Infidelity

Infidelity
Chapter 32


__ADS_3

..."Manusia diciptakan dengan keistimewaannya masing-masing. Lantas, pantaskah kita mencela kekurangan mereka?"...


...-Amanda Irsyana Nawansa...


🕸🕸🕸


Di tempat lain. Seorang pria dengan malas berbaring di atas ranjang. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tatapannya tetap tajam menusuk retina. Pria itu tidak lain adalah Ammar.


Awalnya, Ammar tidak mengira dampak dari perbuatan Erine malam itu membawanya sampai ke titik ini. Bersyukur berita yang merembes bebas dapat dihentikan dengan gesit oleh Arman.


Malam ini, Ammar terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk datang ke mansion orang tuanya yang berada di Bandung. Seruni terus menerornya untuk datang melalui Karina. Ammar memang memboyong Karina dan Echa ke Jakarta setelah perceraiannya bersama Erine. Karena kantornya berpusat di daerah Jakarta, sedangkan Hamdan berpusat di daerah Bandung.


Beberapa hari lalu, ia sengaja mengabaikan panggilan Hamdan dan Seruni yang terus menanyakan kondisi perusahan dan skandal yang menyeret namanya—sukses membuat Ammar jengah.


Ammar bangkit dari ranjangnya, melangkah ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya untuk bersiap pergi. Hari ini Ammar memilih tidak bekerja di kantor, mengingat ia akan menyetir mobil sendiri untuk bepergian keluar kota.


Selang dua puluh lima menit, Ammar sudah rapi memakai kaus putih dilapisi kemeja hitam dengan kancing yang sengaja dibuka. Untuk celana, Ammar memilih celana jogger berwarna hitam pekat. Tidak lupa, jam tangan alexandre christie melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Ammar yang semula menatap wajahnya di cermin beralih ke pintu. Ammar membuka pintu kamarnya menggunakan finger print, hingga pintu bergeser dan memperlihatkan Karina yang berdiri dengan senyuman lebarnya.


"Kamu udah siap, Mas? Eh, tunggu-tunggu. Aku nggak pernah ngerasa kita secocok ini sebelumnya. Lihat, dress aku samakan dengan kemeja kamu." Ujar Karina dengan kerlingan manja.


"Ck... Berhenti membual, kenapa kau mengetuk pintu kamarku?!"


"Kau selalu saja begitu. Aku belum menuntut mu untuk malam itu. Bersikaplah sedikit lebih baik padaku." Karina menyilang tangannya di depan dada, "Aku hanya ingin memastikan kau tidak kabur dan mengabaikan keinginan ibumu."


Ammar menatap tak suka mendengar kata-kata Karina. "Aku bukan kau!"


"Kenapa aku? Apa yang salah denganku?" tanya Karina tak mengerti.


"Aku bukan kau yang suka lari dari kenyataan. Menghalalkan segala cara, termasuk menghancurkan harga diri sendiri."


"Hei! Apa hubungannya itu dengan hal yang baru kita bahas?!"


Brakk.


Ammar melangkah keluar menggeser pintu kamarnya dengan keras, reflek membuat Karina mundur beberapa langkah.


"Segala hal buruk selalu berhubungan dengan, kau! Bukan hal sulit untuk mengaitkan dirimu di antara salah satunya. "


"Kau sungguh baji***n, Mas. Aku tetaplah istrimu! Tidak bisakah kau menghargai ku sedikit saja dalam hidupmu? 5 tahun. 5 tahun aku menunggumu membuka hatimu untukku."


Karina berusaha meraih tangan suaminya, namun secepat kilat Ammar menepis tangan itu sebelum menggapainya.


"Kau lupa, Kar?!... Aku pernah bersikap baik dan menghargai kau sebagai wanita dengan latar belakang dan pendidikan yang bagus." Ammar menghela nafas berat, "See? kau sendiri yang merusak citra mu di hadapkan ku. Kau sendiri yang memilih jalanmu menjadi wanita gila yang hidup dengan obsesi liar mu!" Tekan Ammar.

__ADS_1


Karina menggeleng menolak pernyataan suaminya. "Aku tidak seburuk itu, Mas! Aku hanya mencintaimu dan menginginkanmu! Jika orang lain bisa mencintaimu mengapa aku tidak?!"


"Cinta?! Kau bercanda, ha?! Bagian mana yang kau sebut cinta?! Jangan jadikan pikiran gila mu bentuk dari cinta, Kar. Itu sungguh menjijikkan! Kau hanya ingin menuntaskan rasa obsesi mu terhadap, aku! Bukan cinta!" Ammar mengangkat tangannya nunjuk lantai bawah, "sekarang hentikan drama mu dan tunggu aku dengan tenang di bawah. Bisa kau bekerja sama sekali ini saja? Aku sungguh ingin tenang dalam mengemudi nanti!"


"Kau breng**k, Mas! Kau sungguh baji***n! Sekalipun kau hanya sebuah obsesi, aku tetap tidak akan pernah melepaskan mu! Camkan itu baik-baik! Kau akan terus bersamaku, sampai kau mati!" Ujar Karina berlari menuruni tangga meninggalkan Ammar yang tengah dilingkupi amarah.


🕸🕸🕸


Mansion Nawansa.



"Ma, Kakak jadi kesini kan?" Tanya Amanda pada Seruni yang sedang menggoreng tahu.


"Jadilah, mana mau kakak kamu kecewain, Mama. Kamu kan tau, sesayang apa Ammar sama, Mama."


Amanda menatap Seruni lekat, keraguan melingkupi dirinya untuk bertanya, "ehm... Ma, gimana ceritanya Mas Ammar bisa selingkuh sama Karina?"


"Manda, itu istri kakak kamu. Panggil yang sopan, Sayang." Nasehat Seruni, sambil mengangkat tahu dari penggorengan. "Untuk kakak kamu, sudah mama katakan jangan pernah ikut campur. Ini udah pilihan kakak kamu. Lagian, Mama lebih suka sama Karina. Lebih berpendidikan dan sudah jelas dari keluarga yang harmonis."


Amanda duduk disalah satu kursi mini bar menunggu ibunya selesai memasak bersama Bi Surti.


"Emang Erine kurang apa, Ma? Aku kenal dia udah lama juga."


Seruni meminta Bi Surti melanjutkan kegiatan memasak mereka yang sebentar lagi selesai, dengan gerakan cepat Seruni menyeret Amanda keruang keluarga.


"Udah berapa kali Mama bilang, jangan bahas apa pun tentang wanita itu lagi. Kamu bisa buat kakak kamu ke ingat sama wanita mandul itu lagi."


Manda yang semula kesal, tiba-tiba mematung di tempat. "Ma—mandul? Mama jangan bercanda! Erine nggak mungkin mandul, Ma."


"Kalau nggak mandul apa, Manda? Udah 5 tahun, mereka belum juga kasih Mama cucu. Paling itu akal-akalan dia aja yang bilang kalau dia itu sehat."


Manda menggeleng tak percaya ucapan ibunya. "Terus. Gimana sama aku, Ma? Mama anggap aku mandul juga? Udah 3 tahun aku juga belum punya anak!"


Seruni tercekat ludahnya sendiri, ia terlalu fokus memikirkan Ammar hingga melupakan perasaan putrinya sendiri.


"Bu—bukan begitu, Sayang. Mama tidak bermaksud mengatakan itu. Ini dua hal yang berbeda. Kamu tidak mungkin bermasalah, berbeda dengan wanita itu."


Manda reflek mundur beberapa langkah, hingga batas sofa membuatnya terduduk lemah. Manda sungguh tidak dapat mempercayai ucapan ibunya barusan, hanya kata kejam yang terlintas dipikirannya saat ini.


"Jika itu benar... Kenapa? Wanita mulia bukan karena mereka memiliki anak, Ma. Jangan menghina kekurangan wanita lain sedangkan Mama tidak menyadari keluarga Mama sendiri mengalaminya!"


Seruni menautkan alis bingung, "apa maksudmu, Man? Apa yang tidak Mama ketahui? Wanita itu memang kesialan di keluarga kita! Lagi pula siapa yang mandul di sini? Di sini tid—" Seruni menutup mulutnya sendiri, tidak sanggup melanjutkan kata-kata yang sedikit mengusik hatinya. "A—apa maksud ucapan mu, Nak?" Tanya Seruni memastikan pikirannya salah.


Amanda menatap ibunya lekat, "seperti yang Mama pikirkan, itu benar! Tidak ada yang salah, semua yang Mama pikirkan itulah kenyataannya!"


"Tidak. Kau jangan bercanda demi membela wanita mandul itu, Manda. Ini sungguh tidak lucu!" Bantah Seruni tidak terima.

__ADS_1


"Kenapa? Sekarang, Mama malu mengakui ku sebagai putri? Benar begitu? Mama malu telah melahirkan ku? Iya, Ma?! Katakan, Ma! Katakan!" Sarkas Amanda tersulut emosi.


"MANDA, STOP!" Seruni mengurut pangkal hidungnya yang terasa sakit, "berhenti bercanda! Ini sudah keterlaluan, kau lebih baik istirahat. Kau baru saja sampai tiga jam lalu." Ujar Seruni mengalihkan topik dan hendak berbalik meninggalkan putrinya.


Suara Manda menggelegar,menghentikan langkah sang ibu. "Tidak! Aku tidak bisa diam dan bersembunyi lagi, Ma. Mama harus tau apa yang terjadi sebenarnya." Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya, "Aku sungguh tidak bisa memilikinya. A—aku sudah divonis mandul sejak 2 tahun lalu! Apa mama ingin mengatakan aku juga tidak layak bersama Mas Dimas? Bukan begitu maksud mama?!"


Bagai tersambar petir di siang bolong, Seruni terduduk ke lantai marmer sebab kaki yang tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Ia ikut terisak mendengar pengakuan putrinya. Benarkah putrinya mandul? Bagaimana mungkin? Seruni sungguh tidak bisa mempercayai nasib buruk yang menimpa putrinya.


"Sejak kapan kau tau? Kenapa tidak memberitahukannya lebih cepat? Kita bisa berobat dan bisa mencari dokter terbaik di seluruh dunia untukmu!" Ujar Seruni beruntun.


Manda menggeleng lemah, "Tidak... Aku tidak bisa melakukannya. Bukan aku tidak ingin berusaha tapi dokter sudah mengatakan kemungkinan aku untuk sembuh tipis, Ma. Bahkan aku harus melakukan histerektomi sebagian karena fibroid rahimku semakin parah.


Seruni bangkit dan memeluk tubuh putrinya erat, ia sungguh tidak tahu apa yang terjadi dengan Amanda selama ini. Amanda tipikal gadis yang tenang dan tidak terlalu terbuka. Hampir mirip dengan Ammar tapi Ammar lebih pandai berbaur dan terbuka.


"Mama akan tetap mencarikan dokter terbaik untuk menyembuhkan mu. Kamu jangan khawatir. kamu juga tidak boleh mencemaskan apa pun, mam—"


Manda menggeleng dalam pelukan ibunya, "Berhenti, Ma. Aku sudah lebih dulu melakukannya. Semuanya tetap menyarankan ku untuk segera melakukan operasi. Tidak ada harapan lagi... Berhenti mengharapkan sesuatu yang mustahil, Ma. Aku tidak ingin memiliki harapan yang sia-sia."


Seruni kembali mengeratkan pelukannya, tubuh Amanda terasa semakin bergetar. Seruni sungguh ingin memukul mulutnya karena tanpa ia sadari ucapannya sungguh melukai perasaan putrinya.


Di balik pintu ruang tengah, berdiri sesosok pria paruh baya yang sejak tadi mencuri dengar percakapan ibu dan anak seakan ikut mengiris hatinya, ia adalah Hamdan.


Hamdan menghapus setetes air mata yang tanpa izin jatuh dari pelupuk matanya. Pikirannya melanglang buana membawa ia pada satu kenangan di mana dulu dirinya dan Seruni menyakiti seorang wanita dan memaksanya untuk berpisah dengan suaminya.


Hamdan kembali mendengar suara putrinya, ia merapatkan telinganya sedikit lebih menempel ke pintu karena suara Amanda yang terdengar sumbang dan sedikit tidak jelas.


"Ma... Manda kembali bukan sekedar ingin mengunjungi, Mama. Banyak hal yang harus Manda sampaikan. Tapi Manda mohon, Mama berhenti merendahkan wanita lain. Mama juga wanita, milikilah sedikit rasa empati terhadap sesama." Ucap Amanda bijak.


"Man, Mama tetap akan cari pengobatan terbaik. Pokoknya kamu harus berobat!" Kukuh Seruni tidak mendengarkan nasehat Amanda.


"Terserah, Mama. Manda lelah, manda perlu istirahat." Amanda melepas pelukan ibunya, bergegas menaiki anak tangga dan memasuki kamar yang di desain khusus oleh Hamdan sesuai kesukaan putrinya.


Hamdan yang sejak tadi bersembunyi di sebalik pintu, ikut mengundurkan diri. Mengikuti langkah Manda dengan tujuan kamar yang berbeda.



Hallo readers setia Infidelity 🤍


Aku mau ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat support dari kalian dan juga masukan yang kalian berikan di cerita ini.


Untuk cerita ini sendiri, aku ambil dari beberapa kisah nyata yang sering kali terjadi. Jadi untuk pertanyaan mengapa karakternya kadang membuat kalian kesal atau nggak sesuai, itu udah aku pertimbangin semua.


Aku lebih ngambil jalan ceritanya kekehidupan nyata.


Terus support karya ini yaa. Bantu like, comment, and share 😉


Jangan lupa klik Favorit untuk mengetahui update terbarunya.

__ADS_1


Terima kasih🤍


__ADS_2