
“SENANGNYA BISA KEMBALI KE RUMAH LAGI!!!” Aku berteriak dengan kencang dan saking senangnya. Setelah berada di rumah sakit selama hampir satu minggu atau mungkin lebih, aku akhirnya di perbolehkan untuk pulang oleh dokter. Tentu saja, masih dengan menggunakan kursi roda untuk membantu segala aktivitasku hingga nantinya aku pulih. Karena aku yang masih belum bisa menggerakkan kaki kananku yang patah waktu itu.
Galang mendorong kursi rodaku dengan perlahan, sedangkan Kak Refi yang membuka pintu rumah dengan senyuman kecil di wajahnya, dan gerutuan Magdum yang merasa keberatan dengan membawa semua barang – barang kami. Dan aku tersenyum kecil. Setidaknya dalam satu minggu kemarin, Magdum tidak lagi memperlihatkan amarahnya kepada Galang lagi. Saat menaiki tangga, Galang menggendongku dengan gaya bridal style, dan kursi rodaku dibawakan oleh Kak Refi.
Saat masuk ke dalam rumah, Galang dengan segera meletakkanku ke atas sofa, dengan kedua kakiku yang diluruskan, hingga aku memenuhi satu sofa yang panjang itu. Meletakkan sebuah bantal kecil di bagian punggungku, untuk aku bisa bersandar di sofa. Kak Refi melipat kursi rodaku dan meletakkannya di sisi ujung sofa. Dan Magdum langsung saja menuju lantai dua dengan membawa barang – barangku, menuju kamarku. Dan tentu saja, barang – barang Kak Refi dan juga Galang di tinggalkan begitu saja di ruang tamu. Bergeletakan.
Galang berdiri tepat di sampingku dan membetulkan letak bantal di belakang punggungku agar aku semakin nyaman. Aku tersenyum dan bergumam berterimakasih kepadanya. Lalu Galang menundukkan kepalanya, mendekati sisi wajahku, dan bergumam. “Aku akan membuatkanmu minuman segar, oke?!”
“Oke...” Aku menganggukkan kepalaku perlahan. Galang berjalan menuju dapur, dan aku dengan segera menepuk dahiku perlahan. “Galang....” Aku memanggilnya, dan dia membalikkan badannya, masih dengan senyuman. Seakan – akan dia tidak pernah merasa lelah untuk tersenyum. “Jangan lupa buatkan untuk yang lainnya juga, ya...”
__ADS_1
“Tentu saja...” Dia menjawab dan dengan segera membuatkan minuman disana.
Magdum keluar dari dalam kamarku, dan menuruni tangga. Menjatuhkan tubuhnya ke atas karpet, dan bersandar di sisi sofa yang ku tiduri. Kak Refi menyalakan televisi dan duduk di atas sofa yang lainnya. Tak lama kemudian, Galang datang dengan membawa sebuah nampan, empat buah gelas, dan sebuah teko berisi es jeruk. Dia meletakkanya ke atas meja, dan menuangkan es jeruk itu ke empat gelas tersebut. Membawa dua gelas di antaranya dan memberikan salah satunya kepadaku.
Aku merasa bersalah dengan merepotkan Galang, Magdum dan juga Kak Refi. Tapi mereka tidak pernah mengeluh sedikit pun. Dan aku bersyukur memiliki mereka semua, bersama denganku. Aku meminum sedikit es jerukku, dan membiarkan Galang ikut duduk di atas karpet berdampingan dengan Magdum. “Galang...” Kak Refi memanggil Galang dan membuatnya mengalihkan pandangan.
“Ya?”
“Anak buahku sudah mendapatkan nomor polisi mobil itu, hanya perlu menyelidiki lebih dalam lagi tentang mereka. Kalian tidak perlu lagi merasa khawatir, aku akan segera menyelesaikan semuanya. Termasuk menangkap pelaku yang sudah melakukan ini kepada Lily...” Galang menjelaskannya dengan runtut, dan aku tahu dia tidak akan lalai lagi dalam menjagaku. Dan memastikan aku akan ada di dalam pengawasannya selalu. Tidak pernah terlewatkan.
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu... beritahu aku jika, mereka sudah mendapatkan pelakunya. Aku ingin sekali memukulnya dengan keras,” jawab Kak Refi sambil mengepalkan telapak tangannya berulang kali. Dengan raut wajah yang menahan amarah.
“Untuk urusan pukul memukul, aku ingin ikut, kalau begitu...” Magdum berseru sambil ikut – ikutan mengepalkan kedua telapak tangannya ke udara.
Aku menggeleng – gelengkan kepalaku perlahan. “Sudah... jangan gunakan kekerasan. Oke?!” Aku menyela, dan mereka menanggapiku dengan anggukan kepala. “Emmm... bisakah kita memesan makanan?” Aku bertanya dengan senyuman yang malu. Dan aku memerah, menggigit bibir bawahku. Mereka dengan serentak menolehkan kepalanya dan menatapku. Mereka tertawa kecil.
“Aku akan memesan makanan...” Magdum dengan semangat mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi untuk memesan makanan.
Galang masih saja tertawa, dan mengusap – usap kepalaku. Kak Refi mulai mengendalikan remot, dan terus saja mengganti stasiun televisi, sambil bergumam karena acara televisi yang sama sekali tidak menarik. Dan tiba – tiba saja, Magdum berlari ke depan, membuka pintu rumah lalu menutupnya kembali. Dan berseru. “MAKANAN SUDAH DATANG!!!!”
__ADS_1
“Dasar anak muda...” Galang bergumam dan menggeleng – gelengkan kepalanya. Aku tersenyum.