Infidelity

Infidelity
Chapter 37


__ADS_3


"Jadi... Kamu benar-benar mau pindah dari apartemenku, Rin?" Tanya Mira serius.


Ya. Pagi ini, selesai menghabiskan sarapan mereka. Erine menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan Jakarta, Alin sempat menolak namun tidak dengan Alan. Sebelum sempat Erine membujuk Alin, mereka sudah harus berangkat ke playgroup yang baru Erine daftarkan seminggu lalu.


Erine mengangguk pelan, membenarkan pertanyaan Mira. "Iya. Ini yang terbaik, Mir."


Mira lelah berdebat dengan Erine, sudah berapa kali ia meminta Erine untuk tetap tinggal, namun keputusan ada padanya. Mira tau, Erine juga memiliki alasan untuk meninggalkan apartemennya.


"Oke. Bukan hak aku buat larang kamu pindah. Tapi kalian mau tinggal di mana? Lagian ancaman kemarin malam belum tentu untuk kalian. Bisa jadi buat aku!"


Erine menggeleng atas ucapan Mira, "Itu untuk aku, Mir."


"Dari mana kamu tau, Rin? Tidak ada tanda-tanda kalau itu untuk kamu, kan? Kita sama-sama melihat kertas itu, hanya secarik kertas dengan sebuah ancaman."


"Mir, bisa kita tunggu Mas Dirga dulu? Nanti aku jelasin." Putus Erine.


Mira mengangguk pasrah, sepertinya sesuatu benar-benar sudah terjadi saat Erine berada di lantai bawah malam itu.


Alunan musik beat terdengar mengiringi langkah kaki Dirga saat memasuki cafe yang cukup terkenal di kota ini, dengan tampilan formal mendekati sebuah meja dengan kode No.07.


"Apa Mas terlambat? Rasanya, Mas sudah datang tepat waktu. Kalian sudah lama menunggu, hm?" Tanya Dirga yang mengambil alih duduk di samping adiknya, sedangkan Erine tepat di sebrang Mira.


"Tidak. Kami memang datang 30 menit lebih awal, Mas." Jawab Erine.


"Kenapa tidak mengangkat telpon ku? Kamu tau, Mas. Aku hampir mati ketakutan semalaman. Bahkan mataku tidak bisa terpejam dengan tenang." Ujar Mira kesal dengan bumbu kebohongan.


"Aku mendengar dengkuran mu sampai pagi, Mir. Bagian mana yang disebut tidak bisa tidur?" Ujar Erine kelewat santai.


Dirga tersenyum geli sambil mengusap kepala gadis 30 tahunan yang merajuk karena telponnya yang tidak diangkat.


"Maafkan, Mas. Okay?. Mas ada kerjaan dan ponsel dalam keadaan silent. Mas sungguh tidak menduga kalian dalam masalah tadi malam."


"Kerjaan apa? Itu pukul satu malam, Mas."


Dirga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hmm, itu... Kasus baru." Ujarnya asal.


Mira mendengus kesal mendengar jawaban Dirga. "Sudahlah. Sebut saja kau sedang bekerja keras memberiku ponakan. Apa sulitnya? Oh, iya. Cepat berikan ibu cucu, Mas. Aku bosan dituntut menikah dan memberikannya cucu. Apa ibu mengira aku mesin pencetak bayi? Sungguh ibu tidak memikirkan perasanku."


Erine menahan senyum melihat keharmonisan keduanya, keluarga yang selalu ia idam-idamkan, namun belum—tidak akan pernah ia dapatkan.


"Astaga, wanita macam apa adikku ini. Jadilah lebih lembut, jangan hanya penampilan yang berubah tapi tidak dengan sifat abstrak ini." Sindir Dirga.


"Kau—"


Erine memotong cepat perdebatan Mira dengan abangnya, "Sorry, But... Bisa kita bahas masalah yang sebenarnya?"


"Oke. Kamu benar, Rin. Katakan, apa yang ingin kalian sampaikan?"


Mira mendengus kesal, namun secepat kilat merubah mimik wajahnya dan menceritakan kejadian yang terekam dalam ingatannya.


Erine masih memilih diam, memberikan ruang untuk Mira menyelesaikan ceritanya, versi dari dirinya.


"Menurut Mas, apa yang harus kami lakukan? Kami sungguh takut jika ancaman itu benar-benar terjadi."


"Kalian ada menyinggung seseorang dalam waktu dekat? Mungkin hanya sekedar adu argumen atau tidak sengaja mencela dalam sebuah kegiatan tidak terduga, mungkin."

__ADS_1


Mira menggeleng tapi tidak dengan Erine. Dirga mengalihkan tatapannya, fokus pada raut wajah Erine yang tampak berpikir keras.


"Bagaimana dengan kamu, Rin? Semua baik-baik saja?"


Erine meletakkan tangannya di atas meja, jari telunjuk di tangan kirinya tampak mengetuk-ngetuk meja. Erine memikirkan jawaban yang pas untuk ia utarakan pada Dirga.


"Tidak terlalu baik, Mas. Mungkin benar-benar tidak dalam keadaan baik."


Dirga menatap guratan tertekan dari wajah cantik Erine, "terjadi sesuatu? Bisa kamu katakan padaku? Mungkin perkataanmu bisa membantuku menyelidikinya hingga tuntas." Ujar Dirga meyakinkan keraguan Erine.


"Malam itu... Aku melihat seseorang mengamatiku, dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dengan jas hitam dan dia memakai masker dengan warna serupa." Erine menggeleng sebentar, "Aku tidak merasa menyinggung seseorang. Tapi... Aku sempat melakukan sesuatu pada mantan suamiku. Seseorang mungkin mengetahuinya, dan mulai menargetkan ku."


Dirga mengusap wajahnya pelan, Erine sungguh nekat mengusik mantan suaminya lagi. Mengingat masalalu mereka berakhir dengan Erine yang hanya mendapatkan pengurangan masa kurungan tapi tidak terlepas dari jeratan kasus yang merusak namanya.


"Kenapa kau kembali mengusiknya, Rin? kamu tau, kan. Dia tidak bisa kita lawan dengan jentikan jari. Mereka bukan lawan sepadan, lebih baik kamu melanjutkan hidupmu dengan baik dan pergi menjauh dari orang-orang itu." Ujar Dirga tidak habis pikir.


"Mas, jangan salahkan Erine. Asal kau tau, aku juga terlibat di dalamnya. Bahkan aku pelopor utamanya."


Dirga menyentil kasar kening adiknya, "Aku sudah menduganya, Erine tidak akan terpancing gila jika bukan karena ulah mu."


Mira menatap tajam sorot mata Dirga, "Aku tetap adikmu. Kamu lupa, Mas?! Tingkahku buruk, karena baiknya sudah kamu ambil semua."


"Aku bersyukur untuk itu." jawab Dirga tanpa beban.


"Tapi, Mas..." Erine kembali menatap Dirga. "Aku tidak yakin jika ini ulah Mas Ammar."


"Apa maksudmu?" Tanya Mira dan Dirga berbarengan.


Erine menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, melipat tangannya sambil mengelus sebelah lengannya yang terbuka.


"Bisa saja dia sudah muak denganmu. Mungkin dengan tangan orang lain akan mempercepat semuanya. Kau jangan membelanya lagi, aku sungguh muak melihat kepedulian mu itu, Rin."


Erine menggeleng tegas, menolak pernyataan Mira, "ini bukan soal kepedulian, Mir. Ini tentang fakta! Aku tidak ingin pencarian kita sia-sia hanya karena prasangka. Masalah ini bukan masalah sepele!"


"Kenyataan apanya, haa?!" Bentak Mira.


"Bisa kalian jaga ketenangan? Kita bukan di rumah, sekarang..." ujar Dirga sambil memberi kode agar Mira dan Erine memperhatikan sekitar mereka yang tampak terganggu.


"Baiklah. Tapi itu hanya dugaanmu, kan? Apa buktinya? Kenapa kau begitu yakin?"


Erine menekan pangkal hidungnya, "saat aku memastikan keadaan di lantai bawah, aku menemukan secarik kertas lainnya. Di sana tertulis jelas namaku yang di buat menggunakan darah."


"Tidak membuktikan jika Ammar tidak ikut terlibat!"


"Bagaimana jika Ammar mengetahui rencana kita sejak awal?. Namun dengan bodohnya dia tidak menolak dan terus mengikuti permainan itu hingga akhir! Apa kau pikir alasan ini masih tidak masuk akal?"


"Jangan bercanda, Rin!"


"Aku tidak sedang bercanda, Mir. Aku tau dia selalu meminta pengawalnya menguntit ku. Tapi mereka berbeda, orang malam itu bukan suruhannya. Ini bukan perihal aku membela dia atau apapun. Ini tentang keselamatan kita semua!"


Dirga yang dari tadi mendengarkan tanpa berniat menyela menemukan sedikit informasi penting dari penuturan Erine barusan.


"Kau yakin itu bukan suruhan, Ammar?"


Erine mengangguk pasti.


"Ok... Kau ingat ciri-ciri lain dari pria misterius yang mengintai kegiatanmu saat berada di balkon kamar?"

__ADS_1


Erine berusaha mengingat dengan memejamkan mata, tampak kerutan menghiasi kening mulusnya. "Tidak. Dia berdiri di tempat yang cukup gelap. Aku sulit melihatnya."


"Apa kalian sudah mengecek kamera CCTV di depan apartemen?"


Erine menggeleng menatap Mira yang terlihat masih sangat kesal. "Kau seharusnya mengatakan kepadaku lebih dulu. Aku bisa mengeceknya untukmu saat itu."


Erine menghela nafas panjang, "Maafkan, aku. Aku bersalah untuk yang satu ini."


"Lupakan. Sekarang di mana Alan dan Alin?" Tanya Dirga yang baru sadar jika dua bocah cerdas itu tidak bersama Mira dan Erine.


"Mereka berada di playgroup, Mas. Aku baru mendaftarkan mereka seminggu lalu."


Dirga menegakkan posisi duduknya, memilih kata yang tepat agar tidak membuat Erine dalam keadaan cemas berlebihan.


"Untuk saat ini, bisa kau pastikan anak-anak dalam pengawasan mu, Rin? Aku tidak sedang menakuti mu. Maksudku—cepat atau lambat mereka akan mengetahui keberadaan Alan dan Alin. Atau mungkin, mereka sudah mengetahuinya sejak awal. Kau mengerti kecemasan ku, kan? Aku menyayangi Alan dan Alin seperti anakku sendiri. Bahkan aku ikut serta menjaga dan melihat pertumbuhan dua bocah itu. "


Erine menggigit kukunya panik, "Astaga... Kamu benar, Mas. Aku melewatkan tentang ini, aku sungguh melupakan hal seperti ini mungkin saja terjadi."


Mira ikut cemas dengan mimik wajah menegang, "Mas, sepertinya kami harus segera pergi."


Dirga mengangguk paham maksud adiknya, "pulanglah, aku tidak mengganggu kalian lagi. Kabari aku jika kalian menemukan informasi terbaru."


Erine mengangguk mengiyakan. "Tentu."


"Kalian pergilah. Biar Mas yang bayar pesanan kalian." Ujar Dirga mengajukan diri membayar pesanan Mira dan Erine yang mereka pesan sebelum kedatangannya.


Mira dan Erine bergegas meninggalkan halaman cafe menuju playgroup tempat Alan dan Alin bermain dan belajar secara non formal, berlokasi tidak jauh dari apartemen Mira.


"Mir, apa aku melakukan kesalahan lagi kali ini? Sungguh, aku bisa mati jika hal buruk terjadi pada anakku, Mir." Ujar Erine fokus menatap kemacetan.


Mira mendengus kesal melihat sebuah mobil dengan ugal-ugalan menyalip mobilnya. "D*mn! Kau buta, haa?! Jalanan sedang macet. Jangan bersikap seakan jalanan ini milik keluargamu!" Cerca Mira saat membuka kaca mobilnya, mengabaikan perkataan Erine.


Namun, saat kaca mobil orang yang ia maki diturunkan. Mira tertegun menatap wajah seseorang yang ia kenal berada di dalam kursi kemudi mobil tersebut.


"Mira?! Maaf. Maafkan aku, Mir."


"Daffin? tidak masalah. Aku juga minta maaf untuk yang barusan. Aku sedang terburu-buru, mungkin di lain waktu kita bisa berbincang." Ujarnya menatap jalanan yang mulai kembali kondusif.


"Apa terjadi sesuatu?" Ujar Daffin khawatir.


"Tidak, tapi aku sungguh harus segera pergi."


"Baiklah. Hati-hati! Tidak baik mengemudi dalam keadaan terburu-buru." Ujarnya setelah melihat raut wajah Mira dari balik setir kemudi.


Mira mengangguk singkat, menekan klakson mobil dan menancap gas membelah jalanan meninggalkan Daffin yang menatap kepergiannya.



🕸🕸🕸


Happy Reading!


Hari ini aku mau berbagi sedikit cerita. Jadi, aku daftarin karya aku disalah satu lomba tapi terus-terusan ditolak. Sedih? Tentu. Tapi aku percaya pasti bakal ada yang berhasil dan terus coba ikutin di event yang lainnya, Alhamdulillah masuk.


Pas aku teliti baik-baik kenapa yang awal bisa gagal terus menerus, akhirnya aku ketemu jawabannya. Ternyata, aku salah milih event. sedih nggak tu? Tapi tetap bersyukur, Infidelity masih bisa daftar di event lain tanpa kendala apapun.


Terima kasih untuk support kalian selama ini di cerita Infidelity, terus nantikan kelanjutannya 🤍

__ADS_1


__ADS_2