
Setelah acara makan malam yang berakhir kacau dan paginya yang juga ikut berantakan akibat kehadiran Karina. Kini Ammar memilih fokus pada pekerjaan serta menjauhkan diri dari sarapan pagi bersama keluarganya.
Ammar sama sekali belum mengecek ponselnya atau sekedar menanyakan keadaan Erine juga kedua anak mereka di Jakarta setelah ia terjerat jebakan Erine terakhir kali.
Bagaimana dengan Karina?
Siang ini, Ammar akan bersikap masa bodoh dengan tingkah Karina yang semakin menyulut emosinya. Senyum licik yang wanita itu tunjukan setelah melihat wajah kesal Ammar tampak memperjelas bahwa ia sengaja membangunkan singa di dalam diri Ammar.
Karina bangun sekitar pukul 10 pagi, seusai mandi ia langsung turun untuk sarapan pagi yang tertunda. Contoh wanita yang sangat tidak bisa diandalkan dalam rumah tangga.
Ammar tidak berpikir seorang istri harus pandai memasak, tapi pandai memasak suatu keunggulan baginya. Sedangkan Karina, ia wanita dengan kebiasaan bangun tidak pernah di bawah jam 10 pagi, tidak pandai memasak, juga tidak tau cara membersihkan rumah atau mungkin tidak berniat membersihkan rumah.
See? Kamar yang Ammar tempati sebagai contoh utamanya, wanita itu tidak sekalipun berniat membersihkan ranjang sekedar mengambil hati Ammar yang suka kerapian—sungguh berbeda dengan Erine.
Bukankah pandai dalam pekerjaan rumah salah satu taktik jitu meluluhkan suami jalur istri salihah? Mungkin Ammar terlalu memandang tinggi perihal istri idaman. Sedangkan Karina, sungguh wujud nyata wanita yang buruk.
Ammar meraih ponsel yang sejak semalam tidak tersentuh olehnya, rentetan pesan dan puluhan panggilan tidak terjawab memberi kerutan pada keningnya.
37 pesan baru, 2 chat.
17 panggilan tidak terjawab.
'Apa yang terjadi?,' pikir Ammar. Dengan cepat ia membuka pesan masuk tersebut, tertera dua nama pengirim pesan atas nama Arman dan yang satunya Erine, dua pesan dari Erine cukup untuk memacu adrenalin nya saat membuka isi pesan tersebut, mengabaikan 35 pesan penting yang Arman kirimkan.
Erine
Ayah, sesuatu yang buruk terjadi. Kamu tidak melupakan tanggung jawab sebagai ayah, kan? Ibu mengenal seorang pria, kurasa dia tidak baik. Bantu kami menyelidiki orang itu.
Jangan balas pesan ini, cukup lakukan keinginan kami. Terima kasih, Ayah.
11.46
Ammar yang semula bersandar malas di kursi kerja kini terduduk tegak, terlihat kedua bola matanya memancarkan binar bahagia. 'Mereka memanggilku ayah? Sungguh? Aku sungguh bahagia, Tuhan! Oh, thank's God!' Bathin Ammar dengan senyum merekah.
Selang beberapa menit, alis Ammar tampak bertautan, senyuman yang terlukis indah kian memudar.
Tunggu. 'Erine mengenal seorang pria? Benarkah? Siapa pria yang dimaksud anaknya? Kenapa tidak ada laporan apapun dari Arman?' pikir Ammar memberi banyak pertanyaan.
Ammar dengan cepat kembali membuka 35 pesan lainnya, yang sudah jelas dikirim oleh Arman.
Arman
"Pak, kabar buruk."
16.45
"Telah terjadi sesuatu di apartemen Nyonya. Seseorang mengawasinya sejak tadi sore. "
17.10
"Mereka bergerak dengan cepat. Nyonya mengalami teror malam ini, mereka juga mengirim ancaman pembunuhan."
00.37
"Qing Dotay sudah mengirim anggotanya menyerang Nyonya. Apa yang harus kita lakukan, Pak? Saya sudah meminta anggota inti untuk berjaga ketat dan lebih mendekat kelokasi Nyonya saat ini."
00.39
"Sepertinya, Qing Dotay juga mengenal Nyonya dan temannya."
01.05
"Pak. Apa yang harus kita lakukan? Apa kita mulai saja serangan balik?"
__ADS_1
01.06
"Pak..."
01.30
Ammar membaca setiap pesan dengan wajah merah padam. "God**mn it, I told you to stay there. Kenapa kau selalu tidak becus bekerja!" Maki Ammar menatap ponselnya.
Rahang Ammar tampak menegang, sorot mata elang membingkai sisi matanya, kepalan tangan membuat buku-buku jarinya memutih.
Ammar segera menghubungi Arman, bersiap mengambil kunci mobil hendak meninggalkan mansion tanpa berpamitan pada siapapun. Namun, kehadiran Hamdan yang berada di ujung anak tangga terakhir menghentikan langkah Ammar.
Sial.
"Ammar, kau ingin pergi?"
Ammar menuruni tangga dan menurunkan ponsel yang sejak tadi bertengger di telinganya. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Hamdan yang berada di ujung anak tangga.
"Ada sedikit masalah di Jakarta. Aku harus segera pergi."
"Masalah? Apa seserius itu? Apa Arman bekerja dengan buruk? Kau belum 24 jam berada di sini. Istirahat lah lebih lama."
"Aku harus turun tangan, Arman sudah cukup banyak membantuku. Kumohon, jangan persulit jalanku, Pa."
Hamdan menepuk lengan Ammar pelan, sejak kejadian 5 tahun lalu ia merasakan sikap dingin yang selalu ditunjukkan Ammar padanya. Tidak ada lagi kehangatan antara ayah dan anak, seakan hanya status keluarga yang tertinggal tapi sungguh terasa asing dalam satu waktu.
"Baiklah. Kau bisa pergi. Papa yang akan menjelaskannya pada Mamamu."
"Hm..." Ammar berbalik hendak pergi, namun suara Hamdan menahan langkahnya.
"Bagaimana kabar, Erine? Apa dia baik-baik saja, Nak? Bukankah dia sudah bebas?"
Ammar mengepal tangan erat, hingga buku-buku tangannya kembali memutih.
"Tidak lebih buruk dari yang kalian perbuat beberapa tahun lalu. Apa jawaban ini cukup?!"
"Berhenti, Pa. Aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat denganmu. Jangan pernah usik wanita itu lagi. Aku tidak akan memandang kalian jika itu terjadi untuk yang kedua kalinya." Murka Ammar menunjuk kearah Hamdan untuk tidak berbicara lagi. "Mungkin dulu kau berkuasa, tapi sekarang aku bukan badut sirkus yang bisa membuatmu tertawa melihat pertunjukan bodohku! Kuharap kau paham maksudku!."
Hamdan menghela nafas berat. "Maaf... Maafkan Papa, Nak. Pergilah. Papa, tidak lagi menahan mu."
Ammar berlalu pergi dengan langkah besar meninggalkan mansion orang tuanya. Menaiki Pajero Sport yang selama ini menemani perjalanannya.
Ammar yang sejak tadi sadar bahwa panggilannya dan Arman sudah terhubung meletakkan ponsel di atas dashboard mobil, mengambil headset bluetooth dari dalam laci dashboard dan memasang ke lubang telinganya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, haa?" Tanya Ammar tanpa basa-basi.
"Seseorang telah mengancam Nyon—" Ucap Arman terpotong.
"Aku tau, itu! Maksudku apa yang terjadi pada mereka? Kau melindungi meraka atau tidak?" Hardik Ammar.
"Maafkan saya, Pak! Saya sungguh menyesal. Mereka dalam keadaan baik-baik saja."
Ammar menekan kuat stir mobil saat tiba di lampu merah, "kenapa bisa terjadi hal seperti ini, Arman. Apa anak buah bodoh mu itu tertidur?"
"Maaf, Pak. Kami melakukan sesuai perintah, Anda. Kami tidak berani mendekati wilayah Nyonya hingga melewati batas yang Anda perintahkan."
Ammar berdesis. "Jadi... Kau menyalahkan ku, haa? Kau akan membiarkan pembunuh itu menjalankan aksinya dan tetap tidak melakukan apapun? Benar begitu?!" Jeda Ammar, menarik nafas cukup panjang dan membuangnya perlahan. "Kau sudah tidak sayang nyawamu, Arman? Kalau begitu kau pergi mati saja! Jangan mengikutsertakan keluarga kecilku!" Cerca Ammar kemudian.
"Tidak, Pak. Maaf. Sungguh maafkan, saya! Saat itu kami sedang berusaha memancing mereka untuk memakan umpan."
"Kau menjadikan Erine sebagai umpan? Benar begitu maksudmu?!"
'Oh, ****! Kau sungguh bodoh Arman!' rutuk Arman pada dirinya sendiri.
"I—ini hanya untuk menunjukkan wujud mereka, Pak. Kami tidak bermaksud mencelakai Nyonya."
"Aaghh.. Bren***k kau, Arman. Kau bisa menakutinya sekaligus membunuhnya!. Bagaimana jika anak-anak tau dan kau membuat anakku trauma. Apa kau tidak memikirkannya?!"
__ADS_1
Arman menahan nafas, ia melupakan efek yang akan ditimbulkan dari rencananya kali ini. Ia bertindak gegabah dan kembali menyulut emosi tuannya.
Astaga!
"Ini keteledoran saya, Pak! Saya tidak memikirkan dampaknya. Saya sungguh menyesal! Mohon ampuni, saya."
"Kau selalu mengecewakanku, Arman! Apa kau sungguh berniat membantuku atau mencelakai ku? Apa kau ingin berkhianat sekarang?!" Tanya Ammar penuh selidik.
Terdengar nafas memburu dari sebrang telepon. "Saya tidak akan pernah mengkhianati anda, Pak! Itu janji saya!"
Ammar menghela nafas lelah. "Akan ku pegang kata-katamu, Arman! Jangan mengecewakanku lagi... Baiklah, kita tidak punya banyak waktu. Kita sudah harus menemui orang itu. Kau siapkan beberapa pengawal perketat sekitar Erine. Dan sisanya ikut aku ke hutan itu!" Ujar Ammar terjeda sesaat. "Oh, ya. Minta Ires menyusun ulang jadwal ku selama sebulan ini. Aku akan mengambil alih pertempuran!"
"Baik, Pak!"
Ammar terdiam beberapa detik. "Apa akhir-akhir ini Erine memiliki kenalan seorang pria? Kau tahu siapa pria itu?" Tanya Ammar tiba-tiba.
"Untuk itu, anda harus melihat data baru yang kami temukan, Pak."
"Apa maksudmu? Kenapa tidak kau jelaskan saja? Aku sungguh tidak ingin bertele-tele."
"Ini..."
🕸🕸🕸
"Bunda! Kenapa kita makan di tempat ini?" Tanya Alin menatap sekitar yang terlihat padat pengunjung.
"Bukankah ini terlalu berisik, Bunda? Alan sungguh tidak nyaman." Jujur Alan ikut menimpali adiknya.
Erine menggaruk dagunya yang tidak gatal. "Hanya ingin suasana baru. Kalian harus sering berbaur. Bukankah ini bagus untuk melatih jiwa sosial kalian?"
Alan berdesis. "Berhenti membual, Bunda. Cukup Alin saja, Bunda jangan."
Alin menjewer telinga Alan dengan cukup keras hingga menimbulkan bekas merah. "Aahh... Sakit, Alin! Hentikan itu!"
"Rasakan! Kau dulu yang mengejekku, Kak. Sudah jelas aku tidak ngusikmu! Kau yang memulainya. Kau menyebalkan!" Ujar Alin dengan memajukan bibir bawahnya.
Alan mengusap telinganya yang memerah, "macan betina!"
"Kakak!" Pekik Alin mengalihkan tatapan beberapa orang di sekitar mereka.
Erine mengusap keningnya saat pusing mendera kepalanya, "Alan, Alin. Ini bukan apartemen, jadi berhenti berdebat. Jadilah anak manis, mengerti?" Ujar Erine menasehati.
Alan dan Alin mengangguk paham mematuhi ibunya, mereka memilih menu makanan dengan tenang. Hingga makanan tersaji sempurna di atas meja makan.
Waktu terus berlalu, hingga makanan yang mereka pesan habis tak bersisa. Erine sengaja membawa anaknya ke sebuah restoran yang padat pengunjung. Menghindari niat buruk orang yang mengancamnya tadi malam.
Erine juga takut untuk kembali ke apartemen, mengingat ia hanya tinggal bertiga saat ini. Bagaimana jika pembunuh itu menerobos pintu dan membunuh mereka?
'Oh, d*mn it! Kenapa hidupku harus serumit ini?! Apa kebahagian begitu mustahil untukku raih, haa?! Si*l!' rutuk Erine dalam hati.
Erine menggeleng cepat, ketakutan terasa semakin mencekik. Dengan segenap kekuatan yang tersisa Erine berusaha tenang menghindari kecurigaan yang akan membuat anak-anaknya ikut dilingkupi perasaan cemas berlebihan.
🕸🕸🕸
Happy reading!
Hari ini aku udah dua kali nulis ulang karena tiba-tiba aja ketikan aku hilang,-
kebayangkan gimana kerja otak saat ini kan? Alhamdulillah selesai juga.
Jangan lupa terus dukung author dengan cara like, comment, dan vote.
Terima kasih🤍
__ADS_1