
"Aku..." Amanda menatap lekat wajah Ammar, bergantian menatap wajah Hamdan yang terlihat pias. "Aku, ingin mengizinkan suamiku menikah lagi..."
🕸🕸🕸
Waktu seakan berhenti berputar, Apa yang baru saja Ammar dengar membuat situasi mendadak menjadi senyap seketika. Suasana terasa semakin dingin dan mencekam. Sudah jelas penuturan tak berdasar yang cukup mendadak dari Amanda membuat Ammar kehilangan kata-kata.
Seruni dan Hamdan terdiam. Mereka seperti sudah gila karena tidak berani mendebat putrinya sendiri. Berbeda dengan Ammar yang menatap lurus tepat di netra coklat Amanda yang juga menatapnya. Seakan berkata—kau sungguh tidak waras.
"Bercanda mu sungguh kelewatan, Man. Aku tidak ingin mendengarnya, bisa kita akhiri acara makan malam ini segera, Pa?" Ujar Ammar hendak bangkit.
"Aku tidak mengatakan ini sebuah candaan, kau tau gayaku, Kak. Aku bukan wanita yang suka bermain peran seperti istrimu itu."
"Aku tidak akan mempercayainya, kau benar-benar tidak waras kali ini!"
"Apa yang salah dengan memiliki seorang madu? Aku tidak keberatan untuk itu."
Ammar menatap tajam adiknya yang berbicara kelewat santai. "Kau tidak akan bisa menahan rasa sakitnya, Amanda! Jangan bertingkah seolah kau mampu dan bisa bertahan hingga akhir pernikahanmu."
Amanda terkekeh mengalihkan pandangannya menatap Dimas sekejap, lalu kembali membalas sorot tajam kakaknya.
"Kau juga melakukannya pada Erine, Kak. Tapi sayangnya, Erine tidak menerima pernikahanmu bersama Karina. Berbeda denganku... Di sini aku yang dengan sukarela membagi suamiku. Bukankah ini tidak sulit, Kak? Kau harus menerima kenyataan, bahwa aku benar-benar menginginkan hal ini."
Ammar benar-benar tersulut emosi mendengar perkataan adiknya, namun dengan cepat Hamdan menengahi pertengkaran putra dan putrinya. Mengabaikan Seruni yang terisak sejak tadi.
"Hentikan! Ammar, dengarkan alasan adikmu melakukan ini. Kita tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan rumah tangga mereka."
"Alasan apa lagi?! Putrimu sudah gila, Pa! Wanita mana yang rela berbagi suami? Aku tidak akan mengizinkannya. Dan kau, Dimas. Apa yang kau tanamkan pada adikku, haa?" Murka Ammar.
"Aku tidak melakukan apapun, aku—"
"Suamiku tidak bersalah, Kak. Semua ini murni keinginanku. Aku sungguh tidak merasa keberatan sedikitpun."
"TIDAK! Mama tidak setuju, sampai matipun mama tidak akan membiarkanmu memiliki madu, Manda!" Tolak Seruni dengan penuh air mata.
Hamdan mengusap wajahnya kasar begitu juga Ammar yang menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, karena beban di pundaknya terasa semakin berat.
"Papa tidak melarang jika itu pilihanmu. Tapi kau harus memikirkan konsekuensi yang akan kau dapatkan setelah semua terjadi. Kamu tidak hanya berbagi suami tapi juga cinta kasih dari suamimu. Termasuk waktu dan perhatiannya. Kamu sanggup menanggung itu semua, Manda?! Kamu rela malam mu tidak lagi sepenuhnya bersama, Dimas?! Pikirkan sebelum kau benar-benar menyesali keputusanmu hari ini." Final Hamdan.
"Apa yang kau katakan, Pa?! Aku tidak percaya ini!" Sergah Ammar menolak mentah-mentah keputusan ayahnya, dengan murka Ammar membanting gelas ke lantai tepat melewati telinga kanan Hamdan.
"Apa yang kau lakukan, Kak?! Kau ingin mencelakai ayahmu sendiri? Aku lihat, kau yang terlihat tidak waras sekarang!"
"Manda, hentikan semua ini. Kau tidak bisa mengedepankan egomu lagi. Terlalu banyak luka jika kau melanjutkan semua ini, aku tidak ingin memperkeruh keadaan." Ujar Dimas menghentikan pertikaian di antara keluarga Nawansa.
"Tapi, Mas—"
"Bagus kalau kau paham!" Sahut Ammar.
"Kau tidak tahu masalahku, Kak. Berhenti mencampuri masalah rumah tanggaku. Aku hanya ingin kalian tahu dari mulutku, sebelum seseorang lebih dulu mengatakannya pada kalian. Kumohon, mengertilah. Aku tidak sedang meminta restu kalian untuk keputusanku!" Jujur Amanda.
"Manda, ikut denganku!" Ajak Dimas hendak membawa Amanda kedalam kamarnya.
"Berhenti! Aku masih ingin bicara, Mas."
Ammar bangkit dari kursinya, berdiri sejajar tepat di hadapan Manda dan Dimas.
"Kenapa kau melakukan ini? Apa pria ini mengancam mu sesuatu? Kau bisa mengatakannya padaku, aku akan mengatasi apapun masalahmu, Manda. Percaya padaku!"
__ADS_1
"Tidak akan bisa, Kak! Karena kau juga melakukannya pada Erine, jadi jangan mencoba membantuku!"
"Apa maksudmu? Apa yang telah aku perbuat?!"
"Kau meninggalkannya, Kak. Kau meninggalkan wanita lembut itu demi seorang ular."
Ammar mengacak rambutnya geram, "Kau tidak tau apa yang terjadi, Manda! Berhentilah menghinaku dengan menyebut wanita gila itu! Aku tidak pernah berniat menyakiti Erine, mengertilah perasaanku!"
"Lalu apa bedanya denganku? Aku hanya ingin kau mengerti kondisiku, Kak?"
"Tapi apa alasannya?"
Hamdan benar-benar jengah melihat perdebatan yang tak kunjung usai, dengan cepat menginstruksi Ammar untuk berhenti bicara.
"Ammar! Hentikan! Kau bisa kembali kedalam."
"Tidak! Aku masih belum selesai! Katakan, apa alasanmu! Apa alasanmu, Manda?!"
"Ammar! Berhenti membantah, sekarang kau bisa kem—"
"KARENA AKU MANDUL!" Jawab Amanda lantang dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang kau puas?! Aku sama seperti wanita yang kau ceraikan itu, aku mandul, Kak! Bahkan aku mungkin tidak ada peluang untuk memiliki anak." Ujar manda terisak, setelah memotong ucapan Hamdan yang berusaha menghentikan perdebatan di antara mereka.
Dengan cepat Dimas membawa tubuh Amanda kedalam dekapannya. Walaupun pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan bisnis namun Dimas berusaha menyayangi istrinya. Bahkan ia melepaskan Mira yang dulu pernah bertahta di hatinya, tanpa penjelasan dan kata perpisahan yang layak.
Ammar tidak mempu menopang berat tubuhnya, hingga tanpa sadar bergerak mundur beberapa langkah.
"Stop kidding me! Itu tidak mungkin, selama ini kau sehat! Aku tidak mau mendengar kebohongan lagi, berhenti bermain-main denganku, Manda." Ujar Ammar menolak percaya.
Dimas mulai tersulut emosi melihat Ammar yang terus menuntut kejelasan, "Kau tidak salah dengar! Istriku memang tidak bisa memiliki anak. Sekalipun aku tidak pernah berniat untuk bercerai apa lagi berpoligami. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, dia tanggung jawabku." Ujar Dimas tegas kemudian menatap mertuanya dan berpamitan pergi lebih dulu sambil merangkul pundak Amanda.
Apa yang terjadi? Kenapa bencana silih berganti menghantam keluarga Nawansa? Semua seakan hancur perlahan. Tidak ada yang benar-benar bisa dibanggakan. Tidak seorangpun yang memiliki kesetiaan di sini atau sebenarnya kesetiaan hanyalah omong kosong belaka. Lantas, disebut apa keluarga ini? Ya. Keluarga ini benar-benar pantas dijuluki Infidelity.
🕸🕸🕸
Pukul 12 malam.
Malam ini, Erine sedang duduk di balkon apartemen Mira, seusai menemani putrinya tidur. Tidak ada kantuk atau secangkir kopi, inilah insomnia.
Erine menatap pemandangan dengan samar- samar, tidak fokus dengan apa yang ia lihat. Hingga sebuah bayangan pria berjas hitam dengan masker hitam menutup wajahnya mengejutkan Erine.
"Apa itu? Apa akau salah lihat?" Wajah Erine terlihat pucat, pria yang barusan ia lihat terlihat jelas sedang memata-matai nya.
Mira yang masih terjaga, ikut mendudukkan dirinya di samping Erine. Namun, pandangannya beralih menatap wajah pucat pasi Erine. "Kau kenapa? Apa kau habis melihat hantu?"
Suara benda yang sengaja dilempar kearah jendela balkon mengejutkan mereka, tepat setelah Mira bertanya. "Astaga, apa itu?"
Mira dan Erine tampak pucat bersamaan, "Kurasa... ini lebih menakutkan dari hantu, Mir."
"Kau benar, Rin."
Erine melirik batu yang beberapa menit lalu mengetuk jendela balkon dengan cukup keras, bersyukur jendela tersebut tidak pecah. Secarik kertas terlihat membungkus batu yang saat ini menjadi pusat perhatiannya.
Erine mengambil benda tersebut, membukanya perlahan. Terlihat noda merah mewarnai kertas lusuh yang Erine pegang.
Bau apa ini? Amis.
Mira memperhatikan sekeliling namun tidak menemukan siapapun. Saat melihat Erine membuka kertas misterius yang mereka terima, Mira ikut memperhatikan.
__ADS_1
Seketika udara di sekitar mereka menipis. Tangan Erine gemetar membaca kata yang yeng tertulis di kertas lusuh tersebut.
Sebuah ancaman pembunuhan.
'YOU WILL DIE SOON.'
"Mir, kau membacanya, kan? Apa maksudnya? Siapa yang akan mati? Apa mereka ingin membunuhku?"
Mira menatap horor secarik kertas yang kini tergeletak tak berdaya di lantai, "yang pasti kita! Siapa lagi penghuni apartemen ini selain kita?," Mira merogoh saku celana kiri mengeluarkan ponselnya. "Tunggu, Rin. Sekarang bukan saat yang tepat untuk takut. Aku harus mengabari, Mas Dirga." Sambung Mira lagi.
"Ya. Kau benar. Biar aku yang memeriksa lantai bawah. Aku harus memastikan pintu terkunci dengan benar. Oh iya. Mir, tolong kamu tetap berada di sisi anak-anak sampai aku kembali ke atas. Bisa?" Pinta Erine.
"Jangan khawatir. Tanpa kau suruh aku pasti akan melakukannya."
Erine bergegas keluar. Memeriksa setiap pintu dan jendela agar terkunci dengan baik. Namun, secarik kertas di bawah pintu utama mengejutkan Erine, dengan langkah pelan Erine mendekati pintu.
Erine meneliti setiap kata yang tertulis di atas kertas. Kali ini noda itu terlihat—basah?. Sontak Erine menjatuhkan kertas yang kini menodai tangannya.
'Siapa yang melakukan ini?.' Pikir Erine.
Erine berlari cepat mencuci tangannya di wastafel. Menarik nafas dalam-dalam mengeluarkannya perlahan, entah berapa kali ia melakukannya. Hingga perasaannya sedikit tenang.
Siapapun pengirim ancaman misterius itu, sudah di pastikan niatnya tidaklah baik. Erine meremas pinggir wastafel sekuat tenaga, saat ini ia bukan memikirkan keselamatannya melainkan Alan dan Alin.
"Sial! Aku melupakan terlalu banyak orang di sekitar, Mas Ammar. Jika bukan, iblis betina itu... Apa mungkin Hamdan dan Seruni?" Ujarnya kasar tanpa menyebutkan embel-embel ibu dan bapak.
Di lantai atas. Mira masih berusaha menghubungi abangnya. Namun tidak mendapat jawaban apapun. Mira yakin saat ini abangnya sedang sibuk membuat proyek baru bersama kakak iparnya.
"****. Aku membutuhkanmu bodoh!" Makinya kesal.
Selang 5 menit. Erine memasuki kamar mendekati ranjang. Setelah menetralkan degup jantungnya, Erine melirik Mira dan memberi sebuah isyarat dari matanya seakan berkata—bagaimana?.
Mira menggeleng lemah, "Aku rasa proyek kali ini sangat penting baginya dan kakak ipar. Kau lihat, Rin? Dia bahkan tidak mengangkat satupun panggilanku, bahkan aku sudah 14 kali melakukan panggilan." Sungut Mira.
Erine membaringkan tubuhnya di samping Alan. "Sekarang, lupakan masalah malam ini. Kita harus tidur, Mir."
Mira berdecak, "Astaga, Rin. Kau masih bisa tidur, haa?"
"Mereka menargetkanku, Mir. Bukan kau! Aku juga takut Alan dan Alin ikut menjadi korban dalam masalah ini karena ulahku tempo hari."
"Dari mana kau tau? Mereka tidak menulis namamu di sana. Jangan berpikir berlebihan, Rin."
Erine yang beberapa detik lalu menatap langit-langit kamar, perlahan memejamkan matanya. "Karena aku baru saja memasang bendera perang pada keluarga Nawansa. Sepertinya, mereka sudah tidak sabaran membunuhku. Bahkan mereka tidak mengizinkanku berhenti hingga titik darah penghabisan."
Mira terdiam. Ikut berbaring di sebelah Alin. Sekelebat pertanyaan apa yang terjadi saat Erine di bawah bermunculan, namun dengan cepat Mira menepisnya.
"Rin, apapun yang terjadi. Kau harus tetap kuat! Apa kau paham?!"
Erine menghela nafas berat dengan mata yang kembali terbuka, "tidurlah. Jangan mengkhawatirkan ku. Aku bukan gadis belia." balasnya cepat.
'Jika berhenti tidak bisa, maju bukanlah masalah.' Bathin Erine meyakinkan dirinya sendiri.
🕸🕸🕸
Selamat malam untuk yang membaca malam ini🤍
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, dan vote jika kalian menyukai karya ini.
Terima kasih.