
Bab 37
"Dengan Bapak Herman?" tanya salah satu Sherif yang berbadan besar, tinggi dan tegap.
Herman menjawab dengan mengatakan benar ini adalah dirinya. "Ada apa ini? Mau apa datang kemari?" tanya Herma.
"Maaf, Pak. Kami ditugaskan oleh kepala Sherif untuk datang ke lokasi ini atas permintaan atasan kami untuk menjaga dan menangkap sindikat yang ingin melakukan penculikan anak perempuan, terutama anak pak Herman," ujar salah satunya lagi.
"Tunjukkan id kalian!" pinta Herman.
Mereka pun menunjukkan id card mereka dan akhirnya mereka dipersilahkan masuk ke dalam rumah itu membicarakan rencana yang akan dipakai untuk malam nanti.
"Silakan duduk. Jadi bagaimana?"
Tiga orang itu duduk di sofa siap untuk membeberkan rencana yang mereka miliki,
__ADS_1
"Begini,.." salah satu dari mereka membuka percakapan itu. Herman yang mendengar percakapan itu pun langsung mengerti dengan maksud dari rencana mereka
"Baik, aku menyetujuinya." ujar Herman.
Malam pun tiba. Dua orang yang sudah merencanakan untuk menculik Gadis pun terlihat bersiap dengan senjata dan perlengkapan mereka. Bass dan Edy saling memandang lalu tersenyum sumringah melihat penampilan mereka berdua. Mereka berjalan ke arah mobil yang sudah di siapkan untuk melancarkan aksinya.
Butuh setengah jam untuk mencapai lokasi rumah Herman. Mereka mengintai dari jarak lima ratus meter dari rumah. Melihat keadaan sekitar kalau memang sekitar rumah itu tidak ada orang lain atau bahkan tetangga yang melakukan aktivitas di sana. Keadaan rumah sudah gelap gulita tak terlihat sinar lampu yang menyala terang di dalam rumah itu. Perlahan mereka berdua berjalan perlahan sampai menghampiri titik yang sudah mereka tandai di dalam sebuah kertas yang bergambar denah rumah Herman.
"Kau siap?" tanya Bass. Edy hanya menganggukkan kepalannya setuju. "Jangan melakukan kesalahan! Kau paham?" lanjutnya lagi. Edy pun menganggukkan kepalanya lagi.
Krieeett.....
Pintu terbuka dengan sendirinya. Gelap. Edy yang terlebih dahulu masuk sebelum Bass mengikutinya di belakang. Tak terlihat apa pun di dalam rumah itu. Gelap gulita menyergap. Segera saja Bass menyalakan senter kecil untuk melihat jalan yang ingin dia tuju. Bass memberi kode untuk Edy naik ke atas lantai dan memeriksa apakah ada orang atau tidak.
Edy menggelengkan kepalannya. Kakinya langsung melangkah menaiki anak tangga dengan perlahan tanpa ada bunyi suara sepatu yang mereka pakai. Namun, tak disangka oleh Edy, kamar itu terbuka dengan lebar seperti ada sesuatu yang janggal. Edy berpaling tak ingin melanjutkan langkahnya, ia langsung berteriak,
__ADS_1
"Bass, rumah ini sudah kosong! Sepertinya mereka tahu kalau kita ingin menculik anak dari mereka untuk Oscar."
Bass langsung menyuruh Edy turun dan menelusuri kamar yang lain. Ia tidak percaya bahwa tak ada seorang pun di sana.
"Dasar bodohh! Kenapa kau berteriak seperti itu? Mana tahu mereka sembunyi di suatu tempat dan mereka mendengar terikanmu yang gila itu? Habislah kita!" gerutu Bass.
Tak banyak bicara, Bass langung meninggalkan temannya itu mengecek satu per satu kamar yang ada di sana. Benar saja apa yang dilihatnya semua terbuka dengan lebar. Ia penasaran dengan kamar utama.
Suara alas sepatu bergesekan dengan lantai kayu yang menimbulkan bunyi berisik. Bass mendekat ke arah kamar utama dan memasukinya. Namun dengan terkejut dirinya melihat sosok yang berdiri tegap dengan senjata yang sudah diacungkan ke arahnya.
"Diam di tempat!" ujar orang itu.
...****************...
Tbc
__ADS_1