Infidelity

Infidelity
Chapter 45


__ADS_3

Tidak jauh berbeda dengan kondisi Mira, tubuh Erine pun ikut mematung, "Mas Ammar!" Ujarnya mengalihkan pandangan ketiga orang yang berada di ambang pintu.


🕸🕸🕸


"Apa yang kau lakukan di sini?!" Tanya Mira dengan sorot tajam.


"Tante. Ini ayahku, ayah Alin dan Kak Alan." Ujar Alin mengecup pipi Ayahnya.


"Alin. Dia tidak pantas kau sebut ayah. Pria ini hanya seorang baj—,"


"Mira!" Tegur Erine tegas. "Alin belum mengerti apapun. Jangan katakan hal buruk yang belum ia mengerti."


"Terserah! Kau tidak akan mendengarkan ku, bukan? Lakukan sesuai keinginanmu, Rin." Ucap Mira kesal berlalu pergi meninggalkan Erine, Alin, dan Ammar


Erine menghela nafas kasar, "Alin. Cepat masuk dan kembali berkumpul bersama kakakmu." Perintah Erine.


Alin menggeleng cepat, "Tidak, Bunda. Aku ingin bersama ayah."


"Alin. Jangan membantah Bunda lagi. Segera kembali kedalam!"


"Tidak, Bunda!"


Erine hendak mengambil paksa Alin yang berada dalam gendongan Ammar, "Hentikan! Kamu bisa menyakitinya, Rin. Mas tidak akan mengganggumu. Mas hanya ingin memastikan anak-anak dalam keadaan sehat."


"Bullsh*t!! Kau tidak berhak mengetahui perihal anakku, Mas. Tanpa kau hadir di hadapan mereka, mereka bisa tumbuh dengan baik. Kau lihat? Mereka tidak kekurangan apapun!" Tukas Erine tak senang mendengar perkataan Ammar.


"Itu hanya pemikiran mu saja! Bagaimana dengan perasaan mereka?!"


Erine tertegun atas kebenaran yang Ammar ucapkan.


"Bunda... Kenapa telus memalahi, Ayah? Saat belsama Om yang belada di dalam, Bunda tidak pelnah memalahinya. Padahal, kami benal-benal tidak menyukai dia." Ujar Alin polos.


Ammar menautkan alis bingung, "Seorang pria dewasa memasuki apartemen ini, Alin? Dan Bunda tidak melarangnya?" Tanya Ammar dan menatap Erine dengan alis sedikit terangkat meminta penjelasan.


"Hm... Tubuhnya besal, Ayah. Solot matanya juga tajam, dia tidak jelek... Tapi tetap Ayah yang paling tampan."


"Alin. Berhenti." Erine memijit pangkal hidungnya yang terasa pusing. "Bisa kau pulang sekarang, Mas?! Ini bukan rumahmu. Kau tidak bisa berbuat sesukamu. Kuharap kau paham maksudku."


"Aku tidak akan pergi. Kenapa kau tidak mengajakku masuk saja. Kau mengundang pria asing, kenapa tidak berani membawa pria yang jelas kau kenal untuk masuk ke apartemen mu?!"


"Kau mengatakan apa? Pria asing, ha? Kau seharusnya membeli cermin untuk berkaca. Kau dan aku sudah lama menjadi asing. Jangan mengira aku menganggap mu sesuatu yang penting!"


"Bunda. Aku juga ingin menyuapi ayah kue. Ayo kita segela masuk, Bund. Jangan mendebatnya lagi. Please..." Bujuk Alin yang mulai jengah.


"Alin apa yang kau katakan? Kita tidak bisa membawanya kedal—,"


Tiba-tiba kedatangan Alan menghentikan ucapannya, "kenapa kalian begitu lam—Ayah?"


"Hallo, boy! Kau merindukanku? Kemari lah!" Ujar Ammar merentangkan sebelah tangannya yang lain meminta Alan untuk masuk dalam rengkuhannya.


Alan berpikir sejenak. Entah apa yang ia pikirkan hingga memutuskan mengikuti perkataan Ammar. Erine yang melihat interaksi ketiganya melongo tak bisa percaya. 'Apa yang pria b*jing*n  ini berikan pada anakku!' rutuknya dalam hati.


"Bagus sekali! Kalian benar-benar ingin membunuhku rupanya. Kalau begitu  lebih baik kalian pergi saja! Jangan mempedulikan ku lagi!" Sergah Erine saat amarah menguasai sepenuhnya.


"Erine. Jangan salahkan mereka, Mas tidak akan merebut anak-anak darimu! Mas, janji!" Jujur Ammar.


"Bunda..." Alin menatap penuh permohonan.


"Terserah kalian. Bunda tidak akan mengurusi keinginan bodoh kalian." Ujar Erine meninggalkan ayah dan anak yang saling melempar pandangan.


"Ayah..."


"Ya?!" Tanya Ammar menatap bingung Alan.


"Bisa tulunkan aku?! Aku bukan anak kecil sepelti Alin yang halus telus digendong."


Ammar mengangkat sedikit sudut bibirnya. "Kalian hanya beda beberapa menit, Nak. Jangan menganggap dirimu jauh lebih tua."


"Tepat sekali, Ayah. Kakak selalu melasa tua. Sungguh menyebalkan!"


Ammar tersenyum hangat, namun tetap menuruti keinginan Alan yang tidak mau berlama-lama dalam gendongannya.

__ADS_1


"Masuklah. Seseolang menunggu kita. Apa ayah sudah mendapatkan inpolmasi tentangnya?"


"Hm... Apa dia pria yang sama?" Tanya Ammar menatap Alan.


"Ya. Dia plia yang sama."


Alin menautkan alis bingung. "Hei! Apa yang kalian bahas. Aku sungguh tidak paham."


"Alan merapikan anak rambut Alin, "Alin. Bisa lakukan sesuatu untuk Ayah?"


"Ya. Tentu! Apa ayah dalam masalah?"


"Tidak. Hanya bantuan kecil, jangan tinggalkan Bunda. Bisa Alin terus bersama, Bunda? Ayah berjanji akan menyusul nanti."


"Sungguh?! Ayah tidak membohongi ku?!"


"Yes, I promise."


"Baiklah." Alin mengecup pipi Ammar dan kembali berlari kedalam meninggalkan ayah dan juga kakaknya.


"Dari mana kamu menyadarinya, Alan?!"


"Tidak sulit. Aku melihat noda dalah di sepatu plia itu. Bahkan samal-samal aku mencium bau dalah belcampurl aloma palfumnya." Ujar Alan bersandar di kusen pintu yang masih terbuka.


"Kau bisa melakukan itu?!" Tanya Ammar tak percaya.


"Bisa kita ke intinya, Ayah? Aku sedang tidak ingin membahas yang lainnya."


"Kau benar-benar putraku." Ammar mengusap rambut Alan namun dengan cepat Alan menipis tangan ayahnya.


"Aku tidak belsungguh-sungguh menelimamu, Ayah. Kau tetap plia yang telah melukai perasaan Bundaku. Aku tidak akan melupakannya." Ujar Alan dengan sorot tajam.


Ammar menghela nafas berat. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sungguh tidak ingin melukai Bunda mu." Ammar menyelami sorot tajam putranya, sesak terus menjalari hatinya."Sekarang bisa kita masuk kedalam? Biarkan Ayah bertemu langsung dengannya. Kau akan mengetahui siapa pria itu, tanpa harus  ayah jelaskan."


"Ikut aku!"


"Tunggu." Ammar mengeluarkan sebuah smartwatch dari saku celananya, meraih tangan Alan dan memasangnya dengan cekatan. "Kedepannya, gunakan ini untuk menghubungiku. Mengerti?!"


"Ya. Apa ini hanya untukku?"


Ammar tertawa ringan. "Aku sudah menyiapkan satu lagi untuk peri kecil itu."


Alan mengangguk paham, berjalan lebih dulu membiarkan Ammar mengikutinya setelah menutup pintu apartemen.


🕸🕸🕸


Suara tawa Mira terdengar nyaring, entah apa yang sedang di tertawakan wanita itu. Bukankah tadi ia sempat berada dalam mood yang buruk? Ternyata tidak sulit untuk mengembalikan suasana hatinya.


Erine hanya diam sambil mengusap rambut Alin yang fokus mengunyah kuenya. Tidak ada percakapan, Erine yang termenung sedikitpun tidak menyimak candaan yang Daffin lontarkan pada Mira.


"Apa kami melewatkan sesuatu?!" Tanya Alan dengan menggandeng tangan Ammar.


Daffin menatap Ammar dengan sorot tajam yang sulit Alan cerna. Namun, aura mengintimidasi yang cukup ketara bisa ia rasakan. 'apa yang terjadi?!' pikir Alan.


"Kenapa kau masuk?!" Tanya Mira kesal.


"Aku yang membawanya. Tidak ada larangan untuk anak beltemu ayahnya, Tante. Jadi, telimalah kedatangan ayahku." Ujarnya santai.


Erine mengurut pangkal hidungnya saat rasa sakit semakin menusuk kepalanya. Bagaimana tidak, melihat Ammar berada dalam apartemennya sungguh sebuah keajaiban yang tidak pernah ia harapkan.


"Kau di sini, Daf—ah... maksudku. Kakak ipar!!" Ujar Alan dengan senyum meremehkan.


Erine membulatkan mata sempurna begitu juga Mira. "A—apa maksudmu?! Kakak ipar?! Siapa yang kau maksud kakak ipar mu?!" Tanya Erine tak percaya.


Ammar membawa tubuh Alan dalam gendongannya, menatap netra coklat Alan yang serupa dengan dirinya. "Apa lagi... Jika bukan kau dan Mira, tentu  pria itu. Bukan begitu Dotay? Oh Tidak... Maksudku, Daffin." Ujar Ammar masih fokus menyelami netra anaknya.


Daffin menaikkan satu sudut bibirnya, mata yang sejak tadi terbuka tak bisa menutupi rasa ingin membunuh Ammar yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan di apartemen wanita lain, Ammar. Bukankah kau masih suami adikku, hm?!" Sindirnya telak.


"Bukan berarti aku tidak punya hak untuk menemui anakku. Dan kau, apa tujuanmu datang kemari?!" Tanya Ammar menatapnya tajam.

__ADS_1


"Menemui calon istriku. Apa kau keberatan dengan itu?!"


Mira menautkan alisnya, melirik Erine yang juga merasa pembahasan keduanya terdengar abstrak sulit untuk mereka pahami.


"Calon istri? Siapa calon istrimu, Daf?!" Tanya Mira penasaran, karena hanya ia dan Erine di sana.


"Erine!" Ujarnya masih menatap lekat kearah Ammar.


"Apa maksudmu?!" Tanya Erine syok. Berbeda dengan Mira yang mematung di tempat.


Ammar terkekeh mendengar kalimat yang baru saja Daffin ucapkan. "Kau?! Kau ingin menikahinya? Kau bercanda, Daffin. Apa tujuanmu sebenarnya?! Cepat katakan!" Tanya Ammar menuntut jawaban.


Daffin berdiri dari duduknya, tidak ada lagi senyum ramah yang biasa ia tunjukkan, "apa urusannya denganmu? Kau terlalu mencampuri urusanku, Ammar. Ada baiknya kau pulang dan fokus menemani istri dan anakmu."


Alan menatap wajah Ammar dan Daffin bergantian. "Kau sungguh ipar ayahku, Om?"


"Benar! Tapi, tunggu. Bisa kalian jelaskan sesuatu. Mengapa kalian hanya memanggil namanya?!" Jawab Ammar tanpa menunggu jawaban dari Daffin yang tampak menahan emosi.


"Sepertinya kau dan aku perlu bicara empat mata, Ammar. Ayo ikut aku! Aku tidak ingin mengganggu acara mereka." Ujar Daffin beralasan.


Dengan cepat Alan menolak, "Tidak. Ayah tidak boleh pelgi, jika kau ingin belbicala maka belbicala saja. Ayah bisa mendengal mu sambil menjagaku!" Ujar Alan ikut menatap tajam Daffin.


'Good boy!,' bathin Ammar.


"Alan. Ini urusan orang dewasa. Anak kecil sebaiknya tidak ikut campur." Tekan Daffin.


Ammar menyentuh dagu Alan untuk menatapnya. "Aku sudah melihatnya cukup dewasa. Kenapa anakku tidak diizinkan mendengarnya? Kau takut rahasia mu terbongkar, Daffin?! Kau sungguh membuat putraku penasaran."


"Berhenti bercanda, Ammar!" Murka Daffin.


"Bisa kalian berhenti berdebat! Jika tidak, kalian bisa pulang sekarang. Jangan mengusik ketenangan kami. Kumohon, pergilah!" Ungkap Erine bermaksud mengusir.


"Ayah..." Alin yang sejak tadi diam mengamati berjalan mendekati, Ammar.


"Kenapa, Nak? Kau terlihat pucat."


Alin menggeleng namun terus menatap wajah kakaknya. "Kak Alan, benarkah itu?!"


"Ya."


"Sebaiknya kau segera pulang. Kau tidak dibutuhkan di sini." ketus Ammar.


"Kenapa harus aku? Kenyataannya, kaulah yang datang mengganggu!"


"Aku? Kau lupa. Kau dan adikmu yang telah mengacaukan seluruh kehidupanku. Kau sungguh tidak punya malu, Dotay!"


"Br*ngs*k! Berhenti membual si*l*n! Kau  yang tidak berhak berada di sini!" Ujar Daffin memberi sebuah bogeman mentah tepat ke wajah kiri Ammar.


Ammar dengan sigap melindungi kepala Alan yang berada dalam gendongannya menghindari pukulan yang salah sasaran.


"Hentikan!" Ujar Erine dan Mira berbarengan.


Erine bergegas mengambil putranya dari tangan Ammar. "Jika kalian datang hanya untuk mengacau, sebaiknya kalian pergi! Aku sungguh tidak ingin melihat salah satu dari kalian lagi. Jadi, silahkan kalian tinggalkan tempat ini sekarang juga. PERGI!" Usir Erine.


"Rin..." Ammar berusaha membujuk.


"Sudah ku katakan berulang kali! Pergilah! Kumohon, jangan usik hari tenang kami!"


Ammar menyerah. Ia berjalan mendekati Alin, merogoh saku celananya. Memasangkan smartwatch yang hanya berbeda warna dengan Alan. Tidak lupa ia memberikan sebuah kecupan pada kening Alan dan Alin sebelum berlalu pergi. Beberapa saat kemudian Daffin ikut menyusul kepergian Ammar meninggalkan apartemen Mira dengan amarah yang belum juga surut.



🕸🕸🕸


Happy reading!!♡


Haii readers, jangan lupa tinggalkan jejak yaa. Like and comment membantu semangat author untuk double update(❁'◡'❁)


Terima kasih.


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."

__ADS_1


__ADS_2