
"Mas tidak akan ikut campur untuk masalah ini!" Tegasnya.
"Mas, tapi ini menyangkut perusahaan dan nama baik anak kita!"
Hamdan menatap luar jendela kamar dengan penuh amarah. Bagaimana tidak? Baru saja ia menghadiri acara kerja sama besar dengan salah satu rekan bisnisnya di Amerika—Billy Herbert, setibanya di rumah ia mendengar jika putra sulungnya terlibat kasus asu**la yang membuat penjualan pasar saham perusahannya menurun drastis.
Hamdan yakin dengan kemampuan putranya dalam menyelesaikan masalah. Hanya saja, permintaan Seruni yang terus menuntutnya untuk mencampuri masalah Ammar sungguh tidak dapat ia tolerir lagi.
"Ammar sudah dewasa, Seruni. Berhenti memperlakukannya seperti bayi. Bukan ranah kita untuk mencampuri urusannya lagi. Jangan selalu memintaku untuk mengurus semua masalah yang anak itu lakukan! Dia mampu mengatasinya sendiri! Kau hanya perlu mempercayainya."
Seruni terus menangis meminta suaminya untuk memahami isi hatinya sebagai seorang ibu, "jika bukan padamu, pada siapa lagi aku meminta bantuan? Kau ayahnya, Mas. Dia anak kita, di mataku tidak ada usia dalam menjaga anakku."
Hamdan menatap tajam netra hitam milik istrinya. "Sampai kapan kau terus bersikap egois dan otoriter terhadap hidupnya, Seruni. Sudah kukatakan, Ammar bisa mengatasi masalahnya sendiri. Dia tidak membutuhkan kudalam masalah ini. Aku yakin betul kemampuan putraku!"
"Kau yang egois, Mas. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau tidak sedikitpun memikirkan menantu dan cucumu! Apa yang akan dikatakan orang-orang tentang mereka nantinya? Apa kau memikirkan hingga kesana?! Apa kau memikirkannya, haa?!"
"Bagian mana dari diriku yang kau nilai tidak memikirkan mereka?! Kau memintaku memisahkan Ammar dengan Erine, aku sudah melakukannya. Kau yang meminta aku jangan membebaskan wanita itu, aku juga mengabulkan permintaanmu. Bahkan kau tau se-rusak apa putramu saat itu! Sekarang kau pikir, Seruni... Aku, atau kau yang bermasalah di sini?!" Cerca Hamdan menatap penuh amarah pada Seruni yang terus memojokkan dirinya.
Seruni menatap nyalang suaminya, amarah sungguh telah menguasai kesadarannya. "Kau menyalahkan ku, Mas?! Kau sungguh mengatakan aku yang bersalah atas semua ini? Kalau begitu... Berarti kau yang bodoh telah menuruti kemauanku!" Tukas Seruni menyerang balik.
Hamdan mengerang keras, "Aaghh.... Aku muak berdebat denganmu! Kau, tidak akan pernah paham apa yang baik dan buruk! Di matamu, hanya kau yang benar dan selalu begitu! Aku sungguh muak dengan semua drama yang telah kau perbuat, Seruni! Sekarang, bisa kau tinggalkan aku sendiri?! Aku sungguh lelah." Usir Hamdan yang mulai jengah dengan semua tingkah istrinya
"Kau mengusirku, Mas? Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kau mengabulkan keinginanku!"
"Apa lagi, Seruni?! Aku katakan tidak, tetap tidak! Ubahlah sedikit sifat otoriter mu itu! Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu setiap waktu! Aku lebih punya hak untuk mengambil keputusan di rumah ini!"
Seruni berjalan mendekati suaminya. "Kau menyebutku apa barusan? Ulangi... Apa yang baru saja kau katakan, Mas?! Otoriter? Iya? Aku hanya mau yang terbaik untuk anakku dan masa depannya. Apa yang salah dari itu, haa?!"
"Cukup! Hentikan sebelum aku berbuat kasar padamu! Aku tidak ingin membahas apapun lagi! Jadi kumohon, berhentilah mendebatku!"
"Kenapa?. Oh... Ya, ya, ya, kau tidak perlu menjawabnya. Kau muak denganku, kan? Kenapa kau berubah, Mas? Kenapa kau tidak lagi mau mendengar perkataan ku?!"
Hamdan menyentuh kedua lengan Seruni, menghirup udara cukup banyak untuk mengisi paru-parunya yang sesaat lalu terasa semakin menipis.
"Kumohon! Aku tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi dengan perkataan ku. Sekarang kau bisa keluar... Jangan lupa untuk menutup pintu itu kembali!" Pinta Hamdan.
"Kau..." Seruni menepis tangan suaminya kasar, ucapan terakhir yang Hamdan ucapkan sungguh melukai hatinya.
Dengan langkah sedikit berlari Seruni meninggalkan kamar yang ia tempati bersama Hamdan. Hamdan hanya menatap kepergian Seruni dan menghela nafas berat, tidak ada keinginan untuk menahan atau sekedar memintanya tetap tinggal.
Berhadapan dengan Seruni hanya akan membuat sakit jantungnya kumat lebih cepat, terlalu banyak dosa yang ia lakukan demi sebuah kata—kebahagiaan.
Puluhan tahun menjalani hubungan rumah tangga bersama Seruni, membuatnya sadar bahwa yang telah lama menemani belum tentu benar-benar memahami.
Etika bisa diasah—karakter sulit diubah.
Pernikahan akan membawa kita pada sebuah titik yang di sebut 'adaptasi'. Hamdan paham, jika setiap orang ada yang berubah secara signifikan dan ada juga yang tidak mengalami perubahan sama sekali.
__ADS_1
Seperti hubungan ambar yang ia jalani bersama Seruni. Terlalu banyak celah dalam rumah tangganya, perjodohan bisnis yang dilakukan orang tua mereka sejak dulu membawanya dalam ikatan sakral pernikahan bersama Seruni. Tidak ada cinta, tapi ia percaya cinta akan hadir seiring berjalannya waktu—mungkin.
🕸🕸🕸
Sejak pagi, Marni sengaja membeli bahan yang ia perlukan untuk membuat brownies bersama si kembar, sambil menunggu kepulangan mereka dari taman bermain.
Hingga siang menyingsing. Seketika tawa riang terdengar memenuhi ruang makan, melihat Alan cemberut karena ke tumpahan sisa tepung terigu hampir di seluruh tubuhnya.
Alin dengan girang menertawai kesialan kakaknya, "Kak Alan, kau sungguh menggemaskan! Oh... Aku sangat menyukaimu, Kak!"
Alan mendengus kesal, "Ck... Belhenti teltawa. Ini pasti ulah mu, kan?"
Alin menggeleng cepat, "Tidak, Kak. Aku tidak melakukan apa pun, sungguh."
"Nek, lihat cucumu. Dia sungguh mahil belbohong sekalang!"
"Hei! Kau balu saja memfitnah ku, Kak!"
Seruni berjongkok tepat di hadapkan Alan, mengelap wajahnya yang ikut terkena tepung.
"Alan. Maafkan, Nenek. Ini bukan salah adikmu, Nenek tidak sengaja menjatuhkannya. Kamu marah pada Nenek, hm?" Jujur Seruni.
"Kau dengal, Kak? Itu pelbuatan, Nenek!" sindir Alin.
Marni tersenyum hangat dan mengelus lembut wajah Alan yang tetap terlihat tampan walau terkena noda tepung. "Tidak, masalah. Kamu bisa mandi, sekarang. Ini sudah hampir selesai."
"Nek... Alan hanya sekedal mempelingati. Hati-hati menyimpan blownies itu. Nenek tau, tikus rumahan seperti gadis itu lebih mengerikan dari tikus got di luar sana." Ujar Alan cukup keras dan berlari meninggalkan dapur.
Marni tertawa mendengar penuturan balasan yang Alan ucapkan untuk menyindir adiknya, membuat Alin membulatkan matanya sempurna.
"K—kau! Kak Alan! Kembali ke sini! Apa yang balu saja kau katakan? Siapa yang kau sebut tikus, haa?!" Alin yang sejak tadi duduk di mini bar menunggu oven berbunyi tampak menghentak kaki kesal.
Di saat yang bersamaan, Erine keluar dari kamarnya, kemudian menyalakan televisi mencari channel yang 24 jam hampir menayangkan film kartun dan cerita anak.
Semua ia lakukan untuk menghindari Alan dan Alin menukar channel ke siaran lain, saat ini media masih panas-panasnya membahas tentang kasus yang melibatkan mantan suaminya—ayah dari anak-anaknya.
Erine dapat mendengar rengekan Alin yang mengumpat pada Alan, tapi ia menahan diri untuk tidak berpindah duduk. Takut jika seseorang tanpa sengaja mengganti channel untuk melihat berita mengenai perkembangan dunia.
Tanpa Erine ketahui, berita Ammar sudah bisa dikatakan redup. Seluruh siaran televisi sudah tidak menayangkan berita mengenai Ammar juga Karina karena sogokan dan ancaman yang dilalukan Arman tempo hari. Hanya beberapa aplikasi dari smartphone yang masih membahas tentang kasus tersebut, yang nantinya akan ikut surut seperti berita di televisi.
Damar baru saja pulang dari kantornya, hari ini ia memutuskan pulang lebih awal menepati janjinya pada Marni untuk menemani Alan dan Alin sebelum mereka kembali ke Jakarta.
"Assalamu'alaikum."
Erine yang duduk di depan televisi bergegas menghampiri Damar, "Wa'alaikumussalam. Ayah? Tumben jam segini udah pulang?" Ujar Erine melirik jam dinding di atas lemari kaca.
__ADS_1
"Biasa, Rin. Ibu kalau nggak ada ayah suka rindu." Ujar Damar melirik Marni yang menggendong Alin dan berjalan dari mini bar mendekatinya.
"Heh. Kamu ya, Mas. Kalau ngomong suka nggak ingat umur, malu sama anak kamu. Itu lihat Si Mira, belum mau nikah karena ayahnya begini." Sela Marni.
Erine tersenyum melihat interaksi di antara mereka, sederhana juga terlihat—manis.
"Kenapa salahin, Mas. Anak gadis kamu itu. Mas cuma bantu buat aja, kamu yang didik." Ujar Damar tak mau kalah.
Erine mengambil Alih putrinya dari gendongan Marni, masih diam menyaksikan keharmonisan dua orang paruh baya di hadapannya.
"Kok aku sih, Mas. Kamu yang punya bibitnya. Aku bantu nyiapin aja. Itu salah kamu juga, punya bibit nggak limited edition." Sungut Marni tak terima disalahkan.
"Tapikan—"
"Alin, sepertinya langit sudah mulai gelap. Apa kita tidur saja, Nak?!" Ujar Erine mengalihkan perdebatan Damar dan Marni yang melupakan kehadiran mereka berdua.
"Astaghfirullah. Kamu sih, Mas. Ada anak kecil ini." Marni menepuk ringan lengan suaminya.
"Iya-iya, Mas yang salah. Mas laper, Dek. Kamu udah siap masaknya?"
Alin menyahuti lebih dulu, "sudah, sudah, sudah! Nenek memasak ayam goyeng, Kakek!" Ujarnya mengikuti suara upin dan ipin.
"Ayam goreng? Tapi kenapa wajah cucu kesayangan kakek terlihat berwarna warni?" Tanya Damar menoel manja hidung Alin.
"Kami balu saja membuat blownis, Kek. Apa kakek ingin mencobanya?"
Damar tersenyum hangat dan langsung menggendong Alin. Sesekali Ammar menerbangkan tubuh Alin naik-turun memberi sensasi senang sekaligus gamang secara bersamaan.
Marni menggenggam tangan Erine lembut, mengajaknya menata makan siang mereka bersama. Erine bersyukur bisa mengenal Mira dan keluarganya, bisa merasakan kasih sayang yang tulis walaupun bukan bagian dari keluarga mereka.
Erine teringat sebuah kisah di masa lalu nya, Marni pernah berniat menjodohkan ia dengan anak keduanya Dirga. Seorang lawyer yang sempat membantu Erine dalam kasus 5 tahun lalu.
Saat itu, Erine baru menamatkan sekolahnya sekitar satu tahunan, berkisar umur 19 tahun. Dengan halus Erine menolak tawaran Marni, karena ia sudah mengenal Ammar dan memiliki perasaan suka padanya, begitu juga dengan Dirga yang memiliki gadis impiannya sendiri.
Banyak hal yang terjadi dalam hidup Erine, pahit dan manis silih berganti menghampiri. Tapi akhir, masih enggan menunjukkan titik terangnya.
🕸🕸🕸
Hallo!
Apa kabar? Semoga pembaca setia infidelity selalu dalam keadaan sehat, Aamiin.
Terus dukung cerita ini dengan like, comment, dan Share cerita ini ke teman-teman mu.
Selamat beraktivitas.
__ADS_1
Terima kasih 🤍