
Pagi siap menyapa, malam dengan sigap berpamitan pulang. Mentari tersenyum girang bersanding mesra bersama awan menerangi alam semesta. Di mana purnama bersembunyi? Di balik hati yang sedang kelam? Oh, Tidak. Purnama hadir, di tengah hati yang diterpa badai kegelapan.
Di sebuah ranjang berukuran king size. Ammar membuka mata ketika sebuah cahaya menerobos masuk melalui tirai kamar, mengenai netra coklatnya yang indah. Saat kesadaran mulai pulih sepenuhnya, sesuatu terasa menimpa perutnya, dengan cepat Ammar menoleh kesamping kiri dan melihat tubuh seorang wanita memeluk ia dari belakang.
Sial.
Ya. Semalam Ammar benar-benar menginap di mansion orang tuanya. Sepanjang malam Ammar tak kunjung dihampiri rasa kantuk sedikitpun, hingga ia memutuskan untuk meminum sebuah obat tidur agar segera tertidur menemui alam mimpi, mengingat esok ia harus kembali berkutat dengan macbook dan berkas-berkas penting lainnya.
Pagi ini Ammar sungguh menyesali pilihannya untuk meminum obat tidur tersebut, setelah melihat Karina dengan berani merebahkan diri tepat di sampingnya.
Biasanya, Ammar selalu memilih lembur hingga subuh. Dari pada harus tidur seranjang bersama dengan Karina. Namun, setelah malam 'pengakuan' bahwa Amanda memilih untuk di poligami dan kenyataan bahwa adiknya tidak bisa memiliki anak membuatnya semakin sulit memejamkan mata.
Amanda tidak mengetahui bahwa Ammar memiliki anak bersama Erine, bahkan anak itu tumbuh dengan baik tanpa kehadirannya. Satu hal yang harus ia tegaskan, Erine bukanlah wanita mandul seperti yang dikatakan Seruni dan Karina.
Ammar kembali melirik Karina, menepis kasar tangan wanita itu yang tampak tidak terganggu dengan perlakuan kasarnya.
Seketika mual menghampiri, trauma itu kembali. Ammar kemudian beranjak turun dari kasur dengan tergesa-gesa, langkahnya yang lebar mempermudah ia menuju wastafel. Seperti biasa, Ammar muntah, perasaan jijik kembali menghinggapinya. Perasaan yang terus ada saat Karina mendekatinya.
What the hell. Kenapa trauma ini tak kunjung hilang? Ammar sudah memeriksakan dirinya ke rumah sakit, hingga seorang dokter menganjurkan Ammar berobat ke dokter psikiater mengenai hal yang ia alami.
Beberapa tahun belakangan Ammar telah memulai pengobatan. Trauma bermula pada malam itu. Malam di mana ia harus menonton live aksi gila dua sejoli di tempat umum.
Flashback on.
Ammar mendatangi sebuah club malam untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan perusahan sebagai bentuk kesuksesan yang mereka dapat dari sebuah kerja sama besar antara perusahaan mereka dengan salah seorang wanita, investor Belanda—Theresia Wigburg.
Ammar bukan seorang pemabuk, bukan pula pria suci yang tidak pernah mencicipi minuman tersebut. Ia pernah melanjutkan pendidikan di Stanford University, menikmati hidup bebas bersama teman-temannya termasuk dunia malam—kecuali s*x bebas.
Malam itu Ammar duduk dengan tenang, menatap karyawan yang asyik melenggak-lenggokkan tubuhnya mengikuti irama musik yang berdentum keras di atas dance floor.
Ammar yang tidak berniat untuk melakukan hal serupa. Bangkit hendak mencari toilet, namun pemandangan di hadapannya cukup mengejutkan. Di sudut jalan dengan pencahayaan remang-remang, terlihat Karina dengan ganas ******* bibir seorang pria yang bisa Ammar pastikan bukan warga asli Indonesia.
Dress sexy dengan tali spaghetti yang Karina kenakan melorot hingga ke pinggang. Jangan tanyakan kemana penutup gunung kembar itu, terlihat jelas jika Karina memang tidak mengenakannya sejak awal.
"What the f*ck!" Umpat Ammar. "Apa wanita gila itu tidak bisa menyewa tempat?"
Pemandangan terus berlanjut hingga, hal int*m gila lainnya Karina lakukan bersama pria asing itu. Seorang wanita yang merusak hidupnya bahkan mengaku mencintainya setiap hari—sungguh menjijikkan.
__ADS_1
Sebuah perasan jijik menghinggapinya, Ammar bergegas masuk ke dalam toilet memuntahkan semua makan malam yang beberapa jam lalu masuk mengisi perutnya.
"Aagghh... You have ruined everything, you *****!" Ammar menjambak rambutnya gusar, "Sial! Sial! Sial! Kau sungguh jal**g, Karina! Kenapa kau merusak hidupku, haa?!" Tanya Ammar pada cermin yang tidak mendapat jawaban.
Ammar memutuskan kembali ke kantor untuk beristirahat, hanya kantor tempat terbaik yang ia miliki saat ini. Ammar yang dalam perjalanan pulang tak henti mengumpat penuh emosi mengingat kejadian tadi. Senakal apapun Ammar, ia masih menjunjung tinggi nilai agama dan adab. Ia berprinsip menolak keras hubungan s*x di luar pernikahan.
Flashback off.
🕸🕸🕸
Playgroup.
Di tempat lain. Mobil Karina memasuki halaman parkir playgroup. Erine lebih dulu berlari dan mencari keberadaan Alan dan Alin setelah bertanya pada salah satu staf yang bertugas mengawas sebagai guru piket.
Tanpa aba-aba Erine menerobos masuk ruang kelas anaknya, melirik setiap anak yang menatapnya bingung, bahkan guru yang mengajar terperanjat kager melihat kedatangan Erine yang tiba-tiba.
"Bunda!" Ujar Alan-Alin serempak. Mengalihkan pandangan teman sekelasnya pada mereka.
'Kau gila, Erine. Apa yang baru saja kau lakukan?!' bathinnya mengutuk.
"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud menerobos dan membuat kegaduhan." Ujar Erine menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa, bisa dijelaskan ada keperluan apa, Bun?"
"Begini, Bu. Saya izin membawa anak-anak pulang lebih awal. Mungkin sementara waktu anak-anak juga akan izin... Nenek mereka sedang sakit, Bu." Alasan Erine.
"Selama berapa hari, Bun?" Tanya Sekar memastikan.
Erine berpikir cepat, "Paling lama seminggu, Bu. Rumah nenek mereka di luar kota, karena itu, belum bisa saya pastikan." ujar Erine jujur.
Sekar mengangguk paham, melirik Alan dan Alin. "Alan, Alin. Bundanya sudah jemput. Kalian bersiap pulang, ya." Ujar Sekar lembut.
Alan dan Alin bergegas merapikan barang-barangnya yang tertinggal di atas meja, mendekati Erine dan Sekar yang memandang keduanya dengan hangat.
__ADS_1
Tanpa di pinta, Alan dan Alin menyalami gurunya yang berusia sekitar 50 tahunan. Erine berpamitan dan membawa kedua anaknya keluar kelas, terlihat Mira yang menunggu dengan punggung yang bersandar di dinding dan satu kaki lain ditekuk kan ke atas.
"Bunda, apa yang teljadi?" Tanya Alin bingung.
"Tidak ada, Sayang. Kita harus pergi ke suatu tempat. Kalian mau kan ikut, Bunda? Kita jalan-jalan." Rayu Erine.
"Jalan-jalan?" Tanya Alin lagi.
"Ayo, Bunda." Ujar Alan tanpa banyak bertanya.
"Baiklah. Sekarang dengar, Tante. Sampai di sana, kalian harus mendengar semua perkataan Bunda juga Tante. Kalian mengerti?"
Alan berdeham mengiyakan, berbeda dengan Alin yang terus berisik. "Kenapa Tante juga?"
"Karena Tante juga orang tuamu," Jawab Mira dan Erine serempak. Mereka saling melirik sesaat, kemudian Mira kembali berucap dengan semangat. "Kita sungguh kompak, Rin."
"Aku juga mengakuinya." Jawab Erine.
"Bisa kita pelgi sekarang Bunda? Alan sungguh lelah melihat anak-anak bermain dengan girang."
"Kamu juga anak-anak, Alan. Apa kami ada mengatakan kamu orang dewasa, haa?" Tanya Mira tidak habis pikir.
"Tidak. Tapi Alan berpikil lebih dewasa dali, Tante. Benar, kan?" Ujar Alan santai.
Mira melorot mendengar ucapan yang terlontar dari mulut kecil Alan. "Astaga... Kau meremehkan ku bocah? Kau sungguh menyebalkan akhir-akhir ini, ya." Ujar Mira kesal.
Erine yang mulai jengah, dengan gesit menggendong Alin dan dalam hitungan detik berlalu pergi meninggalkan Mira dan Alan.
Saat berada di parkiran, Erine dan Mira dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang kini berdiri tegap di samping pintu mobilnya.
Mira membulatkan mata sempurna, seakan tidak mempercayai wujud pria di hadapan sungguh nyata. "Daffin?" ujarnya kencang.
🕸🕸🕸
Happy Reading!!
__ADS_1
Jangan lupa dukung cerita ini dengan cara like, comment, and vote.
Terima kasih 🤍