
Sesampainya di UKS aku mendudukkan Pasa lalu mengambil kotak obat agar luka yang di derita Pasa tidak menimbulkan infeksi.
"Tahan sedikit ini akan lumayan perih"Aku mengoles alkohol secara perlahan pada luka Pasa.
"Sshh" Pasa mendesis karena merasakan pedih pada lukanya.
Setelah selesai aku kembali memberikan alkohol di kapas dan menempelkannya pada luka Pasa dengan hansaplas.
"Oke selesai"ucapku tersenyum kecil sambil menaruh kembali alkohol pada tempatnya semula.
"Terima kasih Arielle kamu sudah mengobati ku, maaf kalau aku merepotkan"ucap Pasa sedikit malu.
"Sama-sama, kamu sama sekali tidak merepotkan kok kalau gitu aku ingin ke kelas"aku berjalan menuju pintu keluar UKS.
Pasa pun tidak mencegah Arielle pergi. Dia akan tetap memperjuangkan cintanya bagaimanapun caranya.
Sesampainya di kelas aku berpapasan dengan Efendi yang sudah memukul Pasa tadi.
"Arielle aku minta maaf telah menyakiti teman mu"ucap Efendi lirih.
"Tidak perlu minta maaf padaku minta maaf padanya"jawabku dan langsung memasuki ruang kampus tanpa mempedulikan Efendi lagi.
Efendi hanya menatap kepergian Arielle dengan tatapan sendu dan berlalu pergi ke UKS untuk menemui Pasa. Masih ada 15 menit lagi sebelum bel kampus berbunyi.
Ceklek..
Pintu ruang UKS terbuka dan Pasa sedikit kaget karena tiba-tiba seseorang datang ke sini.
"Kamu?!"
"Tenanglah, aku hanya ingin minta maaf padamu aku tidak tahu jika kamu adalah teman Arielle dulu"ucap Efendi santai tanpa mengulurkan tangan, dia masih tidak terima jika akhirnya meminta maaf pada rivalnya nanti.
"Minta maaf tuh yang ikhlas, kaya gak sudi amat minta maaf sama aku"sindir Pasa.
"Iya-iya aku minta maaf"ucap Efendi sambil mengulurkan tangan.
"Iya aku maafin"Pasa ikut mengulurkan tangan untuk menggapai uluran tangan Efendi sambil tersenyum.
Efendi hanya membalas senyuman Pasa walau di dalam hati dia tidak ingin bersikap ramah padanya.
__ADS_1
"Baiklah urusan kita sudah selesai"ucap Efendi dan berlalu pergi dari ruang UKS.
Pasa pun bangun dari duduknya untuk masuk ke dalam ruang kampus karena sedikit lagi bel akan berbunyi dan dosen sudah bersiap untuk mengajarkan mahasiswa.
Bel pun berbunyi semua mahasiswa sudah duduk dengan rapi di ruangan kampus mereka masing-masing.
Dosen datang dan memberikan pelajaran untuk mahasiswanya.
"Arielle..psstt.."panggil Salsa saat Arielle sedang sibuk memperhatikan pelajaran yang di berikan dosen.
"Ish apa sih?"jawabku sedikit kesal karena Salsa mengganggu konsentrasinya memperhatikan penjelasan dosen.
"Memangnya yang tadi kamu tolongin itu teman SMP kamu?"tanya Salsa sedikit berbisik.
"Iyah"jawabku singkat dan kembali memperhatikan dosen.
"Dia lumayan tampan juga loh gak kalah dari Efendi atau Fauzi"ucap Salsa lagi tersenyum tanpa memperhatikan dosen.
"Salsa, ini bukan waktunya membicarakan itu perhatikan dosen di depan sana"peringat ku pada Salsa.
"Uhh kamu mah gak bisa di ajak gak serius bentar, aku kan cuma bosan dan ngantuk ajah kalau dengerin dosen tapi kalau berbicara tentang cowok-cowok sih gak bakalan bosen"ucap Salsa makin ngeyel pada ucapan Arielle.
Walau sedari tadi Salsa menyebut namaku tetapi aku tidak akan menggubrisnya.
Pelajaran pertama telah berakhir dan bel istirahat telah berbunyi.
"Wah seseorang menghampirimu"ucap Salsa pada Arielle.
"Siapa?"tanyaku, sebelum salsa menjawab orang yang di maksud tadi telah memanggil Arielle.
"Arielle tunggu."Efendi berlari kecil untuk menyusul Arielle di depannya.
"Huh kamu lagi, aku kira siapa"ucapku malas dan kembali melihat kedepan tanpa mempedulikan Efendi lagi.
"Kamu ingin ke depan,mau beli apa?"tanya Efendi.
"Cilor" jawabku singkat.
"Oh aku juga mau beli kita bisa bareng"Efendi tersenyum lembut.
__ADS_1
"Terserah"jawabku tanpa berniat mengubah ekspresi ku.
Sesampainya di tukang Cilor wajah Efendi kembali berubah menjadi murung karena seseorang yang membeli Cilor, ya siapa lagi kalau bukan Pasa yang terlebih dahulu sedang di layani.
"Oh Pasa kamu beli cilor juga"ucapku tersenyum kecil.
Pasa yang tidak menyadari datangnya Arielle akhirnya menoleh karena mendengar suaranya. Arielle yang cantik terkena sinar matahari terpampang jelas di depannya, dan juga Efendi yang senantiasa menatapnya sinis juga ikut berada di sini.
"Halo semua kalian mau beli Cilor juga?"tanya Pasa mengeluarkan senyuman terbaiknya, membuat aura ketampanan seorang laki-laki terpancar keluar dari dirinya.
"Iya nih"jawab Salsa membalas senyuman Pasa.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil untuk membalas senyuman Pasa, Efendi yang melihat pemandangan ini menjadi emosi tetapi dia tidak menunjukkan kemarahannya di depan Arielle dia hanya bisa pasrah dan membalas senyuman Pasa.
Pasa tahu jika Efendi saat ini sedang tersenyum padanya tetapi dia tahu di balik senyuman Efendi itu terdapat rasa benci padanya.
Mereka semua membeli Cilor sesuai yang mereka inginkan.
"Arielle aku pengen makan bareng di kelasmu boleh?"tanya Pasa pada Arielle yang sedari tadi tidak membuka pembicaraan.
"Gak boleh!"jawab Efendi refleks membuat semua mata memandangnya.
"Kenapa gak boleh, lagipula aku meminta pendapat Arielle bukan kamu"tegas Pasa.
"Kelas Arielle adalah kelasku juga!"
"Hei diam lah kau Efendi, memang apa salahnya dia adalah temanku saat SMP jadi tidak ada salahnya untuk berbaur dengannya!"ucapku sedikit teriak menatap tajam Efendi karena sekarang sudah berani ikut campur.
Rasanya sakit ketika Arielle berbicara dengan nada sedikit berteriak seperti itu, ingin sekali Efendi menjatuhkan setetes air mata karena selama ini Arielle sama sekali tidak peka dengan perasaannya. Apa segitu tidak pentingnya dia di mata Arielle, dia tahu bahwa dirinya baru saja mengenal Arielle beberapa bulan dan sedangkan teman-teman Arielle seperti Pasa dan Fauzi sudah kenal lama dari dirinya.
Efendi terdiam dan tidak berani berkata apapun lagi, dia juga berusaha tersenyum apapun yang terjadi agar tidak membuat Arielle merasa bersalah karena sifat nya.
Salsa mengetahui kesedihan di hati Efendi, walau kesedihan itu hampir sempurna dia tutupi masih ada celah yang menampakkan kesedihan Efendi. Terlihat dari matanya yang sedikit merah menampakkan dengan jelas bahwa dia sedang menahan air matanya.
"Semangat lah jangan pantang menyerah jika kamu memang mencintai nya"ucap Salsa berbisik yang berpindah tempat di samping Efendi.
Sebenarnya dia tidak berniat merelakan Efendi karena dia mencintainya, tetapi saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sepertinya Efendi sangat ingin berjuang keras meluluhkan hati Arielle.
"Terima kasih Salsa"jawab Efendi tersenyum tulus, berhasil membuat jantung Salsa berdebar hebat dan wajahnya memerah. Salsa sedikit menjauh karena tidak ingin ekspresinya di ketahui oleh Efendi.
__ADS_1
Efendi hanya melirik sekilas tetapi tidak menyadari wajah salsa yang memerah karena senyumannya.