Imperfection

Imperfection
The Way You Make Me Feel


__ADS_3

Entah berapa kali aku menghela napas. Rasanya sangat bosan berada di dalam kamar. Galang dan juga Kak Refi sama sekali tidak mengizinkan Magdum yang sejak tadi ingin membawaku jalan – jalan. Yang pada akhirnya, tentu saja bisa ditebak, Magdum dan juga Galang bertengkar. Dan membuatku merasa pusing sejak tadi juga. Hingga, Kak Refi dengan terpaksa mengeluarkan tanduknya, dan memarahi balik mereka. Tanpa rasa canggung lagi, jika Galang jauh lebih tua darinya. Dan Galang tahu bahwa tindakannya juga termasuk kekanak – kanakan.


“Hei...” panggil seseorang yang ku yakini adalah Magdum. Dia berdiri dengan mengintip di sela – sela pintu kamarku. Tersenyum kecil. Dan melangkah masuk ke dalam kamarku secara perlahan. “Aku sudah mendapatkan izin dari Kak Refi untuk membawamu jalan – jalan. Setidaknya, bisa mengurangi rasa bosanmu, tentu saja.”


Aku menatapnya dengan tidak percaya. “Lalu Galang?”


“Galang? Dia kembali ke rumahnya, katanya ada urusan penting. Aku tidak mengerti, biarkan saja.” Magdum menunjukkan wajah yang mengejek. Dan aku memutar mataku, merasa jengah. Karena sepertinya permusuhan antara Galang dan juga Magdum tidak bisa dihentikan.


“Bagaimana? Kamu mau jalan – jalan, kan?!” Dia bertanya dengan raut wajah yang menggemaskan. Astaga, aku bahkan tidak tahu jika Magdum bisa melakukan itu.


“Baiklah – baiklah...” Aku menjawabnya dengan cepat, karena tidak sanggup lagi untuk melihat wajah Magdum yang begitu memohon kepadaku. “Karena aku sudah memakai baju hangat, bantu aku untuk memakai jaket. Oke?!”


“Siap, tuan putri! Aku akan membantumu...” Dengan cepat dia mengambil jaket milikku yang cukup tebal, dan membantuku untuk duduk, serta memakainya.


Aku menghela napas, karena rasa panas yang mulai menjalar di sekujur tubuhku. Sepertinya, memakai jaket di dalam kamar, bukanlah ide yang bagus untuk ku lakukan. Magdum segera membuka kursi roda, dan menggendongku untuk bisa duduk di atasnya. “Memangnya kita akan jalan – jalan kemana sih?!” Aku iseng bertanya kepadanya.

__ADS_1


Magdum menggendongku di atas punggungnya, dan menuruni tangga bersama. “Mungkin melihat pemandangan, atau apapun lah... yang penting bisa membuatmu tidak merasa bosan lagi...” Dia meletakkanku kembali ke atas kursi roda. “Oya... kali ini, aku memakai mobil ayahku. Jadi tidak akan menyulitkanmu.” Lanjutnya lagi. Dan aku hanya menganggukkan kepalaku.


Dan benar saja, sebuah mobil berwarna putih, terparkir di halaman depan rumahku. Setahuku, Magdum bahkan tidak pernah menyentuh mobil itu. Maksudku, dengan mengendarainya. Dia sekali lagi membantuku untuk masuk ke dalam mobil itu. Dia tersenyum, dan menyalakan musik. Dan tepat sekali lagu yang di putar adalah lagu Michael Jackson yang berjudul The Way You Make Me Feel. Oh, astaga, rasanya sangat bernostalgia. Aku mencintai Michael Jackson, dan Magdum sama sekali tidak melupakan fakta yang paling besar itu juga.


Magdum dengan isengnya, ikut bernyanyi mengikuti lirik lagu Michael Jackson itu. Dan aku tertawa kecil. Yang tentu saja, suara Magdum tidaklah seenak Michael Jackson. Maksudku, Magdum bahkan tidak pernah bernyanyi sebelumnya. Dan suaranya sangat buruk. Sekali lagi aku tertawa sedikit kencang. Magdum menghentikan nyanyiannya, dan menggeleng – gelengkan kepalanya, wajahnya memerah di antara cahaya yang remang. “Astaga! Aku mempermalukan diriku sendiri!!” Magdum berseru dan sekali lagi disambut oleh tawaku yang puas.


“Kau merusak suara indah Michael Jackson, Magdum...”


Magdum menoleh singkat ke arahku dan ikut tertawa. Seiring perjalanan kami, lagu Michael Jackson terus saja beralun. Dan aku semakin menyukai ini. Setidaknya, aku tahu satu cara untuk bisa menghilangkan rasa jenuhku. Dengan pergi bersama Magdum, atau Galang, atau juga Kak Refi kemana saja, asal selalu bersama. Dan juga sambil mendengarkan lagu Michael Jackson tentu saja. Tak peduli betapa lamanya lagu itu dinyanyikan olehnya, aku akan selalu mencintai lagunya, dan juga penyanyinya.


Dan aku sadar, dia kini membawaku ke sebuah bukit. Seketika aku bisa merasakan hawa dingin yang mengelilingi seluruh tubuhku. Dan membuat tubuhku bergetar seketika, karena kedinginan meski aku sudah memakai pakaian yang cukup hangat, tentu saja. Dengan perlahan meletakkanku di atas kursi roda. Mendorongnya secara perlahan.


“Mau mencoba untuk duduk di rumput??” Dia bertanya saat kami sudah berada di dekat ujung bukit, yang penuh dengan rerumputan.


“Tentu saja...” Aku menjawabnya dengan penuh semangat, dan Magdum tertawa kecil mendengar jawabanku.

__ADS_1


Dia menggendongku untuk kesekian kalinya, dan meletakkan tubuhku tepat di atas rumput yang terasa dingin, dengan perlahan. Dia tersenyum, dan meletakkan kursi rodaku tepat di dekat pohon yang ada tepat di belakangku. Lalu dia mulai duduk tepat di sampingku. Aku tidak tahu lagi jika ada suatu tempat yang bisa terlihat begitu indah dari atas bukit ini. Mendongakkan kepala, dan aku bisa melihat ribuan bintang bertaburan di langit, menemani bulan sabit yang terlihat semakin indah dan juga jelas dari sini.


“Ku pikir... aku belum lah terlambat untuk bisa mengatakan ini untuk kesekian kalinya kepadamu, Lily.” Magdum bergumam cukup jelas di telingaku. Dan aku menolehkan kepalaku menghadap ke arahnya yang ada di sebelah kanan tubuhku.


“Apa??” tanyaku.


Magdum menolehkan kepalanya dan menatapku cukup dalam. “Kalau aku sudah jatuh cinta padamu saat kita bertemu... dan aku sangat ingin kamu memilihku daripada dia. Kamu bahkan belum lama mengenalnya, dibandingkan aku yang sudah cukup lama mengenalmu, Lily...”


“Ku pikir kamu sudah mengerti, Magdum...” Aku bergumam dan mengalihkan pandanganku darinya. Menggelengkan kepalaku perlahan.


“Aku tahu...” Dia menyentuh wajahku dengan kedua tangannya, membuatku menatap tepat ke arahnya. “Tapi tidak bisakah kamu memikirkannya kembali? Kamu terlalu cepat mengambil keputusan dengan jatuh cinta kepadanya... dan juga, kamu tidak perlu mengalami semua hal ini, Lily... kamu pasti akan aman jika bersamaku, sedangkan saat kamu bersama dengan dia, dia bahkan tidak bisa melindungimu. Kenapa kamu masih mau bersama dengannya? Kenapa tidak denganku saja??!”


Tiba – tiba saja dia mendekatkan wajahnya ke arahku dan mencium sudut bibirku, dan membuatku sangat terkejut, hingga tanpa sadar aku menampar wajahnya dengan cukup keras. Hingga melepaskan ciumannya dari wajahku. Aku sama sekali tidak menyangka jika Magdum akan menciumku, ini sama sekali tidak benar. Magdum dengan jelas menampilkan wajahnya yang cukup terkejut dan juga kedua matanya yang memancarkan rasa penuh bersalah itu.


“Antar aku pulang sekarang,” gumamku sambil mengalihkan pandanganku darinya.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Magdum menggendongku ke dalam mobil lagi, dan dia berjalan untuk mengambil kursi rodaku. Lalu kembali lagi ke dalam mobil, mengendarai mobil ini dengan kecepatan yang cukup sedang. Dan rasa – rasanya pikiranku menjadi blank. Dan aku tahu, akan sangat sulit untuk membuat Magdum mengerti akan keputusanku lebih memilih Galang dibandingkan dirinya.


__ADS_2