
"Apa-apan itu si cacat berani-beraninya dia memukulmu! Kenapa kau tidak ingin membalasnya atau aku juga bisa membalasnya!" ujar Edy kesal melihat kepergian Albert.
"Kau tidak usah memusingkan pukulan itu. Aku memiliki rencana yang bagus untuk besok. He," ujar Bass yang memegang sudut bibirnya yang robek sedikit karena terkena pukulan Albert.
Edy mengalihkan pandangannya ke arah Bass. Kemudian ia ikut tersenyum smirk.
"Sial, sakit juga pukulannya," gumam Bass sendiri.
Sementara Albert yang keluar dari kedai itu langsung saja menuju ke toko perhiasan untuk membeli sepasang cincin untuk pernikahannya. Ia memang sengaja tak mengajak Gadis, karena ketakutannya terhadap apa yang terjadi akhir-akhir ini dengan Gadis.
"Hi, Tuan Albert, apa yang bisa saya bantu untuk Tuan muda?" tanya pelayan wanita di sana.
"Kau masih ingat denganku saja, Nona Elisa. Bisakah aku melihat sepasang cincin yang bagus?" tanya Albert sembari tersenyum.
Pelayan itu langsung mencarikan sepasang cincin yang bagus menurutnya. Ada beberapa pilihan yang diperlihatkan kepada Albert dengan model yang berbeda-beda. Ada yang berbentuk hati (love) dengan berlian yang elegan, ada yang sepenuhnya cincin yang kelilingi berlian kecil yang tak terlalu besar, dan ada yang klasik.
__ADS_1
"Aku ambil yang ini saja," ujar Albert yang menunjuk cincin berbentuk love. Ia sengaja memilih bentuk love karena melambangkan cintanya terhadap Gadis.
"Baik. Apakah ada tambahan lagi? Untuk ukuran jari sang wanita apakah tidak perlu di ukur dahulu?" tanya pelayan itu.
"Tidak perlu. Biarkan aku mencoba untuk yang pria saja," ujar Albert.
Pelayan itu mempersilahkan cincin itu dicoba ke jari Albert. "Apakah ini untuk anda, Tuan?" tanya pelayan itu penasaran.
"Benar. Aku mengambil ini," ujar Albert lagi yang menyerahkan cincin yang dicobainya.
"Selamat Tuan Albert. Tuhan selalu memberkatimu dalam pernikahanmu," doa sang pelayan itu.
"Terima kasih atas doanya dan terima kasih atas pelayananmu," ujar Albert yang membawa paper bag dan berlalu dari sana.
Persiapan ini memang sangat mendadak, tetapi selain ia senang akan pernikahannya berlangsung, di balik itu ia semakin takut dengan apa yang akan terjadi besok.
__ADS_1
"Ya ampun, aku lupa! Mereka bahkan tidak tahu di mana aku melaksanakan pernikahan dan aku juga tidak ada mengundang siapa pun selain keluargaku," gumam Albert yang bisa didengarnya sendiri.
Albert melangkahkan kakinya menuju rumah. Ia berjalan cepat lantaran terik matahari yang menyengat di cuaca yang panas hari ini. Setelah sampai di rumah, ia tak melihat adanya keluarga Adolf yang tadi pagi masih ada di sana. Itu membuat kekhawatiran Albert semakin meningkat.
"Johan! Johan!" teriak Albert dari arah depan.
"Ada apa kau berteriak seperti itu?" tanya Johan yang aneh melihat Albert pulang.
"Di mana keluarga Adolf?" tanya Albert yang panik.
"Tenangkan dirimu. Mereka baik-baik saja. Setelah Paman Herman menceritakan kejadian tadi malam. Paman Herman meyakinkan kalau mereka tidak akan datang lagi untuk mengganggu," jelas Johan.
"Itu tidak benar, Johan! Aku baru saja bertemu dengan kedua pria biadab* itu! Mereka memiliki rencana yang tidak akan kita duga! Aku takut, acaraku besok akan kacau!" ucap Albert lagi.
"Tenang. Acaramu hanya di lingku keluarga saja. Dan kita melakukan hanya di gereja. Kita tidak melakukan pesta besar-besaran, ALbert.. Kau tidak perlu cemas," ujar Johan mencoba menenangkan adiknya itu.
__ADS_1
"Kau benar! Aku harus memastikan mereka di rumah mereka!" ujar Albert yang langsung berpaling untuk keluar, namun di tahan oleh Johan.
"Tidak perlu! Tenangkan dirimu dan semuanya akan baik-baik saja," ujar Johan lembut.