Imperfection

Imperfection
Isi hati Magdum


__ADS_3

DAARRR


Aku terjingkat terbangun seketika. Menatap ke arah jendela yang terbuka dan baru sadar jika hari mulai malam. Air hujan turun dengan deras, di ikuti oleh gemuruh petir yang bersaut – sautan. Hawa dingin yang begitu masuk ke dalam tubuhku. Aku bangkit dan duduk di atas ranjang, mengusap perlahan wajahku dan menyisir rambutku dengan tangan. Menurunkan kedua kakiku, dan seketika merinding saat merasakan dinginnya lantai kamarku. Rasanya, semakin lama, aku merasa asing dengan diriku sendiri. Ada lubang yang harus segera ku perbaiki, yang harus ku isi kembali dengan maaf dari Magdum.


Cling.


Ponselku menyala dan juga berbunyi. Aku mengambilnya dengan cepat dan seketika berdiri, saat melihat nama Magdum disana. Sebuah pesan darinya. Segera ku buka dan ku baca dengan cepat.


Aku ingin bertemu denganmu. Meluruskan segala hal yang terjadi. Aku akan menunggumu di taman, dekat rumahmu. Seperti biasa kita bertemu. Sekarang.


Aku segera melempar ponselku ke atas ranjang dan berlari keluar dari kamar. Dan tidak menemukan Kak Refi di manapun, dan aku yakin jika dia sedang tidur sekarang. Membuka pintu rumah dengan sangat hati – hati. Dan kembali berlari dengan tanpa alas kaki. Membiarkan air hujan yang deras menerpa tubuhku dengan kuat. Membuatnya basah. Membiarkan angin berlalu di sekelilingku, menari. Terus berlari dan berlari. Membelah tirai hujan yang menghalangi pandangan. Dan menemukan Magdum disana. Di tengah taman, berdiri dan membiarkan hujan menerpa tubuhnya.

__ADS_1


Aku berlari kecil mendekatinya, tidak peduli dengan genangan air taman yang ku pijak. Semuanya harus selesai. Semuanya. Aku menghentikan langkahku seketika, saat aku sudah tepat berada di dekatnya. Aku terengah lelah. Dan mendongak kecil untuk menatap Magdum. Meski tidak bisa menatapnya dengan jelas, akibat air hujan yang menutupi pandanganku. Dia menundukkan kepalanya. Menatapku dengan tatapan yang sulit di pahami.


“Lily...” Suaranya serak. “Maafkan aku... aku sama sekali tidak bermaksud untuk menjauhimu, tapi, aku masih belum bisa menerima semua yang terjadi. Aku merasa... semua ini konyol. Kau yang mencintainya, dan dia yang mencintaimu, serta aku yang mencintaimu... aku merasa konyol. Bahkan sangat konyol. Berada di antara kalian. Berharap dalam satu titik cahaya kecil, bisa melengkapimu. Tapi... dia datang tiba – tiba dan melengkapimu begitu saja. Aku merasa kalah...”


Magdum menatapku dengan mata kelamnya. Aku tidak pernah melihat kedua matanya seperti itu. Dia menyugar rambutnya yang sesaat menutupi matanya. Membuka kedua matanya dengan sendu, menatap ke arah langit dan tanpa berkedip sedikitpun membiarkan air mata membasahi wajahnya. Tubuhku menggigil. Kedinginan dan ketakutan. Kedua tanganku bergerak memeluk tubuhku sendiri. Rasa takut yang sangat kentara mengalir di seluruh tubuhku. Jika setelah ini Magdum pergi dan tak kembali, aku akan kehilangan penyanggaku.


Magdum menundukkan kepalanya, dan aku tetap diam menatapnya. “Aku hanya tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Aku kehilangan kendali. Tapi... aku hanya ingin kamu tahu, Lily... aku sangat menyayangimu. Sangat... aku tidak sanggup untuk kehilanganmu saat ini. Kau boleh saja pergi dan mencintai pria lain, tapi...” Dia menghela napas, dan menyentuh sisi kiri dari wajahku dengan tangan kanannya yang terasa amat dingin.


Dan... aku percaya kepadanya. Air mata jatuh dari kedua mataku, dan langsung terhapus oleh derasnya air hujan. Ada rasa sakit disana. Di bagian paling dalam perasaan yang aku miliki. Aku terisak. Dan bergerak dengan cepat untuk memeluknya. Seerat mungkin. Sekencang yang aku bisa lakukan. Dan dia juga membalas pelukanku, sama eratnya denganku. Lubang itu sudah tertutupi. Semuanya sudah lengkap. Kebahagiaan yang sempat ku pikir akan hilang selamanya, datang kembali. Bersama dengan Magdum. Dia melengkapi semuanya. Pelengkap atas ketidaksempurnaan rasa.


Aku melepaskan pelukan Magdum dan tersenyum. Dia menundukka kepala dan mencium keningku.

__ADS_1


Kak Refi menyedekapkan kedua legannya dan menatap tajam ke arahku dan juga Magdum yang memasuki pekarangan rumah dengan keadaan basah kuyup. Magdum memeluk kedua bahuku, dan dia tersenyum kecil ke arah Kak Refi. Dia mencoba untuk mencairkan suasana. “Aku kira kau diculik oleh hantu, Lily...” Kak Refi memandang sinis ke arah Magdum.


“Owh... baiklah, aku adalah hantu yang akan menculik Lily selamanya... dan ku pastikan tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya.” Magdum membalas dengan sinis lagi. Dan aku tersenyum lebar sekali lagi. Aku melepaskan pelukan Magdum dan berlari masuk ke dalam rumah, karena tidak lagi merasa kuat dengan hawa dingin yang semakin menerpa.


“LILY!! SEGERA MANDI DAN GANTI PAKAIANMU DENGAN PAKAIAN HANGAT!!!” Kak Refi berteriak dengan kencang.


Dan aku memasuki kamarku dan mengunci pintu kamar. Pakaian yang ku pakai terus menerus meneteskan air. Dan aku segera ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku dengan pancuran air hangat. Setelahnya, aku membungkus rambutku dengan handuk, dan memakai piyama panjang. Aku melangkah mendekati ranjang dan melihat sebuah pesan masuk di layar ponselku. Aku mengambilnya dan segera membacanya.


Akan ku dapatkan apa yang harus ku dapatkan sekarang. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya untukku sendiri. Lihat saja.


Aku mengerjabkan kedua mataku berulang kali. Lagi – lagi ada pesan yang berisi ambigu. Aku tidak terlalu mengerti akan isinya, tapi ini ancaman. Tapi kenapa harus ke aku? Apa tujuan dari pengirim ini? Apa salahku? Aku mematikan ponselku, dan meletakkannya ke atas meja kecil. Keluar dari kamar dan menemukan Magdum dengan pakaian kering, yang ku yakini, milik Kak Refi. Mereka duduk bersama di ruang tamu, menonton televisi.

__ADS_1


Aku menuruni tangga, menuju dapur, membuat secangkir coklat panas, di cangkir kesukaanku. Bergambar burung merak, dnegan warna biru dan putih. Memegang cangkir panas itu dnegan kedua tanganku, menghantarkan hawa panas, yang cukup melegakanku. Duduk di antara Kak Refi dan juga Magdum. Menyandarkan kepalaku ke atas pundak Kak Refi, sambil sesekali meminum coklat panas yang tadi ku buat. Dan Magdum, dia mengusap – usap kepalaku. Aku tersenyum, jika ada Pak Galang disini, semuanya akan terasa sangat sempurna. Bahkan melampaui rasa sempurna itu sendiri.


__ADS_2