Infidelity

Infidelity
Chapter 39


__ADS_3

Happy Reading!!


Selamat beraktivitas, selalu jaga kesehatan di manapun anda berada.


🕸🕸🕸


"Daffin?!" Ujar Mira lantang, serempak dengan Erine yang juga merasa terkejut melihat Daffin ada di playgroup tempat anaknya bersekolah.


"Kamu?!" Erine menautkan alisnya bingung, "apa yang kamu lakukan di sini?" Tanyanya menyelidik.


Daffin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedikitpun. "Aku hanya mengkhawatirkan kalian. Tanpa sengaja malah mengikuti sampai kesini."


Mira menatap Erine, kembali menatap pria di hadapannya. "Benarkah? Kau tidak perlu begitu. Kami baik-baik saja. Sungguh."


"Ya. Seharusnya aku mempercayaimu. Maafkan aku."


Mira menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri dengan cepat. "Tidak. Tidak apa-apa, Daf.  Kami tidak masalah. Benarkan, Rin?"


Erine mendengus kesal, "Ya. Tidak apa-apa. Bukan masalah besar."


"Bunda, ayo!" Ujar Alan terlihat tidak senang.


"Mir, bagaimana? Sepertinya kau harus tetap tinggal, kami bisa pulang dengan taksi online. Semua akan baik-baik saja, percaya padaku."


Mira menggeleng tidak setuju, "Tidak, Rin. Kita akan pergi bersama."


Daffin yang merasa tidak enak berniat undur diri, "sepertinya aku mengganggu waktu kalian. Akan lebih baik jika aku yang undur diri." Ujarnya tersenyum canggung.


"Oh, tidak, Daf. Aku dan anak-anak memang sudah harus pergi. Kalian lanjutkan saja berbincang nya, bukankah kalian sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua?"


"Tapi, Rin..."


"Mir, jangan khawatirkan kami. Okay?"


"Ini anakmu? Mereka sungguh anak yang manis, bisa beritahu om namamu, Nak? Mungkin saja kita bisa berteman." Ucap Daffin mendekati Alan dan Alin.


"Tidak, Om tidak perlu tau." Ujar Alan ketus.


"Benar." Timpal Alin menyetujui Alan.


"Alan, Alin... Apa yang kalian lakukan?" Tanya Erine tidak percaya.


"Hei... Apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu kasar. Om Daffin teman Tante dan beliau orang baik. Kalian harus bersikap sopan. Mengerti?!" Nasehat Mira.


Alan dan Alin mengabaikan nasehat Mira, lebih memilih diam dan saling menatap seakan mengirim sinyal telepati.


Erine menekan pangkal hidungnya pelan, menyusun kalimat yang tepat untuk meminta maaf pada Daffin. "Maaf, Daf. Anak-anak perlu waktu mengenal orang baru. Bukan berati mereka anak yang tidak sopan, aku sungguh menyesal." Ujar Erine merasa canggung.


"It's okay, bukan masalah." Sahut Daffin santai.


Erine yang melihat keanehan di antara Alan dan Alin memilih segera pamit. Namun, Mira menahan lengan Erine dan memberi kunci mobilnya meminta Erine untuk menggunakan mobil itu.


"Kau boleh pergi, tapi tidak dangan taksi atau angkutan umum lainnya. Pakai mobilku. Jika tidak, aku tidak akan meninggalkan mu." Perintah Mira.


"Bagaimana denganmu?"


"Untuk itu, aku bisa mengantarnya. Kalian sungguh akan pulang? Kenapa tidak bergabung bersama kami saja?" Ajak Daffin.


"Itu benar, Aku bisa pulang bersamanya." Sahut Mira cepat agar Erine tidak menolak menggunakan mobilnya.


Erine mengangguk paham. "Maafkan aku. Kami sungguh tidak bisa ikut bergabung."

__ADS_1


Erine menatap anaknya yang masih cemberut. "Aku rasa... Lebih baik kami pulang lebih dulu. Kalian bisa lanjutkan kencan but—maksudku pertemuan kalian. Kami tidak akan mengganggu."


"Apa yang ingin kau ucapkan barusan?" Tanya Mira sedikit berbisik.


"Maaf, Mir. Aku kelepasan. Kali ini cobalah lebih keras, kau harus menyebar undangan dengan cepat." Bisik Erine balik, membuat mata Mira melotot tak percaya.


"Apa maksudmu?" Ucapnya cukup keras membuat Alan, Alin, dan Daffin terkejut.


"Astaga, kupingku!" Sungut Erine.


Alin menarik ujung dress ibunya yang masih kesal karena tingkah Mira, "Bisa kita pelgi sekalang, Bunda?"


Erine mengangguk pelan, "Tentu."


Erine membuka pintu mobil, meminta Alan dan Alin masuk lebih dulu. Sebelum pergi, Erine menyempatkan diri berpamitan dan meminta maaf sekali lagi atas perbuatan putra dan putrinya.


"Sekarang, aku sudah boleh pulang, kan?. Oh iya, Daf, jaga gadis tua ini untukku, kau paham maksudku, kan? Dia keluargaku—"


"Astaga... Erine! Kau sungguh membuatku malu! Apa-apaan menjagaku, aku bisa menjaga diriku sendiri." Sungut Mira.


Erine mengabaikan sungutan Mira, memilih fokus kepada Daffin. "Kau paham maksudku, kan?"


"Jangan khawatir. Aku akan mengantarkannya pulang tanpa lecet sedikitpun."


"Kalian..." Mira kehilangan kata-kata melihat interaksi dua orang di hadapannya.


"Kalau begitu, aku bisa lebih tenang meninggalkannya. Dan untuk perilaku kedua anakku, mereka tidak bermaksud mengabaikan mu. Maaf jika itu menyinggung mu." Ujar Erine meminta maaf sekali lagi.


"Aku, paham. Jangan khawatirkan itu."


"Syukurlah... Mir, aku pulang. Kau... Semangat!" Ujar Erine berlari cepat meninggalkan Mira yang terlihat cengo.


"Dia sungguh temanku kan? Apa maksudnya itu?"


"Haa, maksudmu?"


"Bukan apa-apa, kau ingin pergi bukan? Maka ikutlah denganku."


Mira mendengus kesal, "kenapa kalian semua terlihat menyebalkan?" Gumamnya yang masih dapat didengar Daffin.


Daffin tersenyum tipis melihat gadis di sampingnya, selalu menggemaskan.


🕸🕸🕸


Di dalam mobil. Alan duduk di bangku belakang sedangkan Alin memilih duduk di samping ibunya yang mengemudi. Mobil berjalan dengan sangat lambat, sebab Erine sibuk melirik kanan kiri mencari restoran untuk membawa kedua anaknya makan siang sebelum kembali ke apartemen.


Belum ada yang memulai percakapan sejak memasuki mobil, Alin yang cerewet berubah senyap. Pertemuan mereka dengan Daffin cukup mengejutkan, tapi respon Alan dan Alin jauh lebih mengejutkannya.


"Alin, kenapa tidak bicara? Apa kalian berniat mogok bicara, hm?." Ujar Erine melirik putrinya kemudian melirik Alan dari sudut spion tengah.


Alin menggeleng pelan, "Tidak ada. Bunda, siapa orang tadi? Dari mana Bunda mengenalnya?"


"Orang? Oh, maksudmu, Om Daffin, dia teman Tante Mira. Kenapa sayang?"


"Dia tidak baik!" Ujar Alan dari bangku belakang, tetap fokus melirik ke sisi kanan jalan mengamati pengendara lain.


"Alan. Beliau orang yang baik, kalian hanya belum mengenalnya. Lain kali kita cari waktu untuk meminta maaf, okay?" Bujuk Erine.


"Kakak benar, Bunda. Dia tidak baik. Orang itu ingin merebut Bunda dari Ayah. Alin tidak suka!"


"Astaga, Alin. Jangan bicara sembarangan." Ujar Erine tidak habis pikir.

__ADS_1


Alan malas berdebat dengan ibunya yang terlalu berpikiran positif pada orang tetapi tidak dengan ayah mereka, hingga sebuah ide tercetus dalam pikiran kecilnya. "Bunda, apa Alan boleh pinjam ponsel?"


Erine kembali melirik Alan dari kaca spion tengah mobil. "Ponsel? Kamu ingin menghubungi seseorang, Sayang?"


"Tidak. Hanya menyimpan nomer ponsel guru di sekolah. Apa boleh?"


"Iyaa, Bunda. Tadi bu gulu memberikan kami nomernya. Biarkan kakak menyimpannya." Ujar Alin semangat, mengalihkan topik sebelumnya.


Erine mengangguk ringan, mengambil ponsel yang sengaja ia letak di atas dashboard mobil dan memberinya pada Alan.


Alan dengan cepat meraih ponsel dari tangan Erine, mengeluarkan sebuah buku tulis menyalin nomer guru mereka kedalam ponsel tersebut.


Tidak butuh waktu lama kontak baru tersimpan. Namun, Alan belum berniat mengembalikan ponsel kepada ibunya, ia melirik Erine yang fokus mengemudi dengan mendengarkan cerita Alin di hari pertama mereka bersekolah.


'Kau memang adikku Alin, kau sungguh pintal!.' bathin Alan, sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


Alan membuka aplikasi pesan di ponsel Erine, mencari sebuah nama 'Mas Ammar'—ayah mereka.


Dengan lihai jari-jari mungil Alan menekan satu persatu tombol keyboard, menyusun kata dengan sangat rapi. Ia berharap ini sukses dan membuahkan hasil. Jika tidak, maka ia akan menjuluki pria berusia 35 tahun itu dengan sebutan 'PRIA BODOH'.


Send...


Centang dua.


Delete.


Sempurna.


Alin melirik Alan dari ujung matanya, dengan senyum licik Alan mengedipkan sebelah mata. Memberi isyarat semua sudah selesai, mereka hanya tinggal menunggu hasil yang memuaskan.


"Bunda, Ini. Alan sudah selesai." Ujar Alan santai dan mengembalikan ponsel pada ibunya.


"Oh, astaga... Bunda hampir melupakannya."


Alan hanya berdehem ringan.


"Alin, kenapa tiba-tiba berhenti, Sayang? Kamu tidak ingin bercerita lagi? Padahal Bunda sangat senang mendengar ocehan mu." Jujur Erine.


"Benalkah? Tapi Alin tiba-tiba lapal. Apa kita masih lama, Bunda?


Erine menatap wajah lesu Alin, "Tunggu sebentar ya, kita akan segera sampai. Alin masih bisa menahannya, kan?"


"Sebenalnya tidak bisa, tapi mengeluh juga tidak kenyang. Jadi Alin katakan, Ya. Alin masih bisa menahannya."


"Kau terlalu banyak dlama Alin."


Alin melirik Alan dengan kesal. "Tapi barusan kau mengakui aku adikmu yang pintal, kan? Banyak dlama juga butuh keahlian, Kak." Ujar Alin membanggakan diri.


"Kau benal, kali ini aku menyetujui mu. Kau hebat!"


Mereka saling melempar senyum, Erine yang melihat tingkah aneh keduanya hanya bisa menggeleng bingung bercampur senang. Setidaknya, mereka jauh lebih kompak dari biasanya.



🕸🕸🕸


Hallo! Jangan lupa like, comment, dan vote cerita ini jika kamu menyukainya. Terima kasih.



__ADS_1



__ADS_2