Infidelity

Infidelity
Chapter 44


__ADS_3

Hallo!! (ʘᴗʘ✿)


Sekedar pemberitahuan. Harap fokus mengamati setiap kata yang aku tulis ya. Jangan sampai terlewat dan kejebak sama teka-teki di dalamnya q(❂‿❂)p.


Cerita ini sendiri sengaja aku beri judul Infidelity yang artinya ketidaksetiaan.


Selamat menebak! ヾ(^-^)ノ


🕸🕸🕸


Flashback on.


Ammar baru saja sampai di kantor, perjalanan dari hutan tempat Roger bersembunyi menghabiskan waktu kurang lebih 7 jam perjalanan. Seperti biasa, Ammar selalu menjadi pusat perhatian. Namun, ia merasa aneh karena karyawan yang berada di sana memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan. Apa yang salah? Kepulangan cutinya yang begitu cepat?  Ini bukan alasan karyawan bisa memandang bos dengan tatapan mengintimidasi, kan? Sial.


"Apa yang kalian lihat?!" Tanya Ammar mengagetkan karyawan yang berada di sekitarnya. "Potong semua bonus mereka!" Ujar Ammar tegas melirik Arman dari sudut matanya.


"Baik, Pak!"


Tampak raut wajah cemas bercampur takut dari setiap wajah karyawan yang berada di sana. Kehilangan bonus sama dengan kehilangan setengah penghasilan mereka selama sebulan penuh.


Peringatan! Jangan pernah membangunkan singa yang sedang tertidur. Kalian paham, kan?


Ammar berlalu pergi menaiki lift meninggalkan Arman yang mendekati salah satu karyawan wanita bername tag Nagita Putri untuk mencari tau apa yang sedang terjadi.


"Yang lainnya silahkan bekerja! Dan kau, tetap tinggal." Ujar Arman tegas menatap lekat mata lawan bicaranya.


"Ke—kenapa?" Tanyanya takut.


"Apa yang terjadi?! Kenapa semua orang terlihat aneh pagi ini?!"


"A—apa? Ti—tidak. Tidak terjadi apapun. Itu hanya perasaan mu saja."


Arman semakin menajamkan pandangannya, menusuk retina wanita yang berdiri tepat di hadapannya dengan tubuh gemetar menahan ketakutan.


"Kau katakan sendiri! Atau..."


"Sungguh. Tidak terjadi apapun. Kau bisa menanyakan pada yang lainnya untuk memastikan jawabanku."


Arman meregangkan otot lehernya yang terasa kaku, "huuft... Aku tanya sekali lagi!. Apa yang sebenarnya terjadi?!"


"Kenapa kau hanya bertanya padaku?! Aku sungguh—"


Arman merogoh saku celananya, mengambil headset bluetooth dan menghubungkan panggilan pada seseorang di sebrang telepon.


"Ambil data atas nama Nagita Putri. Hapus dari daftar karyaw—."


Wanita itu terduduk di lantai, tidak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. "Tidak. Jangan lakukan itu, Pak. Akan ku katakan. Kumohon, jangan pecat aku." Ujarnya dengan berlinang air mata.


"KATAKAN!"


Nagita mengambil ponselnya, memberi akses untuk Arman melihat berita yang baru saja mereka gosipkan.


Arman mengernyit bingung, "what the f*ck?! Siapa yang membuat artikel bodoh ini, ha?"


"Aku tidak tau! Kami baru melihatnya pagi ini." Ujatnya jujur.


"D*mn." Arman melempar ponsel tersebut tepat di atas tas kerja Nagita yang sejak tadi berada di lantai dan dengan cepat berlalu pergi menyusul keberadaan Ammar.


Flashback off.


🕸🕸🕸


Ceklek.


Pintu terbuka. Menampilkan sesosok pria bertubuh tinggi dengan stelan casual. Erine menautkan alis bingung menatap pria di hadapan.


"Daffin?"


"Hai, apa aku mengejutkan mu? Maafkan, aku." Ujarnya canggung.


Erine menggeleng pelan, "Bagaimana kau tau apartemen ini? Aku rasa, Mira tidak pernah mengatakan alamat tempat tinggalnya kepada siapapun—kecuali keluarganya." Ujar Erine menyelidik.

__ADS_1


Daffin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedikitpun, "Kamu lupa, Rin? Aku mengantarkannya pulang beberapa hari lalu. Ku harap jawaban ini bisa membuatmu tidak terlalu berhati-hati dengan kehadiranku."


Erine mengusap wajahnya pelan, "astaga... Maafkan aku, tidak seharusnya aku mencurigaimu." Ujar Erine merasa bersalah.


"Bukan masalah besar, anggaplah aku sebagai temanmu. Aku senang bisa mengenal wanita sepertimu, kau orang yang aku cari."


Erine menyipitkan matanya, perkataan Daffin terdengar ambigu di telinganya. "Maksudmu? Aku sungguh tidak paham arah bicara mu, Daf."


Daffin menggeleng samar, "bukan apa-apa. Di mana Mira? Jangan katakan wanita itu belum juga bangun."


"Untuk kali ini, kau salah menebak, Daf. Kau bisa masuk, aku rasa wanita itu sudah melihat kedatangan mu." Ujar Erine mempersilahkan Daffin masuk.


Mira bangkit dari duduknya berjalan menyambut kedatangan Daffin yang cukup mengejutkan. Tidak ada angin tidak ada hujan pria ini mendatangi apartemennya.


"Daffin? Apa yang membuatmu datang kemari?" Mira melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. "Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin bertemu Erine dan kedua anaknya." Ujarnya dengan senyum lembut.


Erine mengernyit bingung, berbeda dengan Mira yang terlihat sedikit canggung.


"Bertemu aku dan anak-anak? Yang benar saja." Ujar Erine tidak percaya, melirik Mira sekilas.


"Kenapa ingin beltemu dengan kami? Kami tidak memintamu datang, Om." Ujar Alin menatap tak suka pada Daffin.


"Alin—" Ujar Erine terpotong.


"No, problem. Mereka hanya belum mengenalku. Aku bisa mengenalkan diri lebih dulu, bukan?" Tanyanya dengan kerlingan mata.



Alan dan Alin mendengus kesal, tidak ingin menjawab juga tidak bisa menolak permintaan Daffin. Melihat mata Erine sudah melotot tajam membuat nyali mereka memudar.


"Daffin, kemarilah. Aku kenalkan kalian. Alan dan Alin hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu. Kalian masih punya banyak waktu untuk pendekatan." Ujar Mira menuntun Daffin mendekati Alan dan Alin.


Daffin menurunkan badannya tepat di hadapan Alan dan Alin, mensejajarkan tinggi mereka. "Perkenalkan. Nama Om, Daffin Athaya. Panggil saja Om Daffin." Ujarnya mengulur tangan.


Alin melirik abangnya, kemudian memberi tangannya untuk berjabat dengan tangan lebar milik Daffin.


"Alin. Dan ini abang saya, Alan." Ujar Alin dan melepas tangan itu dengan cepat.


Alan mendengus malas. "Tidak pellu. Kami sudah dapat banyak hadiah dari Bunda, Tante, dan... Ayah." Ujarnya melirik Erine yang tampak terkejut.


"Ayah?!" Tanya Daffin penuh selidik.


"Iya, Ayah. Ayah akan membelikan kami apapun. Jadi, Om tidak pellu lagi lepot-lepot." Ujarnya bangga sambil menggandeng lengan Alan.


"Wait-wait... Ayahmu, ha? Apa Tante tidak salah dengar? Ayahmu yang mana?" Tanyanya bingung sebab tidak mengetahui Erine dan kedua anaknya sudah bertemu Ammar.


"Ay—"


"Alin... Berhenti. Duduk yang benar. Kita halus melanjutkan acala makan kuenya." Ujar Alan cepat memotong ucapan adiknya.


Alin mengangguk antusias saat mengingat surprise dari Erine dan Mira belum selesai dilaksanakan. "Kau benal, Kak. Bunda, ayo kita foto belsama."


Erine mengusap keningnya, hampir saja Mira mengetahui tentang pertemuannya bersama Ammar beberapa waktu lalu. Alan sungguh anak yang cepat tanggap, penyelamat di saat genting. Pikir Erine.


"Baiklah, beri Bunda satu suapan yang besar." Ujar Erine semangat.


"Tidak. Itu tidak akan muat, Bunda." Tolak Alin.


"Kenapa tidak? Bunda bisa menghabiskannya. Sungguh."


Alin menggeleng cepat, "Tidak. Yang bisa hanya Tante, Bunda. Kalena mulut Tante sangat besal. Menguap saja bisa menghabiskan udala di lumah ini." Ujarnya tanpa memikirkan perasaan dan rasa malu yang Mira tahan.


"Astaga, apa yang baru saja kudengar. Kau mengatakan mulut ku besar, ha?! Bisa tidak jangan membawa namaku dalam pembicaraan ibu dan anak?!" Sungut Mira tidak terima.


Alin tergelak senang, "em solli, Tante. Hug me, please." Ujarnya dengan cengir kuda. Kemudian meletakkan piring kertas berisi kue dan merentangkan tangan berjalan kearah Mira.


Mira menatap malas melihat senyum yang terpatri di wajah Alin. "Bersyukurlah aku menyayangimu, kuncir. Kau beruntung hari ini." Ujar Mira membawa tubuh kecil Alin dalam dekapannya.


"Bisa kita lanjut?" Ujar Alan yang kehilangan semangat, tidak seperti tadi.


"Tentu. Tapi Alan, kenapa kau terlihat tidak bersemangat?" Tanya Mira bingung.

__ADS_1


"Ntahlah. Hanya sedang memikilkan plia bodoh." Ujarnya cuek.


"Pria bodoh? Temanmu? Sejak kapan kau memanggil orang dengan begitu buruk." Ujar Mira lagi. Erine hanya memperhatikan mimik wajah Alan yang terus muram.


Saat semua orang hendak beranjak mendekati meja kue, pintu apartemen kembali berbunyi. Kali ini bel pintu ditekan dengan tidak sabaran, hingga menimbulkan bunyi yang tidak beraturan.


"Oh, God! Kenapa apartemenku mendadak begitu banyak tamu yang ingin berkunjung." Ujar Mira kesal.


Erine hendak berdiri membuka pintu, kali ini Mira menahannya. "Biar aku saja. Alin, kamu ingin ikut? Kita lihat, siapa pengacau yang ingin mengganggu aktivitas kita pagi ini."


Alin mengangguk menyetujui, menggandeng tangan Mira hingga tepat berada di balik pintu apartemen.


"Tente, coba lihat. Siapa dilual." Ujar Alin meminta Mira mengintip dari door viewer.


Mira melakukan apa yang Alin katakan. Namun, alisnya tampak bertautan, hingga beberapa kali Mira mengecek untuk memastikan siapa yang berada di depan pintu apartemennya saat ini.


"Tante. Ada apa? Kenapa hanya diam? Apa itu seorang penjahat? Sungguh?!" Tanya Alin penasaran.


Mira menatap Alin, "Tidak. Bukan itu masalahnya."


"Lalu apa? Kenapa tante telihat bingung?"


Mira mengangkat tubuh Alin dan memintanya untuk melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan beberapa saat lalu. Alin mengikuti cara Mira mengintip dan melirik keluar.


"Tante... Cepat buka pintunya! Kumohon!"


Mira menautkan alisnya kembali. "Apa maksudmu? Kau melihatnya, Alin? Dan kau mengenalnya? Sejak kapan kau mengenal pria dewasa, Alin?" Ujar Mira tidak habis pikir.


"Lakukan saja. Buka pintunya, Tante. Alin mengenalnya."


"Kau mengenalnya? Aku hanya melihat punggungnya dan masih belum bisa mengenalinya. Tapi kenapa kau bisa..."


"Bisa kita buka pintunya dulu? Alin tidak ingin dia pelgi. Alin, mohon Tante!" Bujuk Alin.


Mira mengusap wajahnya pelan, "Baiklah. Kau benar mengenalnya, kan? Tante akan membuka pintu ini untukmu. Jadi, berhentilah memohon."


"Ya. Alin sangat mengenalnya. Sungguh."


"Kau melihat wajahnya?"


Alin mengangguk pasti, "belhenti beltanya! Cepat buka pintunya, Tante!"


Mira berhenti mendebat gadis kecil yang saat ini berada dalam gendongannya, tidak ada gunanya menolak saat ia bersikukuh ingin membuka pintu tersebut. Sungguh gadis yang keras kepala.


Mira menurunkan Alin, memutar handle pintu dengan pelan.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Mira membulatkan matanya sempurna menatap wajah pria yang kini berdiri tegap di hadapannya, sungguh wajah yang tidak asing baginya.


Dia... Ammar.


"Apa yang kau lakukan di apertemen ku?!" Tanya Mira sinis.


Berbeda dengan Alin yang langsung berhamburan kedalam pelukan ayahnya.


"Ayah, kau datang! Aku sungguh melindukanmu." Ujar Alin dengan polosnya.


"A—ayah? K—kau mengenalnya, Alin? Astaga..." Mira mundur beberapa langkah, keterkejutan membuatnya kehilangan keseimbangan.


Erine yang sejak tadi menunggu di dalam merasa penasaran, mengapa Mira begitu lama hanya untuk membuka pintu? Akhirnya ia memutuskan menyusul keberadaan Mira dan juga Alin.


Tidak jauh berbeda dengan Mira, kini tubuh Erine ikut mematung, "Mas Ammar!" Ujarnya mengalihkan pandangan ketiga orang yang berada di ambang pintu.



🕸🕸🕸


Jangan lupa like and comment ya...

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2