Infidelity

Infidelity
Chapter 47


__ADS_3

Bandara Sukarno Hatta.



Segala hal yang sudah diputuskan maka akan sulit untuk menariknya kembali. Seperti yang Erine lakukan saat ini, ia sudah memutuskan pergi maka ia tidak akan menarik kembali keputusannya.


Erine tau akan sulit beradaptasi dan menemukan seseorang sebaik dan setulus Mira nantinya, tapi jika ia tetap bertahan di sini. Ia hanya akan terus terpuruk dalam kubangan masalalunya bersama Ammar dan kenangan lain yang terus menyulitkan hidupnya.


Pantaskah ini disebut melarikan diri? Erine rasa tidak. Apa yang akan kau lakukan di saat mantan suamimu terus mengejar mu? Berdiam di tempat seakan tidak terjadi apapun? Yang benar saja. Menjadi madu dari mantan madunya sendiri tidak ada dalam kamus Erine.


Lalu, bagaimana menghadapi teror yang terasa semakin nyata? Belum genap seminggu teror itu berlalu, namun Erine sudah merasa tertekan mengkhawatirkan keselamatan Alan dan Alin sepanjang waktu.


Hal buruk semakin tak terelakkan, Erine tidak menyesali kehadiran buah hatinya. Sungguh. Tapi bagaimana jika mereka akan menyerang Alan dan Alin saat ia lengah? Tidak ada ibu yang siap kehilangan anaknya, jangankan terbunuh dan hilang dari pandangan, terjatuh saja seorang ibu bisa menyalahkan dirinya sendiri karena lepas pengawasan.


Jam menunjukkan pukul 3 sore, masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum pesawat yang Erine tumpangi take off. Mira menemani Erine yang masih menunggu jadwal penerbangan mereka di lobi dengan tenang. Tidak seberisik biasanya.


"Bunda..."


"Ya. Kenapa sayang?"  Tanya Erine melihat kegelisahan di wajah Alin.


Alin terlihat memilin kakinya menahan sesak untuk membuang air kecil. "Alin... Alin ingin buang ail, Bunda."


"Benarkah? Kemari, Bunda akan menemani mu." Ujar Erine menjulurkan tangan kanannya hendak menggandeng tangan Alin ke toilet.


Tiba-tiba Mira menghentikan gerak Erine, "Biar aku saja, Rin. Aku juga ingin merapikan riasan ku. Aku harus menghadiri fashion show peragaan busana sore ini. Tentu saja, setelah aku mengantar kepergian kalian."


Erine mengangguk pelan, "Alin... Alin mau pergi bersama Tante, kan? Bunda yang berjaga di sini."


"Iya, Bunda. Kak, kau ingin ikut tidak?" Ajak Alin.


Alan berpikir sejenak, mengangguk pelan mengiyakan ajakan adiknya. "Ya. Bunda, tidak apakan kami tinggal sendilian?"


"Hm, kalian pergilah. Biar Bunda yang berjaga di sini. Jangan berjauhan dengan Tante mu, mengerti?!" Nasehat Erine.


"Siap. Laksanakan, Nyonya." Ujar Alan dan Alin serempak dengan tersenyum menahan geli diakhir kalimat.


Erine mengusap pipi kedua anaknya, "Berhati-hatilah. Jangan sampai berpencar. Kalian ingat pesan Bunda, kan?"


"Kami mengelti, Bunda. Sudah dua kali Bunda mengatakannya. Kami tidak akan lupa. Sungguh!" Ujar Alin serius bercampur kesal akibat menahan sesuatu yang sudah memaksa untuk di keluarkan.


Mira menggandeng tangan Alan dan Alin agar berjalan beriringan dengannya, guna menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan. Akan merepotkan jika mereka berjalan sendiri dan terpisah darinya, melihat keramaian bandara sore ini.


Mira melepas genggamannya pada Alan saat sudah berada di depan pintu toilet yang terbagi antara dua genre—Pria dan Wanita.


"Alan, kita berpisah di sini. Kau bisa sendiri, kan? Atau ingin bergabung bersama kami di toilet wanita?" Tanya Mira memastikan.


"Tidak. Alan di sini saja. Nanti kita kembali berkumpul di titik ini. Bagaimana, Tan?"

__ADS_1


Mira mengangguk menyetujui Alan. "Baiklah. Jangan berkeliaran, ingat untuk menunggu di sini. Okay?"


"Hm, Tentu." Ujarnya berlalu meninggalkan Mira yang juga menggandeng Alin memasuki toilet wanita.


Di dalam toilet terdapat sekat pembatas dengan 3 buah pintu. Selang beberapa menit Alin keluar dari balik pintu urutan ketiga, sedangkan Mira masih memoles sedikit bedak pada wajahnya yang terlihat luntur, tidak lupa dengan lipgloss yang kini mewarnai bibirnya agar terlihat lebih fresh.


"Kau sudah siap, sayang?"


"Ya. Ayo kita kembali. Kakak tidak akan suka menunggu kita terlalu lama, Tan."


Mira tersenyum sambil menoel hidung Alin. "Baiklah. Tapi, bisa kau tunggu sebentar? Tante ingin membuang bahan bakar yang sedikit mengganggu."


Alin mengangguk pelan, "hm, okay. Alin akan menunggu di lual. Tante cepatlah kembali."


"Pasti. Jangan tinggalkan tempat itu sebelum Tante datang. Ingatkan juga pada kakakmu. Mengerti?"


"Ayolah... Kenapa kalian begitu mengkhawatilkan kami? Ini tempat yang lamai. Kemana kami bisa menghilang? Tidak akan ada penculik, Tante."


"Alin... Ingat pesan Bunda mu. Jangan membantah, Tante."


Alin mendengus kesal, "Baiklah!"


"Good girl!" Mira mengacak rambut Alin yang terlihat cemberut.


Sebelum masuk ke salah satu pintu, Mira melihat tubuh Alin yang berjalan ke luar meninggalkannya hingga hilang di balik pintu.


"Kak. Apa kau sudah lama menunggu?"


Alan mendengus kesal. "Berapa sumur yang kalian keljakan, ha? Aku hampir kehilangan fungsi kakiku telalu lama menunggu di sini."


"Hei!! Aku tidak selama itu belada di dalam. Kau seakan belkata sudah menungguku beljam-jam. Sudahlah! Aku menyesal mengajakmu, kak! Kau selalu saja menyebalkan!"


"Tanpa kau ajak, aku sudah belniat ikut. Jadi lupakan saja lasa menyesal mu itu. Sekalang di mana, Tante?"


"Kau menyebalkan, Kak! Aku tidak ingin bicala padamu! Kau—"


Sebelum Alin sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah sapu tangan lebih dulu menutup sebagian wajahnya begitu juga Alan yang sudah lebih dulu kehilangan kesadaran.


Hanya selisih beberapa menit dari hilangnya Alan dan Alin, Mira pun melangkah ke luar dari balik pintu toilet wanita. Namun, ia tidak dapat menemukan keberadaan Alan dan Alin yang bersepakat untuk menunggunya di tempat awal mereka berpisah.


"Astaga! Kemana mereka?! Bukankah sudah berjanji untuk menunggu di sini?! Apa mungkin mereka berkeliaran tanpa memberitahuku? Mungkinkah mereka kembali lebih dulu? Tapi mungkinkah itu?" Ujar Mira menerka-nerka.


Mira melirik kanan dan kirinya namun tetap tidak menemukan keberadaan Alan dan Alin. Perasaan cemas mulai menyerang hatinya, saat hendak menghubungi Erine. Mira teringat ia meninggalkan ponselnya di dalam tas yang saat ini bersama Erine.


"Oh, S**l! Kau sungguh bodoh Mira! Bagaimana jika mereka tersesat? Atau yang lebih mengerikan... Bagaimana jika mereka diculik?! Tidak. Tidak. Tidak. Berhenti berpikir buruk, Mira!!" Ujar Mira panik.


Mira bergegas kembali menemui Erine. Sebelum Alan dan Alin benar-benar hilang dan sulit untuk mereka temukan. S**l.

__ADS_1


🕸🕸🕸


Entah sudah yang ke berapa kalinya Erine menghela nafas panjang. Lelah? Jangan di tanya. Sudah hampir 15 menit Mira dan kedua anaknya belum juga kembali, sedangkan pengumuman panggilan untuk penumpang pesawat yang akan mereka tumpangi telah berbunyi sejak tadi.


'Kemana mereka pergi?! Aku dan anak-anak bisa ketinggalan pesawat. Apa mungkin terjadi sesuatu?!' Erine memukul kepalanya pelan.


"Apa yang baru saja kau pikirkan Erine! Berhenti berpikiran buruk!" Ujarnya mengomeli diri sendiri.


Erine tidak hentinya menatap layar ponsel yang berulang kali menghubungi kontak dengan nama Mira. Namun tak kunjung mendapat jawaban. Rasa kesal bercampur cemas berpadu menjadi satu, kesal karena panggilannya yang tidak kunjung mendapat jawaban dan cemas karena mereka tidak memberikannya kabar apapun.


Tiba-tiba sebuah suara melengking yang ia kenal terdengar menggema di dalam bandara.


"Rin! Erine... An—Anak-anak...!" Ujar Mira tidak jelas.


Erine menyentuh bahu Mira, melirik kanan dan kiri wanita itu namun tidak menemukan keberadaan Alan dan Alin. Cukup untuk menakutinya.


"Mir, tenang dulu. Tarik nafas... Keluarkan... Tarik lagi... Keluarkan..." Ujar Erine menginterupsi Mira hingga beberapa kali. "Mir... sekarang bisa kau katakan. Di mana anak-anak? Kenapa kau berjalan sendirian? Mengapa tidak bersama mereka?! Kemana mereka pergi, Mir?!"


"Hi—hilang. Hilang, Rin. Mereka hilang!"


Erine membulatkan mata sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Jangan bercanda, Mir. Kau saja ada di sini! Bagaimana anak-anak bisa hilang?!"


"Maafkan aku, Rin. Maafkan, aku. Aku sungguh lalai menjaga mereka... Maafkan, aku." Ujar Mira yang sudah menangis terisak.


Erine masih menggeleng tidak mempercayai ucapan Mir. "Di mana anakku, Mir. Jangan menakuti ku! Katakan, di mana mereka?! Jangan lakukan ini untuk membohongiku. Kumohon. Aku tau kau tidak ingin aku pergi. Tapi tolong jangan lakukan lelucon semacam ini! Ini tidak lucu sedikitpun. Sungguh!" Sergah Erine yang ikut terisak.


Mira menggeleng cepat, "Aku berani bersumpah, Rin! Aku tidak menyembunyikan mereka! Mereka hilang!"


"Bagaimana bisa?! Kau meninggalkan mereka, ha?!" Tanya Erine yang mendapat anggukan Mira. "Astaga... Kenapa kau lakukan itu, Mir." Erine menutup mulutnya, tangannya tampak bergetar ketakutan. Tetesan air mata terus membasahi pipinya yang kalut.


"Tidak bisa! Aku harus segera menemui operator! Aku tidak punya banyak waktu lagi, mereka harus segera ditemukan. Jika tidak, mereka akan benar-benar hilang. Tidak akan ku biarkan mereka menyakiti anakku, sekalipun nyawaku taruhannya." Sambung Erine lagi.


Erine berlari meninggalkan Mira yang menatap punggungnya semakin menjauh. Saat ini pikirannya tidak ada yang lain, hanya fokus untuk menemukan  Alan dan Alin. Sangat tidak mungkin jika Alan dan Alin tersesat, karena toilet terletak tidak terlalu jauh dari tempat Erine menunggu. Tidak ada waktu menyalahkan siapapun, karena nyawa anaknya tidak membutuhkan perdebatan tapi sebuah bantuan penyelamatan.



🕸🕸🕸


Happy Reading!!


Kalian suka cerita ini? Terus nantikan update berikutnya.


Bantu vote, like, comment, dan share ke teman-teman juga ya.


Terima kasih🤍


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."

__ADS_1


__ADS_2