
Tiga hari berlalu. Tepat pukul empat subuh, Erine tampak sibuk berkecimpung dengan alat dapur dan apron yang menggantung manja di lehernya.
Wajah putih mulusnya yang terdapat noda cream kue berwarna pink sedikitpun tidak merusak wajah cantik yang ia miliki. Erine mengambil beberapa buah stroberi dan coklat batangan yang ia letak di dalam freezer, untuk menghias sisi atas kue tart agar terlihat lebih indah.
Sempurna.
Sebenarnya, ini bukanlah hari ulang tahun Alan dan Alin. Namun, Erine sengaja menyiapkan kejutan sederhana berupa kue tart serta kado spesial untuk menebus ketidakhadirannya selama 5 tahun lebih proses tumbuh kembang Si Kembar. Kejutan kecil yang Erine buat termasuk salah satu permintaan Mira yang ingin ikut merayakan hari spesial ibu dan anak sebelum Erine meninggalkan apartemennya.
Mira bangun cukup pagi, keinginan kuat membantu Erine memberikan kejutan pada Alan dan Alin memotivasinya untuk bangun lebih pagi, perlu digaris bawahi—hanya hari ini saja.
Mira tampak ngos-ngosan setelah meniup cukup banyak balon. Erine yang selesai membuat kue, ikut bergabung membantu Mira menyelesaikan dekorasi pada ruang tengah.
"Kau terlihat buruk. Apa itu menyulitkan mu, Mir?,"
Mira melepas balon dari mulutnya, "Aku menyesal tidak mengikuti saranmu membeli alat pompa itu, lihat sekarang!. Aku sungguh tidak sekuat itu meniup semuanya."
"Itu salahmu sendiri, Mir. Sudahlah, ini sudah cukup, kita hanya melakukan perayaan kecil. Bukan pesta besar dengan dekor glamour. Jangan habiskan tenaga mu." ujar Erine mengingatkan.
Mira menghitung jumlah balon yang ia tiup, "Satu, dua, tiga ... dua belas. Kau benar, ini sudah cukup." ujar Mira mulai menyatukan seluruh balon menjadi dua bagian.
Erine melangkah ke dalam kamar Mira, mengambil dua kotak kado berukuran sama dengan isi yang berbeda tentunya.
Saat kembali, Erine sudah menenteng kado di kedua tangannya. Menatap Mira yang masih sibuk mendekor sofa ruang tengah. "Bagaimana dengan kadonya?" tanya Erine sambil menatap Mira yang mondar-mandir mencari kertas dekor.
Mira melirik kado di tangan Erine, berpikir sejenak. "Kemari, kita masih punya cukup waktu memikirkannya. Kau harus memastikan mereka terkejut kegirangan melihat itu."
Mira berbalik dengan senyum mengembang, Erine yang melihat antusias di wajah Mira hanya mengangguk membenarkan pernyataan gadis itu.
Setengah jam kemudian...
Erine terlihat cantik mengenakan dress putih sebatas lutut yang ia beli secara online. Dress tersebut memakai potongan sabrina pada bagian atasnya, hingga mengekspos jelas bahu mulus Erine.
Jangan pernah lupakan hal yang paling penting dalam sebuah penampilan—hair style.
Tepat sekali!
Erine sengaja menggerai rambut panjangnya menutupi punggung, terdapat kepangan tipis di bagian kiri dan kanan kepala, di tambah 2 buah jepitan berbentuk pita berukuran kecil menambah kesan manis pada penampilannya.
"Sudah jam berapa?"
"Setengah enam."
"Benarkah? Aku harus membangunkan mereka... Apa ini sudah siap,Mir?" Tanya Erine hendak beranjak dari duduknya membangunkan Alan dan Alin.
__ADS_1
"Sudah. Tapi... Biar aku saja yang membangunkan mereka, Rin. Kamu bisa tunggu di sini."
Erine menatap Mira, kemudian mengangguk menerima sarannya, "tidak buruk... tapi pastikan mereka sholat terlebih dulu."
"Baiklah, aku hanya memastikan. Jika mereka tidak mau, kau jangan menyalahkan ku."
"Tentu. Aku tidak sejahat itu untuk menyalahkan mu, Mir. Itu tugasku untuk mengajarkan sikap disiplin pada mereka."
Mira melenggang pergi menaiki anak tangga meninggalkan Erine yang membersihkan bahan-bahan sisa dekorasi yang masih tertinggal.
Saat sedang membersihkan sisa dekorasi, tiba-tiba ponsel Erine berdering. Erine meraih ponselnya yang berada di atas meja. Kerutan tampak menghiasi keningnya, sesaat setelah ia mendapati nomor asing di layar ponselnya.
Siapa yang meneleponku pagi-pagi, begini?, bathin Erine.
Erine menggeser tombol hijau pada layar ponsel. "Hallo." Hening tak ada jawaban, "Hallo. Maaf, dengan siapa ini?" Erine menatap layar ponselnya kembali memastikan apakah telepon masih tersambung.
Aneh sekali, bathin Erine.
Tut... Tut...
Panggilan terputus. Erine menautkan alis bingung. 'Mungkin salah sambung.' pikirnya lagi, tidak ingin memusingkan nomor asing yang tak jelas asal usulnya.
Jam menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit, terdengar langkah kaki lincah menuruni anak tangga. Mata Erine menyorot gerak girang Alin dengan dress sederhana berwarna silver berbahan tile dan Alan yang mengenakan sweater berwarna senada dengan Alin.
"Bund—wahhhh...!! Indahnya!!" Alin terpukau menatap ruang tengah apartemen yang didekorasi dengan sangat indah.
"Bunda, siapa yang menyulap lumah kita?" tanya Alin melirik kue dan kado di atas meja.
Erine tersenyum merentang tangan memeluk putrinya, "Ibu peri dan asistennya- Alin suka? Kemari, lihat ini." tunjuk Erine pada kue tart yang telah ia buat.
Alin mengangguk antusias, "Kak Alan, kemalilah. Kue ini cantik sekali, kan?" ujarnya sambil bertepuk tangan girang saat Erine mengurai pelukan mereka.
"Bunda, ini indah. Sangat indah! Sungguh ini boleh kami makan?!" Tanya Alan cukup banyak, "Tapi... Kapan bunda membuatnya? " tanyanya lagi, masih mengagumi hasil buatan bundanya.
"Hmm... Begini. Bunda sedang tidak ingin menjawab itu, bukankah kalian bertanya terlalu banyak, Sayang? apa kalian tidak ingin memotong kue? Bagaimana jika meniup lilin terlebih dulu, kalian mau?," saran Erine mengalihkan fokus Si Kembar kembali pada kue di hadapan mereka.
Alan dan Alin kompak mengangguk, "Tara... Ini lilinnya... dan ini kado dari Tante, khusus untuk Alan dan Alin." girang Mira yang datang terlambat membawa banyak barang.
"Wahhhh... Telima kasih, Tante." ujar mereka serempak.
"Oh... Lihatlah wajah ini. Kalian begitu menggemaskan, aku harap ini tidak berakhir begitu cepat." ujar Mira penuh harap, melirik Erine dengan sorot sendu penuh permohonan.
"Tentu. Aku tidak akan membiarkan waktu cepat berlalu untuk hari ini. Sekarang kita lanjut tiup lilinnya dulu ya. Kesayangan bunda setuju?" ujar Erine mengecup singkat pipi Si Kembar.
__ADS_1
Mira menempelkan lilin berbentuk beruang mini di tengah kue tersebut, menghidupkan sumbu dengan korek api. Percikan api berukuran kecil tampak indah di tengah kue tart tersebut.
Alin dengan semangat ingin meniup lilin. Namun, Mira lebih dulu menahan laju mulut gadis kecil yang saat ini sudah sangat dekat dengan ujung lilin menggunakan jari telunjuknya.
"Wait-wait! You should make a wish and blow out the candles." ujar Mira menjelaskan.
"No-no... itu tellalu lama, Tante. Alin sungguh ingin memakannya. "
"Lakukan saja, Alin. Kue itu tidak akan hilang, kita bisa memakannya setelah itu." ajak Alan malas berdebat.
"Come on. make a wish, kids." ujar Erine ikut menyarankan.
Alan dan Alin menampung tangan menutup mata beberapa saat dengan Mira yang menjadi fotografer dadakan.
Alan berdoa dengan khidmat begitu juga Alin. Selang beberapa menit, mereka selesai meminta permohonan. "Sudah... ayo lanjutkan, Bunda." ujar Alin kelewat antusias.
"Sekarang... Alan dan Alin tiup lilin dulu, yaa." Ujar Erine lembut.
Huuuufftt....
Seketika lilin tersebut padam.
Plok... Plok... Plok...
Tepuk tangan menggema siisi ruang tengah. Erine memotong kue dengan cepat, di saat yang bersamaan bel pintu apartemen berbunyi.
Sontak Erine dan Mira menatap kearah pintu yang masih terlihat dari tempat mereka berada. Mira hendak berdiri untuk membuka pintu dan mengecek siapa gerangan yang bertamu sepagi ini ke apartemennya. Namun, Erine meminta Mira untuk kembali duduk melanjutkan potong kue bersama anak-anaknya. Mengingat, hanya hitungan jam dia sudah harus pindah dari tempat ini.
🕸🕸🕸
Happy Reading!!
Selamat beraktivitas untuk semua yang menyempatkan diri hadir di cerita ini. Semoga pembaca setia Infidelity selalu diberi kesehatan di manapun anda berada. Aamiin.
Selalu support author dengan like and comment 😊
Terima kasih.
...Mira Yusmaiza...
__ADS_1