keputusannya untuk bersamamu!” Magdum berteriak menjawab Galang, dan nyatanya hal itu malah membuat Galang menjadi kembali emosi.


“CUKUP!!!” Aku berteriak, dan membuat mereka mengalihkan pandangan mereka, menatap ke arahku. Aku menghapus air mataku dengan kasar di kedua pipiku. “Aku lelah dengan semua ini... jangan bertengkar lagi.”


Galang sedikit menjauhkan dirinya dari Magdum. Menatap lekat ke arahku dan aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan kepada mereka itu. “Magdum...” Magdum mengangkat kepalanya dan menatapku. “Ini adalah kehidupanku. Apapun yang ku putuskan untuk masa depanku, adalah pilihanku. Dan aku sama sekali tidak ragu dengan memilih Galang sebagai masa depanku.”

__ADS_1


Aku menghela napasku perlahan. “Aku tahu, kamu mencintaiku lebih dari sosok sahabat bagimu. Tapi, aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabatku, tidak bisa lebih dari itu, Magdum...” Dan aku bisa melihat kedua matanya yang mulai menyendu, atas apa yang baru saja ku ucapkan kepadanya. “Tolong, jangan lagi mempertanyakan keputusanku yang salah atau tidak. Karena aku yakin, bahwa kali ini keputusanku sudah sangatlah benar. Kumohon, jangan bertengkar lagi untuk hal ini...”


Aku menangis dalam diam. Menggenggam erat sisi dari kursi rodaku. “Lily...” Aku mengangkat kepalaku dan menatap Magdum yang sudah berdiri tepat di hadapanku. Dia berjongkok. “Maafkan aku, Lily... maafkan aku... aku sadar bahwa sekarang ataupun nanti, aku tetap tidak akan bisa mendapatkan cinta darimu. Tolong, maafkan aku yang sempat egois tentang perasaanku kepadamu.”


Aku menganggukkan kepalaku perlahan, dan menggenggam tangannya yang menutupi wajahnya. “Aku memaafkanmu, Magdum... tolong, maafkan aku juga...” Aku kembali terisak kencang, dan dengan segera mendapatkan pelukan dari Magdum, Galang dan juga Kak Refi.


Dan aku bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikanku keluarga yang penuh dengan cinta dan juga kasih ini. Aku bersyukur karena bisa mendapatkan seorang kakak yang penuh kasih sayang dan juga perhatian seperti Kak Refi.


Aku bersyukur karena bisa mendapatkan seseorang yang bisa mencintaiku apa adanya, dengan besarnya perasaan itu kepadaku. Dan aku tidak akan pernah meminta lebih dari Galang atas apa yang dia miliki saat ini.


Aku bersyukur karena bisa mendapatkan seorang sahabat yang bisa menemaniku disaat aku membutuhkannya seperti Magdum. Meski, aku tidak akan pernah bisa membalas perasaan cintanya kepadaku. Aku cukup senang mendapatkan fakta bahwa dia masih mau bersahabat denganku. Itu saja sudah sangat cukup untukku.


Kak Refi melepaskan pelukan yang terjadi di antara kami semua. Dia tersenyum teduh. “Sekarang, ayo, kita semua masuk ke dalam. Sudah sangat malam sekarang, Galang dan juga Magdum, kalian berdua menginap saja disini malam ini... oke?!”


Aku menatap Galang dan juga Magdum yang menganggukkan kepala mereka bersamaan. Dan aku tersenyum kembali. Perasaan nyaman ini menjadi lebih baik saat melihat mereka berdua yang tidak lagi bertengkar, ataupun mempersalahkan keputusanku. Setidaknya, aku tahu, Magdum kini mulai mengerti dan tak akan lagi mempermasalahkannya.


Dia terlihat sempurna, meski langkahnya yang terpincang, aku tahu dia hanya ingin terlihat lebih normal dan sempurna di kedua mataku. Meski hal itu tidak – lah penting untukku. Cinta, kasih sayang dan juga perhatian yang sudah dia berikan selama ini saja sudah sangat cukup. Aku tidak pernah akan lagi peduli pada semua perkataan kebanyakan orang – orang yang mencela kecacatannya ini. Salah satu kakinya yang pincang itu, membuatku sadar, bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang sempurna.


Aku tersenyum lebar dan menatapnya. Sambil mengalungkan kedua tanganku tepat di lehernya yang kokoh. Aku mendekatkan wajahku ke arah wajahnya, dan mulai mencium rahangnya yang tegas. Galang terkejut dan seketika menghentikan langkah kakinya yang menaiki tangga. Aku tersenyum malu ke arahnya yang mulai menatapku. Dan aku merasakan Galang yang mencium kedua kelopak mataku yang tertutup seketika.


“Aku mencintaimu, Lily...” Galang bergumam sekali lagi dan aku pun membuka kedua mataku, menatap ke dalam kedua bola matanya yang berwarna hitam gelap. Begitu sangat menghipnotisku.


“Aku juga mencintaimu...” Aku membalas perkataannya. Dan seketika jantungku berdegub dengan kencang. Membuncahkan perasaan yang sangat bahagia disana. Galang mulai melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamarku. Galang meletakkanku dengan sangat hati – hati ke atas ranjang, mulai membantu menyelimutiku. Galang pun duduk tepat di sebelahku, dia mulai mengusap – usap dahi dan juga rambutku.


Tapi, ada satu pertanyaan yang sejak lama aku ingin tanyakan kepadanya. Hanya saja belum bisa ku katakan kemarin – kemarin. Jadi, ku putuskan untuk segera menanyakannya saat ini juga. “Galang... bolehkan aku bertanya?!”

__ADS_1


Dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Tentu saja, kamu mau tanya apa??”


“Sebenarnya, pekerjaanmu itu dosen atau apa sih?! Kenapa kamu punya anak buah dan tangan kanan yang siap kapan saja kamu butuhkan?!”


“Oh... tentang itu ya...” Galang bergumam dan seakan – akan bingung untuk menjawab apa atas pertanyaanku ini. “Sebenarnya, selain menjadi seorang dosen, aku punya perusahaan sendiri. Tidak terlalu terkenal ataupun terlalu besar. Maksudku... setiap perusahaan pasti punya anak buah ataupun juga tangan kanannya.”


Aku membulatkan kedua mataku. Pengusaha? Aku bahkan tidak memikirkan ini sebelumnya. “Pengusaha? Perusahaan??”


“Ya... maafkan aku karena tidak mengatakannya kepadamu sejak awal. Seharusnya aku tahu bahwa ini adalah kesalahanku juga. Tapi tenang saja, aku sudah mendapatkan informasi tentang siapa yang telah melakukan teror dan juga penyebab kecelakaan ini...”


“Benarkah?! Kamu sudah menemukan orangnya... siapa?? Katakan padaku, siapa orangnya?!” Aku bertanya dengan sedikit mendesak ke arahnya. Ini sungguh kabar baik, jika memang benar, kalau Galang sudah menemukan orang itu. Ingin rasanya aku memukulnya dan membalaskan setiap rasa takut dan juga sakitku. Tidak hanya aku, tapi Galang, Kak Refi dan juga Magdum, mereka juga ikut merasakannya.


“Kamu akan tahu nanti... yang harus kita lakukan sekarang adalah, bagaimana caranya untuk bisa menjebak orang itu agar berkata sendiri yang sebenarnya. Dan setelah itu baru kita laporkan dia ke polisi.”


Galang menjelaskan rencananya. Tapi tetap saja aku masih sangat bahkan sangat penasaran tentang siapa orang itu. Aku merasa gemas sendiri jadinya. “Tapi... siapa orang itu?!” tanyaku sekali lagi.


Galang hanya tersenyum dan mulai menunduk ke arahku. Mencium dahiku dengan sayang, sedikit lama. Kedua matanya menatapku sayu, seakan sedang menahan sesuatu. Aku tidak tahu apa arti tatapan itu. Tiba – tiba saja dia mendekat lagi dan mencium sudut bibirku, membuatku sedikit tersentak kaget. “Maaf... aku... aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Semua yang terjadi, membuatku sulit sekali untuk berpikir dengan jelas.”


Aku dengan segera menggelengkan kepalaku dengan cepat. “Tidak apa... kamu bahkan sudah beberapa kali menciumku. Aku hanya terkejut saja tadi...”


“Aku tahu... mungkin, aku bukanlah sosok yang sempurna untukmu ataupun dalam pandangan orang lain tentang diriku dan hubungan kita ini. Hanya saja, aku jauh lebih tua darimu... jika saja, aku bertemu denganmu sebelum bertemu dengan Mia, sudah pasti aku akan mendekati dirimu dibandingkan orang lain. Kita akan saling dekat dan juga berkenalan. Kita akan berpelukan dan bergandengan tangan.” Galang **** senyumannya. Lalu dia mulai bangkit dari duduknya, dan membantuku untuk bangun dan bersandar di dinding ranjang. Dia menatapku dalam – dalam.


Aku sedikit mendongak untuk bisa menatapnya yang menjulang tinggi. “Aku mungkin telah mencuri beberapa ciuman saat sedang bersamamu, itu pun setelah aku meminta izin kepada kakakmu.” Dia berhenti sejenak dan menatapku dengan sedikit gusar. “Aku akan berlutut sekarang...” Dan seketika Galang berlutut di sisi ranjangku. Aku sedikit terkejut menatapnya. “Dan aku akan memberikanmu sebuah cincin...” Dia mengulurkan sebuah cincin di dalam kotaknya. Aku tidak bisa berkata apapun, tapi yang pasti kedua mataku sudah berkaca-kaca. “Ini cincin milik nenekku, dia mewariskannya kepada ibuku, dan sekarang aku ingin memberikannya kepadamu. Aku selalu menyimpannya, belum pernah ku berikan pada siapapun, termasuk pada Mia.”


Galang menggenggam tangan kiriku dan memasang cincin itu tepat di jari manisku. Aku tercengang. “Lily Paramita... aku bersumpah bahwa aku akan selalu mencintaimu untuk selamanya, seumur hidupku dan hingga kematian sekalipun. Lalu, apakah kamu mau memberikan sebuah kesempatan yang sangat luar biasa dengan menikah bersamaku?!”

__ADS_1


Aku sama sekali tidak bisa berkata apapun lagi. “Iya...” Aku menjawabnya dengan susah payah, dan setetes air mata jatuh membasahi pipiku. Aku menatap Galang dalam-dalam yang tengah **** senyumnya. Aku pun ikut tersenyum menatapnya. Dan tanpa aba-aba, Galang memeluk tubuhku dengan erat, dan aku pun membalas pelukannya dengan tak kalah erat.


“Terimakasih, Lily...”


__ADS_2