Infidelity

Infidelity
Chapter 36


__ADS_3

Kantung matanya menghitam sempurna, menyerupai kantung mata seekor panda. Setiap orang yang melihat pasti bertanya apa yang salah dengan matanya. Apa-apaan ini, bukankah dia yang meminta Mira jangan memikirkan apapun dan langsung tidur. Tapi kelihatannya, dia yang mengalami susah tidur sejak semalam.


See?... Mira masih stay dengan posisi abstrak bersama Alin di atas ranjang, jangan lupakan dengkuran nyaring yang terdengar menusuk lubang telinganya.


Hanya Alan yang terlihat normal dengan posisi tidur menghadap kanan dan kedua telapak tangan sebagai penyanggah pipi bawahnya.


"Siapa yang berkata tidak bisa tidur semalam? Dasar wanita jadi-jadian. Aku yakin pencuri pun tidak dapat membuatmu terjaga." Sungut Erine.


Erine beranjak dari ranjang ingin membersihkan tubuhnya. Seketika pening menghampiri kepalanya dengan cepat Erine menekan pangkal hidungnya pelan menghilangkan sedikit rasa sakit.


"Astaga, aku bisa gila!" Rutuk Erine lagi.


Erine bergegas memasuki kamar mandi dan mengunci dirinya di dalam, menanggalkan pakaian dan mengguyur tubuhnya dengan air shower.


Dingin? Tapi tidak untuk Erine yang saat ini dilanda kecemasan.


Rentetan air yang berjatuhan menyentuh puncak kepala hingga ujung kakinya, sejenak menghilangkan sedikit rasa pening yang beberapa saat lalu mendera kepalanya. Tubuh polos tanpa sehelai benangpun basah dengan butiran air yang mengalir mengikuti lekuk tubuh proposional yang Erine miliki.


Erine menyentuh besi putih horizontal yang tidak terdapat handuk di atasnya. meremas kuat hingga baku tangannya memutih. Saat ini pikirannya tidak baik-baik saja, banyak ketakutan jika hal besar lainnya terjadi saat ia tidak berada di apartemen.


Mungkin saat ini target musuh adalah dirinya, tidak menutup kemungkinan Alan dan Alin akan menjadi objek terpenting yang mereka gunakan untuk menjatuhkannya, membunuhnya dengan sangat cepat.


Masalah semakin runyam pikiran negatif tidak terelakkan, Erine menatap bayangan dirinya di kaca buram yang mengitari kamar mandi. Kepada siapa ia meminta sebuah pertolongan? Orang tua Mira? Ayolah... Ini menyangkut hidup dan mati. Jangan jadikan mereka kambing hitam yang berakhir mati sia-sia.


Erine menyelesaikan ritual mandinya menghabiskan waktu satu jam setengah, terlihat jarinya yang mulai keriput terlalu lama terkena air. Erine mengenakan kaus putih oblong dengan celana kulot berwana cream, mencepol rambutnya asal.


Erine melirik jam di ponselnya.


Pukul 06.00.


Dengan gerakan cepat Erine menuruni anak tangga, bergegas memasak sarapan. Suara dentingan spatula dan wajan terdengar samar oleh Alan yang baru saja terbangun, dirinya yang sudah terbangun berhasil menyesuaikan indra pendengarannya.


"Bunda, apa yang bunda masak?" Tanya Alan dengan suara serak sehabis tidur.


Erine terperanjat kaget, suara Alan sungguh mengejutkannya yang fokus memasak.


"Astaga!" Erine mengecilkan api kompor, "Kamu mengagetkan Bunda, Sayang."


"Benalkah? Kalau begitu, maafkan Alan." Ujarnya tulus.


"Tidak masalah. Alan baru bangun?" Ucap Erine kembali menggoyang spatula nya.


Alan mengangguk, membenarkan pertanyaan Erine. "Iya, Bunda. Alan hanya ingin mengambil pasta gigi." Alan mengucek matanya yang sesekali masih terlihat samar.


Erine tersenyum menatap tingkah putranya, tangannya dengan cekatan mengambil pasta gigi yang sudah tersedia di kabinet dapur bagian atas.


"Ambil. Segera bersiap, kita akan sarapan. Ada yang ingin Bunda bicarakan selesai sarapan."


Erine memberi pasta gigi kepada Alan.


"Apa? Sesuatu yang penting?"


Erine berbalik dan kembali membalik masakannya kemudian mematikan kompor. Kembali berjalan mendekati Alan, berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Alan.


"Mungkin penting untuk, Bunda. Tapi  Bunda ragu pendapat kalian." Ujar Erine belum berniat menjelaskan.


Alan hanya mengangguk pelan, berlalu pergi meninggalkan Erine yang bersiap menyajikan sarapan di meja makan.


🕸🕸🕸



Sebuah kejutan besar, Mira dan Alin bangun tepat pukul enam lewat empat puluh lima menit. Erine rasa ini lebih mengejutkan dari harga cabe yang tiba-tiba melonjak naik.


"Oh, God! Apa ini pertanda perawan tuaku ini akan segera membina rumah tangganya?. Sungguh?, aku sangat bahagia jika begitu!" Ujar Erine lebih seperti menyindir dengan menampung tangan seakan berdoa kepada Tuhan.


Mira yang kesal, mengambil sebuah timun dan melemparnya tepat di kening Erine, yang tengah menatap keatas plafon rumah.


"Aaghh... Jidat ku! Kau ingin membuatku cacat, haa? Astaga, itu benar-benar menyakitkan. " Sungut Erine menatap kesal.


"Bunda sungguh menggemaskan!" Ucap Alin tidak paham situasi.


"Itu azab untukmu, Rin! Salahkan dirimu sendiri yang mengatakan aku seorang perawatan tua. Kau tau, gadis-gadis di korea bahkan tidak melihat umur 30 tahun terbilang usia wajib menikah. Hanya kau yang berpikiran primitif."


"Mira... Jangan bandingkan dirimu dengan mereka. Kau tidak lihat? Wajahmu terlalu banyak flek dan keriput, mereka tidak sepertimu. Di usia 40 tahun masih terlihat 20 tahunan. Sekarang kau paham kan?"


Mira berdecak kesal, ucapan Erine tidak salah hanya kelewat jujur. Mira juga paham, Erine hanya ingin ia mengerti dan lebih membuka diri untuk hubungan yang lebih serius, bersama Daffin misalnya.


Alan terlihat baru menuruni tangga, membuat kening Erine bertaut bingung. Wajah Alin yang tadinya tersenyum melihat Erine berubah masam.


Apa yang terjadi pada mereka?


"Alan. Kenapa baru turun?" Tanya Erine bingung.


"Mengganti alas kasul bunda, sepeltinya kamal atas kebanjilan." Ujar Alan tidak ambil pusing.


"Banjir? Sejak kapan banjir dari atas ke bawah, Alan? Yang benar saja."


Alan hanya mengangkat bahu singkat. Erine mencerna baik-baik apa yang Alan maksudkan, hingga sebuah pikiran membuatnya membulat mata sempurna dengan mulut ternganga.


"Apa Alin mengompol?"


"Tidak, Bunda!"


"Lalu apa?"


"Tanyakan putramu, Erine! Kami tidak akan bangun sepagi ini jika bukan karena tingkah ajaibnya." Jelas Mira.

__ADS_1


"Alan, bisa katakan apa yang terjadi sebenarnya?"


Alan menduduki kursi yang berhadapan langsung dengan adiknya, sedangkan Mira berada di samping Alin. Bisa dilihat sorot kesal Alin di tujukan pada kakaknya.


"Apa?"


"Aku membencimu!"


"Iya, aku juga menyayangimu."


"Aku bilang aku benci kau, kak!" Bentak Alin cukup keras.


Erine ikut bergabung bersama Mira dan anak-anaknya, melerai perdebatan yang tampak tidak akan berhenti hingga siang.


"Hentikan! Bisa kalian katakan apa yang terjadi? Bunda tidak ingin melanjutkan acara sarapan kita jika kalian masih berdebat. Jadi, katakan. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Alin menunduk lemah, kemudian menatap Mira yang tampak menghela nafas.


"Alan menyilam mereka, Bunda. Tidak banyak, hanya satu gayung penuh!" Jujurnya.


Erine melotot sempurna, "A—apa? Astaga, Alan. Kau melakukan itu?"


Alan mengangguk pasti. "Ya."


"Kau tidak ingin meminta maaf pada kami, bocah?" Tanya Mira yang mulai mengambil roti isi sayur yang Erine buat.


"Maaf."


"No, problem. Aku tau kau sudah lelah membangunkan ku dengan berbagai cara. Lupakan saja!" Ujar Mira ikut merasa bersalah.


Erine mengangguk paham, ternyata ini penyebab Alan melakukan hal itu. Terkadang tingkah ajaib kedua anaknya membuat ia takjub, sungguh di sayangkan ia tidak melihat pertumbuhan anak-anaknya sedari kecil.


"Alin, bagaimana denganmu? Kamu tidak menerima maaf kakakmu, Sayang?" Tanya Erine lembut.


Alin menatap Alan jengkel, "Aku maafkan, hanya sedikit. Tidak bisa dinego." Ujarnya polos.


Mira yang mendengar penuturan Alin hanya tersenyum geli. "Kau memberi maaf atau menjual barang?" Ujar Mira menggeleng lemah.


"Tidak apa. Tapi nanti aku ingin pelgi ke taman, kau tidak usah ikut saja." Jawab Alan sudah memakan sebuah roti.


"Apa? Kau ingin pelgi? Aku juga ingin ikut kak, boleh?"


Alan menggeleng pelan, "Tidak. Kau tidak memaafkan ku balusan. Aku tidak ingin mengganggumu."


"Tidak, Kak. Aku sudah memaafkan mu sejak tadi. Sungguh! Sekarang bisa aku ikut denganmu?" Ujarnya memelas.


"Oke! Kau boleh ikut."


Erine melirik Mira begitupun sebaliknya, sebuah senyum terbit di bibir masing-masing. Alan begitu memahami adiknya, sangat mudah membalikkan keadaan walau ia dalam kondisi terjepit sekalipun.


Menggemaskan.


🕸🕸🕸


Gebrakan meja kayu yang terpelanting hingga hancur tak berbentuk membuat suasana semakin mencekam. Sementara di ruangan lain, terdengar suara rintihan seseorang memohon ampunan dari pria dengan topeng menutup mata kirinya.


"Tolong, ampuni aku tuan... Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi." Ujarnya memohon.


Qing Dotay tidak bergeming dari tempatnya, hanya menatap malas pria yang kini tersungkur lemah.


"Kumohon. Ampuni aku, Tuan."


"Ini kelalaian ku, aku tidak akan melakukannya lagi."


"Kumohon, ampuni aku."


Qing Dotay tertawa renyah, pria bodoh yang saat ini meminta ampunan padanya hanya memikirkan keselamatannya dan tidak dengan istri dan anak gadisnya yang juga mereka sekap.


"Gen, kau dengar? Dia hanya meminta kita menyelamatkan nyawanya. Tidak dengan istri dan anak gadisnya itu. Ini menarik!"


Itu Genly, pria dengan topeng menutup mata kirinya. Gently menatap sinis pria yang tengah sekarat memohon ampunan. Tidak ada yang salah, tapi yang ia lakukan bersama istrinya tetap sebuah kesalahan yang fatal.


"Aku tidak peduli apapun, tapi berikan gadis itu padaku. Kau lakukan apa yang kau inginkan dengan sepasang suami istri ini. Dan aku ambil bagian ku." Jawab Genly tidak peduli.


"Hei, Bung. Kau sungguh ingin mengambil jatah makan malam orang-orang ini, haa?" Tanya Qing Dotay melirik pengawalnya yang terbakar gairah.


"Itu bukan urusanku. Kau ambil bagian mu, aku ambil bagian ku!"


Qing Dotay memerintahkan anak buahnya membawa istri dan anak pria sekarat ini ke hadapannya.


Selang beberapa menit terdengar suara langkah gontai yang memasuki ruangan. Tidak ada perlawanan, terlihat memar di beberapa sudut wajah wanita tua dan gadis manis dengan netra hitam legam.


'Genly sungguh pandai memilih.' pikir Qing Dotay.


"Ayah!" Teriaknya berlari memeluk tubuh ayahnya.


"Jangan sentuh aku!" Bentak ayahnya menghempas tubuh kecil gadis itu.


"Ayah, maafkan Kiran. Kiran mohon."


"Tuan, maafkan kami, ini semua karena gadis bodoh itu! Kau bisa membunuhnya, kami tidak keberatan." Ujar wanita yang mereka tahu ibu dari gadis yang kini menangis sesenggukan.


Genly menggertak gigi dengan rahang menegang, "Ulangi. Apa yang baru saja kau katakan?!"


"Be—benar, Tuan. Anak ini yang membocorkan rencana mu mengekspor senjata itu. Kami sudah memintanya untuk tutup mulut dan duduk manis di rumah. Tapi dia tidak mendengarkan perintah kami. Kau bunuh saja dia, kami tidak bersalah!" Ujar pria tadi masih membela diri.


"I—ibu, Ayah... Apa maksudmu? Aku tidak—"

__ADS_1


"Semuanya karena kau sial*n! Karena kau kami harus bernasib sial seperti ini!" Ujar ibunya lagi.


Sebuah rekaman dari kamera pengintai dan beberapa penyadap suara dikeluarkan oleh salah satu pengawal yang sejak tadi berdiri dengan menenteng sebuah tas.


Tampak guratan panik di kedua wajah pasangan suami istri yang saat ini saling melempar tatapan takut.


Drama akan berakhir.


Siaran diputar, terlihat sepasang suami istri itu menjual informasi kepada pihak lawan hingga mengancam transaksi penjualan senjata tajam yang bernilai ratusan juta rupiah—nyaris saja mereka mengalami kerugian berlipat ganda.


Tepuk tangan terdengar dari arah Qing Dotay, yang tersenyum hangat tanpa beban. Seperti malaikat pencabut nyawa yang berubah menjadi pangeran berkuda putih bak penyelamat. Sungguh disayangkan rupa yang tampan tidak menjamin hati seseorang sama bagusnya.


"Tu—tuan, ini salah. Ini tidak benar, kumohon."


"Kumohon, maafkan kami, Tuan!"


"Maafkan kami, Tuan."


"Kami berjanji. Kami tidak akan melakukannya, lagi."


"Ampuni kami, Tuan."


"Henri! Bawa pria itu kedalam sangkar kucingku. Ah... Aku sungguh ingin melihat kucingku tumbuh lebih cepat." Ujarnya santai dan melirik wanita yang saat ini berdiri dengan kaki gemetaran, "Dan, kau!" Tunjuk nya pada Aldo, "bawa tua bangka ini ke markas kalian. Lakukan apapun yang kalian inginkan. Dan jangan pernah izinkan dirinya keluar satu inci pun dari tempat itu." Tambahnya lagi.


"Tidak, Tuan. Kumohon."


"Jangan lakukan ini, Tuan. Maafkan, aku."


"Tuan, maafkan kami!"


"Jangan sentuh aku, baji***n. Lepas!"


"Ibu, Ayah... Kumohon. Jangan lakukan itu, Tuan. Maafkan mereka, Tuan. Kumohon." Kiran terus memohon ampunan.


"Qing! Aku ambil bagian ku, kita impas." Ujarnya menyeret paksa Kiran yang terus memberontak, dengan satu pukulan di pundak membuat gadis itu seketika kehilangan kesadarannya.


"Kau sungguh ganas, Gen. Bermainlah yang lembut. Kau bisa mengoyak tubuhnya jika terlalu kasar." Canda Qing Dotay.


"Bukan urusanmu!"


"Aku tau. Bagaimana dengan rencana yang aku katakan? Apa anak buah mu sudah memulainya?" Tanya Qing Dotay memastikan.


"Erine... Dia bukan? Kenapa kau meminta aku yang melakukan hal semudah ini. Kau tidak kehilangan kemampuanmu, kan?" Sindir Genly.


Qing Dotay menggeleng pelan, "Itu bukan hal sulit, tapi beberapa hal membuat semuanya rumit."


"Percintaan bodoh? Kau menyukai wanita itu dan berniat membunuhnya? Kau terlalu lemah!"


"Tidak. Aku tidak menyukainya. Tapi mengagumi seseorang yang berada dekat dengannya."


Genly menggendong tubuh Kiran ala bridal style, "Kau menjijikkan. Aku pastikan, kau akan menghancurkan wanita itu hingga ke akarnya. Pilihanmu hanya ada dua... Kau lepaskan mangsa mu atau kubur cinta bodoh mu itu. "


Senyuman Qing Dotay lenyap seketika, " Aku berharap wanita itu tidak pernah mengetahui siapa pelaku sebenarnya. Aku tidak siap melihat senyum itu luntur dari wajahnya."


"Bagaimana dengan, Karina. Adikmu terlalu bodoh! Kau harus mengajarinya agar lebih pintar seperti dirimu."


"Itu lebih sulit dari mengul*ti tubuh seseorang."


"Kau yang bodoh!"


"Terserah kau saja! Pergilah, nikmati malam pertamamu. Ah... Aku lupa, ini sudah malam ke berapa, Gen?. Aku sungguh tidak bisa mengingatnya. " Ujar Qing Dotay menertawakan raut kesal yang ditunjukan Genly.


"Kau membuatku muak! Aku bisa membunuhmu sekarang juga jika aku mau."


"Sayangnya... Kau tidak akan pernah melakukan itu padaku."


"Aku benar, bukan? Kau akan tetap berdiri di sini menjadi pengikut setiaku. Benar begitu, Gen?"


Genly mendengus kesal, semua yang Qing Dotay ucapkan tidak ada yang salah. Ia tidak akan bisa meninggalkan pria ini dengan alasan apapun. Sejauh yang ia tau, Qing Dotay selalu mengikuti aturannya, untuk tidak melakukan sesuatu pada yang tidak bersalah. Namun, jika kau melakukan sedikit kesalahan. Kau tidak akan berakhir dengan baik, camkan itu.


Entah apa yang ditanamkan Karina pada pria ini, dengan mudahnya ia berbalik arah dan menyakiti wanita yang ia tahu bernama 'Erine'. Hanya gadis biasa yang semasa hidupnya tidak ada hal istimewa. 


Genly berlalu pergi meninggalkan Qing Dotay. Sedangkan Qing Dotay berjalan kearah jendela tua menatap hamparan pepohonan rindang yang menutupi markasnya. Sejenak ia membayangkan wajah gadis manis dengan gaya tomboynya, akhir-akhir ini terlihat lebih feminim.


Sungguh manis.



🕸🕸🕸


Hallo! Aku mau kenalin para tokoh Infidelity nih, semoga kalian suka! ☺


...Erine Artinka...



...Ammar Irsyad Namanya...



...Karina Arnia Gultava...



...Arland Kastara Nawansa - Arlind Kumara Nawansa...


__ADS_1


...Danecha Queen Nawansa...



__ADS_2