
Semakin malam suasana semakin dingin, indikator suhu pada ponsel menunjukan angka sembilan belas derajat celcius. Api yang menyala dari tumpukan kayu kering di halaman belakang tidak terlalu membantu meredakan suhu dingin di sekitar mansion.
Suasana terasa mencekam sejak pertama kali Ammar menginjakkan kaki di halaman belakang. Praduga yang Ammar prediksi akan terjadi berbuah khayalan. Berbagai pertanyaan mengisi benaknya. Apa yang terjadi di sini? Apa Ammar melewatkan sesuatu yang penting?, pikirnya singkat.
Hari ini sedikit berbeda, jika biasanya mereka berkumpul di dalam rumah dan menikmati makan malam dengan tenang. Tidak untuk hari ini, makanan tersaji sempurna di bawah sinar rembulan memenuhi meja bundar yang cukup besar.
Namun, kemana tuan rumah menghilang?
Suara gelak tawa putrinya menggema beriringan dengan kedatangan Hamdan yang menggendong Echa dalam dekapannya.
Ammar diam menatap ayahnya, "Kau datang sejak tadi, Nak?, bagaimana kabarmu?" Tanya Hamdan sedikit berbeda, pikir Ammar.
"Aku baik, Pa. Hanya masalah kecil, kalian tidak perlu memikirkannya."
Hamdan mengangguk ringan, "Di mana Karina? Kalian tidak turun bersama?"
Ammar mengangkat bahu acuh tak acuh, "Tidak. Aku begitu sibuk akhir-akhir ini, Pa. Ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Untuk Karina... Mungkin dia menemui, Mama. Papa tau sendiri, secocok apa mereka."
"Apa kau juga merasa cocok?" Tanya Hamdan yang menarik atensi Ammar untuk fokus menatap ayahnya.
"Bukannya ini yang kalian inginkan? Kenapa bertanya padaku?" Jawabnya penuh ketidaksukaan.
Hamdan menurunkan Echa, meminta gadis kecil itu untuk memanggil Seruni, Karina, dan juga Amanda agar segera bergabung bersama mereka untuk makan malam.
Setelah kepergian Echa, Hamdan menepuk bahu Ammar pelan, terlihat guratan penyesalan yang sulit dijelaskan. "Kau benar, Nak. Semua karena kesalahanku. Andai aku bisa lebih bijak, semua tidak akan serumit ini—ah, ya, apa yang terjadi di sana? Mungkinkah seseorang sengaja menargetkan mu?"
Ammar menggeleng ringan, "Tidak. Seekor kucing liar hanya ingin menguji ketajaman kukunya, hal mudah untuk mengatasi mereka. Papa tenang saja, aku bukan Ammar 5 tahun lalu."
"Kau benar, sekarang kau sudah tumbuh melebihi ekspektasi ku. Walaupun begitu, kau tetap putraku. Aku tetap mengkhawatirkan mu."
"Hanya putramu, Pa. Kau tidak berpikir untuk sesuatu yang lebih, kan? Mungkin, sesuatu yang bisa kau kendalikan lagi bersama istrimu."
Hamdan menatap sorot kebencian yang Ammar tunjukkan. "Apa maksudmu? Dia tetaplah ibumu, jaga ucapan mu, Ammar. Kau bisa melukai perasaannya dengan perkataanmu."
Ammar memilih duduk di kursi taman yang tidak jauh dari tempat mereka berbincang. "Aku tau. Tapi mungkin yang kulakukan tidak sesakit yang kau perbuat di belakangnya. Bukan begitu, Pa?"
Hamdan menautkan alisnya, "maksudmu?"
Tiba-tiba kedatangan Amanda dan Echa menghentikan percakapan ayah dan anak yang terlihat serius.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian terlihat tegang? Terjadi masalah, Kak?" Tanya Amanda memastikan.
"Hanya berbincang seputar bisnis." Ujar Ammar asal, masih fokus menatap kolam di hadapannya.
Amanda mendekati Ammar, merentang tangan untuk meminta sebuah pelukan. "Kak, aku sungguh merindukanmu!"
Ammar berdiri, balas memeluk tubuh adiknya, "Aku tidak."
"Benarkah? Mengapa kau memelukku kalau begitu? Jangan membohongi kembaran mu sendiri, Kak. Kau tidak lupa jika kita tinggal di tempat yang sama selama 9 bulan, 'kan?" Ujar Amanda tidak terima.
Hamdan menatap keakraban Ammar dan Amanda, rasa hangat menjalari hatinya yang sempat tersulut emosi.
"Kau hanya sekedar menumpang di tempat yang sama bersamaku, Man. Jangan merasa penting berlebihan. Aku tidak menganggap mu sepenting itu." Ujar Ammar membuat Amanda kesal.
Amanda mendongak menatap wajah kakaknya, masih tidak berniat melepas dekapan hangat yang Ammar berikan.
"Kak, kau sungguh melukai hatiku. Katakan, benarkah kau tak menganggap ku, lagi? Kau tidak berniat membuatku kesal dan mengurung diri di kamar, kan?"
Ammar menatap mata adiknya yang terlihat sembab, seketika alisnya bertaut penasaran. Sebelum menanyakan apapun, Ammar mengecup lama puncak kepala Amanda. Kemudian melepas pelukannya, terlihat jelas wajah tidak senang yang ditunjukkan Amanda pada perbuatannya.
Ammar memegang kedua lengan Ammanda, "Kau habis menangis? Apa terjadi sesuatu padamu?"
Amanda menggeleng cepat, "Tidak. Aku hanya merindukanmu. Kau merasakannya, kan?"
__ADS_1
"Aku merasakannya, hanya saja hatiku mengatakan sesuatu yang lain."
Amanda mendengus malas, "jangan berprasangka buruk, Kak. Tidak baik jika berlebihan memikirkan permasalahan orang lain. Kau paham maksudku, kan?"
"Kau bukan orang lain, Man. Kau adikku. Perlu aku melihatkan bukti jika kau benar-benar adik kandungku, haa?"
Amanda melepaskan tangan kakaknya, berjalan cepat menggandeng lengan Hamdan yang terus memperhatikan mereka.
"Pa, apa Papa melihatnya? Bukankah kakak begitu kekanak-kanakan? Aku tidak ingin bersamanya lagi, dia melukai hatiku." Adunya pada Hamdan yang terlihat tidak ingin ikut campur.
Ammar mendengus malas melihat tingkah manja adiknya yang tidak ingat umurnya sudah menginjak kepala tiga.
"Tidak. Papa tidak melihat ada yang salah dengan Kakakmu."
Amanda kembali mendengus kesal, "Papa! Ah, sudahlah. Papa tetap tidak akan mau membelaku."
"Itu karena aku benar dan kau salah, Manda."
"Terserah kau saja, Kak. Aku tidak ingin berbicara denganmu, lebih baik aku menyusul suamiku ke meja makan. Berdebat denganmu hanya menambah kerutan di wajah ku. " Ujarnya berlalu pergi.
Ammar dan Hamdan menggeleng pelan melihat tingkah Amanda. Wanita itu selalu bersikap manja pada kakak dan ayahnya. Umur tidak mengubah seseorang menjadi dewasa, tapi pengalaman hidup mengajarkan manusia kerasnya hidup di dunia.
Selang beberapa menit, sekitar pukul tujuh lewat lima belas menit, Seruni dan Karina ikut menyusul mereka yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Apa kami begitu lama?" Ujar Karina tersenyum ceria.
Tidak ada balasan dari siapapun, hanya Hamdan yang berdehem pelan, berujar singkat mengisi kecanggungan. "Tidak, duduklah. Kita sudah harus memulai makan malam ini."
Karina menatap kesal Ammar dan Amanda yang terlihat jelas mengabaikan keberadaannya. Ia sungguh ingin membunuh Amanda jika tidak memikirkan status di antara mereka.
Suara denting yang beradu antara piring dan sendok mengisi keheningan, tidak ada yang berbicara, semua fokus menikmati hidangan makan malam mereka.
Hingga suara Echa mulai terdengar mengudara, "Oma... Mengapa oma tidak menyambut ku? Apa Oma tidak merindukanku, lagi?"
Seruni memandang setiap mata di sekitarnya, kemudian fokus pada Echa. "Tidak ada, Oma hanya sedikit kelelahan." Bohongnya.
"Sungguh. Oma tidak akan membohongimu."
Pandangan seluruh penghuni meja makan beralih menatap Seruni, ada perasaan khawatir juga keingintahuan berlebih dari sosok Ammar. Ammar yakin sesuatu terjadi sebelum kedatangannya. Namun, ia memilih bungkam dan melanjutkan makan malamnya.
Selesai menghabiskan hidangan yang tersaji di atas meja, belum ada yang berinisiatif untuk meninggalkan kursi sekedar pindah duduk atau menikmati waktu bersantai di bangku taman.
Hamdan meminta Bi Surti selaku kepala pelayan memanggil beberapa rekannya untuk membersihkan meja dan menggantikan dengan makanan ringan.
"Sorry, but... Apa kita hanya akan diam hingga esok pagi? Ini sungguh membosankan." Semprot Karina yang mulai jengah dalam keheningan.
"Kau bisa berbicara sendiri jika kau mau." Sahut Amanda santai.
"Manda. Berbicaralah yang sopan." Tegur Seruni.
"Aku hanya menyuarakan isi kepalaku, Ma. Apa yang salah dengan itu?" Elak Amanda tidak ingin di salahkan.
"Akan lebih baik jika kau diam saja. Aku sungguh tidak berminat mendengar isi kepala mu!"
"Kau tidak ada hak mengatur, ku! Ini rumah orang tuaku, kau lupa?!" Sindir Amanda telak.
Echa yang mendengar Amanda meninggikan suara beberapa oktaf terhadap ibunya merasa tidak nyaman, "Tante, kenapa kamu membentak, mamaku? Mama berkata jujur, di sini memang membosankan." Ujarnya membela Karina.
"Mamamu terlalu berisik, kau tidak layak membelanya."
"Manda! Sudah Mam—"
"Aku bukan kakak yang tunduk atas perintah mu, Ma. So, berhenti mengatur ku!" Sindir Amanda cepat, memotong perkataan ibunya.
__ADS_1
Ammar menatap tajam Amanda. "Apa maksudmu?"
Amanda menaikkan bahu tak peduli. "Kau pasti tahu maksudku. Kau tidak ber-IQ rendah, Kak."
"Manda, ini acara keluarga. Berhenti memancing keributan. Papa harap kamu bisa lebih tenang, bersikaplah seperti biasanya." Nasehat Hamdan.
"Maaf, Pa, Ma. Amanda hanya kelelahan." Ujar Dimas menengahi.
Dimas membungkuk dan sedikit berbisik kearah istrinya, "Kau ingin istirahat? Kumohon, jangan berulah." Ujar Dimas menatap wajah masam istrinya.
"Tidak, aku hanya menghitung waktu. Kau bersabarlah sebentar. Aku tidak ingin bermain drama terlalu lama." Ujar Amanda pelan, yang hanya didengar oleh suaminya.
Dimas menggeleng ringan. "Kau tidak harus melakukan itu, aku tidak ingin melakukannya." Dimas menatap teduh istrinya.
Di sisi lain. Karina mencondongkan tubuh ke arah Ammar, sedikit berbisik. "Mas, kenapa kau tidak membelaku? Adikmu menghinaku, bodoh. Kau sungguh suami tidak berguna yang pernah ku lihat di muka bumi ini."
"Untuk apa? Aku senang ada yang menyampaikan isi hatiku, untuk apa aku melarangnya?" Ujar Ammar kelewat santai.
Karina menatap horor suaminya, sungguh Ammar terlalu dalam melukai harga dirinya sebagai istri sekaligus ibu dari anaknya sendiri.
"Kau!" Pekik Karina mengalihkan pandangan penghuni meja tersebut.
"Apa yang terjadi denganmu? Kau tidak kehilangan akal sehatmu, kan?" Sindir Amanda lagi.
"Aku hanya bergelut dengan suamiku, apa itu mengganggumu, haa? Kau kurang senang denganku, kan? Katakan, kenapa kau selalu mengusik kesenanganku?!" Balas Karina tersulut emosi.
"Baguslah jika kau sadar. Aku tidak perlu repot-repot untuk memberitahumu."
"Shut the f*ck up! Kau sungguh menyebalkan, Ak—" rutuk Karina terpotong.
"DIAM! Apa kalian lupa di sini masih ada orang tua, haa?!" Ujar Hamdan jengah melihat perdebatan putri dan menantunya.
Karina yang tersulut emosi, memilih pergi meninggalkan halaman belakang diikuti Echa. Jika ia terus berada di sini, hanya akan membuatnya menjadi badut sirkus yang terus di tertawakan.
Hamdan mengusap wajahnya kasar. Seruni tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya tidak ingin salah berucap dan melukai putrinya.
"Akhirnya—Kenapa tidak dari tadi saja wanita itu meninggalkan tempat ini? Menyebalkan." Sungut Amanda yang dapat di dengar semua orang.
"Kenapa kau lakukan itu? Bagaimanapun ia tetaplah kakak ipar mu."
Manda memutar mata malas. "Aku tau, Pa. Bisa kali ini aku berbicara serius? Aku hanya tidak ingin orang luar mendengar perkataan ku."
Ammar menatap sorot serius dari bola mata adiknya, "ada apa? Kau dalam masalah? Katakan. Aku akan menyelesaikannya untukmu."
Amanda menghela nafas berat, menatap Dimas sesaat dan kembali menatap serius orang tuanya. Kali ini keputusannya sudah bulat, ia hanya ingin sebuah ketenangan dalam hidupnya.
"Kenapa kau diam?" Tanya Ammar tidak sabaran.
"Aku tidak ingin mendengarnya." Ujar Seruni hendak pergi melarikan diri.
"Tunggu, Ma! Aku harap, tidak ada yang pergi sebelum aku menyelesaikan ucapan ku."
"Katakan!"
Amanda kembali menatap suaminya yang terlihat lelah, kisah pernikahannya tidak seindah yang orang-orang pikirkan. Uang yang banyak tidak menjamin hidup akan bahagia, uang hanya bisa menjamin kau hidup berkecukupan. Paham?
"Aku..." Amanda menatap lekat wajah Ammar, bergantian menatap wajah Hamdan yang terlihat pias. "Aku, ingin mengizinkan suamiku menikah lagi..."
Hallo, readers setia Infidelity! 🤍
Selamat beraktivitas!
__ADS_1
Jangan lupa support author dengan cara like, comment, dan vote cerita ini!
Terima kasih.