Imperfection

Imperfection
Sick


__ADS_3

Aroma suatu ruangan yang sangat asing bagiku. Aroma obat – obatan yang menyambutku. Rasa kaku yang terasa amat sangat di sekujur tubuhku, dan aku tak dapat merasakannya. Tanganku bergerak, dan mengusap kedua kelopak mataku, untuk menyesuaikan cahaya yang sangat terang. Aku mengernyitkan dahiku dalam. rasa sakit dan juga pusing terasa sangat. Kepalaku menoleh perlahan dan mendapati Kak Refi dan juga Magdum yang tertidur di atas sofa kamar inap rumah sakit ini.


Ceklek


Suara pintu terbuka, mengalihkan pandanganku. Galang berdiri disana, dan tersenyum lega ke arahku. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat, meletakkan barang yang dia bawa, ke atas meja dekat nakas tempatku tidur. Memeluk tubuhku dengan erat, meletakkan kepalanya di cekungan leherku. Aku mengangkat tangan kananku yang bebas dari infus, dan membalas pelukannya.


Galang melepas pelukannya, menatapku dengan penuh kekhawatiran. “Kau baik – baik saja? Kau perlu sesuatu? Kau haus?” Galang bertanya banyak hal yang hanya bisa ku jawab dengan gelengan. Dia mengusap kepalaku, dan baru aku sadar, bahwa kepalaku berbalut dengan kain kasa. Galang mencium pelan pipiku.


“Kak Refi... Magdum... hei! Lily sudah sadar!” Galang membangunkan mereka dengan suara cukup keras. Membuat mereka berdua berjingkat kaget, dan terbangun. Aku tersenyum kecil ke arah mereka. Dan dengan segera mereka berebut untuk bangun dan menghampiriku. Ikut menatap cemas ke arahku.


“Kau baik – baik saja?” Kak Refi dan juga Magdum bertanya bersamaan. Aku tersenyum kecil menjawabnya.


“Aku akan memanggil dokter.” Magdum segera berlari keluar ruang kamar inap.

__ADS_1


Galang duduk di atas kursi yang ada tepat di samping kiriku, dan Kak Refi yang menggenggam tangan kananku dengan erat. Sesekali menciumnya. “Dokter, periksa dia!” Suara Magdum mengalihkan pandanganku. Seorang dokter dengan seorang suster, berjalan ke arahku, dan mengarahkan semua peralatan yang dia punya. Dokter itu mengangguk – anggukkan kepalanya.


“Lily... sebaiknya, kamu istirahat dengan baik selama tiga atau lima hari disini,” ucapnya yang membuatku mengernyitkan dahiku.


“Memangnya kenapa?” Aku bertanya, karena sama sekali belum menyadari atas rasa sakit yang sejak tadi mendera seluruh tubuhku. Aku menatap ke arah dokter itu, Kak Refi, Galang dan juga Magdum secara bergantian.


“Kaki kananmu patah...” Dokter itu bergumam, dan aku dengan segera mengalihkan pandangnku ke arah kaki kananku yang sudah berbalut. Kenapa aku tak menyadarinya sama sekali? “Dan butuh waktu cukup lama untuk masa penyembuhannya. Maka dari itu, jangan terlalu banyak pikiran, pastikan kalian semua juga tidak membuat Lily merasa tertekan. Kalau begitu saya permisi dulu. Satu jam lagi, suster akan mengantar obat yang perlu kamu konsumsi.” Dokter itu segera pergi bersama suster yang sejak tadi bersamanya.


“Jadi... bagaimana bisa aku ada disini?” Aku bertanya sesaat setelah mengembalikan botol air mineral itu kepada Galang.


“Ada yang menelpon melalui ponselmu, dan kami segera kemari. Untungnya kamu baik – baik saja. Hanya patah tulang, dan kepala yang terbentur. Tidak ada tanda – tanda hilang ingatan juga.” Kak Refi menjelaskannya dengan cukup singkat.


“Lalu mobil yang menabrakku, bagaimana?” Aku bertanya sekali lagi, karena seingatku mobil yang menabrakku sama sekali tidak berhenti.

__ADS_1


“Mobil itu melarikan diri...” Galang mengusap pipiku. “Tapi tenang saja, anak buahku sedang mencarinya. Semoga saja, dia segera tertangkap,” lanjutnya lagi dengan suara yang geram. Dia marah.


“Jika saja, kau tidak membiarkannya pulang sendiri, semua ini tidak akan pernah terjadi. Lily tidak akan kecelakaan!” Magdum berseru, menunjuk ke arah Galang yang hanya bisa diam. Dan aku menutup kedua mataku. Lagi – lagi, dia sama sekali tidak bisa menahan emosinya.


“Magdum sudahlah... aku baik – baik saja, oke? Bisakah kalian membiarkanku istirahat sekarang? Kalian juga butuh istirahat...” Aku mencoba untuk menengahi mereka.


Dan aku bisa melihat Kak Refi yang mencoba untuk menenangkan amarah Magdum. Dan Galang kembali duduk di kursi yang berada di samping nakasku. Hanya diam, dan tak mengatakan apapun. “Kamu tidak tidur?” Aku bertanya, saat telapak tangan kanannya yang besar mulai mengusap rambutku, dan membuat kedua mataku terasa berat.


“Tidak... aku akan menjagamu,” jawabnya dengan berbisik. Galang tersenyum kecil. “Maafkan aku, Lily. Magdum benar, semua ini terjadi karena aku. Seharusnya, aku tetap memaksamu untuk pulang bersamaku... atau setidaknya mengikutimu selama di perjalanan.” Aku mengusap tangannya. “Tapi tidak. Aku bodoh, karena tidak bisa menjagamu... maafkan aku, Lily...”


“Jangan menyalahkan dirimu, Galang. Aku memang ceroboh dan tidak mau mendengarkan perkataanmu. Aku yang salah... maafkan aku juga...” Aku bergumam, dan tanpa terasa air mata jatuh mengenai pipiku. Dan Galang segera menghapusnya.


“Tidurlah...” bisiknya dan aku mulai memejamkan kedua mataku.

__ADS_1


__ADS_2