
Pajero sport, yang Ammar kemudi memasuki pekarangan mansion orang tuanya. Ammar meminta security untuk langsung memarkirkan mobilnya ke dalam garase, karena ia akan menginap untuk beberapa hari dan tidak akan diizinkan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat oleh Seruni.
Hamdan dan Seruni, memilih pindah dari rumah lama mereka yang berada di perumahan elite Permata Jingga ke mansion baru yang masih berlokasi di daerah Bandung. Mansion yang di desain glamour menjadi pilihan utama Seruni menginginkan tempat ini menjadi rumah baru mereka, setelah terjadi kasus percobaan pembunuhan di kediaman lamanya.
Seruni merasa jengah mendengar gosip tetangga yang terus memasuki rongga telinganya, sehingga meminta Hamdan untuk mempercepat kepindahan mereka. lokasi mansion terletak tidak jauh dari kantor Hamdan hanya sepuluh menit perjalanan jika menggunakan kendaraan dan tidak mengalaminya kemacetan.
Ammar dan Karina menuruni mobil, disusul dengan langkah kecil seorang gadis yang mengikuti mereka turun dari jok belakang. Echa memilih pergi lebih dulu meninggalkan orang tuanya untuk mengejutkan Opa dan Omanya yang berada di dalam mansion.
Kedatangan mereka disambut hormat oleh pengawal Hamdan yang berjejer rapi sekitar sepuluh orang, lima di bagian kiri dan lima di bagian kanan—sangat formal, inilah dunia konglomerat.
"Pergilah! Aku tidak memerlukan penyambutan, kalian pikir aku presiden?" Celetuk Ammar tak peduli.
"Mas, ini cara kerja orang kaya. Nikmati saja, kau tidak dirugikan untuk sebuah rasa hormat." Ujar Karina mengelus lengan Ammar yang mendapat tepisan kasar.
Ammar menatap tidak suka wanita di sampingnya, sudah disindir ribuan kali tetap tidak membuatnya menyerah. "Maka lakukan untuk dirimu sendiri, aku tidak menginginkannya!"
"Aku sedang melakukannya. Oh iya, kau lihat mansion ini, Mas. Aku juga mau. Bisa kau mencari satu untukku?"
Ammar memilih diam. Enggan menyahuti pertanyaan Karina, sukses membuat wanita itu mendengus kesal.
"Mas, kau tidak mendengar ku?! Bagaimana jika kita membeli mansion juga?. Echa akan tumbuh dewasa, kita harus memikirkan rumah yang cukup layak untuk anak itu."
Ammar menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir, hampir mendekati pintu utama, "Cukup mudah. Jika kau tidak nyaman di rumahku, kau boleh pergi. Aku tidak pernah melarang mu untuk angkat kaki dari rumahku!"
Karina menahan lengan Ammar yang kembali menaiki anak tangga, "apa maksudmu dengan angkat kaki? Kau mengusir ku, haa? Aku sudah memaafkan kesalahanmu dua kali berturut-turut dalam seminggu ini. Kau seharusnya meminta maaf dan tidak bertingkah semau mu lagi. Kau sungguh berbeda dengan ayahmu dalam memperlakukan wanita. Apa kau tidak malu, Mas?"
Ammar berjalan mendekat, mempersempit jarak antara ia dan Karina, melipat tangannya di depan dada sembari menatap intens netra hitam di hadapannya.
"Kau benar! Aku berbeda dengannya. Kalau begitu—kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya? Aku rasa ibuku tidak keberatan memiliki madu sepertimu. Kalian terlihat cocok saat bersama." Tutur Ammar santai tidak terganggu sedikitpun.
Karina hendak menampar pipi suaminya, namun dengan sigap Ammar menahan pergelangan tangan wanita itu.
"Kau tidak layak menamparku. Berhenti membuang energi mu untuk berdebat, kau hanya akan menambah kerutan di sekitar wajahmu." Ammar menghempas tangan Karina kasar. "Aku sungguh tidak ingin mengurus wanita yang sudah kehabisan daya." Ujar Ammar lagi dan berlalu pergi.
"AMMAR! APA MAKSUDMU MENGATAKAN AKU KERIPUT, HAA? KEMARI KAU! AKU MASIH BELUM SELESAI BICARA, SI*L*N! " Sergah karina dipenuhi amarah.
Karina berlari hendak mengejar suaminya. Namun, panggilan Echa dari arah ruang makan membuatnya berhenti mengejar Ammar yang sudah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sial.
"Mama, kemana semua orang? Aku tidak melihat siapa pun di sini." Ujar Echa bingung.
"Kau yakin?"
"Hm, aku yakin, Ma. Oma juga tidak terlihat, mungkinkah mereka semua sedang tidur?"
Karina mendekati putrinya, "Mama rasa, tidak. Kamu sudah menanyakan Bi Surti, Sayang?"
"Bibi cuma mengatakan, setelah berbicara dengan tante Manda, Oma tidak terlihat lagi sejak tadi."
Karina menautkan alis bingung, 'apa yang terjadi, sungguh aneh.' Pikirnya mengabaikan.
__ADS_1
"Ma, apa mungkin Oma tidur? Tapi, sejak kapan Oma tidur di jam segini?"
"Entahlah, mungkin saja. Bisa jadi Oma kelelahan menunggu kedatanganmu dan akhirnya tertidur."
"Ya, Mama benar. Oh iya. Di mana, Papa? Mungkinkah papa masih di luar, Ma?" Ujarnya melihat ke luar pintu.
"Tidak. Barusan naik ke atas. Kelelahan menyetir, biasalah." Ujar Karina beralasan, tidak berniat memberitahu putrinya apa yang baru saja terjadi.
Echa mengangguk kecil, mendengar jawaban ibunya. "Echa, kamu istirahat dulu, ya. Mama harus menyusul papamu, bukankah kau ingin seorang adik?. Oleh karena itu. Kamu tidak masalah mama tinggal sendiri, kan?"
"Benarkah? Aku mau. Kalau begitu, aku ingin melihat kamar Oma saja. Aku masih tidak percaya rumah ini tidak ada penghuninya, ini bukan gaya Oma tidak menyambut kedatangan ku." Ujarnya dan berlalu pergi meninggalkan Karina.
Karina menggeleng singkat melihat tingkah putrinya. Selang beberapa menit ia ikut menaiki anak tangga mencari Ammar menuntut penjelasan sekaligus menggodanya terang-terangan, karena hanya di rumah mertuanya ia bisa sekamar dengan Ammar.
🕸🕸🕸
Di dalam kamar. Ammar terlihat berkutat dengan meja kerja dan benda pintar yang terletak sempurna sebagai sarana penghasil pundi-pundi kekayaan yang selama ini ia nikmati.
Ketenangan yang ia rasakan selama sepuluh menit lalu lenyap saat tiba-tiba pintu kamar di buka dari luar, menampilkan sosok wanita dengan dress hitam selutut. Ammar tidak sekalipun memalingkan wajah ke arah Karina fokusnya masih pada macbook berlogo buah apel digigit sebelah—terlihat jauh lebih menggoda.
Suara langkah yang ditimbulkan heels beradu dengan marmer terdengar mengayun lembut. Karina menatap suaminya dengan senyum mengembang, melupakan niat utamanya untuk menghardik Ammar habis-habisan.
'Astaga, kau sungguh tampan, saat bekerja. Aku sungguh ingin menerkam mu saat ini juga, Mas.' bathin Karina.
Karina berdiri tepat di depan meja kerja Ammar, sesekali memainkan ujung rambutnya untuk mencuri perhatian Ammar yang terlihat jelas menolak kehadirannya.
"Mass..." Karina berujar lemah, sedikit mendesah. Namun, belum cukup mengalihkan perhatian Ammar.
"Menikmati waktu bersama suamiku. Kau patuh lah sedikit, jika kau tidak bisa memulai maka biarkan aku yang memulainya. tidak sulit kan?." Bujuk Karina menggigit nakal telinga Ammar.
Perasaan jijik melingkupi tubuhnya, sentuhan Karina sungguh membuat ia ingin muntah di saat bersamaan. Dengan kasar Ammar melepas pelukan Karina pada lehernya.
"You shouldn't have done that, bit*h." Murka Ammar menatap nyalang Karina.
Karina terkekeh renyah, "Kenapa tidak? Itu hak ku, Mas. Kau—tubuh ini. Semua milikku!" Ujarnya santai.
"Kau benar-benar membuatku tercekik! Kau sungguh ingin membunuhku, haa?"
Karina mendekat, kali ini menyentuh kemal**n Ammar dengan cepat. "Astaga, kau imp*t*n, Mas? Kenapa milikmu tidak bereaksi?" Tanya karina frontal.
Ammar menepis kasar tangan Karina untuk yang kesekian kalinya, entah apa yang membuat wanita di hadapannya terlihat seperti jal**g hari ini. Mungkinkah ia sudah melatihnya selama lima tahun ini? Ammar sungguh ingin mual sekarang.
"Apa kau menyadari dirimu menjijikkan? Kau tidak akan berhasil memancing hasrat ku. Jangankan itu, hanya menatap kau saja membuat ku mual!" Hina Ammar.
"Kau belum mencobanya, Mas! Dari mana kau tau itu benar atau tidak, sebelum kita melakukannya secara langsung."
"Kau benar, kita belum mencobanya. Atau mungkin, sama sekali tidak pernah melakukan nya..." Ujar Ammar menatap netra hitam Karina yang terlihat sedikit tersentak, "benar begitu, SAYANG?" Ujar Ammar penuh penekanan di akhir kalimat.
"A—apa maksudmu, Mas? Kita melakukannya saat itu, hanya saat itu. Kau tidak pernah menyentuhku lagi setelahnya." Ujar Karina sedikit terbata.
Ammar maju mendekati tubuh Karina, reflek Karina mundur perlahan menjauhi tubuh Ammar. Entah kabur kemana keberaniannya beberapa saat lalu, seakan lenyap dan merasa ancaman berada tepat di depannya.
__ADS_1
"Aku melupakan sesuatu... Bisa kau ulangi suara des*h*n mu malam itu?"
Karina berhenti tepat di batas dinding, "A—aku tidak mengingatnya. Aku tidak tau. Itu sudah sangat lama, bagaimana aku bisa mengingatnya!" Jawabnya panik.
Ammar mengunci pergerakan Karina, menatap lekat manik mata hitamnya. Menahan gejolak di dalam perutnya seakan meminta segera dimuntahkan.
"Kalau begitu... Kau ingat bagaimana reaksiku malam itu, kan? Katakan, apa aku memuaskan mu?"
Karina mengalihkan pandangannya yang sempat bertabrakan dengan Ammar, ia sungguh terjebak oleh jebakannya sendiri kali ini.
Sial.
"K—kau, kau sungguh agresif. Y—ya, kau seperti itu."
"Apa kau mengingat rasanya? Apa kau kesulitan mengatasiku? Aku sungguh ingin tau, bisa kau ceritakan padaku? Mungkin, aku bisa sedikit mengingatnya."
"Ti—tidak. Tidak ada masalah. Kita menghabiskan malam dengan baik. Kau menyukaiku, aku pun begitu. Ya begitu. Kau tidak harus mengingatnya. kita bisa melakukannya lagi, aku tidak keberatan. Sungguh!" Ujarnya menyerahkan diri.
Ammar melangkah mundur, berbalik memasuki kamar mandi hingga menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit.
Karina duduk termenung di sudut ranjang, tidak ada keinginan untuk meninggalkan kamar sedikitpun. Saat ini, ia sibuk memikirkan perubahan suaminya. Apa yang terjadi padanya?. Belum sempat ia menyelesaikan pikirannya. Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Ammar yang sudah berganti pakaian. Tapi tunggu, kenapa Ammar terlihat pucat? Apa pria itu sakit? Karina menelisik ulang wajah suaminya.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat, Mas?" Ucap Karina hendak mendekat, namun Ammar memintanya berhenti mendekat.
"Keluar! Sebaiknya kau membantu Bi Surti menyajikan makan malam dari pada mengusik ketenangan ku. "
"Aku bukan pembantu. Untuk apa kalian menggaji maid mahal-mahal jika menyajikan makanan saja tidak bisa."
Ammar menghela nafas berat, "aku lelah! Jika kau tidak bisa diam, kau bisa keluar."
"Aku ingin merawat mu, Mas!"
"Keluar!"
"Kenapa kau membentak ku? Aku hanya ingin merawat mu. Seharusnya kau berterim—"
Ammar menarik paksa pergelangan tangan Karina hingga mengeluarkan wanita itu dari kamar. Dengan gerakan cepat Ammar mengunci pintu dari dalam mengabaikan teriakan Karina yang terus memanggil namanya.
"Astaga. Apa aku benar-benar akan mati muda?" Sungut Ammar kesal.
Ammar kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah Karina yang bertingkah seperti jal**g. Dengan malas Ammar menduduki bangku singgah sananya.
Satu hal yang Ammar suka dari cara kerja ayahnya, Hamdan selalu siap sedia melengkapi fasilitas untuk kebutuhan ia juga adiknya dalam menunjang karir masing-masing, mempermudah mereka bekerja walau tidak berada di kantor sekali pun.
Hallo!
Selalu support aku dengan cara like, comment, dan vote ya. Selamat beraktivitas!
Happy Reading!
__ADS_1
Terima kasih🤍