Infidelity

Infidelity
Chapter 30


__ADS_3

Mira menepikan mobilnya begitu mereka sampai di sebuah taman hiburan yang berada di pinggiran kota. Biasanya taman ini terbilang sepi jika di hari kantor, entah untuk alasan apa hari ini taman bermain tampak lebih ramai dari biasanya.


Canda tawa bahagia terukir indah di wajah masing-masing anak. Sebagian anak terlihat datang bersama keluarga yang lengkap—terdiri dari ayah dan ibu.


Erine merasa sedikit tidak nyaman berada di tempat ini. Bukan karena suasananya yang tidak bagus, melainkan keadaan Alan dan Alin yang pasti akan sedikit terganggu.




"Sayang, kita main di sana saja, yaa?," Erine menunjuk salah satu wahana yang terletak di sudut taman. "Bunda lihat di sana belum terlalu ramai. Kalian bisa lebih leluasa bermain, kan? Bagaimana?" Tawar Erine.


Alin mengangguk antusias, sedangkan Alan masih diam mengamati sekitar. Alin menggandeng tangan Alan dan berlari mendekati seluncuran yang hanya di isi oleh tiga orang anak.


Mira yang melihat Alan dan Alin berlari menjauh, tidak lagi menahan diri untuk bertanya pada Erine. "Kenapa kamu ingin, kemari? Setahuku kau membenci tempat ini." tanya Mira penasaran.


Erine menatap Alan dan Alin yang menunggu giliran menaiki seluncuran. Wajah girang Alin tercetak jelas membingkai wajahnya.


"Aku mungkin tidak menyukai tempat ini, tapi tidak mereka. Sebagai orang tua, kau tidak bisa egois, Mir."


"Kau benar. Mereka membutuhkan masa kecil yang indah untuk di ceritakan di masa depannya nanti, sesuatu yang juga bisa mereka kenang di kemudian hari." ujar Mira ikut mengamati si kembar.


"Aku ingin Alan berpikir seperti anak-anak seusianya. Aku tau itu sulit, tapi mencoba bukanlah sesuatu hal yang tidak boleh dilakukan."


Mira menatap Erine bingung, "Kenapa kau begitu khawatir, Rin? Itu bukan sesuatu yang menakutkan. Alan hanya perlu waktu dan sedikit perhatian. Tidak semuanya kedewasaan di usia dini bersifat negatif. Alan salah satu bentuk positif dari karakter itu sendiri." ujar Mira meyakinkan Erine.


"Mir... Bagaimana jika aku pindah saja? Aku ingin memulai semuanya dari awal lagi, hanya kami."


"Kau ingin menyewa rumah? Kenapa? Apa tempatku membuatmu tidak nyaman? Kau tau, aku tidak keberatan hidup bersama kalian hingga tua nanti. Aku bersungguh-sungguh."


Erine menggeleng, "Bukan begitu, Mir. Aku hanya ingin membawa anak-anak pindah ke tempat yang baru dan suasana baru."


Mira sontak berhenti berjalan dan menahan tangan Erine hingga menghadapnya, "Tapi kenapa? Apa yang salah di sini, Rin? Jika ingin pindah, baik. Tapi jangan ke tempat yang sulit aku datangi."


Erine menghela nafas lelah, "Aku hanya takut anak-anak membenciku jika tau apa yang aku lakukan pada ayah mereka, Mir. Aku juga takut Alan dan Alin merasa hidup mereka begitu berantakan setelah melihat skandal Ammar beredar di mana-mana."


"Anak-anak nggak ada alasan untuk membenci bundanya sendiri, Rin. Itu cuma imajinasi kamu. Jangan terus mengotori pikiran kamu, untuk hal-hal yang hanya akan merusak akal sehat kamu sendiri."


"Aku harus apa, Mir? Sekarang, aku benar-benar nggak bisa berpikir jernih."


Mira menggenggam kedua tangan Erine, menatap penuh harap bahwa yang ia katakan mampu mengurangi beban pikiran wanita di hadapannya.


Mira mencoba mentransfer energi positif yang ia miliki semampu yang ia bisa."Dengar. Hidup kamu berharga, Rin. Kamu sosok ibu terkuat yang pernah aku kenal! Aku nggak lagi minta kamu lanjutin balas dendam ini. Sekarang belum terlambat untuk kamu memperbaiki segalanya. Kamu mau mulai dari awal lagi, kan? Aku siap nemenin kamu. Sekarang, tolong! Jangan berpikir buruk tentang diri kamu lagi. Kau tau, seumur hidupku, cuma kamu teman terbaik yang aku punya." Ujar Mira bersungguh-sungguh.


"Mir... Apa aku pantas mendapatkan semua kebaikan ini? Kamu terlalu banyak membantuku. Kamu ingat, dulu kamu dapat banyak hinaan karena mengurus anak aku."


"Aku tidak merasa terhina sedikitpun, Rin. Aku malah merasa senang bisa mengurus mereka. Sekarang katakan. Kenapa kamu tiba-tiba berubah?"


"Aku hanya merasa tidak yakin."


Mira melepas genggamannya pada tangan Eeine, mengusap wajahnya pelan, "Astaga. yang benar saja. Kau tidak yakin dengan apa Rin?"

__ADS_1


Erine kembali melirik Alan dan Alin yang kini bermain dengan salah satu anak perempuan berambut keriting. "Mir, kumohon. Jangan paksa aku menjawabnya, ini sulit bagiku. Kau tahu itu, kan?"


"Ok. Lupakan itu. Sekarang, katakan padaku alasan lain mengapa kamu ingin pindah?"


Erine menatap wajah Mira lekat, "Aku takut, Mir. Perasaan akan dibenci anak-anak membunuh kepercayaan ku. Kau benar, ini hanya imajinasi ku saja. Tapi bagaimana dengan perasaanku pada baji***n itu? Ini nyata Mir. Aku lelah terus merasakan rasa sakit yang seharusnya aku tidak ikut merasakannya."


Mira terdiam mencerna kalimat Erine. Satu hal yang tidak bisa ia pungkiri bahwa hati manusia hanya bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri bukan orang lain. Sekeras apa pun, jika tidak ada keinginan mengubahnya hanya akan berakhir sia-sia.


Erine kembali bersuara mengisi keheningan di antara mereka. "Mir... kamu hanya ingin menenangkan ku untuk saat ini. Tapi bagaimana saat mereka mengerti, apa yang bisa aku katakan? Aku tau, Alan paham kondisiku tapi bagaimana dengan Alin? Gadis manis itu terlalu lugu, Mir."


"Aku yakin, Alin akan memahami mu. Jangan ragukan insting seorang anak, Rin. Alan mungkin dewasa, tapi Alin gadis yang cerdik."


"Bagaimana jika praduga mu salah?"


"Aku tidak akan membiarkannya. Aku yang akan mendidik gadis kecil itu untukmu. "


"Apa yang bisa kau lakukan?"


"Apa pun yang bisa membuatmu tetap menjadi Erine yang tangguh dan ceria."


"Jika semua sia-sia?"


"Astaga. Bisakah kau berhenti mendebatnya, Rin?, Kau tidak dalam emosional yang baik. Tidak ada gunanya aku mengatakan yang sesungguhnya. Kau akan tetap menolak untuk mempercayai ku."


Tiba-tiba, terdengar teriakan Alin memanggil kedua wanita yang sibuk bercengkrama di tengah taman bermain hingga mengabaikan meraka yang sejak tadi menunggu kedatangan  Erine dan Mira.


"Bunda... Tante... cini, Alin ingin belmain ayunan." pekiknya semangat.


Mira melambaikan tangan ke arah Alan dan Alin, bergegas menyusul mereka dan meninggalkan Erine yang menatap kepergiannya.


"Kau seperti toa, tidakkah kau ingat tempat, Mir?" sungut Erine tak nyaman ditatap beberapa orang saat sudah berada di samping Mira.


"Aku tidak melihat papan larangan berteriak di sekitar sini. Jadi, abaikan saja mereka."


"Terserah kau saja!"


"Ayo! Aku juga ingin bermain ayunan."


Mira memilih salah satu ayunan untuk Alin naiki, meninggalkan Erine yang merengut karena ulahnya. Saat ini, menemani anak-anak bermain menjadi tujuan utama mereka datang kesini.


Mira mendudukkan Alin di atas bangku ayunan, mendorong pelan ayunan hingga bergerak maju mundur.


Alan ikut menaiki ayunan yang tersisa dan meminta Erine melakukan hal serupa seperti yang Mira lakukan. Ini pertama kalinya Erine melihat Alan tertawa lepas, tersenyum girang seperti anak-anak seusianya.


🕸️🕸️🕸️


Terhitung sudah 2 hari berlalu sejak malam itu. Beberapa kali Ammar terlihat mengurut pangkal hidungnya yang terasa pening. Sejak tadi ia hanya memfokuskan dirinya menatap layar monitor dan mengetik beberapa hal penting yang diperlukan dalam kerja sama yang ia lakukan dengan beberapa perusahaan besar lainnya.


Karyawan di kantornya cukup heran melihat Ammar yang hari ini datang kesiangan tidak seperti biasanya, terlepas dari skandal panas yang menjerat namanya juga Karina.


Ponselnya tak henti berdering setelah tersiar kabar anjloknya harga saham yang ia miliki. Ammar memaksakan diri keluar dari rumah sakit tak lama setelah memerintahkan Arman untuk menyelesaikan sebuah tugas. Dalam kondisi yang cukup memprihatinkan Ammar meminta anak buahnya untuk segera membawanya ke kantor.

__ADS_1


Ponsel Ammar kembali berdering. Ammar mengabaikan panggilan yang ia ketahui dari Hamdan dan juga Seruni. Apa Karina menelepon? Bahkan Ammar sudah memblokir nomor wanita itu sejak pagi.


Di sisi lain, Arman sama sibuknya. Menekan setiap stasiun televisi untuk menghentikan penyiaran berita yang menyeret nama atasannya, bahkan mencari dalang utama di balik Penyiaran berita tersebut. Kecuali Erine.


Sejak perusahaan Ammar menduduki urutan pertama. Bukan hal sulit meredam berita mengenai dirinya, keunggulannya di bidang bisnis mempermudah aksesnya untuk menghentikan berita yang tersebar, tidak sama seperti 5 tahun lalu saat ia masih dalam tekanan berbagai pihak tertentu.


Belum lagi keunggulan Ammar yang memiliki asisten cekatan seperti Arman dan sekretaris cerdas di sampingnya. Terkadang banyak karyawan lain merasa bingung melihat kesetiaan Arman pada Ammar, Apa ia tidak jengah dengan perintah Ammar? Padahal, Arman terbilang cukup mudah untuk memilih bekerja di perusahaan lain.


Selang beberapa menit, Ammar kembali mendapat panggilan masuk dari ponsel pribadinya.


Arman is calling...


"Apa semua sudah beres?" tanya Ammar to the point, saat berada di dalam lift.


"Sudah, Pak."


"Jangan tinggalkan jejak apa pun. Cari berbagai berita menarik sebagai pengalihan. Dan hapus apa pun yang bersangkutan dengan Erine." instruksi Ammar.


"Baik, Pak."


Ammar diam beberapa saat, "Arman... Aku membutuhkan sedikit bantuan lainnya."


"Bantuan? Apa yang bisa saya bantu, Pak?"


"Hubungi kembali wanita yang pernah tinggal bersama Erine di sel tahanan waktu itu. Aku membutuhkan sesuatu darinya."


"Baik, akan saya laksanakan." jawab Arman sigap.


"Dapatkan datanya dalam 15 menit. Aku tidak ingin keterlambatan! Kau mengerti?!" pungkas Ammar.


"Baik, Pak!" Jawab Arman dari sebrang telepon.


Ammar memutuskan sambungan telepon tersebut, menatap pintu lift kantor yang tertutup rapat. Terekam jelas oleh Ammar wajah penuh kebencian milik Erine saat menatapnya, tatapan yang belum pernah ia lihat saat mereka masih bersama.


Ting...


Pintu lift terbuka, Ammar masih fokus memandang lurus ke depan dengan tubuh menyandar ke dinding lift. Hingga tidak menyadari beberapa pasang mata memperhatikannya, sambil menunggu pintu lift karyawan terbuka.


Seakan tersadar semua orang mencuri pandang ke arahnya, Ammar menarik nafas panjang, melempar pandangan ke arah karyawan yang menatapnya penuh tanya. Ammar menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya—ada apa.


Karyawan tersebut hanya menggeleng kaku dan tersenyum canggung saat matanya bersitatap dengan netra coklat Ammar. mengingat berita buruk mengenai Ammar membuat mereka enggan berkutik. Ammar yang tiba-tiba emosional bisa saja memecat mereka tanpa pandang bulu.


Ammar meninggalkan halaman kantor setelah menyelesaikan sedikit masalah yang dibuat oleh wanitanya. Sedikit masalah yang hampir saja membuatnya mengalami kerugian milyaran rupiah.



Hallo!


Apa kabar? Semoga pembaca setia infidelity selalu dalam keadaan sehat, Aamiin.


Terus dukung cerita ini dengan like, comment, dan Share cerita ini ke teman-teman mu.

__ADS_1


Selamat beraktivitas.


Terima kasih 🤍


__ADS_2