
Pagi ini aku terbangun dengan rasa bahagia yang sangat terasa di dalam hatiku. Rasanya masih sulit percaya atas apa yang telah di lakukan oleh Galang kemarin. Dia melamarku. Dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tidak masalah dengan tidak adanya bunga atau hal romantis lainnya. Hanya dengan perkataannya itu, aku tahu bahwa dia memang bersungguh-sungguh untuk melanjutkan kehidupannya. Bersama denganku.
Berbicara tentang masa depan dan juga melanjutkan kehidupan. Aku ingat bahwa aku belum masuk kuliah selama masa penyembuhan. Dan sepertinya aku harus segera masuk untuk mengurus tugas-tugas yang sempat tertunda. Dan juga mempercepat skripsiku. Setidaknya aku tidak lagi menunda-nunda untuk segera lulus. Dan juga harus segera belajar untuk berjalan lagi, menghilangkan rasa kaku di kakiku, meski belum sembuh dengan baik. Tapi ku pikir itulah yang terbaik.
Aku pun mulai bangkit dari atas ranjangku. Mencoba untuk berpegangan dengan meja di samping ranjangku. Sedikit kaku tepat di kaki kananku yang masih berbalut. Aku menghela napasku dengan kasar, karena sengatan rasa sakit yang tiba-tiba saja ku rasakan tepat di kaki kananku itu. “Aku pasti bisa...” gumamku pada diriku sendiri. Aku menggigit bibir bawahku sekali lagi dan memastikan bahwa aku mulai tidak merasakan sengatan rasa sakit seperti tadi.
Aku melangkah dengan perlahan mendekati pintu kamarku. Dan membukanya. Dan sepertinya, masih belum ada yang bangun selain aku. Maksudku adalah Kak Refi, Magdum dan juga Galang. Mereka semua belum bangun, mungkin karena kelelahan kemarin malam. Terlebih Galang yang baru tidur saat sudah hampir larut malam. Dia tidak pernah bisa benar – benar tidur dengan nyenyak sejak adanya teror yang ditujukan kepadaku. Dia terlalu terbawa pikiran, menurutku.
Aku terus berpegangan saat menuruni anak – anak tangga dengan sangat perlahan. Menuju dapur dan mencoba untuk bisa menyiapkan makanan untuk mereka semua. Aku harus mencoba untuk terbiasa sekali lagi, setidaknya untuk memperbaiki rasa makanan buatanku yang tidak lagi sama seperti dulu. Sampai tepat di anak tangga yang terakhir, aku pun dengan perlahan, menghembuskan napasku dengan lelah. Kembali melangkah, memasuki area dapur, dan aku pun mulai memasak, masakan yang sederhana saja.
Nasi goreng dengan rasa pedasnya yang sedang dan juga dipenuhi oleh sayuran, empat telur goreng mata sapi, dan juga jus jeruk. Aku tersenyum sendiri saat menata semuanya ke atas meja makan. Aroma lezat yang berasal dari nasi goreng membuat perutku yang kosong semakin terasa keroncongan.
“Kau sudah bangun?” tanya Magdum yang membuatku terkejut, saat dia tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di belakangku, dengan tangan kanannya yang mengusap-usap wajahnya. Dia terlihat sangatlah mengantuk.
Aku tersenyum kecil, dan menganggukkan kepalaku dengan cepat serta semangat. “Iya... aku membuatkan sarapan untuk kalian semua...” Aku menggeser tubuhku dan membiarkan Magdum duduk di salah satu kursi meja makan. Menatap ke arahku dengan tajam. Membuatku sedikit tidak nyaman dengan tatapan tajam itu.
Aku pun tersenyum kikuk, sambil mengusap-usap tengkuk leherku yang tidak gatal. Sebagai pengalihan. “Kenapa kamu melihatku seperti itu?!”
“Kakimu kan masih sakit... kenapa kamu yang malah masak?! Kan bisa aku, Kak Refi atau Galang yang memasak nanti. Kondisimu belum baik sepenuhnya, Lily...” Magdum menjawab dengan nadanya yang tegas dan juga penuh akan kekhawatiran.
“Aku tahu, Magdum... tapi jika aku hanya berbaring dan beristirahat, aku tidak akan bisa lebih cepat pulih, bukan?! Jadi, aku akan mulai belajar melakukan semua yang biasanya selama ini aku lakukan...” Aku tersenyum saat Magdum tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa dia paham atas apa yang aku inginkan. “Oya, dimana Kak Refi dan juga Galang?” tanyaku saat tidak ada salah satu di antara Kak Refi dan juga Galang yang turun dari dalam kamar.
Magdum mengangkat kedua bahunya sebagai tanda acuh. Dia bahkan mulai memasang wajah yang cemberut. “Kak Refi sedang mengerjakan proposal kerjanya. Dan si tua Galang itu masih tertidur di ranjang. Orang tua itu tidak akan bangun untuk bisa sarapan bersama kamu, Lily... jadi lebih baik kamu sarapan berdua saja denganku.”
“Kata siapa orang tua ini tidak akan bisa sarapan bersama calon istrinya sendiri?” Suara Galang terdengar dari arah tangga, dan aku berbalik dengan tersenyum lebar, saat Galang menyebutku sebagai ‘calon istrinya’. Tentu saja, hal itu membuat perasaanku berbunga-bunga di pagi hari ini.
__ADS_1
“Apa maksudmu dengan ‘calon istri’, huh?!” Magdum bertanya dengan suara yang keras, dan aku berbalik untuk menatapnya. Magdum terlihat sangat tidak senang dengan perkataan Galang barusan.
“Magdum...” Aku bergumam. Dan aku mendengar suara langkah kaki dari Galang yang semakin mendekat ke arah meja makan ini.
Aku menatapnya, dan Galang melemparkan senyuman menggodanya. Dia terlihat sangat jahil jika seperti itu. Astaga. Aku mulai menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tentu saja Lily adalah calon istriku... lagipula aku sudah melamarnya semalam...” ucap Galang yang membuat Magdum langsung saja bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah Galang. Bergantian pandangan ke arahku juga.
“Kau... apa??” Magdum bertanya dengan nada suaranya yang terdengar sangat gemetar dan memiringkan kepalanya, seakan-akan dia sudah salah dengar atas ucapan Galang tadi.
Galang mulai duduk di kursi meja makan, masih dengan senyuman jahil dan lebarnya itu. Kedua matanya menatap berbinar ke arahku dan dengan penuh kepuasan ke arah Magdum yang hanya bisa termangu. “Ya... aku sudah melamar Lily semalam. Dan dia sudah menerima lamaranku, dia juga sudah memakai cincin lamaranku.” Jawab Galang dengan nada suaranya yang santai namun bangga dalam satu waktu.
Magdum masih menganga tidak percaya, sambil menatap tepat ke arah jari manisku yang sudah tersematkan oleh cincin warisan milik nenek Galang. Magdum menatap ke arahku dalam-dalam, sambil sesekali mengalihkan pandangannya menatap jariku. Aku tahu ini masih sangat sulit untuk bisa dicerna oleh pikiran Magdum, tapi, bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa menunggu lama-lama untuk bisa bersanding bersama Galang di pelaminan. Ini adalah impian besar dan istimewa untuk kehidupanku yang selanjutnya. Aku dan Galang, kami berdua akan menjadi pasangan suami istri nantinya. Dan menghabiskan hidup bersama dengan Galang, adalah waktu yang sangat panjang dan sangatlah berharga untuk bisa dilewatkan. Dan aku sama sekali tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi lagi kepada kehidupan masa depan kami.
Aku tersenyum dalam diam, dan mulai tersadar dari lamunanku. Menatap ke arah Galang yang tertawa lepas sambil mengacak-acak rambut Magdum dengan gemas, serta memukul-mukul pelan tubuh Magdum, dan tentu saja dibalas dengan cara yang serupa oleh Magdum. Hubungan mereka mulai melunak, dan sedikit berbaikan, tentu saja. Itu terasa jauh lebih baik dibandingkan harus melihat mereka terus bertengkar karena memperebutkan diriku. Meski kini, rasanya masih sangat mengganjal di dalam hati, bahwa Magdum mungkin tidak akan atau bahkan belum rela jika aku telah menerima lamaran yang diberikan oleh Galang semalam. Dan aku dapat mengerti hal itu.
Dia semakin terasa romantis, meski pada awalnya, dia juga masih ragu untuk melakukan hal-hal yang romantis di dalam hubungan kami. Dia bahkan masih sangat kaku saat pertama kali kami bertemu dan berkencan, sepanjang hubungan kami ini. Dan ini merupakan kemajuan yang berarti. Aku tersenyum lagi, dan entah sudah berapa kali aku tersenyum pada pagi ini, dan aku tidak ingin senyuman ini berubah menjadi air mata, karena datangnya masalah yang baru lagi.
“Wah, siapa yang memasak makanan yang terlihat sangat lezat ini?!” Kak Refi muncul secara tiba-tiba, dan membuat Magdum tersedak dari acara makannya. Dan ternyata Magdum sudah memulai acara makannya sejak tadi, disaat aku dan juga Galang masih larut dalam tatap-tatapan.
“Aku yang memasaknya, kak,” jawabku sambil membetulkan posisi dudukku, dan Galang mendekatkan kursi makannya ke arahku.
Aku melirik ke arah Kak Refi yang terdiam, menatap dalam-dalam ke arah kami berdua. Lalu aku tahu bahwa Kak Refi kini sedang menatap ke arah jari manisku yang sudah tersemat cincin lamaran yang telah diberikan Galang semalam. Aku tersenyum kecil, dan aku menggenggam telapak tangan kiri Galang yang ada di atas meja makan, sedang bersiap untuk mengambil makanan. Galang tersentak akibat sentuhanku, menolehkan kepalanya dan menatapku dengan pandangannya yang penuh tanda tanya.
Aku mendekat ke arah telinga kiri Galang dan mulai berbisik pelan, memastikan Kak Refi tidak sedang menguping pembicaraan kami. “Kita harus memberitahu Kak Refi tentang acara lamaran dadakan yang kamu lakukan padaku semalam,” ucapku sambil menahan senyum, saat melihat wajah Galang yang mulai terlihat tegang dan pucat. Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya yang seperti ini, kecuali saat ketika aku kecelakaan waktu itu.
“Ehem...” Galang berdehem beberapa kali, dan mulai menegakkan tubuhnya. Sambil menghembuskan napasnya berulang kali. Dia terlihat sangat tegang saat ini.
__ADS_1
“Ada apa Galang?” Kak Refi menatap ke arahnya dengan penasaran. Dan mulai menghentikan acara makannya. Dan saat aku menatap ke arah Magdum, dia hanya melengos dan memalingkan wajahnya, seakan tidak peduli. Dan aku tahu, dia masih saja belum menerima keputusanku.
“Aku ingin mengatakan jika aku, sudah melamar Lily semalam...” Galang mengucapkannya dengan sangat percaya diri. Dengan senyuman yang menampilkan kedua gigi gingsulnya. Dan seketika aku memerah kembali, menggigit bibir karena menahan senyuman kebahagiaan saat ini.
Dan melihat kembali pada ekspresi wajah Kak Refi, aku ingin sekali tertawa menatapnya, bagaimana tidak menahan tertawa, jika saat ini Kak Refi sedang melongo dengan mulutnya yang terbuka lebar, sedangkan mulutnya masih penuh dengan nasi goreng yang belum terkunyah sepenuhnya.
“Kau... apa? Apa yang kamu lakukan?” tanya Kak Refi memastikan kembali kebenaran dari perkataan Galang barusan.
“Refi... aku sudah melamar Lily semalam... dan dia mengatakan YA!” ulang Galang dengan menekan perkataan YA di bagian belakang, akhir ucapannya.
Kak Refi memandang ke arahku dengan penuh rasa penasaran dan rasa yang tidak percaya. “Lily... apakah itu benar? Galang, sudah melamarmu? Benarkah? Kapan? Dan dimana?” Runtutan pertanyaan yang diberikan oleh Kak Refi membuatku semakin tergagap dan sulit untuk menjawabnya satu per satu.
“Kak... pelan-pelan saja pertanyaannya...” Aku menghela napas, dan mengatur jantungku yang berdetak dengan sangat cepat. “Ya, Galang memang sudah melamarku. Kemarin malam saat kami ada di kamar, saat dia membantuku naik ke atas ranjang. Dia juga sudah memberikan sebuah cincin lamaran untukku.” Aku mengangkat tangan kananku yang dimana jari manisku sudah tersemat sebuah cincin lamaran yang semalam diberikan oleh Galang.
Aku tersenyum bahagia, sambil sesekali menggigit bibir, karena tidak bisa lagi menahan rasa panas yang memenuhi wajahku saat ini. Dan Kak Refi dengan wajah yang pucat pasi, menatap lurus ke arahku. “Aku... aku sama sekali belum menyangka hal ini akan terjadi. Dan secepat ini. Lily, adalah adikku dan menjadi satu-satunya keluargaku. Aku sama sekali tidak bisa mempercayainya, bahwa adikku sudah dilamar oleh seseorang.” Ucap Kak Refi sedikit terbata-bata.
Aku sungguh memakluminya. Dan dengan segera aku menggenggam telapak tangan Kak Refi yang kini terasa sangatlah dingin, sambil tersenyum kecil. “Kak, aku bahagia... dengan Galang, aku yakin bahwa kami sudah ditakdirkan untuk bersama. Lagipula... setelah aku lulus nanti, kami mungkin akan mulai melanjutkan hidup bersama. Aku akan menyelesaikan skripsiku dan lulus, sehingga kakak akan bangga denganku.”
Kak Refi menganggukkan kepalanya perlahan sambil membalas genggaman tanganku. “Aku tahu itu...”
“Lagipula... setelah aku menikah nanti. Kakak akan bebas untuk mencari calon istri, dan tidak akan menjomblo lama-lama lagi... benarkan?!” Godaku yang mendapat pukulan kecil di lenganku oleh Kak Refi. “Sudah... sekarang ayo kita lanjutkan sarapan kita. Sudah hampir dingin semuanya...” lanjutku, sambil melepaskan genggaman tanganku dari Kak Refi.
Galang, Kak Refi, Magdum dan juga aku mulai melanjutkan acara sarapan kami yang sempat tertunda tadinya. Kami makan bersama, dan sungguh ini sangatah membuatku bahagia. Aku sama sekali tidak bisa berhenti tersenyum bahagia karenanya, ini adalah momen yang sangat membahagiakan untukku. Maksudku, aku tidak ingin lagi menyembunyikan rasa bahagiaku. Dan entah mengapa aku merasa bahwa ini bukan berarti semua masalah yang kemarin-kemarin terjadi akan berhenti. Entah kenapa, aku merasa akan ada hal baru lagi yang akan datang. Tapi aku selalu berdo’a agar tidak ada yang membahayakan diriku, Galang, Magdum, Kak Refi dan semua temanku.
Aku kembali fokus dengan makananku, meski rasanya untuk menelan makanan setelah memikirkan hal itu terasa sangatlah sulit. Tapi, aku harus makan sekarang. Dan baru setelah itu aku akan memikirkan cara yang terbaik untuk bisa membantu Galang menjebak si peneror itu. Setelah itu, aku baru akan merasa tenang. Terlebih jika si peneror itu mendapatkan karmanya. Masuk penjara dalam waktu yang lama, itu sudah sangat cukup untukku.
__ADS_1