Infidelity

Infidelity
Chapter 46


__ADS_3


Flashback on.


Di tengah-tengah kesibukannya pagi ini, Ammar teringat perkataan Arman saat perjalanan ia menuju tempat persembunyian Roger—Hutan Belantara.


"Apa akhir-akhir ini Erine memiliki kenalan seorang pria? Kau tahu siapa pria itu?" Tanya Ammar tiba-tiba.


"Untuk itu, anda harus melihat data baru yang kami temukan, Pak."


"Apa maksudmu? Kenapa tidak kau jelaskan saja? Aku sungguh tidak ingin bertele-tele."


"Ini..." Arman terdengar menjeda kalimatnya. "Pria yang mereka jumpai akhir-akhir ini, tidak lain dan tidak bukan. Adalah ipar anda—Daffin Athaya. Atau pemimpin baru Red Blood—Qing Dotay."


"Holy ****. Can you tell me what happened. Kenapa Erine bisa mengenalnya?!"


Arman menjelaskan pertemuan Erine bersama Daffin. Saat pertama kali mereka bertemu di sebuah cafe yang sudah direncanakan oleh Mira hingga pertemanan Mira yang sudah sejak lama terjalin bersama Daffin dan adik iparnya—Dimas." Informasi ini Arman dapatkan saat menyelesaikan kasus yang menjerat nama Ammar akibat aksi balas dendam mantan istrinya.


Namun, suara ketukan pintu menyadarkan Ammar dari lamunan panjang.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" Sahut Ammar yang duduk di kursi kerja menatap tidak fokus layar MacBook nya.


Ceklek.


Pintu terbuka. Terdengar langkah kaki seseorang memasuki ruang kerjanya. Memunculkan sosok Arman yang dengan tenang berdiri di sebrang meja kerja Ammar.


"Apa yang terjadi?!" Tanya Ammar masih dalam mode fokus menatap MacBook dengan jari yang mengetik tidak jelas.


"Kita sudah melewatkan berita utama pagi ini, Pak."


Seketika Ammar berhenti mengetik, tatapannya lurus menatap netra hitam legam milik Arman. "Apa maksudmu?! Seseorang menyebarkan berita tentangku, lagi?!"


Arman menggeleng pelan. "Tidak. Kali ini bukan anda... Tapi, menyangkut Nyonya Amanda."


Ammar menyandarkan tubuhnya di kursi, kali ini lebih fokus menatap wajah suram Arman. "Katakan apa yang terjadi.  Selama ini adikku tidak pernah muncul ke publik, jadi apa yang membuatnya masuk berita pagi ini?!"


Arman mengirim sebuah artikel ke ponsel Ammar, terdengar getaran ponsel yang berada di atas meja. Dengan cepat Ammar menyambar ponsel tersebut dan membaca artikel yang Arman kirimkan.


"Godd*mn it! Siapa yang menyebarkan berita ini?!" Geram Ammar.


"Melihat dari sudut pengambilan video. Ini berada dari sisi kanan anda, Pak. Saya berasumsi pelakunya bukanlah orang luar."


Ammar mengingat kejadian malam itu. Benar saja, ini di ambil dari sisi dalam rumahnya. Namun, siapa yang berani mengunggah video ini ke sosial media? Bahkan sudah ada banyak artikel yang membahasnya.


Sebuah ingatan menyentak Ammar, hanya ada satu kemungkinan. Ini pasti ada hubungannya dengan Karina. Sial. Kenapa tidak mencurigai pembantu rumahnya? Karena sudah di pastikan bukan salah satu dari mereka, mengingat sistem kerja pekerja di mansion orang tuanya tidak mengizinkan pekerja menggunakan ponsel di jam bertugas.


"D*MN IT YOU, KARINA!!"


Arman masih diam di tempat, memperhatikan gerak-gerik Ammar yang dengan jelas mengetahui pelakunya.


Ammar mengambil telepon kabel dan menghubungkan panggilan ke Ires meminta wanita itu untuk segera keruangan nya.


"Datang keruangan ku. SEGERA!!"


Belum semenit, pintu sudah di ketuk. Ammar dengan cepat memerintahkan wanita itu masuk.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Ires sopan.


Ammar menatap mata Ires lekat, "Kau sudah membaca berita pagi ini?


"Hah, oh. Sudah, Pak." Ujarnya kaget.


"Jadi apa yang kau lakukan? Kenapa tidak memberitahuku?!"


Ires menahan getar tubuhnya, berhadapan dengan Ammar sungguh menguras habis kewarasannya.


"Maafkan saya, Pak. Saya baru mengetahui berita ini saat berada di kantor. Kemungkinan berita ini diunggah tidak lama setelah kedatangan anda. Kira-kira setengah jam sebelum itu." Jawab Ires jujur.


"Si*l!! Pel*c*r itu, dengan sengaja menyulut emosiku rupanya!!" Ammar mengusap wajahnya kasar. "Bagaimana dengan saham perusahaan?!" Sambungnya.


"Ini tidak akan berpengaruh apapun terhadap kinerja perusahaan kita. Tapi... tidak dengan Nyonya Amanda. Wanita itu pasti akan tertekan dengan gosip dan perkataan netizen yang memburunya setiap waktu." Ujar Ires lantang namun salah sasaran.


"Aku tau itu! Yang aku tanyakan, bagaimana pasar saham kita?! Apa benar-benar sudah stabil untuk saat ini?!"


"Hah. Oh. Maafkan saya, Pak. Saya salah memahami. Pasar saham sudah stabil, anda tidak perlu khawatir." Ujarnya kikuk.


"Hm... Berita itu tidak akan berakhir lama, Keluarga Nawansa pasti sudah bertindak lebih dulu. Arman... sudah saatnya beri serangan balik!!"


"Baik, Pak!"


"Ires, kau bisa keluar." Saat Ires hendak berbalik, suara Ammar menghentikan geraknya. "Tarik bonus kerja siapapun yang membahas masalah ini. Jika kau tidak bisa melakukannya. Jangan harap bonus mu bulan ini aman!!" Ancam Ammar dan mengizinkan Ires pergi dengan wajah pucat meninggalkan ruangannya.


Ammar kembali fokus pada Arman, "Kali ini jangan kecolongan! Kau tau resiko kali ini tidak hanya nyawamu tapi melibatkan nyawa banyak orang. Berhati-hatilah!"


"Baik. Saya paham!" Terdengar sebuah notifikasi berbunyi dari ponsel Arman.


Ammar yang tau suara notifikasi khusus tersebut berasal dari grup chat pengawalnya yang dibimbing langsung oleh Arman, ia pun meminta Arman segera membuka notifikasi tersebut.


Arman mengangguk patuh. Selang beberapa detik, wajahnya terlihat tidak baik. "Apa lagi?!" Tanya Ammar sungguh lelah dengan masalah yang tiada habisnya.


"Daffin berencana mengunjungi apartemen yang di tempati Nyonya saat ini, dalam tiga hari ke depan."


"Breng**k! Apa yang pria itu inginkan?! Aku tidak akan tinggal diam jika dia menyentuh Erine walau hanya seujung kuku!" Geram Ammar.


"Apa yang akan anda lakukan, Pak?!"


"Apa lagi? Aku juga akan mendatangi apartemen itu, tiga hari kedepan. Memberinya sebuah kejutan." Ujar Ammar dengan mengangkat sedikit sudut bibirnya.


Arman mengangguk paham, Ammar pasti sudah memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Perjuangannya lebih kurang 5 tahun ini mungkin sangat terlambat, tapi tidak ada salahnya untuk berjuang.


"Pergilah! Jika sudah bergerak. Segera hubungi aku, Roger tidak akan bisa berdiam diri begitu lama."


Arman mengangguk singkat, berbalik badan dan meninggalkan ruang kerja Ammar. Meninggalkan Ammar yang terlihat menghela nafas berat beberapa kali


"Ini kah karmaku?! Kau benar-benar sudah berada dalam kubangan lumpur penghisap Ammar. Jika aku harus kalah dan mati. Aku tidak akan melepaskan mereka yang telah membuatku berada di titik ini. Tidak akan ku biarkan siapapun hidup dan kembali melukai wanita itu. Maafkan, Mas Rin. Mas terlalu buruk untukmu." Ujar Ammar sambil melakukan pen spinning.


Flashback off.


🕸🕸🕸


Erine mengemas barangnya dalam sebuah koper. Air matanya mulai mengalir tanpa izin, sial. Kenapa Erine terlihat lemah sekarang—ini tidak akan berakhir baik. Yang ada, hanya akan menghambat kepergiannya dan juga Si Kembar.


"Bunda, al yuu, okay?" Tanya Alan menatap mata sembab ibunya.

__ADS_1


"I'm okay, sweetheart. Don't worry." Ujar Erine mengusap rambut Alan.


Alan duduk di samping ibunya yang terlihat sudah selesai mengemas barang.


"Apa kita benal-benal halus pelgi, Bunda? Apa tidak bisa mencari tempat tinggal lain, tapi tetap di daelah sini?." Tanya Alan untuk pertama kalinya setelah ajakan Erine untuk pindah.


"Bunda tidak bisa terus di sini. Kita harus mencari suasana baru, Nak. Kalian perlu tempat yang aman dan nyaman."


"Tapi Alan dan Alin melasa tempat ini tidak ada masalah, Bunda. Kenapa Bunda belpikil begitu?"


Erine menghela nafas panjang. "Sesuatu terjadi Alan, kalian hanya tidak mengerti. Sekarang dengarkan, Bunda. Sebenarnya Bunda sangat ingin membawa kalian langsung keluar negeri. Tapi Bunda masih mengalami minus biaya untuk itu. Kita hanya tinggal di pulau yang berbeda. Tante Mira bisa mengunjungi kita kapan saja, kamu jangan mengkhawatirkannya. Okay?"


Alan menggeleng pelan, "Tidak. Bukan Alan yang mengkhawatirkan tentang Tante. Tapi Bunda."


"Ya. Hanya sedikit. Dia bukan wanita lemah. Tante mu seorang wanita tangguh pada masanya." Ujar Erine tersenyum mengingat masalalu Mira.


Tiba-tiba suara serak Mira terdengar dari arah belakang, mengalihkan perhatian ibu dan anak yang baru saja bercerita tentang Mira.


"Bagus sekali! Belum pergi saja aku sudah menjadi bahan gosip ibu dan anak. Bagaimana jika kalian berada jauh dariku?! Aku serasa ditel*nj*ng* dari jarak jauh." Ujar Mira frontal.


"Huust! Kau lupa anakku masih polos, Mir?!"


Mira yang sejak tadi menggendong Alin, menurunkannya perlahan. Membantu Erine mendorong salah satu koper berukuran sedikit kecil.


"Maafkan, aku. Tapi kurasa, ada baiknya memahami sejak dini." Ujarnya asal.


Erine berdesis mendengar jawaban asal yang Mira ucapkan, ia bangkit dari duduknya dengan menggenggam tangan Alan agar ikut bangkit.


"Terserah kau saja, kami sudah harus ke bandara, Mir. Jika tidak, kami akan ketinggalan penerbangan." Ujar Erine  mendorong koper yang lebih besar.


"Kenapa kalian tega meninggalkan ku?"


"Tante..." Ucap Alin tampak murung sejak  kepulangan Ammar dan Daffin pagi tadi. Alin terlihat lebih banyak diam, ditambah berita mengejutkan yang Erine sampaikan dengan begitu tiba-tiba.


"I love you so much, baby! Kau harus terus menghubungiku. Ingat?!"


Alin mengangguk lemah, "jangan bersedih. Tante janji, setelah pekerjaan di sini selesai. Tante akan segera menyusul kalian. Baik-baiklah bersama, Bunda. Mengerti?"


Alin kembali mengangguk lemah.


Mira memeluk tubuh Alin cukup erat. Walaupun Mira bukanlah ibu kandung Alan dan Alin, tidak merubah fakta ialah yang merawat kedua anak itu hingga tumbuh sebesar ini. Tidak ada rasa sayang yang pura-pura, yang ada hanya rasa empati yang sudah sirna.


Mira, Erine, dan kedua anaknya bergegas menaiki mobil HR-V yang sejak tadi terparkir rapi di halaman parkir khusus pemilik apartemen. Mira mengemudi mobil dengan santai, karena keberangkatan pesawat yang Erine dan anak-anaknya tumpangi take off sekitar satu jam lagi.



🕸🕸🕸



(ini foto pas Ammar kecup kening anaknya.)


Happy Reading guys!!


Kalian suka cerita ini? Terus nantikan update berikutnya.


Bantu vote, comment, dan share ke teman-teman juga ya.

__ADS_1


Terima kasih🤍


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."


__ADS_2