Infidelity

Infidelity
Chapter 41


__ADS_3


Di tengah hutan belantara. Rumah kayu berdinding kaca berdiri tegak dilengkapi berbagai perabotan dengan dekorasi sederhana. Dua buah kursi dan sebuah meja bulat tampak bertengger rapi di halaman depan, dengan sebuah tungku berisi api unggun untuk menghangatkan suhu di sekitar rumah.


Ammar masuk tanpa mengetuk pintu. Beberapa pengawal tampak berjaga di sekitar rumah memastikan keamanan seorang penghuni yang berada di dalamnya.


Saat hendak melangkah ke dalam, seorang pengawal berjalan ke luar membawa sebuah senapan versi terbaru.


"Di mana dia?" Tanya Ammar dengan suara bass.


Pengawal bertubuh tegap dengan nama Hanfi di bordir indah pada bahu kiri jasnya menautkan alis bingung, menatap Ammar lekat masih belum menyadari jika pria yang saat ini berdiri di hadapannya adalah Ammar—atasannya.


"Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di sini?!" Ujarnya datar masih belum sadar.


Dio yang saat itu berada di belakang Hanfi terkejut saat melihat sosok Ammar berdiri dengan wajah dingin. Dengan cepat Dio berjalan mendekati temannya, "Itu, Bos! Kau ingin cari mati, Haa?!" Ujar Dio menunduk kaku di hadapan Ammar.


"Pak Ammar?! Maafkan saya. Saya sungguh tidak bermaksud—"


"Di mana pria itu?" Ujar Ammar mengabaikan ucapan Hanfi yang terdengar bergetar.


Hanfi menunduk memberi hormat kemudian menjawab pertanyaan yang sejak tadi Ammar tanyakan. Ini pertama kalinya ia melihat Ammar secara langsung, setelah 7 bulan bergabung bersama Black Hole. Dalam kurun waktu 7 bulan Ammar hanya memberi perintah pada Arman tanpa berniat terlibat langsung. Sebab itu Hanfi tidak mengenali wajah atasannya sendiri.


"Beliau berada di paviliun belakang, Pak."


Ammar mengangguk, melangkah perlahan menuju paviliun belakang meninggalkan Hanfi dan Dio yang bernafas lega.


Saat membuka pintu, Ammar disuguhi pemandangan mengejutkan. Dinding yang semula kosong kini dipenuhi berbagai macam senjata tajam dan juga senjata api.


"Kau datang, Ammar?" ujar seseorang berperawakan sangar dengan jambang memenuhi rahangnya.


"Ya... Kau terganggu dengan kehadiranku?" tanya Ammar mengambil langkah menduduki kursi kayu tua di hadapan pria paruh baya berusia sekitar 50 tahunan.


Pria parah baya itu tertawa renyah, smirk menghiasi bibir hitamnya. "Aku sudah lama menunggu hari ini, kau terlalu lama membuat keputusan, Nak. Apa sekarang kau tertarik?" ujarnya dengan kekehan.


"Kau lebih sehat dari yang aku bayangkan. Mungkin bukan pilihan yang buruk untuk bergabung denganmu. Kau siap untuk itu, Roger?"


Roger menaikkan sedikit sudut bibirnya, "Tentu saja. Kau terlalu lama mengambil keputusan, Ammar. Aku sudah menunggumu sejak setahun lalu."


"Aku tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan Erine, Roger. Kau tidak cukup kuat melawan mereka saat itu. Kau bukan membantu tapi hanya akan menambah pekerjaanku." Sindir Ammar.


"Kau benar, mereka lawan yang cukup tangguh. Tapi tidak saat ini, kau akan tahu saat kau melihat orang-orang ku bergerak."

__ADS_1


"Kau sungguh yakin?"


Roger mengelap sebuah pistol mini yang baru saja di siapkan anak buah Ammar. "Tentu! Kau jangan khawatir. Mereka sudah bersumpah menggunakan darah mereka sendiri untuk mematuhi perintahku. Jika mereka berani berkhianat, akan sangat mudah untuk membunuhnya."


Ammar menatap lekat manik mata Roger, "Aku harap kau tidak mengecewakanku, Roger. Aku sudah melakukan perintah mu. Kali ini, giliran mu yang membantuku."


Roger tertawa nyaring, setelah tawanya mereda ia kembali menatap netra coklat Ammar serius.


"Tenanglah. Aku hanya menginginkan milikku kembali. Dan... membalas bajing*n pengkhianat yang dengan berani ingin membunuhku dan mengambil alih seluruh kekuasaan ku."


"Kau sungguh bertekad!"


"Bed*b*h itu yang memintaku melakukannya!"


"Kau harus tau. Qing Dotay menemui ku beberapa waktu lalu." ungkap Ammar.


"Apa yang dia katakan?"


"Hanya ancaman biasa, tidak begitu penting. Aku ingin kau menghabisinya secepat mungkin, Dotay bukan lawan yang bisa kau remehkan begitu saja. Satu tahun berlalu kau bisa melewati 10 kali lipat perkembangan pria itu."


"Aku tahu. Kau jangan khawatir."


Roger kembali tertawa nyaring. "Dasar bajing*n tengil. Aku tidak pernah merusak satupun atribut mu. Mulutmu benar-benar tajam anak muda." Roger menetralkan tawanya, kembali memfokuskan diri. "Semua ini berkatmu. Jika kau tidak menyelamatkanku beberapa tahun lalu, mungkin aku sudah mati dengan dendam ini."


Ammar menggeleng, "Tidak. Aku hanya tidak sengaja mengetahui identitas mu. Itu berkat bantuan Ricky. Ricky dalam perjalanan kemari, kau bisa meminta bantuannya untuk mencari tempat tinggal barumu selama di ibu kota." Ammar mengambil sebatang rokok dan mematik apinya, "Kau sudah memiliki identitas baru. Herlambang  Jakarsa. Kau harus mengingat nama ini jika kau ingin aman dalam misi kali ini."


Tidak ada sahutan, Roger menghela nafas panjang. "Kapan aku bisa melihat mereka?" Tanya Roger, mengabaikan informasi yang baru saja Ammar sampaikan.


"Aku ingin secepat mungkin. Tapi ... ini bukan waktu yang tepat, kau bisa melukai bocah itu di saat bersamaan. Maafkan aku, untuk yang satu ini aku sungguh tidak bisa berbuat banyak."


"Aku mengerti, ini demi kebaikannya. Fakta tentang diriku juga akan melukai hatinya. Tapi untuk itu, terima kasih sudah menjaga anakku." ujarnya tulus.


"Jangan membuatku menyesal menyelamatkanmu, Roger! Kau tidak cocok berterima kasih dengan wajah sangar mu itu!"


"Aku juga manusia, Ammar. Bahkan kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri!"


"Yang benar saja. Tidak ada anak yang menikahi istri dari ayahnya, Roger." Sindir Ammar.


Roger tersenyum simpul. "Kau hanya salah mengisi formulir pernikahanku dengan namamu."


"Ck... Kau harus tau. Aku tidak bermaksud menghina wanita itu. Walaupun aku tidak pernah menidurinya bukan berarti pria lain tidak melakukannya. Kau paham maksudku, kan?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?!" Tanya Roger menghentikan kegiatannya dan ikut menduduki bangku kosong tepat di hadapan Ammar.


"Aku memberikan wanita itu obat tidur setiap malam. Sesekali memberinya obat pembangkit delusi agar ia berimajinasi seolah-olah tengah bermain gila denganku." Ammar menghisap sebatang rokok hingga mengepulkan asap putih, "Tapi untuk itu, sebelum kau mengambilnya kembali. Kau harus memastikan ia benar-benar bersih tanpa penyakit menular. Beberapa kali aku sempat memergoki aksi gilanya bersama pria asing di tempat terbuka. Kau mengerti maksudku, bukan?"


"What the f*ck?! Kenapa kau baru mengatakannya?! Aku akan meninggalkan tempat ini sesegera mungkin dan menghubungimu saat aku berada di luar."


Ammar merogoh sesuatu dari saku celananya, "Aku tidak mengira itu penting. Ambil ini. Kau akan membutuhkannya ... Pak" Ujar Ammar santai.


Roger berdesis malas. Mengambil benda yang Ammar berikan, sebuah kunci mobil. "Aku bisa menembak mu dengan mudah, Ammar. Jangan pernah memanggilku dengan sebutan setua itu." ujar Roger tajam.


"Baiklah—aku harus segera kembali. Jangan terlalu lama mempersiapkan dirimu, Roger. Aku menunggumu!" ujar Ammar beranjak dari duduknya, berbalik melangkah meninggalkan Roger.


Namun, suara Roger menghentikan langkah Ammar yang sudah berada tepat di ambang pintu.


"Bagaimana dengan mantan istrimu. Kau sudah mendapatkannya kembali, hm?"


Ammar berbalik pelan, menatap wajah sendu Roger yang sedikit banyak mengetahui masalahnya bersama Erine akibat ulah Karina.


"Dia tidak baik-baik saja, Roger. Sulit untuk membuatnya kembali bersamaku. Ini kesalahanku, seharusnya aku jujur dan memintanya membantuku bukan menutupinya. Aku terlalu takut hingga berakhir termakan omong kosong wanita sial*n itu."


"Maafkan aku. Jika malam itu Erine tidak berada di sana. Mungkin kau dan Erine tidak akan terlibat sejauh ini. Kau tidak harus menyalahkan dirimu. Kalian berhak bahagia."


Ammar menggeleng pelan, "Tidak ada yang bisa disesali, Roger! Aku ikut melukainya. Aku tidak ingin memaksanya kembali bersamaku, bukan berarti aku berhenti memperjuangkannya dalam hidupku. Hanya memberinya waktu untuk sembuh, tidak untuk pergi begitu jauh."


Ammar bergegas meninggalkan ruangan yang terasa pengap tanpa berniat mendengar  ucapan simpati yang keluar dari mulut Roger.


Sepeninggal Ammar, Roger menatap ke luar jendela. Hamparan pepohonan hijau menutup akses dunia luar untuk mengintip. Sebuah kenangan menghinggapi kepalanya, kenangan di mana Echa buah hatinya hadir dalam rahim ibunya. Malam panjang yang ia habiskan dengan Karina, wanita yang slalu ia cintai.


"Aku akan kembali, Karina! Kali ini kau tidak akan bisa menghindari ku lagi. Tunggu aku!"



🕸️🕸️🕸️


Happy reading!!♡


Hallo readers! , jangan lupa tinggalkan jejak yaa. Like and comment membantu semangat author untuk double update(❁'◡'❁)


Terima kasih.


"Tanpa readers author bukanlah apa-apa."

__ADS_1


__ADS_2