Infidelity

Infidelity
Chapter 48


__ADS_3


🕸🕸🕸


Erine menggantikan larinya dengan langkah cepat saat berada di keramaian. Sorot matanya kian tajam melirik seluruh penjuru bandara. Berharap Alan dan Alin hanya tersesat tidak benar-benar diculik.


Hingga kaki tersebut membawanya berhenti tepat di depan staf pusat informasi bandara. Erine menghapus air mata yang terus menggenangi wajahnya.


'Tenang, Rin. Kau harus tenang, mereka belum tentu benar-benar diculik. Itu hanya praduga mu saja... Berhenti berpikiran buruk.' Erine membatin.


"Permisi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang staf wanita dengan ramah.


"Begini. Nama saya Erine. Bisa anda membantu saya membuat sebuah pengumuman panggilan? Ini... Urgent."


"Maaf, Bu. Bisa jelaskan masalah ibu terlebih dulu. Mungkin saya bisa membantu setelahnya."


Erine mengangguk singkat. "Saya... Saya kehilangan anak-anak beberapa saat yang lalu. Mereka menghilang setelah berpamitan pergi ke toilet dan tidak kunjung kembali," Erine merogoh tas selempangnya mengambil ponsel dan memperlihatkan foto Alan dan Alin. "Pesawat yang kami tumpangi akan segera take off. Bisa anda membantu dengan membuat sebuah pengumuman panggilan? Saya benar-benar mengkhawatirkan keberadaan mereka. Tolong bantu saya untuk ini. Saya sangat takut jika mereka tersesat." Ujar Erine penuh harap.


"Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar. Akan saya bantu membuat sebuah pengumuman panggilan."


Erine meremas jemarinya dengan kuat, kecemasan sungguh mencekiknya secara perlahan. 'Tuhan... Tolong selamatkan Alan dan Alin di manapun mereka berada. Pertemukan kami segera, jangan biarkan apapun melukai mereka, kumohon.' Pinta Erine dalam hati.


Sudah lebih dari 15 menit sejak pengumuman dibacakan oleh staf wanita tersebut. Pesawat yang hendak Erine tumpangi bersama Alan dan Alin sudah take off beberapa waktu lalu. Namun, ia tidak juga melihat tanda-tanda Alan dan Alin mendatangi mereka.


"Bu, apa bisa mengulanginya sekali lagi? Mungkin mereka tidak mendengar panggilan sebelumnya. Kumohon. Atau bisa Anda izinkan saya mengecek cctv?"


"Baik, Bu. Akan saya coba sekali lagi. sepertinya anak ibu tersesat. Untuk mengecek cctv itu tidak wewenang saya untuk memberi izin, ibu bisa bertanya kebagian pengawas cctv."


Erine mengangguk cepat, "Baiklah... Bisa anda beri tahu di bagian mana letak pengawas cctv-nya, Bu?" Staf tersebut menunjuk kearah kanan Erine.


"Ibu, bisa lurus dari sini. Tidak jauh dari eskalator itu sudah ada staf yang berjaga. Ibu bisa bertanya letak ruang pengawas cctv padanya." Ujar Staf wanita itu menjelaskan.


"Baik. Terima kasih, Bu."


Erine berlari cepat, keringat terus mengucur dari pelipisnya, langkah Erine semakin dekat menuju staf yang terlihat melayani seorang wisatawan asing.


Di lain tempat, Mira mencari Alan dan Alin dengan menggunakan ponselnya menunjuk foto mereka pada setiap orang yang melewatinya. Namun nihil, mereka hilang bak ditelan bumi tidak dapat ditemukan sama sekali.


"Permisi. Maaf mengganggu waktumu, apa anda melihat anak-anak ini di sekitar sini?"


"Maaf. Kami tidak lihat."


"Oh, baiklah. Terima kasih."


"Permisi. Maaf, apa kalian melihat anak ini?"


"Tidak."


"Baiklah. Terima kasih."


Mira terus berjalan mengitari kerumunan, hingga ia melihat Erine yang sudah berwajah pucat berlari cepat kearah eskalator. Dengan langkah lebar Mira mengikuti arah lari Erine.


"Rin! Erine!" Panggil Mira namun tidak mendapat respon sama sekali.


Mira mencoba dengan terus berlari hingga berada tepat di samping Erine. "Kau sudah menemukannya?" tanyanya sedikit ngos-ngosan.


"Tidak. Aku sudah meminta bantuan. Tapi masih belum menemukannya. Apa yang harus aku lakukan, Mir?! Aku sungguh ingin gila."


"Tidak. Kita pasti bisa menemukan mereka. Kau jangan lupa, Alan dan Alin anak yang cerdas, Rin. Mereka pasti bisa menemukan kita."


"Bagaimana jika mereka bukan tersesat tapi di culik?! Apa mungkin mereka bisa menemukan kita?! Aku tidak bisa terus berpikir positif, Mir. Aku hanya ingin melihat wujud nyata mereka bukan sebuah praduga."


"Rin—"


"Jangan anggap segala hal mudah, Mir. Aku akan mengecek cctv untuk memastikan."

__ADS_1


Mira mengusap wajahnya, "aku ikut denganmu." Ujarnya mengalah.


Erine mendekati staf pria yang bertugas berjaga di sana. "Permisi, Pak. Apa saya bisa tau di mana letak ruang pengawas cctv?!"


Stap penjaga tersebut menautkan alisnya  heran. "Maaf ada keperluan apa, Bu? Ruang pengawas cctv tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang." Jelas staf penjaga tersebut.


"Saya mohon, Pak. Tolong bantu saya! Saya harus mengecek cctv untuk memastikan keberadaan anak-anak saya yang hilang. Saya kehilangan mereka sekitar setengah jam yang lalu. Mereka sama sekali tidak kembali setelah izin pergi ke toilet. Tolong saya, Pak..." bujuk Erine berurai air mata.


"Maaf bu, sudah peraturan bandara tidak mengizinkan orang luar secara bebas memasuki ruang pengawasan cctv."


"Aku kehilangan anakku! Kenapa kau tidak mengerti, ha?! Aku tidak akan masuk jika anak-anakku tidak hilang. Kau juga akan melakukan hal yang sama seperti yang aku perbuat jika anakmu hilang bukan?!" Ujar Erine tersulut Emosi.


Staf penjaga tersebut menghela nafas panjang. "Maafkan saya, Bu. Saya tidak berani melawan perintah atasan. Mohon mengerti posisi saya." Ujarnya merasa bersalah.


"Kami hanya ingin memastikan sebentar. Apa tidak bisa beri sedikit kelonggaran?" Tanya Mira masih mempertahankan ketenangannya.


Staf penjaga tersebut hanya bisa menggeleng lemah. Tidak bisa membantu lebih banyak.


"Biarkan mereka melihatnya!"


Sebuah suara dari arah belakang mengalihkan perhatian beberapa orang yang masih berada di bandara termasuk Erine, Mira, dan staf yang berjaga.


Erine membulatkan mata sempurna melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya tidak lain adalah sosok pria yang sangat ingin ia hindari. Siapa lagi jika bukan—Ammar.


Dan apa ini? Pengawal sebanyak ini? Astaga! Kelihatannya Ammar sungguh berniat membuat berita besar sepanjang masa dengan membawa sekitar 20 pengawal berjas memasuki bandara. See? Mereka sudah berbaris rapi di belakang tuannya.


"Apa mantan suamimu sudah gila?" Gumam Mira yang masih dapat di dengar Erine.


Erine hanya menggeleng kaku.


"Biarkan mereka mengecek cctv! Aku sudah mendapat izin untuk itu, kau tidak perlu menahan mereka lagi." Ujar Ammar dengan sorot tajam.


"Ta—tapi..."


"Ba—baik, Pak." Staf  penjaga tersebut menuntun Erine untuk mengikutinya. "Si—silahkan lewat sini, Bu." Ujarnya gagap merasa terintimidasi.


Erine masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa Ammar berada di bandara yang sama dengannya?. Mungkinkah Mira memberitahunya? Tidak, itu sungguh tidak mungkin. Mira tidak akan sudi melakukannya. Bahkan, Mira orang pertama yang akan senang mendengar ia berencana untuk menjauhi Ammar.


Kali ini. Erine sudah membulatkan tekadnya untuk memutus hubungan dengan Ammar. Bahkan memilih lenyap dari kehidupan mantan suaminya bersama Alan dan Alin.


Tapi bagaimana bisa mereka kembali bertemu? Apa yang terjadi sebenarnya? S**l! Erine lupa jika mereka terus berada dalam pengawasan Ammar.


Erine mengikuti staf penjaga hingga membawa mereka ke depan pintu sebuah ruangan bertuliskan 'Monitoring CCTV.'


Di dalam ruangan tersebut, terdapat 2 orang pengawas pria. Erine masuk lebih dulu, diikuti Mira, Ammar dan juga Arman. Saat berada di dalam, 2 orang pengawas tampak syok melihat Ammar berada di sana.


"A—ada yang bisa saya bantu, Pak?!"


"Temukan lokasi anakku terakhir kali!"


"Anakmu?!" Tanya salah satu pria sekitar usia 40 tahunan dengan bingung. Namun Erine dengan cepat memperlihatkan foto Alan dan Alin terakhir kali. "Ba—baik. Baiklah." Ujarnya cepat.


Pengawas tersebut memutar ulang rekaman cctv dari menit yang dikatakan Mira, karena posisi Mira yang berada bersama mereka terakhir kali.


Erine terus menangis menatap layar monitor yang menunjukkan saat Alan dan Alin di bekap dan di bawa pergi oleh 4 orang pria berbadan besar.


"Mir, mereka diculik! Mir..." Erine menangis terisak dalam pelukan Mira.


"Mereka pasti bisa kita temukan, Rin. Kau harus kuat. Okay?! Demi anak-anakmu. Kumohon."


"Tidak. Aku harus segera menemukan mereka. Bagaimanapun caranya, aku harus tetap berusaha."


"Aku tahu. Sekarang tenangkan dirimu dulu."


Ammar menahan sesak melihat kecemasan tercetak jelas di wajah Erine. Ia pun ikut merasakannya, setelah Arman melaporkan jika Erine akan melakukan penerbangan ke daerah palembang, Ammar sudah mengetahuinya sejak awal. Bukan hal sulit untuk menemukannya kembali setelah itu. Namun, berita jika beberapa orang menculik Alan dan Alin membuatnya murka.

__ADS_1


Tidak sulit bagi Ammar untuk mengetahui keberadaan anak-anaknya yang hilang. Sebab, Ammar selalu memantau pergerakan anak-anaknya melalui smartwatch yang ia berikan pagi tadi.


Lantas, mengapa Ammar tidak langsung menyusul ke tempat anaknya di culik? Bodoh. Karena ia harus lebih dulu memastikan siapa musuh yang mereka hadapi. Jika hanya sekedar penculik biasa, mereka bisa meminta tebusan dengan nominal uang. Namun, ini tidak sesimpel pikiran pembaca. Mereka menginginkan nyawa di antara dirinya, Erine, dan juga anak-anak mereka.


"Tahan. Perbesar layarnya!" Ujar Ammar menatap jaket yang mereka kenakan. "Godd*mn it! Kita sudah mengetahui dalangnya, jangan ada yang bergerak. Terus awasi setiap titik. Jangan ada yang bertindak gegabah sebelum aku perintahkan!!" Ujar Ammar pada Arman yang berada tepat di sampingnya.


"Mereka berada di rumah sakit terbengkalai di pinggir kota, Pak. Tidak jauh dari pelabuhan. Akan memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk kita sampai ke sana."


"Kita pergi!!" Ujar Ammar.


Erine melepas pelukan Mira. "Aku ikut denganmu!"


"Tidak. Aku tidak bisa membawamu, ini berbahaya. Kau bisa dalam masalah kapan saja."


Erine tetap kukuh pada pilihan awalnya. "Aku tidak peduli nyawaku! Aku ingin melihat anakku! Izinkan aku ikut bersamamu, kumohon!!"


"Rin... Biarkan dia yang melakukannya. Mereka hanya akan kesulitan jika kita ikut."


"Tidak, Mir. Aku tidak bisa duduk tenang sedangkan anakku menahan ketakutan di sana. Aku sungguh tidak bisa jika harus berdiam diri di sini."


Ammar mengusap wajahnya kasar, "Baik. Kau bisa ikut. Tapi  kumohon, jangan lakukan apapun tanpa perintah dariku. Mereka bukan lawan yang mudah untuk diatasi, mereka tidak menginginkan uang tapi nyawa di antara kita. Kau mengerti maksudku, kan?" Ujar Ammar menatap serius sorot mata Erine.


Erine mengangguk pasti. "Aku berjanji. Kumohon. Bawa aku bersamamu." Pintanya lagi.


Ammar mengangguk singkat. "Kau ikut bersamaku... Dan kau—ikut di mobilnya." Ujar Ammar menyuruh Mira mengikuti Arman.


"Kenapa harus pisah mobil? Kita bisa pergi bersama! Itu tidak akan mempersulit mu, kan?!"


"Aku tidak bisa melindungi dua nyawa dalam satu waktu! Kau akan lebih aman dalam penjagaannya!" Ketus Ammar.


Mira mendengus kesal. Sedangkan Erine masih terisak memikirkan nasib anaknya. Mengabaikan penolakan yang Mira lakukan pada keputusan Ammar.


"Kau bisa putuskan sendiri. Ikut atau tidak sama sekali." Ancam Ammar dengan sorot tajam.


"F*ck you!! Aku pergi dengannya! Jangan berusaha mencuri kesempatan dalam kesempitan. Kau mengerti maksudku kan?!"


"Kau tidak ada hak mengaturku!"


"Breng**k! Kau—"


"HENTIKAN!!. Bisa kita pergi sekarang?! Aku sungguh tidak ingin mendengar perdebatan kalian. Tolong fokus hanya pada pencarian kita saat ini!" Sergah Erine.


Mira mengalah begitupun Ammar yang turut menurunkan egonya. Mereka memilih diam dan memasuki mobil masing-masing. Berfokus pada tujuan utama untuk menyelamatkan Alan dan Alin.


Saat Erine sudah berada di dalam mobil Ammar. Getaran ponsel dari dalam tas selempang putih yang ia sandang menyentak kesadaran.


Private number is calling...




🕸🕸🕸


Hallo. Hallo. Hallo.


Selamat beraktivitas!


Gimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat. Aamiin.


Oh, iya. Akhir-akhir ini kondisi author lagi kurang fit. Mohon maaf untuk keterlambatan update. Dan sebagai informasi, beberapa hari ke depan author ada banyak kegiatan keluarga. InsyaAllah, sebisa mungkin author usahakan untuk tetap update.


Selalu dukung author dengan like, comment, and vote.


Thank you🤍

__ADS_1


__ADS_2