Imperfection

Imperfection
Planning And Fear


__ADS_3

“Huh, aku merasa sangat lega sekali.” Gumamku sesaat setelah keluar dari ruang dosen pembimbing. Semuanya lancar-lancar saja, aku juga sudah mendapatkan beberapa bagian yang harus di revisi dari skripsiku. Tidak terlalu banyak, jadi aku akan segera menyelesaikannya nanti di rumah.


Hanya saja, sebenarnya, konsultasiku dengan dosen pembimbing seharusnya selesai sekitar setengah jam yang lalu. Tapi dosen pembimbingku itu terus bertanya. Atau mungkin menggali informasi tentang hubunganku dengan Galang. Aku bahkan merasa tidak enak mengatakannya. Aku bilang bahwa kami mungkin akan segera menikah setelah aku lulus, atau mungkin hal lainnya. Karena Galang sudah melamarku. Dan untuk selanjutnya, aku hanya bisa mengatakan bahwa hanya Galang yang dapat memberitahukan semuanya kepada orang lain. Lalu, ya, beliau tersenyum senang. Dan aku sangat paham akan hal itu, karena mereka mendapatkan bahan gosip terbaru lagi.


“Aku bahkan mendapatkan banyak revisi... lihat.” Ucapan Silvi membuatku tersadar dari lamunanku. Dia memperlihatkan file skripsi yang dia print. Membukanya dengan gerakan cepat, dan aku bisa melihat banyak coretan disana. Aku tersenyum lebar.


“Untung saja, aku tidak. Dan sepertinya, kamu tidak bisa kencan dengan Bayu deh...” Aku menggodanya, dan tentu saja hal itu membuat Silvi mengerutkan wajahnya dalam-dalam. Merasa kesal dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Dan aku tertawa melihatnya.


“Kamu selalu saja begitu. Nanti aku akan menghubunginya. Ku pikir, kami bisa pergi lain waktu lagi. Oke, sekarang karena aku sudah menguras seluruh tenaga dan pikiranku bersama dengan dosen pembimbingku yang super cerewet itu, lebih baik kita makan. Aku sudah sangat lapar sekarang...” ucap Silvi yang membantuku dengan membawakan tas berisi file skripsiku.


“Baiklah-baiklah... kalau urusan kamu sudah lapar itu, yang jadi jauh lebih menakutkan. Kamu bisa makan apapun...” jawabku yang tidak ada hentinya untuk menggoda Silvi.


Kami berjalan bersama menuju kantin. “Kamu selalu saja menggodaku.” Silvi merengut untuk kesekian kalinya. Tak lama, saat kami sampai di kantin, aku memutuskan untuk duduk dan menunggu Silvi yang sedang mengantre, memesan makanan untuk kami.


Aku mulai membuka ponselku, setidaknya untuk mengecek. Aku membuka aplikasi WhatsApp dan hanya beberapa pesan dari grup. Cukup membosankan. Bahkan Galang, Kak Refi atau Magdum belum satu pun di antara mereka yang menghubungiku. Aku menghela napas secara perlahan.


“Ini makanannya... hanya ada nasi goreng dan es teh.” Ucap Silvi sambil meletakkan dua piring yang berisi nasi goreng dan juga dua gelas es teh.


“Nggak apa-apa. Yang penting kan makan... terimakasih ya.” Jawabku sambil segera mematikan ponselku dan segera memakan nasi goreng itu.

__ADS_1


Silvi duduk dan juga mulai memakan nasi goreng miliknya itu. Dan selama makan, aku berpikir untuk segera menemui Galang untuk mendapatkan informasi yang mungkin saja sudah Bayu katakan padanya. Setidaknya aku juga harus mengetahuinya, bukan? Dan aku yakin, jika Galang sudah menyiapkan rencana untuk bisa menangkap orang itu. Tentu saja.


“Hei...”


Aku hampir saja menyemburkan nasi goreng yang ada di dalam mulutku saat ini. Terkejut atas tepukan kecil di pundakku, dan tentu saja itu adalah Galang. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dengan wajah sedikit cemberut. Dan Galang tentu saja hanya tersenyum lebar, tanpa terpengaruh dengan raut wajahku. Dia pun mulai duduk tepat di sampingku. Sedankan Silvi sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari nasi goreng miliknya yang bahkan hanya tinggal sedikit. Dia sangat cepat kalau makan. Selalu.


“Kamu sudah makan?” Aku bertanya kepada Galang sambil melanjutkan kegiatan makanku saat ini.


Dia menggelengkan kepalanya secara perlahan masih dengan senyuman di wajahnya. “Belum lapar... nanti saja. Bagaimana tugas-tugas dan acara konsultasimu tadi?”


Aku menganggukkan kepalaku dan menyelesaikan kunyahanku. “Baik... ku pikir, aku akan lulus tepat waktu tahun ini. Dan para dosen juga memberikanku kemudahan sepertinya. Oh iya, kamu harus mengatakan sesuatu pada mereka, agar tidak meyebarkan gosip tentangku.” Jawabku dengan nada yang penuh tuntutan.


“Baiklah...” gumamku sambil menganggukkan kepala perlahan dan juga meminum es teh yang mulai menghangat itu.


“Oya, Pak Galang... boleh aku tanya?” Silvi menatap ke arah Galang dengan tatapan penasarannya itu.


“Boleh....” gumam Galang.


“Apakah Bayu datang kemari?” Silvi bertanya dengan senyuman menuntut jawaban. Dan aku menepuk dahiku. Aku kira, dia akan membantuku dengan bertanya tentang informasi apa yang sudah di dapatkan Bayu. Tapi ternyata tidak.

__ADS_1


“Oh... iya, pagi tadi. Dia bilang, dia akan menghubungimu nanti sore. Kamu tunggu saja. Lagipula, pekerjaannya juga sudah selesai, jadi, ya... kalian bisa keluar bersama jika itu yang kalian inginkan.” Jawab Galang menjelaskan.


Dan dengan segera aku menatap ke arah Silvi, memperhatikan raut wajahnya. Dia tersenyum sambil menundukkan wajahnya, ku pikir untuk berusaha menutupi bahwa dia malu dan juga bahagia di waktu yang bersamaan. Itu bagus. Setidaknya, ada Bayu yang akan memberikan kebahagiaan pada Silvi. Sebuah cinta.


“Oya... apakah Bayu sudah mengatakan sesuatu tentang peneror itu? Atau informasi apapun? Aku sangat ingin tahu akan hal itu...” ucapku dan menatap serius ke arah Galang.


Kedua matanya membulat dan penuh dengan keterkejutan. “Yah... sebenarnya, tentang hal itu...”


Aku kembali menatapnya dengan lebih tajam dan juga menuntut jawabannya, saat dia terlihat sangat grogi. “Apa?”


Galang menghela napasnya perlahan. “Baiklah... ya, Bayu sudah memberitahuku tentang peneror itu. Dan aku sudah menyiapkan rencana untuk bisa menjebaknya, serta memanggil polisi nanti malam. Aku tidak bisa melibatkanmu di dalam rencana ini Lily, kamu tahu akan hal itu. Aku, Refi, Magdum, serta beberapa anak buahku dan anggota kepolisian yang akan mengurus hal ini. Tenang saja.”


“Kenapa aku tidak bisa ikut? Aku harus tahu siapa yang sampai repot-repot melakukan semua ini?”


“Ini mungkin akan sangat berbahaya... oke? Jadi aku mohon untuk tidak melakukan apapun yang bisa menyakitimu. Aku tidak ingin menjadi lalai lagi. Malam nanti akan menjadi hari terakhir masa kelam ini, oke? Percayalah...”


Galang menggenggam kedua telapak tanganku, dan aku bisa merasakan tangannya yang lebar itu dingin. Aku melihat ke kedua matanya, ada ketakutan disana. Tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Di sisi ini, aku ingin sekali ikut di dalam rencana yang sudah disiapkan oleh Galang, tapi juga di sisi yang lainnya, aku sama sekali tidak bisa melihat Galang seperti ini. Penuh dengan ketakutan yang bahkan belum pernah aku lihat sebelumnya. Dan, jika aku memang tidak harus ikut ke dalam rencana itu, aku tidak akan bisa duduk diam dan menunggu.


Aku menghela napasku perlahan. “Baiklah... aku hanya akan menunggu hasilnya. Aku tidak ingin membuat kamu, Kak Refi dan juga Magdum merasa khawatir lagi. Aku janji. Dan aku percaya, bahwa apapun yang akan kalian semua lakukan akan menghasilkan hal yang baik untuk kita semua...”

__ADS_1


Galang tersenyum lebar. “Terimakasih Lily...”


__ADS_2