
"Dotay-Dotay, apa yang kau tunggu? Kenapa tidak langsung saja membunuhnya? Kau perlu berpikir rasional, Bung! Jika tidak dia yang mati, maka kita yang akan mati!."
Qing Dotay menatap Lotam tajam, "Apa yang kau tau, Lotam?! Aku tidak pernah berniat membunuhnya. Kau yang dengan sengaja menjebak ku seolah-olah aku pelakunya! Lagi pula, Karina bisa menggila jika mendengar bajing*n itu mati di tanganku."
"Bukankah ini mudah? Kau bisa menyuntik obat penghilang ingatan padanya! Kau terlalu pengecut, Dotay."
"Apa maksudmu, haa?! Lebih baik kau tutup mulut kotor mu!! Aku tidak akan pernah menyakiti adikku sendiri."
Lotam tertawa nyaring, "Kau mengatakan aku kotor? Di sini siapa yang lebih kotor, Dotay?! Kau atau aku, ha?! Kau mengorbankan nyawa ratusan anggota Red Blood demi obsesi gila adikmu itu! Apa kau pikir ini sebanding?!"
"F*ck*ng jerk! Get the f*ck out of here!"
"Kau hanya kacung berkedok pemimpin, Dotay. Kau berbatang tetapi tidak bertenaga! Kau sungguh pemimpin memalukan! Kau pria lemah! Kau memalukan sial*n!!" Ujar Lotam tersulut emosi.
Qing Dotay menarik kerah baju Lotam kasar, menghantam tubuhnya kuat hingga membentur dinding.
"Godda*mn it! Tutup mulutmu sial*n! Kau tak pantas menghinaku!"
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Beberapa bogeman mentah terus Qing Dotay berikan pada wajah Lotam hingga merobek sudut bibirnya, tetesan darah tampak mengalir hingga mengenai kaus putih yang Lotam kenakan.
Anggota inti Red Blood yang mendengar keributan di ruang kerja Qing Dotay mendobrak pintu dengan paksa karena pintu itu sengaja dikunci dari dalam.
Tepat saat Qing Dotay menodongkan sebuah pistol ke arah kepala Lotam, pintu tersebut terbuka lebar. Engsel pintu bagian atas nyaris tanggal dari kusennya, sedangkan bagian bawah sudah benar-benar terlepas—pintu yang malang.
Oh, Hell! Hampir saja Lotam kehilangan nyawanya, jika Genly tidak segera menarik mundur tubuh Qing Dotay yang sudah tersulut emosi.
"****!!! Kau ingin membunuhnya, ha?! Tahan emosimu!! " ujar Genly yang lebih dulu menerobos masuk
Lotam meminta yang lain menahan langkah untuk tidak mendekat padanya, akan berbahaya jika yang lain ikut campur dalam masalah yang memang sudah Lotam rencanakan sejak awal memasuki ruangan ini.
__ADS_1
"Kau hanya bernyali untuk membunuh anggota mu sendiri, kan? ! Kau tidak becus menjadi pemimpin, Dotay! Kau memalukan! Terlalu banyak masalah di luar, tapi kau hanya sibuk dengan urusan bodoh adikmu."
"Breng**k!!" Dotay kembali menghajar wajah hingga perut Lotam. "Kau yang memintanya, Lotam! Jangan salahkan aku berbuat kasar padamu!" sambung Qing Dotay kembali menghajar Lotam.
"Qing Dotay!! Kau tidak sedang bersama musuh mu! Hentikan kegilaan ini!! Apa kau sungguh ingin membunuh rekanmu sendiri?!" Ruban melangkah perlahan mendekati Dotay dan Lotam, yang tersungkur di atas keramik ruang kerja Qing Dotay dengan wajah babak belur.
"Apa yang kau inginkan, Lotam?! Kau ingin mengambil posisi ini sejak awal, bukan? Katakan jika kau menginginkannya!!" ujar Qing Dotay dengan raut wajah merah padam.
Lotam yang sejak tadi tidak membalas, tertawa lepas dengan wajah penuh luka memar. Bola mata hitam legam milik logam menyorot tajam bak elang mencari mangsa.
"Kau tidak layak menjadi pemimpin, Dotay! Kau tidak layak menggantikan Roger. Kau tidak perlu khawatir... Aku tidak berminat dengan posisi terkutuk mu!"
Qing Dotay melepas paksa tubuhnya dari Genly dan kembali menghajar Lotam dengan membabi buta. Lotam menghempas paksa tubuh Dotay hingga posisinya berada di atas tubuh Dotay. "Kau hanya saudara laki-laki yang menghancurkan hidup adikmu sendiri! Kau membalas dendam wanita yang tidak waras dengan memanfaatkan anak buah mu. Karina hanya memanfaatkan mu, dia tidak benar-benar sehat! Lebih baik kau bawa dia berobat dari pada menghabisi nyawa orang lain!! Dia hanya ingin kau menghancurkan wanita yang tidak bersalah, Dotay! Apa kau merasa pantas disebut pemimpin, haa?!! Hewan pun tidak akan sudi memiliki bos sepertimu!!"
"Brengs*k! Diam kau Lotam!!" pekik Qing Dotay di bawah tubuh Lotam.
Lotam menahan tangan Dotay yang memegang pistol, menghindari kecerobohan yang bisa saja Dotay lakukan.
Genly dan Ruban kembali memisahkan tubuh keduanya dengan cepat, mengambil Alih pistol yang berada di tangan Qing Dotay secara paksa.
"Apa yang kalian lakukan, breng**k?!! Kita satu tim, bukan lawan yang harus saling membunuh!!" Sergah Ruban menimpali.
"Lotam! Kau tahan emosimu! Ini bukan saat yang tepat untuk menghina satu dan yang lainnya. Kita sudah bersumpah untuk setia pada Red Blood! Pastikan kau ingat itu!!" ujar Bernat yang sejak tadi diam di ambang pintu.
"Aku hanya ingin menyampaikan suara kita! Sebagai wakil, aku berhak menasehatinya, bukan?!"
Qing Dotay kembali mengepal tangan erat, tatapan tajam terlihat jelas di kedua sorot matanya. Aura mengintimidasi melingkupi tubuhnya yang memancarkan rasa permusuhan yang kental terhadap Lotam.
"Cukup!! Sekarang dengarkan aku baik-baik... Kalian akan lebih tidak senang mendengar kabar terbaru yang aku dapatkan. Jadi, bisa kalian berhenti sekarang?!"
Sontak Qing Dotay dan Lotam menoleh kearah pintu masuk secara bersamaan, Di sana tampak Bernat berdiri dengan menyilang kan tangan di depan dada tepat di samping kusen pintu.
Qing Dotay menepis kedua tangan yang menahannya cukup erat, menatap penuh tanya pada Bernat. "Apa yang terjadi?!,"
"Aku sudah mengirimkannya ke ponselmu! Kau bisa melihatnya." ujar Bernat tidak ingin bertele-tele.
Qing Dotay melangkah cepat mendekati meja kerjanya, meraih ponsel yang sengaja ia letak di bawah laci.
__ADS_1
Pupil miliknya tampak membesar, guratan wajah permusuhan yang sedari tadi ia perlihatkan kini semakin menunjukkan urat-urat tegang, siap untuk memusnahkan segala hal yang ia lihat.
"What the f*ck?! Kenapa kau baru memberitahuku?!" sergah Qing Dotay semakin tersulut Emosi.
"Aku baru mendapatkan informasi ini, kau tau mereka tidak begitu baik untuk menuruti keinginan kita, Dotay."
"Dari mana kau mendapatkannya?"
"Kaki tangan Roger—Vans. Kau ingat pria itu? Bukankah kau memintanya mencari informasi yang berada di pasar gelap?! Dia tidak akan mau menjadi kaki tanganmu, Dotay. Kau tau, itu. Red Blood hanya akan mematuhi Roger! mereka tidak meninggalkan tempat ini bukan karena kau! tapi ingin merebut kembali tempat ini!"
"****!" Dotay menatap ponselnya sesaat kemudian kembali menatap Bernat. "Siapkan persenjataan bawah tanah! Bawa beberapa gas beracun dan gas air mata, dalam waktu dekat akan ada tamu yang mengunjungi kurungan besi milikku."
Lotam menatap tajam Qing Dotay, begitu juga yang lainnya. Qing Dotay yang di tatap tidak merasa terganggu, ia menarik sedikit sudut bibirnya ke atas tersirat niat buruk yang akan pria itu lakukan selanjutnya.
"Lihat dan tunggu saja, Roger! Kau tidak akan menang melawanku, kau pernah kalah sekali... maka selamanya akan tetap kalah." ujar Qing Dotay dengan sorot mata tajam.
Berbagai pertanyaan menghinggapi kepalanya. Siapa dan apa motif seseorang mengirim surat kaleng ke markas yang hanya diketahui oleh dirinya dan juga anggota Red Blood.
'Seorang pengkhianat pasti berdiam diri di Markas ku,' pikir Qing Dotay dengan mata menyelidik menatap satu persatu wajah anggota inti Red Blood yang ia pimpin saat ini.
"Siapkan tim pertahanan di pintu depan. Seseorang pasti sudah menjual data privasi milik kita ke pihak luar! Aku tidak ingin kecerobohan menghancurkan rencana ku, lakukan pengecekan segera! Jika menemukan kecurigaan, interogasi dan eksekusi di tempat!! aku tidak memelihara pengkhianat di bawah kepemimpinan ku! " perintah Qing Dotay tegas.
Mereka mengangguk patuh, melangkah keluar meninggalkan ruang kerja Qing Dotay. Menyisakan Qing Dotay dengan pikiran berkecamuk, menelisik siapa musuh yang bersarang di tempatnya.
"Jika benar Roger sudah kembali, ini bukan berita yang baik. Aku harus berhati-hati." Gumamnya pelan.
🕸🕸🕸
Happy reading!!♡
Haii readers, jangan lupa tinggalkan jejak yaa. Like and comment membantu semangat author untuk double update(❁'◡'❁)
Terima kasih.
"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."
__ADS_1